October 22, 2017

Syahidah Itu Bernama Sumayyah

Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan menelusuri sebuah kisah tentang kekuatan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Kisah yang selalu diulang-ulang setiap hari, yakni kisah pertentangan antara iman dan kekafiran.
            Kita akan menjumpai wanita pertama yang meninggal sebagai syuhada dalam sejarah Islam. Dia adalah wanita suci yang telah menorehkan catatan keabadian dalam lembaran sejarah dan Islam telah menetapkannya pada kedudukan yang sangat tinggi.
            Dia adalah Sumayyah binti Khabat ra. yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Saw akan masuk surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang membuat segala bentuk penderitaan dan siksaaan terasa manis dan menyenangkan.
            Kisah ini diawali dengan kedatangan Yasir, ayah ‘Ammar, dari Yaman bersama dua saudaranya Al-Harits dan Malik ke Kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di Kota Makkah. Tapi, di Kota ini pun mereka tidak menemukannya. Karena itu, Al-Harits dan Malik memutuskan pulang ke Yaman, sedangkan Yasir tetap tinggal di Makkah, karena merasakan suasana bahagia dan gairah yang aneh, sehingga dia memilih untuk tinggal di Makkah. Yasir tidak tahu bahwa dengan keputusannya itu, dia telah masuk gerbang sejarah baru yang terang benderang.
            Ada tradisi yang berlaku di masyarakat Arab, apabila orang asing ingin tinggal di suatu negeri, maka ia harus mengikat perjanjian dengan salah seorang tokoh terkenal di kota tersebut untuk melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan tenang dan nyaman di kota tersebut.
            Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bil Al-Mughirah Al-Makhzumi. Tokoh terkemuka Makkah ini sangat menyukai Yasir karena sifat-sifatnya yang baik dan tindak tanduknya yang menyenangkan, serta latar belakang keluarganya yang terhormat. Abu Hudzaifah ingin memperkuat hubungannya dengan Yasir, sehingga dia menikahkan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khabat ra.
            Dari pernikahannya dengan Sumayyah binti Khabat, Yasir dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama ‘Ammar bin Yasir. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, ketika Abu Hudzaifah memutuskan untuk memerdekakan ‘Ammar dari statusnya sebagai budak. Tidak lama kemudian, Abu Hudzaifah meninggal dunia.
            Suatu ketika, ‘Ammar ra. mendengar keberadaan risalah Muhammad saw., maka ia segera membuka hatinya untuk menerima seruan iman. ‘Ammar bergegas ke rumah Al-Arqam dengan langkah-langkah ringan dan cepat seakan-akan sedang mengejar detak jarum jam. Setibanya di rumah Al-Arqam dan melihat Nabi saw., serta mendengarkan wahyu yang disampaikan olehnya, maka hatinya seperti terbang melayang-layang di angkasa karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
            ‘Ammar pulang ke rumahnya dengan langkah yang cepat untuk merangkul tangan kedua orangtuanya dan membawa mereka menuju surga dunia yang akan membuahkan kenikmatan abadi di surga akhirat. Setibanya di rumah, ‘Ammar ra. mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu waktu lama, hati-hati yang bersih dan suci itu langsung terbuka dan sangat senang mendengar firman Allah swt. Yasir dan Sumayyah merasakan keberadaan cahaya yang menyinari seluruh penjuru jagat raya, sehingga saat itu juga keduanya masuk ke dalam Islam.
            Tidak lama berselang, berita keislaman keluarga Yasir tersebar dan sampai di telinga bani Makhzum. Mereka marah besar dengan kejadian itu sehingga langsung mendatangi keluarga yasir dan menyiksa mereka sekeras-kerasnya.
            Ketika terik matahari memuncak, mereka menyeret keluarga Yasir ke tengah lapang yang panas dan menyuruh mereka memakai baju besi. Mereka tidak diberi minum dan tetap dibiarkan terpanggang oleh sinar matahari. Mereka menerima penyiksaan yang bermacam-macam dari bani Makhzum. Ketika benar-benar telah kepayahan, mereka dibawa pulang ke rumah, kemudian disiksa kembali pada hari berikutnya.
            Sumayyah ra. adalah salah satu orang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di Jalan Allah ‘azza wajalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yang sangat mulia, yakni masuk surga.
            Orang-orang musyrik terus menyiksa Sumayya, suaminya (Yasir) dan putranya (‘Ammar). Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.
            Pada suatu hari, Rasulullah saw. Lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda yang artinya, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” Allahu Akbar! Semilir angin surga telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara penyiksaan yang sedang mereka rasakan.
            Saat itulah, mereka mulai merasa lebih tenang dan nyaman ketimbang rasa payah karena siksaan yang mereka terima. Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.
            Sahabat wanita agung, Sumayyah ra., tetap tegar dalam menerima siksaan yang bermacam-macam. Tekadnya tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.
            Sumayyah menjadi orang pertama yang meraih syahadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. Tombak pendek dihujamkan pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada tahun 7 Hijrah. Andaikan wanita-wanita saat ini menjadikan perjalanan hidup sabahat wanita yang agung ini sebagai contoh teladan yang diikutinya dalam hal pengorbanan, kesabaran dan ketabahan, tentulah mereka akan menjadi wanita-wanita yang tegar dalam menjalani kehidupan dan memiliki semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah swt dalam kondisi apapun.

            Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya. 

October 07, 2017

Mewujudkan Generasi Qur'ani


Mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak adalah salah satu tanggung jawab terbesar bagi orang tua. Tidak sedikit generasi muslim yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Jika ini dibiarkan, kita akan berhadapan dengan generasi yang asing dengan Al Qur’an. Bagaimana Al Qur’an bisa menjadi panduan hidup jika membacanya saja tidak bisa. Al Qur’an adalah firman Allah swt, yang jika dibaca akan bernilai ibadah, yang jika dikaji dengan saksama, di dalamnya penuh dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Menamamkan cinta pada Al Quran sejak dini akan memotivasi mereka untuk menghafal dan belajar bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Mereka yang menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).
Salah satu keistimewaan Al Quran adalah diberikan pahala bagi orang yang membacanya. Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).
Memiliki anak-anak yang mencintai Al Quran adalah anugerah tak ternilai. Maka memberikan kesempatan kepada mereka untuk berinteraksi sedini mungkin adalah sebuah keharusan. Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya. Demikianlah yang Allah jelaskan di dalam firman-Nya; “Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
Lalu, bagaimana cara mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak? Ada banyak cara agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cinta pada Al Quran:

Ajarkan Mereka “Mengapa”
Anak-anak harus mengerti mengapa mereka harus mencintai Al Quran, mengapa hal ini begitu penting bagi mereka? Mengapa mereka harus belajar membaca Al Quran? Anak-anak adalah jiwa-jiwa suci nan polos yang dipenuhi rasa ingin tahu akan hal-hal baru yang mereka temui. Luangkan waktu untuk menjelaskan arti dari surat-surat yang sedang mereka hafal. Dengan memahami artinya, akan menumbuhkan cinta yang dalam kepada Al Quran. Anda bisa membaca terjemahan ayat demi ayat atau membacakan tafsirnya di hadapan mereka.
Jelaskan di hadapan mereka bahwa Al Quran adalah pedoman hidup bagi siapapun yang mendambakan kebahagiaan. Hidup dalam naungan Al Quran adalah hidup dalam naungan kebajikan. Semua itu karena Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan juga ajaran agama. Dengan bantuan Al Quranlah, maka seseorang mendapatkan gambaran yang jelas akan eksistensi, nilai, dan tata cara kehidupan yang benar.

Ajarkan mereka “Menghormati”
Jika sejak usia dini anak-anak sudah terbiasa melihat Anda memegang Al Quran dengan penuh hormat, meletakkannya lebih tinggi dari buku-buku yang lain, terbiasa mendengar bacaan Al Quran penuh khusyu, mereka akan memahami bahwa Al Quran adalah kitab yang sangat spesial. Ajarkan mereka untuk menghormati Al Quran, tidak bermain-main atau bahkan meletakkannya sesuka hati. Ajarkan mereka bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Al Qur’an.

