December 28, 2011

Satu mimpi yang terwujud


Begitu bahagia rasanya bisa kembali bertemu kalian, makan bareng, dan berbagi cerita tentang kegiatan kita masing-masing. kembali mengenang kebersamaan kita empat tahun lamanya di Kampus. Kembali tertawa saat saya mengingatkan kalian sebait kalimat favorit waktu kuliah :

'Ini makalah atau bungkus gorengan? 

Dan langsung diikuti gelak tawa oleh teman-teman seruangan.
Iya, kalimat itu sering jadi andalan saat yang presentasi makalah tidak memuaskan, atau makalah yang dibuat asal-asalan. Meski diucapkan dengan nada bercanda, ternyata kalimat itu bisa memotivasi teman-teman lain untuk bisa membuat makalah dengan baik dan bisa mempresentasikannya dengan baik.

Kita kembali tersenyum saat mengingat Ujian Skripsi yang membuat jantung berdetak kencang tidak menentu. dan saat keluar dari ruang sidang, air mata menetes tanpa permisi sebagai ungkapan kebahagiaan.

Dan semoga kebersamaan kita akan ada dilain kesempatan.
Dan satu mimpiku sudah terwujud, yaitu "Bertemu dengan kalian lagi"

Memaafkan


Tidak pelak lagi, manusia tidak bisa hidup menyendiri jauh dari masyarakat. Ia adalah makhluk yang saling bergantung dan yang kebutuhannya tidak mengenal batas. Kenyataannya manusia bergantung secara sosial; hal ini sepenuhnya sesuai dengan watak dan berbagai kebutuhannya, dan menjadikannya uuntuk hidup di bawah semangat untuk kerja sama atau gotong royong.

Kehidupan sosial merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam perkembangan watak manusia, tidak hanya pada hal-hal materi, akan tetapi lebih dari itu, hubungan tersebut akan membentuk kesatuan jiwa, dan jika kesatuan jiwa sudah ada dalam kehidupan bermasyarakat, maka dipastikan kehidupan dalam bermasyarakat akan merasakan keindahan dan ketentraman.

Salah satu kewajiban kita dalam berhubungan dengan orang lain adalah mampu untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna, semuanya pasti pernah berbuat salah. Jalan terbaik menuju hidup yang dipenuhi kedamaian adalah benar-benar hidup dengan damai bersama orang lain.

Menurut para Ulama, bakat terbesar yang tidak dimiliki oleh hewan adalah sifat pemaaf dan melupakan kesalahan-kesalahan orang lain. Ketika seseorang berbuat salah terhadap diri kita, kita diberi kesempatan mulia untuk memaafkan kesalahannya.

Ketika kita membalas dendam atas apa yang yang sudah dilakukan oleh musuh, maka secara tidak langsung kita sudah menempatkan diri pada posisi yang sama dengan musuh kita, karena kita telah memperlakukannya dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan kepada kita. Tetapi kita akan mendapatkan kemuliaan jika kita mampu untuk memaafkan kesalahannya. Dengan memaafkan, kita pasti menjadi pemenangnya, kita mampu mengalahkan musuh-musuh tanpa harus ada pertikaian antara satu sama lain.

Imam Ali a.s berkata:
"Orang yang paling beruntung adalah orang yang mensucikan dirinya dari perselisihan dan dendam".
Dr. Dale Carnegie menulis di dalam bukunya, How to win friends and Influence People :
"Kebencian kita terhadap orang lain tidaklah melukai mereka sedikit pun, kecuali justru mengubah kehidupan kita menjadi neraka yang tidak terganggukan".
Adalah wajib bagi kita untuk bersikap baik ketika orang lain melanggar, karena kebaikan merupakan kebijakan surgawi, yang dengan itu bumi dan para penghuninya dapat hidup dalam kedamaaian dan keharmonisan.

December 15, 2011

Ajari anak shalat sedini mungkin

Tadi siang, saya mengirimkan pesan singkat kepada murid-murid kelas yang saya ampu.
“Salam, sudahkah hari ini Ananda membaca Al qur’an?, jangan lewatkan hari tanpa membaca Al qur’an sebagai wujud syukur atas ni’mat dari Allah swt.”
Saya memang rutin berkomunikasi dengan anak-anak via sms, chatting, dan juga telphone. Tujuannya adalah agar mereka merasa bahwa ada yang peduli dengan mereka, karena memang tidak semua orang tua peduli dengan apa yang dilakukan anak-anak di rumah. seperti Shalat mereka, tidak semua bisa mengontrol karena sibuk bekerja, setidaknya dengan tetap melakukan komunikasi, saya sudah berusaha untuk selalu mengingatkan mereka agar “segera shalat jika sudah masuk waktunya”, “jangan lupa untuk membaca Al qur’an tiap ba’da Maghrib” dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, seperti “jangan lupa untuk membawa buku penghubung ke sekolah”, “belajar yang rajin karena sebentar lagi ujian kompetensi”dan lain-lain.

Dari awal yang paling saya tekankan kepada mereka adalah “Shalat lima waktu”, karena sebagian besar orang tua mengeluhkan prilaku anak yang sangat susah untuk disuruh shalat. Biasanya mereka susah untuk disuruh shalat “Isya” dan “Shubuh”. Seperti sore ini, saya mendapatkan pesan singkat dari wali murid (nama saya samarkan):
“Maaf ust. Si “R” tidak pernah membaca Al qur’an, shalat masih harus disuruh, jarang shalat isya dan shubuh, setiap hari maen game terus. Saya sebagai orang tua sangat prihatin. Kira-kira langkah apa yang harus saya lakukan?. Apa harus dibawa ke ahli jiwa?.  Mohon sarannya”
Berbicara tentang si ‘R’, sebenarnya saya juga rada-rada bingung bagaimana lagi mengingatkan dia untuk rajin shalat, dan rajin belajar. Karena memang sudah berulang kali saya panggil dan ajak bicara dari hati ke hati (terkesan lebay nggak sih ha ha), tiap kali saya ajak bicara, dia biasanya ta’at untuk beberapa hari, kemudian ngulang lagi dari awal harus diingatkan lagi dan begitu seterusnya (bukan berarti saya sudah menyerah ya, #senyum).

