June 12, 2017

Bila Nanti Waktu Telah Hadir





Beberapa hari terakhir, timeline sosial media saya dipenuhi oleh potret kebahagiaan teman-teman yang sudah dikaruniai putra-putri. Saya bisa melihat raut wajah bahagia dari senyum mereka ketika menyenandungkan adzan di telinga si buah hati yang baru lahir, ada bulir-bulir lembut yang tampak ketika mereka menggendong si kecil untuk pertama kalinya. Saya terharu. 

Sebagai lelaki, sudah nalurinya untuk segera menjadi seorang Ayah ketika sudah menjadi seorang suami. Saya selalu bahagia berkunjung ke rumah teman-teman yang seangkatan dengan saya dan sudah dikaruniai putra-putri yang lucu. Biasanya setiap mudik Idul Fitri, ada waktu untuk bersilaturahmi dengan teman zaman sekolah dulu, sebagian besar sudah berkeluarga dan dianugerahi keturunan.

Di waktu Dhuha pagi ini, ada detak yang lebih kencang di dalam dada saya, ada air mata yang mengalir demikian mudahnya dan menetes di atas sajadah tempat bersujud. Untaian doa-doa melangit bersama dengan harapan semoga Allah segera meridhai impian saya untuk menjadi seorang Ayah. Ya, mimpi ini terus melangit dalam doa-doa panjang di hadapan-Nya.

Saya mencoba untuk lebih ikhlas lagi, lebih yakin lagi kepada-Nya, bahwa adakalanya hal-hal yang kita inginkan ditunda kehadirannya karena cintaNya kepada kita. Saya ingat dua tahun yang lalu, saya pernah menulis di selembar kertas tentang keinginan saya untuk pergi ke Baitullah, doa-doa terus saya panjatkan hingga akhirnya Allah mengabulkannya dengan cara yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dua tahun berturut-turut Allah memberi kesempatan saya untuk pergi ke Baitullah. Allah kadang memberi kejutan-kejutan manis dengan bumbu-bumbu perjuangan yang kadang kecut, asam dan melelahkan. Itulah Ia, Rabb semesta alam yang selalu berhasil memberi ujian terbaik bagi hambaNya karena Ia sudah menjelaskan melalui firmanNya bahwa “semua hanya akan diuji sesuai batas kemampuannya”.

Setelah shalat dhuha, saya mengambil mushaf kecil, kemudian membacanya pelan namun tegas. Ada ketenangan dalam diri, ada semangat lagi di dalam diri. Ada keyakinan yang semakin menguat bahwa “mungkin saja Allah sedang menyiapkan kejutan indah. Allah ingin saya lebih sabar lagi, lebih mendekatkan diri lagi kepadaNya, baru kemudian dia akan memberi amanah keturunan kepada saya dan mempermudah semua prosesnya.”

Ketika doa belum diijabah olehNya, tetaplah berprasangka baik kepadaNya, jangan lelah untuk terus mendekatiNya, biarkan lelah kita Lillahi ta’ala. 

“Istri sudah hamil belum?” tanya seorang jamaah habis ashar kemarin. Saya tersenyum, “Belum, mohon doanya.” 

Pertanyaan ini sudah tidak terhitung lagi ditanyakan kepada saya, mulai dari orang tua, adik, kakak, sepupu, teman, karyawan toko, semua seolah sedang berlomba-lomba menunjukkan kepedulian akan kehidupan saya. Setiap kali ditanya, saya berusaha selalu menjawab dengan baik, misal “insha Allah segera, mohon doanya.” Karena ketika Allah sudah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi, kan? Meski demikian, adakalanya pertanyaan ini menjadi sangat sensitif ketika dalam sehari diajukan oleh sekian banyak orang, misal pas mudik ke kampung halaman dan bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, teman, dan lain-lain. Sehari bisa ditanyakan oleh 20 orang lebih. Semoga lelah ini lillahi ta’ala, ya rabb.

“Tetap berprasangka baik kepada Allah, jalani dengan sabar” demikian yang Ibu katakan.

“Anggap saja mereka semua peduli dan tidak sabar ingin melihatmu punya anak. Semoga semakin banyak yang mendoakan, semakin dimudahkan segala urusanmu. Jangan lelah menjawab semua pertanyaan ‘sudah punya anak? Kapan punya anak? Istri sudah hamil?’, jalani dengan sabar.”

Mungkin saja Allah sedang memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak lagi belajar bagaimana menjadi seorang Ayah yang shalih, yang mampu membimbing si buah hati menuju surgaNya. Hanya orang-orang tak beriman yang tidak yakin dengan rahmatNya.
“anak saya juga belum dikaruniai keturunan,” ucap seorang jamaah yang lain kepada saya beberapa waktu lalu selepas saya menjawab pertanyaannya “istri sudah hamil?”. Kami sama-sama tersenyum. “yang sabar,’’ lanjutnya lagi.