Ajarkan Al Quran Sejak Dini
Dalam mendidik anak, asupan pertama terbaik bagi jiwa mereka adalah memperdengarkan dan membacakan ayat suci Al Qur’an. Usahakan mereka mulai menghafalkan Al Qur’an sejak dini, per kalimat, lalu per ayat. Jiwa mereka akan tumbuh bersama kesucian Al Qur’an.
            Sel-sel otak mereka yang berjumlah miliaran akan membentuk gugusan sel yang tidak saja rapi tapi juga hidup dan bercahaya. Otak mereka menjadi cerdas secara intelektual dan spiritual. Anak yang demikian inilah yang pantas mewarisi generasi saleh masa lalu dan siap menyongsong gelombang kehidupan masa depan yang penuh dinamika.
Anda bisa memulai menanamkan cinta pada Al Quran dengan cara membacanya di hadapan mereka sejak lahir. Biarkan mereka terbiasa mendengar Al Quran setiap harinya. Bahkan ada penelitian yang merekomendasikan bagi ibu yang hamil untuk membacakan Al Quran bagi bayi yang ada di dalam kandungannya. Anak dalam kandungan pada usia 20 minggu (5 bulan) lebih, sudah bisa menyerap informasi melalui pengalaman-pengalaman stimulasi atau sensasi yang diberikan ibunya. Dengan demikian, bila si ibu membacakan suatu informasi ilmu pengetahuan dengan niat ibadah yang dilanjutkan dengan mengeraskan volume suara, sebenarnya, secara sadar si ibu telah melakukan pengkondisian untuk anak dalam kandungannya. Terlebih lagi bila si ibu memahami segala yang dibacanya, mengekspresikan bacaan tersebut dengan intonasi yang khas sesuai dengan alur cerita, maka sudah barang tentu si anak dalam kandungan hanya akan terangsang pada kondisi ilmiah tersebut. Sungguh aktivitas ini pun akan menjadi kegiatan yang penuh kehangatan sekaligus menyenangkan bagi hubungan ibu dan anak.
            Jika susah untuk membacanya karena kesibukan, maka jangan lupa untuk memutar murattal di rumah. Jadikan Al Qur’an sebagai bagian terpenting yang harus mereka dengar setiap hari. Jika anak sudah memasuki usia sekolah, jadikan Al Quran sebagai bacaan yang mereka dengar sebelum berangkat ke sekolah dan biarkan mereka mendengar bacaan Al Quran sebelum mereka lelap dalam tidur.

Ajarkan Mereka Dengan Penuh Cinta
Jika Anda ingin anak-anak mencintai Al Quran sepenuh hati, maka ajarkan Al Quran kepada mereka dengan penuh cinta. Jangan menghukum mereka karena tidak menghafal sesuai target harian yang ditentukan, atau menghukum mereka karena salah dalam membaca Al Quran. Akan tetapi, beri mereka penghargaan ketika mereka mampu membaca Al Quran dengan baik; ucapkan selamat, beri hadiah dan ingatkan mereka betapa Allah sangat bahagia melihat mereka istiqamah dalam membaca al Quran.
            Bagi seorang Ibu, hendaklah mempersiapkan dirinya sebagai calon guru bagi anak-anaknya kelak. Hendaknya dia bisa mengaji Al Qur’an dengan fasih, sehingga pelajaran pertama dalam membaca Al Qur’an akan didapatkan oleh seorang anak dari mulut ibunya sendiri. Betapa anak sangat terkesan peristiwa bersejarah dalam kehidupannya ini.