Setelah membaca pesan singkat dari Ibunya, saya balas :
“Salam. Ibu, jangan pernah bosan untuk terus mengingatkan ananda ‘R’. Saat dia tidak mau mengerjakan shalat, jangan berhenti mengingatkan sampai dia benar-benar mengerjakan, begitu juga dengan belajar. Sekeras apa pun hati akan berubah dengan adanya kepedulian dari orang tua. Sekarang Ibu sudah mengingatkan sebagai wujud kepedulian, dan yang perlu Ibu lakukan adalah lebih bersabar dan tetap mengingatkan dia akan kewajiban-kewajibannya”.
Yang jadi masalah sekarang adalah, terkadang orang tua hanya mengingatkan saja tanpa memperdulikan apakah anak melaksanakan atau tidak, dalam artian setelah disuruh shalat dan anak belum melakukan, akan tetapi orang tua sudah berhenti disitu. Sering saya ajukan ke wali murid “Apakah pernah dipaksa untuk shalat?”, dan kebanyakan jawaban adalah “Tidak”, “dan setelah diingatkan apakah mereka mengerjakan?”, biasanya jawabannya “kadang-kadang”. Itu sudah bagus, mengingatkan sebagai wujud kepedulian orang tua terhadap anak. Kita ambil saja contoh “shalat”, shalat itu hukumnya wajib sejak anak sudah “baligh”, akan tetapi anak kecil itu hendaknya diperintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya. Dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.

Memukul disini bukan berarti dengan kekerasan, anak dipukul sampai berdarah-darah karena tidak shalat, bukan itu yang dimaksud, akan tetapi yang dimaksud adalah pukulan kasih sayang untuk mengingatkan anak akan kewajibannya (emang ada ya pukulan kasih sayang?, ok kurang lebih demikian penjelasannaya “mbulet”).

Permasalahan lain adalah, saya sering bertanya kepada anak-anak:
“Mengapa tidak shalat?”
Dan jawabannya mengejutkan :
“Papa aja nggak shalat ust”
Nah inilah pentingnya orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak-anak, bagaimana mungkin kita menyuruh anak-anak untuk shalat sementara kita sendiri selaku orang tua tidak melaksanakan shalat.

Orang tua kadang marah-marah saat anak tidak mengikuti les, akan tetapi saat anak tidak shalat, orang tua biasa-biasa saja terkesan tidak peduli. Masih ingat dengan pesan Nabi Ya’qub as kepada anaknya “apa yang kamu sembah sepeninggalku”? sebagai wujud kepeduliannya terhadap anak-anaknya, yang ia pertanyakan bukanlah "makan apa kalian kalo bapak udah nggak ada?".

Jadi sekarang, pertanyaannya adalah :
"Sudahkah kita mendirikan shalat lima waktu?"
“Sudahkah anak-anak kita mendirikan shalat?”.
Mari bersama, kita ajarkan anak-anak kita sedini mungkin untuk melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah yang lain. Dan tentunya dimulai dari kita selaku orang tua terlebih dahulu.

“Terkesan menggurui nggak sih saya ini?, #plak. Saya kan belum punya anak”, baiklah silahkan ambil yang baik-baiknya saja dari tulisan ini, yang jeleknya diabaikan saja”

December 14, 2011

Di Bawah Lindungan Ka'bah

Pagi tadi, saya sempatkan mendownload film yang sebenarnya sudah lama pengen saya tonton. Setelah membaca novelnya, rasanya kurang afdhol kalo saya tidak menonton filmnya. Novel yang saya maksud adalah “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya “Buya Hamka”. Saya termasuk pengagum sosok Buya Hamka, oleh karena itu, saya ingin tahu bagaimana jadinya novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” bila di filmkan.

Dan inilah pendapat saya setelah menonton filmnya :

Dari segi sinematografis film ini bagus, film ini juga berhasil menggambarkan Padang pada tahun 1920an. Akan tetapi entah kenapa saya sama sekali tidak tersentuh dengan film ini, saya tidak mengatakan film ini jelek, toh semua orang mempunyai penilaian tersendiri terhadap karya orang lain, dan saya menghargai karya ini dengan menonton meski dengan mendownload gratisan #plak.

Pada saat membaca novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, saya bisa sangat tersentuh dan meneteskan air mata, akan tetapi pada saat nonton filmnya barusan, entah mengapa saya tidak  tersentuh sama sekali. Saya juga rada aneh dengan adanya adegan Zaenab yang jatuh ke sungai dan kemudian diselamatkan oleh Hamid dan diberi bantuan napas (mouth to mouth). Oleh karena Hamid mencium Zaenab, Ia akhirnya dihukum untuk pergi dari kampung. Padahal, seingat saya, dan memang bener-bener ingat, Hamid pergi dari kampung bukan karna itu, akan tetapi ia pergi karena hatinya tidak kuat mengetahui Zaenab yang dijodohkan dengan Arifin.
Saya juga merasa terganggu dengan adanya iklan beberapa produk yang ditampilkan dan dishoot dengan jelas di dalam film, produk apa yang saya maksud?, silahkan tonton sendiri. #kalem.