Saya jadi ingat ketika pertama kali menyentuh ka’bah, saya menangis sesenggukkan, merapal doa-doa terbaik kehadiratNya. Salah satu doa yang selalu saya langitkan ketika berada di tanah suci adalah “berkahi rumah tangga ini, ya, rabb. Beri kami anak-anak yang shalih-shalihah,”. Satu tahun lebih doa itu melangit di tanah haram dan hingga kini tetap saya jadikan bagian dari doa dalam setiap ibadah kepadaNya. 

Adakalanya kehidupan orang lain terlihat begitu bahagia, padahal setiap kehidupan pasti memiliki cobaan-cobaan tersendiri. Ada yang hingga belasan tahun belum dikaruniai keturunan, tapi Allah beri kemudahan di urusan yang lain. Ada yang Allah beri kemudahan dalam meniti karir, tapi Allah beri ujian kesabaran dengan belum diberi keturunan, dan masih banyak lagi ujian-ujian lain yang Allah berikan kepada hambaNya. Jangan pernah membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Syukuri, jalani dengan sabar. Karena syukur dan sabar adalah sebuah keharusan seorang hamba. Jangan lelah untuk berdoa, jangan lelah untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Ya rabb, bila nanti waktu telah hadir, beri kami kesabaran dalam mendidik putra-putri kami dalam ketaatan kepadaMu. Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika hidup dalam taat kepadaMu. Tidak ada jalan lain yang lebih bahagia selain jalanMu, ya Rabb.


January 15, 2017

Jangan Menunda Taubat




 وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٥٣)
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al A’raf: 153)
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita tak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Seolah-olah dosa sudah menjadi bagian dari diri sendiri. Bayangkan saja bagaimana seringnya mata kita tidak dijaga dari hal-hal yang tidak disukai Allah SWT. Bagaimana telinga yang dengan mudahnya mendengar aib saudara sesama muslim. Bagaimana mulut yang dengan mudahnya membicarakan keburukan orang lain. Begitupun anggota tubuh yang lain, yang jika dihitung mungkin tidak akan sanggup menghitung banyaknya dosa yang dilakukan setiap harinya. Belum lagi berbagai dosa terkait kelalaian ibadah kepada Allah SWT, kewajiban yang ditinggalkan, penyakit hati yang setiap detiknya merusak keimanan kita dan tentunya masih banyak hal lainnya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap insan pasti berdosa, setiap manusia pasti melakukan kesalahan karena kita bukan Nabi atau Rasul yang dima’sumkan oleh Allah SWT. Namun bukan berarti kita berserah diri, berpangku tangan dan berputus asa dari dosa-dosa tersebut. Bukan berarti juga dengan dosa ini kita merasa tak apalah berbuat dosa toh semua orang berbuat dosa. Tidak. Agama Islam tidak mengajarkan seperti itu. Sebagai muslim yang beriman kepada Allah SWT, seharusnya kita sebisa mungkin menjauhkan diri dari dosa, dari hal-hal yang dilarang oleh Agama.
Salah satu hikmah dari adanya dosa adalah kita merasa berhati-hati akan setiap perbuatan yang dilakukan. Kita akan merasa takut bahwa apa yang dilakukan tidak disukai oleh Allah SWT. Sehingga dampaknya adalah kita berusaha untuk terus mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bayangkan jika tidak ada dosa di dunia ini, manusia akan hidup semaunya, manusia akan saling menyakiti antara satu dengan yang lainnya, tidak ada rasa takut akan setiap apa yang dilakukan, sehingga pada akhirnya tidak ada hamba yang mendekat kepada Tuhannya, tidak ada hamba yang merintih dan berdoa kepada Allah SWT lantaran dosa yang telah dilakukan.
Mengetahui hal tersebut, agama Islam menganjurkan umatnya untuk terus mensucikan diri, sebagaimana dalam firmanNya,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢).....
“...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
Ada satu cara ketika seorang muslim melakukan dosa kemudian ingin kembali kepada Tuhannya dan memperbaiki diri, maka dianjurkan untuk bertaubat. Taubat seperti apa, yaitu taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah taubat dengan menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

10 Dosa Besar
Sebelum bertaubat kepada Allah SWT, tentunya kita perlu mengetahui dosa apa yang telah dilakukan, kemudian masuk dalam kategori mana dosa tersebut. Boleh jadi selama ini dosa yang kita sepelekan, yang sering dilakukan ternyata adalah dosa besar. Disini akan disebutkan 10 dosa besar yang dilakukan seorang hamba, yaitu: 1) syirik, 2) meninggalkan shalat, 3) durhaka kepada orang tua, 4) zina, 5) makan harta haram, 6) mabuk, 7) memutus silaturahmi, 8) bohong, 9) kikir, 10) ghibah.
Tentunya masih ada versi lain yang menyebutkan dosa besar, tapi ini bukan masalahnya, yang jadi masalahnya adalah kita sudah melakukan dosa tersebut tapi sayangnya kita tidak sadar bahwa itu dosa. Jika sadar bahwa itu dosa saja belum, bagaimana mau bertaubat? Sebagai contoh yaitu meninggalkan shalat. Masih banyak muslim yang menganggap meninggalkan shalat sesuatu yang wajar dan ringan saja dilakukan, padahal itu adalah dosa besar.