Ajarkan Mereka dengan “Cara Mereka”
Setiap orang memiliki cara dan metode belajarnya sendiri. Ada yang lebih senang belajar sendiri, belajar berkelompok, belajar dengan melihat, mendengar atau mengerjakan sesuatu agar sesuatu yang ia pelajari dapat diingat dan dipahaminya dengan baik.
Cobalah untuk menyesuaikan cara Anda mengajarkan Al Quran dengan cara mereka belajar. Bisa jadi cara mereka belajar akan berbeda dengan cara Anda belajar Al Quran. Ingatlah, bahwa Allah menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Ketika Anda menemukan cara terbaik anak-anak belajar, maka belajar Al Quran bersama-sama akan lebih menyenangkan.
Ada anak yang suka belajar Al Quran dengan cara mendengarkan. Anak-anak yang seperti ini akan sangat senang dan akan mendapatkan banyak manfaat dari mendengarkan bacaan Al Quran yang sesuai dengan tajwid. Jangan lupa menyiapkan murattal  ketika di mobil, ketika mereka sedang mengerjakan tugas dan lain-lain.
Ada juga anak yang paling suka belajar Al Quran dengan cara menulis per kalimat, per ayat, maupun per surat. Mereka memiliki kemampuan merekam setiap tulisan yang mereka buat. Biarkan mereka membacanya dan izinkan mereka untuk menulis ayat-ayat yang dibaca maupun yang sedang dihapal.
Setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda. Beri perhatian pada hal ini, agar Anda tahu bagaimana cara terbaik menanamkan cinta pada Al Quran sejak dini.

Berdoa
Sebagai orangtua, jangan lupa berdoa dengan tulus bagi si buah hati. Mintalah kepada Allah agar Ia menanamkan cinta kepada Al Quran di dalam hati mereka dan menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup. Karena hidup tanpa Al Quran bagai berjalan di kegelapan malam.
Wallahu a’lam bisshawab.