Kemudian, saya juga kecewa dengan tokoh Hamid pada saat membaca ayat terakhir surat “Yaasin”Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kullu Syaiwwailaihi Turja’uun” di masjid tidak lama setelah Ibunya meninggal dunia. Seharusnya dia membaca “Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kulli Syaiwwailaihi Turja’uun” bukan “Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kullu Syaiwwailaihi Turja’uun”.

Mengetahui kesalahan orang lain itu memang lebih mudah dari pada kesalahan sendiri (baru sadar lo hehe). Disini saya tidak menyalahkan, saya hanya ingin berbicara sesuai dengan apa yang saya tahu, dan pengetahuan yang saya tulis di atas tentunya dengan bukti, saya punya novelnya, dan saya tahu ayat-ayat yang dibaca di dalam film tersebut (tolong jangan jitak saya haha).

Film kan tidak meski harus sama persis dengan Novelnya. Ok, saya juga tidak memaksa atau marah karena tidak sama, saya hanya menuliskan pendapat saya setelah menonton film ini, toh saya masih boleh memberikan komentar kan ?, setidaknya saya hanya ingin agar untuk selanjutnya, jika memang ingin membuat film yang menampilkan nilai Keagamaan yang kuat, tidak salahnya sebagai salah satu pertimbangan adalah Aktor atau Aktris bisa membaca dengan baik Al Qur’an, tidak hanya sekedar bisa akting saja, setidaknya tidak terjadi kesalahan saat membaca, jadi orang yang menonton tidak merasa terganggu dengan bacaan-bacaan ayat yang salah dan keliru.

Kok nampaknya saya sangat tidak suka dengan kesalahan membaca ayat terakhir surat “Yaasiin” tersebut ?. hehe... saya bukan tidak suka, saya hanya mengingatkan bahwa ada kesalahan disitu, boleh kan mengingatkan dalam hal kebaikan ?.

Sekian pendapat saya setelah menonton film ini. “baiklah saya mau kabur dulu, takut dijitak oleh yang baca tulisan ini” 1 2 3 “menghilang”.

December 13, 2011

Ketetapan Hati (Ending)

Memang tidak mudah membuat keputusan dalam keadaan dilema seperti ini, setiap keputusan yang akan aku ambil pasti akan ada yang tersakiti, seandainya saja aku menerima perjodohan ini, berarti Anita lah yang akan tersakiti. Jika aku menolak perjodohan ini, bukan hanya orang tuaku yang kecewa, namun keluarga Pak Kiyai Faiz pun akan kecewa, lebih-lebih Zahra, aku yakin dia akan kecewa dan aku tahu bagaimana sakitnya saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, saat dimana cinta kita tidak mampu untuk menaklukkan hati sang pujaan, saat dimana hati kita tidak mampu untuk berlabuh ke tepi hati orang yang kita cintai.

Seminggu berlalu, rasanya aku sudah semakin yakin dengan keputusan yang akan aku ambil. Aku pergi ke Sekretariat Pesantren dan mencoba untuk menghubungi Ummi.

"Assalamu'alaikum Ummi, Ini Ega"
"Wa'alaikum Salam, ada apa Nak ?
"Ummi, bagaimana kabar keluarga di rumah ?"
"Alhamdulillah, semua sehat, Abimu sedang pergi ke kebun untuk memetik buah coklat dan dijual"
"Ummi dan Abi kapan bisa ke Pesantren?"
"Kamu sudah mempunyai jawaban tentang perjodohan kemarin?"
"InsyaAllah sudah Ummi, makanya Ega minta Ummi dan Abi untuk datang ke Pesantren, Ega juga sudah kangen dengan Umi dan Abi"
"Nanti Ummi beritahu Abimu terlebih dahulu kapan bisa ke Pesantren, nanti Ummi yang menghubungimu di pesantren jika sudah ada rencana ke Pesantren."
"Baik Ummi, Ega mau ke asrama lagi, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"

Setelah selesai menghubungi Ummi, aku menemui Ilham yang sedang duduk di pinggir kolam ikan yang ada di tengah-tengah Pesantren, kami menyebutnya dengan "Danau Pesantren". Di danau ini dikembang biaakkan Ikan Patin, Ikan Mujair, Ikan Mas, dan Lele. Aku menghampirinya.

"Ikannya sudah diberi makan belum Ham ?"
"Sudah Ga, dari mana kamu ?"
‘Dari nelpon Ummi di Kampung"
"Kamu sudah memberi Ummimu keputusan apa yang akan kamu ambil?"
"Belum, tapi aku sudah meminta Ummi dan Abi untuk datang ke pesantren menemui keluarga Kiyai, dan nanti aku akan memberi tahu mereka semua tentang keputusanku"
"Baguslah kalau begitu, tidak perlu lama-lama, kasian Zahroh yang kau gantung cintanya"
"Iya Ham".

Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, aku membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuaku dan keluarga Kiyai saat mendengar keputusanku nanti, akankah kemarahan yang aku dapati, namun rasanya tidak mungkin, aku tahu betul betapa bijaknya Abi dan Ummi, aku juga tahu betul betapa bijaknya Kiyai dalam menyelesaikan suatu masalah. Ilham sesekali berdendang dengan bahasa yang tidak aku mengerti, mungkin dia menggunakan bahasa Lombok daerah dari mana dia berasal.

Beberapa hari kemudian, Pak Izzul selaku Sekretaris Pesantren memintaku untuk datang ke Sekretariat, katanya ada telpon dari Ummi. Aku berlari-lari kecil menuju Sekretariat agar Ummi tidak terlalu lama menunggu.