Orang Taubat Dicintai Allah
Seseorang yang berusaha bertaubat kepada Allah SWT, maka Allah akan sangat mencintai hamba tersebut. Sebagaimana hadis yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hambaNya ketika mau bertaubat kepadaNya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah Tuhanmu,’ dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)
Dari hadis tersebut dapat dijelaskan bahwa Allah akan sangat bergembira sekali terhadap seorang hamba yang bertaubat. Rasa gembiranya dalam hadis tersebut diibaratkan seperti seseorang yang kehilangan unta dan perbekalannya di gurun pasir, kemudian pada saat sedang haus dan lapar sekali, unta tersebut datang kembali kepada orang tersebut.
Jangan sekali-kali berputus asa akan ampunan Allah SWT. Selagi masih diberi umur dan kesehatan alangkah baiknya digunakan untuk bertaubat kepada Allah SWT. Sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba, namun rahmat dan ampunan Allah lebih besar dari dosa tersebut. Jangan pula merasa khawatir kalau hari esok berbuat dosa lagi, kemudian karena perasaan khawatir itu (besok akan berbuat dosa lagi) maka kita menunda taubat kita. Jangan!
Hari ini kita taubat untuk semua dosa yang telah dilakukan kemarin. Esokpun taubat lagi untuk segala dosa yang kita lakukan hari ini. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang luput dari dosa. Sebagai seorang muslim, kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dari perbuatan dosa, menjaga taubat kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Perlu digaris bawahi bahwa taubat bukan hanya untuk dosa-dosa besar tapi juga untuk dosa-dosa kecil. Perbanyaklah istighfar, karena esensi dari istighfar adalah meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan. Berdasarkan hadis Nabi saw, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari). Di hadis lain Nabi menyebutkan, “Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Keutamaan Bertaubat
Banyak sekali keutamaan atau manfaat dari bertaubat ini. Manfaat dari bertaubat ini bukan hanya dirasakan nanti di akhirat, tetapi juga dapat dirasakan ketika masih di dunia. Adapun manfaat yang pertama adalah taubat menjadi sebab kecintaan Allah kepada hambaNya, sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya, “...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah: 222)
Taubat akan membuat seseorang menjadi orang yang beruntung, tentunya beruntung di mata Allah, bukan hanya di mata manusia, sebagaimana firman Allah,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)
“...bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31)
Selain itu, taubat juga menjadi sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan. Allah swt berfirman,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (٥٢)
“dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud: 52)
Masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari taubat, jadi tidak ada alasan untuk tidak bertaubat. Boleh jadi masalah yang datang di kehidupan kita dan belum juga terselesaikan lantaran dosa dan maksit yang kita lakukan. Boleh jadi juga cita-cita yang sudah dikejar dari sekian tahun belum juga terwujud lantaran dosa dan maksiat kita. Jadi perlancarkan segala urusan dengan bertaubat kepada Allah swt. Tentunya taubat yang ikhlas kepada Allah dan menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.



October 22, 2016

Meluruskan Niat




Kemarin, sahabat-sahabat seperjuangan di UIN Malang mengirimkan beberapa photo ketika mereka yudisium, besok insha Allah mereka semua akan diwisuda. Di kelas kami, hanya 5 orang yang belum bisa wisuda karena alasan masing-masing. Sempat berkaca-kaca melihat photo-photo mereka, sempat tidak ikhlas mengapa saya tidak bisa bersama-sama dengan mereka kemarin dan esok hari. Seharusnya saya bisa berada di tengah-tengah mereka, wisuda bareng, karena kami memulai semuanya secara bersama-sama dan seharusnya kami bisa mengakhiri semuanya berbarengan. Saya sempat tertegun lama ketika selesai shalat, kemudian mengelus dada yang gamang, hingga akhirnya saya kembali menata diri, kembali menata niat yang mungkin saja salah. Harusnya saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani semua ini.