October 06, 2017

Kehidupan yang Bahagia

Sesungguhnya seorang mukmin sejati memiliki keyakinan yang tinggi bahwa tidak ada kebahagiaan ataupun ketenangan bagi umat manusia, tidak juga berkah dan kesucian yang selaras dengan hukum alam dan fitrah kehidupan, kecuali bila manusia mau kembali kepada Allah dengan mengkaji dan mengaplikasikan ajaran yang ada di kitab-Nya, yang merupakan pedoman bagi kehidupan manusia. Hanya kitab-Nya yang mampu menuntun manusia menjadi manusia ideal yang memiliki prinsip hidup yang sempurna serta berakhlak mulia. Hal ini senada dengan firman-Nya.
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Israa’: 9)
Al Quran adalah pedoman hidup bagi siapapun yang mendambakan kebahagiaan. Hidup dalam naungan Al Quran adalah hidup dalam naungan kebajikan. Semua itu karena Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan juga ajaran agama. Dengan bantuan Al Quranlah, maka seseorang mendapatkan gambaran yang jelas akan eksistensi, nilai, dan tata cara kehidupan yang benar.
Kebahagiaan yang merupakan bagian dari kehidupan dalam naungan Al Quran bukanlah kebahagiaan yang dikarenakan banyaknya harta, tingginya jabatan, banyaknya anak, tercapainya suatu kepentingan ataupun karena mendapatkan semua materi duniawi yang menggiurkan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat kejiwaan dan tidak bisa divisualisasikan ataupun diukur dengan suatu alat ukur tertentu ataupun dibeli dengan uang. Sesungguhnya kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh individu manusia dalam hati. Ia adalah cerminan dari kesucian diri, ketenangan hati, kelapangan dada, dan nyamannya perasaan.
Kebagaiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri manusia dan bukan berasal dari luar dirinya. Berdasar hal inilah, maka Allah menjanjikan orang-orang yang selalu berbuat baik dan hatinya selalu penuh keimanan kepada Allah suatu kehidupan yang bahagia. Hal tersebut dipahami dari firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)
Sesungguhnya kebahagiaan yang diterima seseorang di dunia tidak akan mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang kelak akan diterimanya di akhirat. Imam Ghazali mendiskripsikan kebahagiaan akhirat dengan paparannya,
“Ia adalah kebahagiaan yang abadi dan bukanlah bersifat semu dan sementara. Ia adalah kebahagiaan yang penuh dengan kenikmatan dan bukan pengorbanan, ia adalah kebahagiaan yang penuh dengan  keceriaan dan bukan kesedihan, kebahagiaan yang penuh dengan kekayaan dan bukan kemiskinan, kesempurnaan dan tiada cacat, kemuliaan dan bukan kehinaan. Secara umum, kebahagiaan ukhrawi adalah kebahagian yang selalu didambakan setiap manusia dan ia bersifat abadi dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.” Hal ini senada dengan firman-Nya,
“Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)
Al Quran sangat peduli dengan kebahagiaan manusia, baik itu kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhiratnya dan menunjukkan jalannya dengan konsepnya yang seimbang. Konsep yang membuat manusia tetap mendapatkan kebahagiaan di akhirat dengan tidak mengharamkannya untuk mendapatkan bagian dari kebahagiaannya di dunia. Masing-masing kebahagiaan yang ada memiliki investasinya tersendiri. Dengan demikian, manusia tidak perlu mengasingkan diri dari dunianya yang justru membuat dirinya menjadi lemah dalam menggapai kebahagian akhiratnya.
Al Quran menekankan bahwa siapapun yang menginginkan kebahagiaan, ketenangan hati, dan introspeksi dalam diri maka ada baiknya dia kembali kepada Al Quran yang merupakan konsep yang telah Allah tetapkan bagi manusia, yakni bagi kehidupan dunianya dan juga interaksinya dengan sesamanya yang semuanya itu selaras dengan hukum alam secara keseluruhannya.
Kebahagian sejati hanya akan didapatkan bagi siapa pun yang mengaplikasikan ajaran dalam Al Quran. Sesungguhnya ajarannya akan menumbuhkan ketenangan dalam hati, menambah keimanan kepada-Nya, memperbaiki ajaran agama, membebaskan diri dari segala penyakit hati, keraguan, kecemasan dan depresi, melepaskan diri dari menyekutukan-Nya dan bersikap pongah. Hanya dengan panduan Al Quranlah seseorang mampu menyatukan hati kepada Allah hingga ia akan merasa tenang, aman, dan damai dan ia pun akan selalu dilimpahi keridhaan-Nya.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (al-Baqarah: 2)
Al Quran hendaknya menjadi rujukan dalam kehidupan. Padanya tersimpan segala petunjuk. Dalam susah, apa kata Al Quran? Dalam senang, apa kata Al Quran? Dalam gundah, apa kata Al Quran? Dalam tawa, apa kata Al Quran?
Dengan berpedoman kepada Al Quran, maka seseorang dapat melepaskan ketergantungannya pada penyakit sosialnya yang menyusup dalam hatinya. Dengan demikian, ia akan selalu merasakan ketenangan dan kedamaian dan ia pun bisa hidup di tengah masyarakatnya dengan penuh ketentraman. Al Quran pun merupakan satu bentuk rahmat bagi siapa pun yang mengimaninya dan membenarkannya. Ia merupakan penuntun kepada keimanan kepada Allah swt. dan juga kepada kebaikan. Maka, tak sulit bagi seseorang untuk bisa masuk ke dalam surga-Nya dan hidup di dalamnya dengan kehidupan yang abadi dan bahagia.

Akhirnya, pelajarilah Al Quran dengan hati yang ikhlas dan sungguh-sungguh. Mintalah kepada Allah agar diberi taufiq untuk bisa memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan. Karena, hidup tanpa Al Quran bagai berjalan di kegelapan malam.

June 12, 2017

Bila Nanti Waktu Telah Hadir





Beberapa hari terakhir, timeline sosial media saya dipenuhi oleh potret kebahagiaan teman-teman yang sudah dikaruniai putra-putri. Saya bisa melihat raut wajah bahagia dari senyum mereka ketika menyenandungkan adzan di telinga si buah hati yang baru lahir, ada bulir-bulir lembut yang tampak ketika mereka menggendong si kecil untuk pertama kalinya. Saya terharu. 

Sebagai lelaki, sudah nalurinya untuk segera menjadi seorang Ayah ketika sudah menjadi seorang suami. Saya selalu bahagia berkunjung ke rumah teman-teman yang seangkatan dengan saya dan sudah dikaruniai putra-putri yang lucu. Biasanya setiap mudik Idul Fitri, ada waktu untuk bersilaturahmi dengan teman zaman sekolah dulu, sebagian besar sudah berkeluarga dan dianugerahi keturunan.