"Assalamu'alaikum Ummi"
"Wa'alaikumussalam"
"Ega, Ummi dan Abimu besok mau datang ke Pesantren, jangan lupa kasih tahu Kiyai Faiz ya"
‘Iya Ummi".
Sabtu malam, tepat pukul 20.00, Kiya Faiz dan Nyai menyambut kedatangan Abi dan Ummi dengan senyum. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, aku duduk disebelah Abi dan Ummi, Zahra membawakan minuman untuk kami kemudian dia pergi ke belakang.
Barulah beberapa menit kemudian Zahra ikut duduk bersama kami di ruang tamu setelah Kiya Faiz menemuinya di belakang.

"Selamat datang di rumah kami Pak Yahya dan Bu Yahya, bagaimana perjalanan dari Purworejo ke Banyumas ?" Kiyai Faiz memulai perbincangan.

"Alhamdulillah semuanya lancar Pak Kiyai, meski waktu di Kebumen sempat hujan lebat, namun akhirnya kami bisa sampai di Pesantren ini"
"Syukurlah, langsung saja Pak Yahya, sesuai dengan yang sudah kita bicarakan beberapa waktu lalu bahwa pertemuan kali ini akan mendengarkan keputusan Nak Ega tentang perjodohan yang sudah kita atur antara Ega dan Zahra, karena hanya Nak Ega yang belum memutuskan, Putri saya sudah mengatakan kesediaannya dengan perjodohan ini sedari awal."

Abi langsung menepuk pundakku dengan penuh kasih sayang sebagai tanda dia memberikanku kesempatan untuk berbicara. Suasana malam ini tampak begitu formal, aku sudah merangkai kata-kata terbaik yang akan aku jadikan sebagai sebuah keputusan. Jujur, aku sempat gugup melihat Kiyai, Buk Nyai dan Zahra yang duduk di depanku. Zahra terlihat cantik mengenakan Jilbab Ungu dipadu dengan Gamis Ungu panjang sampai matakakinya. Kedua alisnya yang hitam, senyumnya, semua itu terlihat sempurna. Meski sempat gugup, namun aku berusaha untuk tidak terlihat gugup, aku melihat ke Abi dan Ummi terlebih dahulu sebelum akhirnya kalimat demi kalimat keluar dengan tenang dariku.

"Kiyai, Buk Nyai, Zahra, serta Abi dan Ummi, sebelumnya Saya minta maaf jika nanti ada yang tidak berkenan dengan keputusan yang saya buat". Mereka yang ada di ruang tamu terlihat senyum menatapku yang semakin gugup namun berhasil kusembunyikan.

"Jujur, sebelum saya tahu adanya perjodohan ini, saya sudah mempunyai tambatan hati. Dan dia merupakan anak salah satu pengajar di Pesantren ini, dia adalah Anita putri Abah Hafidzh." Aku berhenti sejenak.

"Abi, Umi, Aku mencintai Anita dan aku benar-benar mencintainya, entah apa jadinya jika aku hidup tanpa dia. Selama dua minggu kemarin Ega sudah berusaha untuk membuat keputusan yang terbaik, Ega sudah berulang kali Sholat Istkharah memohon petunjuk-Nya, dan hati Ega mengatakan bahwa Ega tidak bisa menerima perjodohan ini, bukan karena Ega tidak menghargai apa yang sudah Abi dan Ummi lakukan, namun Ega tidak ingin menjalani semua ini setengah hati."

"Pak Kiyai, Buk Nyai, Zahra, saya mohon maaf jika kurang berkenan"

Suasana di ruang tamu hening sejenak. Aku tertunduk bahagia karena sudah berhasil membuat keputusan. Sekarang aku hanya menunggu apa tanggapan kedua orang tuaku serta tanggapan Kiya Faiz tentang keputusanku.

Abi kembali mengelus pundakku dengan penuh kasih sayang.
"Nak, kamu bukan anak kecil lagi, dan Abi yakin kamu sudah memikirkan ini dengan baik. Abi dan Ummi tidak bisa memaksakan jika memang kamu tidak bisa menerima perjodohan ini."

Kiyai Faiz senyum sambil menganggukkan kepala.
"Saya pun mempunyai tanggapan yang sama dengan Abi dan Ummimu, saya juga tidak mempunyai hak untuk memaksamu menerima putriku sebagai istrimu"

Suasana kembali hening, sesekali aku melihat ke Zahra yang hanya terdiam, tidak ada tanda-tanda marah di mukanya, dia tetap tersenyum seperti saat aku pertama datang ke Pesantren ini, senyum itu tetap menghiasi wajahnya. Marahkah dia dengan keputusanku?, jika ia, mengapa tidak ada air mata, tidak ada raut wajah sedih dari mukanya. Entahlah, aku tidah tahu persis bagaimana perasaaannya, sampai pertemuan keluarga usai, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.Dia hanya diam membisu.