Rencana saya untuk wisuda bulan ini pupus, bukan karena kesalahan orang lain, tapi karena saya belum mampu mengatur waktu dengan baik, antara keluarga dan juga pendidikan. Memang, ada beberapa hal yang tidak mungkin untuk saya tinggalkan, sehingga rencana saya ke Malang untuk bertemu dengan Dosen Pembimbing harus tertunda lama. Saya pun berusaha mengikhlaskan itu semua, karena saya percaya bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Ada bulir-bulir hangat yang menggumpal di ujung sana,

Sahabat-sahabatku, saya ingin sekali hadir di hari bahagia kalian kemarin, namun kondisi belum memungkinkan, karena bidadariku sedang tidak mungkin untuk ditinggal. Meski demikian, rindu ini ingin sekali bertemu dengan kalian, karena entah kapan lagi kita akan bertemu jika bukan di saat wisuda, tidak ada yang tahu. Setelah wisuda, masing-masing akan membuka lembar cerita baru dengan semangat perjuangan baru. Saya selalu berdoa, semoga kita semua diberi lindungan oleh Allah SWT, menjadi manusia-manusia yang bisa memberi manfaat. Karena hakikatnya cinta adalah ketika doa terus dipanjatkan meski wajah tak mampu bersua.

Sahabat-sahabatku, meski jarak memisahkan kita, namun cerita-cerita tentang kalian akan tetap saya nantikan.

Perjalanan hidup memang tidak pernah ada yang tahu, Allah selalu memiliki kejutan-kejutan indah untuk hambaNya, kita hanya perlu melakukan yang terbaik, selebihnya biarlah Ia yang mengatur mana yang memang baik untuk hambaNya.

Saat ini, saya sedang mendampingi istri saya yang sedang sakit. Sejak pernikahan kami, dia memang sering sakit-sakitan, mulai dari sekedar batuk, pusing, sempat masuk IGD, sakit persendian, pernah juga dirawat di Rumah Sakit beberapa hari karena gangguan pernapasan, dan pernah juga ada inflamasi di kakinya. Hingga saat ini, dia masih belum benar-benar pulih. Maka waktu saya memang banyak dihabiskan menemani istri hingga pulih. Beberapa kali rencana saya untuk bimbingan Tesis harus diundur karena harus menemani istri hingga pulih. Saya selalu berusaha untuk tetap ikhlas, Allah sedang memberi saya waktu lebih lama untuk bersama istri saya, Allah memberi waktu bagi saya untuk memberi pelayanan terbaik ketika kondisi istri sedang tidak baik.

Tesis memang sudah selesai saya tulis sejak 1 bulan lalu, saya hanya butuh bertemu untuk mengajukan draft tesis yang sudah selesai, berharap akan segera disetujui,tapi Allah memberi saya waktu lebih lama untuk menyelesaikan pendidikan S2 ini. Allah sedang menyiapkan rencana yang indah bagi saya, saya percaya itu, asal saya berusaha lebih giat lagi.

Usaha yang saya lakukan saat ini adalah “meluruskan niat”, harusnya doa-doa yang selama ini saya panjatkan haruslah tulus. Seperti saat ini, saya terus berdoa demi kesembuhan istri saya, namun kadang doa-doa yang dirapal tak sepenuhnya ikhlas. Kadang doa yang saya pinta hanya sebatas menginginkan ia segera pulih, agar saya bisa segera bisa menyelesaikan pendidikan saya dengan baik, bukan agar dia bisa benar-benar sehat dan menjalani kehidupan lebih baik lagi. Maka disinilah pentingnya kembali menata niat dalam berdoa. Ikhlas dalam berdoa adalah salah satu kunci di-ijabahnya doa oleh Sang Pencipta.

Kalian tahu siapa yang paling pandai dalam mendesain kehidupan manusia? Tiada lain adalah Allah SWT. Kerap kali hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Masalah kadang datang silih berganti, disinilah kesiapan kita dalam menghadapi kehidupan diuji olehNya. Apakah mau sabar? Atau malah menyerah? Tentu sabar adalah pilihan terbaik untuk dipilih.

Hidup ini hanya sekali, maka menjalaninya sesuai dengan aturan Allah SWT adalah keharusan. Niat yang ikhlas diperlukan demi memudahkan diri dalam menggapai keridhaanNya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat akan sampai salah tempat. Jangan pernah lelah untuk istiqamah di jalanNya, meski Ia setia memberi cobaan demi cobaan hambaNya, itulah bagian dari wujud cintaNya.

Luruskan niat, segala yang kita lakukan tidak akan bernilai jika niat itu sudah salah.

Duhai Engkau yang menguasai hati, tetapkan hati ini di jalanMu, jangan biarkan kami lalai dalam taat kepadaMu.

Duhai Engkau yang segala Maha, berilah kesabaran sebagai bekal kami dalam menjalani kehendakMu.

Duhai Engkau yang Maha Cinta, tanamkanlah cinta padaku dan istriku, agar kami bisa bersama-sama berjuang menuju surgaMu.