Di waktu Dhuha pagi ini, ada detak yang lebih kencang di dalam dada saya, ada air mata yang mengalir demikian mudahnya dan menetes di atas sajadah tempat bersujud. Untaian doa-doa melangit bersama dengan harapan semoga Allah segera meridhai impian saya untuk menjadi seorang Ayah. Ya, mimpi ini terus melangit dalam doa-doa panjang di hadapan-Nya.

Saya mencoba untuk lebih ikhlas lagi, lebih yakin lagi kepada-Nya, bahwa adakalanya hal-hal yang kita inginkan ditunda kehadirannya karena cintaNya kepada kita. Saya ingat dua tahun yang lalu, saya pernah menulis di selembar kertas tentang keinginan saya untuk pergi ke Baitullah, doa-doa terus saya panjatkan hingga akhirnya Allah mengabulkannya dengan cara yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dua tahun berturut-turut Allah memberi kesempatan saya untuk pergi ke Baitullah. Allah kadang memberi kejutan-kejutan manis dengan bumbu-bumbu perjuangan yang kadang kecut, asam dan melelahkan. Itulah Ia, Rabb semesta alam yang selalu berhasil memberi ujian terbaik bagi hambaNya karena Ia sudah menjelaskan melalui firmanNya bahwa “semua hanya akan diuji sesuai batas kemampuannya”.

Setelah shalat dhuha, saya mengambil mushaf kecil, kemudian membacanya pelan namun tegas. Ada ketenangan dalam diri, ada semangat lagi di dalam diri. Ada keyakinan yang semakin menguat bahwa “mungkin saja Allah sedang menyiapkan kejutan indah. Allah ingin saya lebih sabar lagi, lebih mendekatkan diri lagi kepadaNya, baru kemudian dia akan memberi amanah keturunan kepada saya dan mempermudah semua prosesnya.”

Ketika doa belum diijabah olehNya, tetaplah berprasangka baik kepadaNya, jangan lelah untuk terus mendekatiNya, biarkan lelah kita Lillahi ta’ala. 

“Istri sudah hamil belum?” tanya seorang jamaah habis ashar kemarin. Saya tersenyum, “Belum, mohon doanya.” 

Pertanyaan ini sudah tidak terhitung lagi ditanyakan kepada saya, mulai dari orang tua, adik, kakak, sepupu, teman, karyawan toko, semua seolah sedang berlomba-lomba menunjukkan kepedulian akan kehidupan saya. Setiap kali ditanya, saya berusaha selalu menjawab dengan baik, misal “insha Allah segera, mohon doanya.” Karena ketika Allah sudah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi, kan? Meski demikian, adakalanya pertanyaan ini menjadi sangat sensitif ketika dalam sehari diajukan oleh sekian banyak orang, misal pas mudik ke kampung halaman dan bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, teman, dan lain-lain. Sehari bisa ditanyakan oleh 20 orang lebih. Semoga lelah ini lillahi ta’ala, ya rabb.

“Tetap berprasangka baik kepada Allah, jalani dengan sabar” demikian yang Ibu katakan.

“Anggap saja mereka semua peduli dan tidak sabar ingin melihatmu punya anak. Semoga semakin banyak yang mendoakan, semakin dimudahkan segala urusanmu. Jangan lelah menjawab semua pertanyaan ‘sudah punya anak? Kapan punya anak? Istri sudah hamil?’, jalani dengan sabar.”

Mungkin saja Allah sedang memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak lagi belajar bagaimana menjadi seorang Ayah yang shalih, yang mampu membimbing si buah hati menuju surgaNya. Hanya orang-orang tak beriman yang tidak yakin dengan rahmatNya.
“anak saya juga belum dikaruniai keturunan,” ucap seorang jamaah yang lain kepada saya beberapa waktu lalu selepas saya menjawab pertanyaannya “istri sudah hamil?”. Kami sama-sama tersenyum. “yang sabar,’’ lanjutnya lagi.