Umurnya Bukanlah halangan

Pagi ini saya terkagum-kagum dengan sosok itu, umurnya sudah tidak lagi muda, diusianya yang sudah lebih dari lima puluh tahun, dia masih terus berjuang melawan dinginnya malam, kadang bertemankan rintik-rintik hujan, dan semua itu ia lakukan demi menggapai ridho-Nya dengan mempelajari Kalam-Nya.
Setiap pagi menjelang, dia menempuh perjalanan satu jam lamanya menuju Masjid untuk mengikuti Tahsin Al Qur'an. Setiap hari dia berangkat dari rumahnya jam 3 pagi agar bisa mengikuti Tahsin Al Qur'an setiap ba'da shubuh di Masjid. Karena memang tidak semua masjid mengadakan Tahsin Al Qur'an. Dia rela mengendarai sepada motor butut miliknya, bahkan pernah dia terjatuh karena tidak melihat jalanan yang berlobang.
Oh Tuhan, sungguh mulia niatnya. Semoga dia diberi keberkahan. Kalo dia yang sudah dimakan usia saja masih semangat untuk terus belajar membaca Al Qur'an, bagaimana dengan kita yang masih muda?
Saat saya berbincang dengannya, dia mengucapkan kalimat yang menjadi renungan saya.
Sudah bisakah kita membaca Al Qur'an ?
Jangan tunggu masa tuamu untuk bisa membaca Kalam-Nya.
Dia juga memberikan saya nasehat, manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin sehingga kamu tidak jadi seperti saya, menyesal dikala usia sudah tidak lagi muda, disaat mata sudah tidak lagi melihat dengan jelas, dan disaat kondisi badan tidak kuat lagi.
Kita kadang rela mengikutkan anak-anak les ini dan itu, padahal kita lupa bahwa anak-anak kita masih belum bisa membaca Al Qur'an dengan baik, bukan hanya sekedar bisa baca yang kita inginkan, akan tetapi betul-betul bisa membacanya sesuai dengan kaedah tajwid. Sehingga bacaan yang ada bukan hanya sekedar mengenal huruf Al Qur'an saja. Akan tetapi anak-anak bisa membacanya dengan baik sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ada dalam Ilmu tajwid.
Mari renungkan.
Posting pertama di  Ngerumpi

December 09, 2011

Ketetapan Hati

Malam semakin larut, sinar rembulan dan bintang menghiasi langit tempatku menuntut ilmu, aku duduk di bagian belakang asrama yang kami beri nama “Shofa”. Seiring waktu yang berjalan, aku mulai membuka lembaran memori yang aku punya, aku keluarkan masing-masing kenangan dan juga fase-fase yang dulu pernah aku lewati hingga berada di titik ini. Aku membutuhkan seseorang yang mengerti. Aku membutuhkan jawaban atas puzzle yang menyesatkan ini. Aku akan mencari jawaban atas kegundahanku ini, bagaimana pun itu caranya.

Entah sudah berapa lama aku duduk disini, terus mabuk dengan kegundahan yang tak urung usai, sesekali kupandangi bintang yang sedari tadi bersinar terang, dalam hati aku bergumam, mungkinkah kegundahanku berganti dengan ketenangan setenang saat aku duduk menatap indah sinar bintang?

Aku masih tak habis pikir dengan apa yang kini aku hadapi. Aku tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Berada dalam kondisi yang tak sepenuhnya aku harapkan seperti ini. Mengapa harus ada perjodohan ini? Mengapa harus aku?. Bukankah masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dariku? Bukankah aku hanya seorang santri yang masih belum cukup usia untuk mendapatkan panggilan suami, aku memang kenal dengan wanita itu, dia memang sholehah, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa kedatanganku ke pesantren ini mempunyai maksud tertentu, kedua orang tuaku sudah mengatur sedemikian baik hingga akhirnya aku dijodohkan dengan putri sang kiai pemilik pesantren. Lebih parahnya lagi, Anita sudah terlanjur mencintaiku, meski kami hidup di lingkungan pesantren, tapi aku tidak bisa lepas dari yang namanya cinta. Aku mencintai Anita, tapi aku juga tidak ingin menyakiti hati Zahrah putri kiai yang selama ini aku puja. Entahlah, aku masih butuh waktu untuk membuat keputusan, di sisi lain, Zahrah ternyata memang mencintaiku sejak awal aku masuk ke pesantren ini.

Tidak ada yang salah dengan cinta. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Namun, jika dalam waktu bersamaan aku harus menyakiti dua perempuan yang kini ada di depanku. Lalu cinta seperti apa yang kupunya sekarang? Aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Aku tidak ingin membunuh perasaan yang suci ini dengan keputusan yang bodoh dan juga dengan cara yang bodoh. Aku tidak mungkin melarikan diri dari apa yang aku hadapi kini. Aku harus bersikap dewasa. Berusaha mengatasi semuanya dengan bijaksana. Karena bukankah memang dengan begitu semua masalah kita akan terselesaikan? Masalah hadir untuk dihadapi, bukan untuk ditinggalkan begitu saja tanpa penyelesaian.

Tanpa kusadari, ternyata Ilham sedari tadi duduk di belakangku sambil menatapku.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Ega?”
Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya. “Sudah lama duduk disana?”
“Kurang lebih tujuh menit yang lalu.”
“Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, Ilham.”

Yang kutahu, Ilham belum mengetahui tentang perjodohan ini, entah apa jadinya jika ia tahu bahwa aku dijodohkan dengan putri kiai yang dicintainya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Zahrah tidak menerima cintanya, namun aku bisa melihat dengan jelas betapa Ilham masih mengharapkan cintanya bisa berlabuh di hati bidadari pujaannya.

Kulihat Ilham memutar-mutar gelas yang ia pegang sekarang.
“Jangan simpan mereka dalam hatimu, Ega.”
Aku tersentak mendengar Ilham mengucapkan itu. “Maksud kamu Ilham?”
Tiba-tiba tanpa aku sadari sebelumnya Ilham melemparkan gelas yang ia pegang sekarang ke arahku. Gelas yang ia pegang kini berada di atas kepalaku. Aku terkesiap dan terkejut karenanya. Kutangkap gelas itu dengan kedua tanganku.
“Kamu sudah gila, Ilham? Mengapa kamu lemparkan gelas itu ke arahku?”
Ilham hanya tersenyum melihatku terkejut seperti itu.
“Jika kamu menyimpan mereka di tanganmu. Kamu tak akan merasa khawatir dan ketakutan ketika kehilangan mereka.”
“Ilham, aku masih belum mengerti dengan yang kamu katakan.”
“Jika kamu menganggap cinta yang kamu punya sekarang sebagai anugerah dan pemberian dari Dia yang kini kita cintai. Kamu akan menganggap itu sebagai titipan. Kamu tidak akan merasa khawatir ketika cinta itu Dia ambil lagi nanti.”