Saya jadi ingat ketika pertama kali menyentuh ka’bah, saya menangis sesenggukkan, merapal doa-doa terbaik kehadiratNya. Salah satu doa yang selalu saya langitkan ketika berada di tanah suci adalah “berkahi rumah tangga ini, ya, rabb. Beri kami anak-anak yang shalih-shalihah,”. Satu tahun lebih doa itu melangit di tanah haram dan hingga kini tetap saya jadikan bagian dari doa dalam setiap ibadah kepadaNya. 

Adakalanya kehidupan orang lain terlihat begitu bahagia, padahal setiap kehidupan pasti memiliki cobaan-cobaan tersendiri. Ada yang hingga belasan tahun belum dikaruniai keturunan, tapi Allah beri kemudahan di urusan yang lain. Ada yang Allah beri kemudahan dalam meniti karir, tapi Allah beri ujian kesabaran dengan belum diberi keturunan, dan masih banyak lagi ujian-ujian lain yang Allah berikan kepada hambaNya. Jangan pernah membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Syukuri, jalani dengan sabar. Karena syukur dan sabar adalah sebuah keharusan seorang hamba. Jangan lelah untuk berdoa, jangan lelah untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Ya rabb, bila nanti waktu telah hadir, beri kami kesabaran dalam mendidik putra-putri kami dalam ketaatan kepadaMu. Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika hidup dalam taat kepadaMu. Tidak ada jalan lain yang lebih bahagia selain jalanMu, ya Rabb.


January 15, 2017

Jangan Menunda Taubat




 وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٥٣)
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al A’raf: 153)
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita tak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Seolah-olah dosa sudah menjadi bagian dari diri sendiri. Bayangkan saja bagaimana seringnya mata kita tidak dijaga dari hal-hal yang tidak disukai Allah SWT. Bagaimana telinga yang dengan mudahnya mendengar aib saudara sesama muslim. Bagaimana mulut yang dengan mudahnya membicarakan keburukan orang lain. Begitupun anggota tubuh yang lain, yang jika dihitung mungkin tidak akan sanggup menghitung banyaknya dosa yang dilakukan setiap harinya. Belum lagi berbagai dosa terkait kelalaian ibadah kepada Allah SWT, kewajiban yang ditinggalkan, penyakit hati yang setiap detiknya merusak keimanan kita dan tentunya masih banyak hal lainnya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap insan pasti berdosa, setiap manusia pasti melakukan kesalahan karena kita bukan Nabi atau Rasul yang dima’sumkan oleh Allah SWT. Namun bukan berarti kita berserah diri, berpangku tangan dan berputus asa dari dosa-dosa tersebut. Bukan berarti juga dengan dosa ini kita merasa tak apalah berbuat dosa toh semua orang berbuat dosa. Tidak. Agama Islam tidak mengajarkan seperti itu. Sebagai muslim yang beriman kepada Allah SWT, seharusnya kita sebisa mungkin menjauhkan diri dari dosa, dari hal-hal yang dilarang oleh Agama.
Salah satu hikmah dari adanya dosa adalah kita merasa berhati-hati akan setiap perbuatan yang dilakukan. Kita akan merasa takut bahwa apa yang dilakukan tidak disukai oleh Allah SWT. Sehingga dampaknya adalah kita berusaha untuk terus mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bayangkan jika tidak ada dosa di dunia ini, manusia akan hidup semaunya, manusia akan saling menyakiti antara satu dengan yang lainnya, tidak ada rasa takut akan setiap apa yang dilakukan, sehingga pada akhirnya tidak ada hamba yang mendekat kepada Tuhannya, tidak ada hamba yang merintih dan berdoa kepada Allah SWT lantaran dosa yang telah dilakukan.
Mengetahui hal tersebut, agama Islam menganjurkan umatnya untuk terus mensucikan diri, sebagaimana dalam firmanNya,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢).....
“...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
Ada satu cara ketika seorang muslim melakukan dosa kemudian ingin kembali kepada Tuhannya dan memperbaiki diri, maka dianjurkan untuk bertaubat. Taubat seperti apa, yaitu taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah taubat dengan menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