Aku terkejut dengan apa yang Ilham ucapkan. “Kamu sudah mendengar tentang perjodohan itu?”
“Iya. Dan aku kini ingin sekadar menyadarkanmu. Betapa nikmat dariNya hanyalah titipan. Dia bisa mengambilnya kapan pun Dia inginkan.”
“Tapi itu tidak mudah.”
“Sama halnya ketika aku lemparkan gelas itu kepadamu, Ega. Jika kamu menyimpan ia di tanganmu, ketika ia jatuh atau pun rusak sekali pun, kamu tak akan khawatir. Kamu tidak akan takut dengan apa pun yang kamu hadapi.”

Kepalaku tertunduk mendengarnya.
“Simpan ia di tanganmu. Jangan kamu simpan ia di hatimu.”
“Tapi bagaimana dengan cintamu, Ilham?”
“Apa engkau sanggup melihat aku bersanding dengan wanita yang engkau cintai? Dan apakah kita akan terus menjadi teman seperti sekarang ini jika aku menjadi pendamping hidup Zahrah pujaan hatimu.”
“Aku bukan anak kecil lagi Ga, aku tahu mana yang seharusnya aku lakukan, jika memang keputusanmu untuk menerima perjodohan ini, maka aku pun akan menerima ini sebagai takdir dari-Nya.”
“Dan jika aku menolak perjodohan ini, apa kamu masih akan memperjuangkan cintamu?”
“Kita lihat saja nanti, sekarang yang penting adalah kamu segera membuat keputusan, mohon petunjuk pada-Nya dalam setiap sujudmu, lakukan sholat Istikharah, dengan demikian kamu akan lebih yakin dalam memilih keputusan apa yang akan engkau buat, tidak perlu belarut-larut seperti ini, kamu hanya butuh keyakinan penuh pada dirimu sendiri.”
“Apa yang kini akan kamu lakukan?”
“Aku ingin melihat Zahrah bahagia. Seperti arti dari namanya Ega, Zahra itu bunga. Wanginya bisa dirasakan oleh semua orang. Namun hanya orang yang terpilihlah yang bisa memetik ia dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya.”

Ilham berlalu pergi meninggalkanku sendirian. Setelah mendengar apa yang di ucapkannya, aku sedikit lebih yakin dengan keputusan yang akan aku buat.

Dengan segenap keyakinan, akhirnya kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu. Aku ingin bermunajat meminta ketetapan hati dari Dia yang Maha Mencinta. Aku tahu Dialah yang sanggup mengeluarkanku dari segala sesuatu yang kuhadapi kini.
“Bismillah. Jika memang apa yang kini baik menurutku ternyata memang buruk di sisimu. Maka ambillah ia. Namun jika memang apa yang kini kuragukan adalah yang terbaik menurutmu. Maka tunjukkanlah kepadaku cinta yang memang benar-benar Engkau ridhai.”
Tanpa terasa air mata turun membanjiri kedua mataku.
“Aku mencintaiMu. Selalu berharap akan cintaMu. Tunjukanlah apa yang memang benar-benar baik untukku ya Allah.”

Tulisan Kolaborasi : Arian Sahidi dan Teguh Puja

Semua butuh proses

Perlahan namun pasti engkau akan bisa. engkau hanya perlu terus mencoba dan percaya.
Entah sudah berapa kali barisan-barisan kalimat yang tertulis di word ini aku hapus, sedari tadi aku mencoba menulis, namun yang ada hanya berhenti setelah beberapa kalimat tersusun rapi. Setiap kalimat yang tertulis berakhir dengan ditekannya “Backspace” yang ada di  keyboard laptopku.

Entah sudah berapa kali aku seperti ini, tiap kali ingin menulis , tiap kali aku mencoba untuk bercerita dengan rangkaian kata, tiap kali pula aku berhenti di kalimat-kalimat awal dan tidak pernah dilanjutkan, tulisan-tulisan pembuka itu hanya tersimpan rapi di folder-dolder yang kuberi nama “Tulisan Arian”, “Curhat”, “Belajar Nulis”.

Jarum jam di depanku sudah menunjukkan pukul 09.45 menjelang siang, padahal aku duduk di depan laptop dan mencoba untuk menulis sejak pukul 08.15. aku duduk di pojok perpustakaan sementara murid-murid sedang sibuk membaca buku, ada juga yang masih ujian praktek susulan. Sesekali kualihkan pandangan ke murid-murid berharap ada kalimat yang akan terangkai setelah memandang mereka.

Aku  pernah membaca  kiat-kiat menulis di salingsilang.com, mereka bilang kalo mau menulis itu terlebih dahulu pakai otak kanan, jangan pakai otak kiri. Ketika kita menggunakan otak kanan, maka tulislah secara spontan, tidak perlu mengedit terlebih dahulu, berhenti membaca tulisan yang sedang ditulis, teruslah menulis sampai selesai. Baru kemudian setelah selesai menulis, kita bisa menulis dengan menggunakan otak kiri, menulis dengan otak kiri adalah dimana kita memperhatikan kembali tulisan yang sudah kita tulis, susunan kalimat, tata bahasa, dan sebagainya.

Tidak ada yang langsung bagus dalam menulis, semuanya butuh proses. Jadi mulai hari ini Arian harus terus belajar agar bisa menulis. Tidak usah terburu-buru dan malu karena memang pada awal menulis belum tentu ada orang yang ingin membaca tulisan kita kan ?, menulislah karena memang dirimu ingin menulis, bukan karena ingin dipuji karena tulisanmu memberi inspirasi dan sebagainya. Akan tetapi menulislah karena memang engkau ingin bisa menulis.

Sekian kegalauanku menjelang siang ini.

Juna

IBU

Kereta api Bromo jurusan Purwokerto-Jakarta baru saja berlalu dari hadapanku, aku masih memandang ke arah Kereta Api dengan penuh perasaan sedih melepas kepergiaan putra semata wayangku. Juna, dia adalah lentera hidupku, dia yang selama ini selalu menguatkanku dikala aku sedang terpuruk, dia yang selama ini membantuku mengumpulkan kayu bakar untuk dijual ke tetangga, dia juga yang kalo pagi menjelang menjadi imam sholatku. Juna, dia adalah mutiara hati yang telah Allah berikan kepadaku, diumurku yang sudah memasuki kepala lima, aku bahagia hidup berdua dengannya setelah Reza suamiku pergi meninggalkan kami berdua.

Kereta api semakin jauh dan tak terlihat lagi dari pandangan mataku yang sudah mulai rabun ini, aku beranjak meninggalkan Stasiun  Purwokerto bertemankan dingin dan rintik-rintik hujan, aku mengenakan jaket usam peninggalan ayah Juna guna membuat badanku hangat.

“Junanya sudah berangkat Bu Yasmin?”

Terdengar seseorang menyebut namaku, aku menoleh ke arah suara itu dan kulihat Pak Irul sedang duduk di atas motor Supra miliknya. Dia yang tadi mengantar  Juna menuju Stasiun.

“Iya, Pak, Juna sudah berangkat Ke Jakarta, mohon do’anya ya pak, agar Juna bisa menggapai apa yang ia impikan sedari dulu bisa terwujud”
“Amin, mari saya antar Bu Yasmin pulang ke rumah”
“Terimakasih Pak, saya naik angkotan umum saja”
“Hati-hati di Jalan Buk”
“Iya, terimakasih Pak”.

Aku berlalu meninggalkan Pak Irul dan masuk ke dalam sebuah angkutan umum menuju Jatiwinangun.

JUNA
Kurang lebih 6 jam perjalanan dari Purwokerto menuju Jakarta, aku tertidur lelap selama di perjalanan. Sekarang aku sedang berdiri di Stasiun Gambir Jakarta, aku memang sudah pernah sekali mendatangi kota Jakarta yang katanya kota besar dan semua orang berbondong-bondong ke Jakarta. Aku datang ke Jakarta karena ingin belajar di salah satu Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an Jakarta, Pak Meko yang merupakan Guru Agama sewaktu aku masih  di SMA mengatakan bahwa ini adalah perguruan tinggi yang mendalami ilmu-ilmu Al Qur’an. Aku tertarik masuk ke Perguruan Tinggi ini setelah melihat bagaimana Pak Meko bisa menghapal Al Qur’an dengan baik dan beliau merupakan salah satu lulusan terbaik. Pak Meko banyak memberikanku pengetahun-pengetahuan keagamaan, dia yang mengajariku bagaimana cara membaca Al Qur’an, Sholat, dan dia juga yang sudah memberikan saya inspirasi untuk menghapal Kalam-Nya.

Tidak jauh dari tempat aku berdiri, ada seorang polisi yang terlihat sedang menjaga pintu keluar Stasiun. Aku mendekatinya dan bertanya :

“ Pak, maaf mengganggu, saya mau ke Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan, akan tetapi saya tidak tau naik angkutan umum yang mana ?”
“ Lebak Bulus?”
“Iya”
“Adik silahkan menyeberang, nanti akan ada Metro Mini nomor 20 jurusan Senen Lebak Bulus yang lewat sini”
“Terimakasih pak”

Aku segera menyeberangi jalanan yang penuh dengan kendaraan-kendaraan pribadi dan angkutan umum. Tidak lama berselang, Metro Mini berwarna merah dan bernomor 20 berhenti tidak jauh dari tempat aku berdiri, aku berlari ke arah metro mini tersebut dan duduk di bagian belakang. Seorang kernet terlihat sedang mengambil ongkos  setiap penumpang.

“Ongkosnya Mas”
‘Berapa Mas”
“Seperti biasa aja”
“Saya baru kali ini naik, jadi belum tahu berapa ongkosnya mas”
“2500 aja mas”
Aku mengeluarkan uang ribuan dua lembar dan lima ratusan.

Cuaca hari ini cukup terik, aku bermandikan keringat selama di dalam bis, sesekali orang yang disampingku mengeluh:

“Jakarta kapan nggak macet sih, dari zaman saya SD sampai saya punya anak yang sekolah SD tetep aja macet”

Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya, dalam hati aku berkata “ sudah tahu Jakarta itu kota besar yang terkenal dengan Macet dan Banjirnya, masih aja banyak  komentar”.
“Bulus, Bulus, Bulus, ayo habis, habis”
Aku melihat tulisan besar
“Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan”

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga di Lebak Bulus dan akan segera sampai di Asrama Mahasiswa, dari terminal Lebak Bulus, Kampusku ternyata sudah sangat dekat, aku bahkan bisa berjalan kaki dari Terminal menuju Asrama dan Kampus. Sesampainya di Asrama, aku langsung mendaftar di pihak pengelola Asrama dan memenuhi persayaratan administrasi. Setelah selesai mendaftar, aku baru diizinkan tinggal di kamar 310 yang ada di lantai 3.

Bersambung..... 

December 07, 2011

Segala Tentang Kutukan 11

Beberapa jam yang lalu, teman saya Weirdaft memerintahkan saya (lebih tepatnya memaksa), eh nggak dipaksa kok, gue aja yang mau dengan baik hati ngejawab sebelas pertanyaan darinya. 

Pertanyaan kak Wirda :

Teman ideal menurut kamu, yang seperti apa?