10 Dosa Besar
Sebelum bertaubat kepada Allah SWT, tentunya kita perlu mengetahui dosa apa yang telah dilakukan, kemudian masuk dalam kategori mana dosa tersebut. Boleh jadi selama ini dosa yang kita sepelekan, yang sering dilakukan ternyata adalah dosa besar. Disini akan disebutkan 10 dosa besar yang dilakukan seorang hamba, yaitu: 1) syirik, 2) meninggalkan shalat, 3) durhaka kepada orang tua, 4) zina, 5) makan harta haram, 6) mabuk, 7) memutus silaturahmi, 8) bohong, 9) kikir, 10) ghibah.
Tentunya masih ada versi lain yang menyebutkan dosa besar, tapi ini bukan masalahnya, yang jadi masalahnya adalah kita sudah melakukan dosa tersebut tapi sayangnya kita tidak sadar bahwa itu dosa. Jika sadar bahwa itu dosa saja belum, bagaimana mau bertaubat? Sebagai contoh yaitu meninggalkan shalat. Masih banyak muslim yang menganggap meninggalkan shalat sesuatu yang wajar dan ringan saja dilakukan, padahal itu adalah dosa besar.

Orang Taubat Dicintai Allah
Seseorang yang berusaha bertaubat kepada Allah SWT, maka Allah akan sangat mencintai hamba tersebut. Sebagaimana hadis yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hambaNya ketika mau bertaubat kepadaNya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah Tuhanmu,’ dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)
Dari hadis tersebut dapat dijelaskan bahwa Allah akan sangat bergembira sekali terhadap seorang hamba yang bertaubat. Rasa gembiranya dalam hadis tersebut diibaratkan seperti seseorang yang kehilangan unta dan perbekalannya di gurun pasir, kemudian pada saat sedang haus dan lapar sekali, unta tersebut datang kembali kepada orang tersebut.
Jangan sekali-kali berputus asa akan ampunan Allah SWT. Selagi masih diberi umur dan kesehatan alangkah baiknya digunakan untuk bertaubat kepada Allah SWT. Sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba, namun rahmat dan ampunan Allah lebih besar dari dosa tersebut. Jangan pula merasa khawatir kalau hari esok berbuat dosa lagi, kemudian karena perasaan khawatir itu (besok akan berbuat dosa lagi) maka kita menunda taubat kita. Jangan!
Hari ini kita taubat untuk semua dosa yang telah dilakukan kemarin. Esokpun taubat lagi untuk segala dosa yang kita lakukan hari ini. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang luput dari dosa. Sebagai seorang muslim, kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dari perbuatan dosa, menjaga taubat kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Perlu digaris bawahi bahwa taubat bukan hanya untuk dosa-dosa besar tapi juga untuk dosa-dosa kecil. Perbanyaklah istighfar, karena esensi dari istighfar adalah meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan. Berdasarkan hadis Nabi saw, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari). Di hadis lain Nabi menyebutkan, “Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Keutamaan Bertaubat
Banyak sekali keutamaan atau manfaat dari bertaubat ini. Manfaat dari bertaubat ini bukan hanya dirasakan nanti di akhirat, tetapi juga dapat dirasakan ketika masih di dunia. Adapun manfaat yang pertama adalah taubat menjadi sebab kecintaan Allah kepada hambaNya, sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya, “...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah: 222)
Taubat akan membuat seseorang menjadi orang yang beruntung, tentunya beruntung di mata Allah, bukan hanya di mata manusia, sebagaimana firman Allah,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)
“...bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31)
Selain itu, taubat juga menjadi sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan. Allah swt berfirman,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (٥٢)
“dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud: 52)
Masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari taubat, jadi tidak ada alasan untuk tidak bertaubat. Boleh jadi masalah yang datang di kehidupan kita dan belum juga terselesaikan lantaran dosa dan maksit yang kita lakukan. Boleh jadi juga cita-cita yang sudah dikejar dari sekian tahun belum juga terwujud lantaran dosa dan maksiat kita. Jadi perlancarkan segala urusan dengan bertaubat kepada Allah swt. Tentunya taubat yang ikhlas kepada Allah dan menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.