Jujur, sampai hari ini saya belum merasa punya teman akrab seperti di film 3 Idiots atau film yang lainnya (nyambung nggak sih ni jawaban ama pertanyaan , biarin deh). Dan sosok teman ideal menurut saya adalah orang yang benar-benar apa adanya dalam berteman, tidak dibuat-buat, intinya dia mau berteman bukan karena kasihan karena saya tidak punya sahabat super akrab (kalo yang akrab banyak). Ok next.

Lebih suka baca buku cetakan atau e-book ? 

Jelas saya lebih suka buku cetakan dari pada e-book, secara mata saya sudah rusak alias rabun alias minnya sudah tinggi boss, yang ada mata saya tambah hancur ntar kalo baca e-book terus-menerus. Dan lucunya, waktu kuliah saya paling anti baca buku yang baru saya beli, setiap kali beli buku, maka saya akan meminjamkan buku itu ke teman terlebih dahulu, setelah lecek baru deh saya baca haha.

Kalau ada pilihan untuk kerja di Gedung DPR atau di Kepresidenan, kamu pilih yang mana? Berikut alasannya.

Di DPR, saya pengen jadi anggota yang mengurus tentang pendidikan saja, karena saya suka dengan dunia pendidikan, bukankah kita akan lebih bahagia jika kita bisa melakukan sesuatu yang memang kita inginkan ? #nyengirtingkatdewa

Kalau kamu nyasar ke jaman batu, apa yang akan kamu lakukan setelah 2 hari nggak ketemu jalan pulang

What ? jaman batu ? (ketawa guling-guling di kamar), ehm kayaknya saya nggak bakalan nyari jalan pulang deh, mendingan terus aja cari tempat baru.

Seandainya Gayus Tambunan itu temen kamu, apa yang akan kamu bilang waktu dia bisa dengan bebasnya punya jam khusus dengan istrinya di penjara ?

Nggak banyak yang akan saya sampaikan ama tuh orang, palingan gini “malu ama Tuhan mas”.

Donald Bebek itu umurnya berapa sih sekarang ini, di tahun 2011 ini?

Nggak tahu coz nggak suka nonton

Lebih suka mana Obelix atau Donald Bebek?

Nggak suka dan nggak tahu kedua nama di atas #plak

Seandainya kamu adalah penasihat bapak SBY, untuk menyelesaikan kasus Lumpur Lapindo, apa yang akan kalian usulkan kepada si bapak?

Saya hanya akan bilang ke Presiden Sebeye untuk segera memberikan kembali hak korban yang sudah direnggut oleh lumpur, toh mereka kan warga yang tentunya punya hak untuk dilindungi (rada-rada nggak nyambung ama pertanyaan , biarin lagi :p)

Siapa cowok/cewek paling seksi versi kamu?

Cowok ?, arghh saya tidak suka memperhatikan cowok (haha), cewek ? (nggak tahu juga).

Kenapa dangdutan identik dengan goyang jempol?

Nyerah deh kalo pertanyaan gini, :D

Kenapa kalau film India selalu ada nari-nari dibawah hujan?

Nggak selalu nampaknya (sok tahu), coz jarang nonton pelem India.

Baiklah, sekian tugas saya malam ini dan untuk Weirdaft, hanya ini yang bisa saya tulis sebagai jawaban :p

Jubah Cinta

“Negara kita ini semakin hari semakin nggak jelas ya Zam, setiap hari ada aja berita kriminal, korupsi, banjir, gue muak ngeliat tv yang ada di rumah, mendingan gue kasihkan ke tetangga sebelah aja, itung-itung amal. Tadi pagi aja, baru juga ngidupin tv, udah muncul berita pencabulan, rampok, padahal nonton tv kan bagus untuk ngupdate informasi, tapi kalo yang ditayangin itu berita korupsi, pencabulan, rampok, yang ada gue malah pengen muntah tau nggak”

“Zam, hey, Azzam lo dengerin gue ngomong nggak sih ?”
“Azzam, Azzam, wuy Azzam lo kenapa sih , bukannya dengerin teman ngomong malah ngelamun.”
“Hah ? emang dari tadi lo ngomong ya Vin?”
“Nggak, dari tadi gue makan rujak, puas lo.”
“Sorry, gue kok tiba-tiba inget nyokap di kampung. Udah seminggu gue nggak ada ngubungin, maklum akhir bulan, duit udah nipis, kalo ni duit gue pakai untuk beli pulsa, yang ada gue nggak makan ntar.”
“Lo ngomong dong dari kemarin kalo pengen nelpon nyokap, kan lo bisa pake handphone gue.”
“Gue nggak enak lah Vin, terus-terusan ngerepotin lo”
“Alah lo tuh ya, kayak baru kenal gue kemarin sore aja, kita kan udah kenal sejak belum lahir ha ha.”
“Tuh kan, lo itu kebiasaan ya Vin, teman lagi serius malah lo becandain, kapan lo warasnya sih Vin.”
“Waras ? jadi menurut lo gue nggak waras ?”
“Sebenarnya lo itu waras, dan akan lebih waras lagi kalo lo mulai berbicara dengan lemah lembut kayak cewek-cewek yang lain, lo itu cewek tapi kayak cowok  tau nggak.”
“Lah kan bagus, dari pada lo, cowok tapi kayak cewek ha ha.”
“Eh tuh metro mininya udah datang, gue pulang duluan ya.”

Aku melepas kepergian Vina dengan senyum kecut, Vina cewek yang baik, tapi kacaunya tidak ketulungan, setiap hari di kampus kerjaannya ngomentarin apa saja yang menurutnya tidak enak. Seperti minggu lalu, penjaga kantin mengundurkan diri, karena hampir tiap hari Vina mencaci tukang kantin yang suka plin plan kalo ngitung duit kembalian.

“Kota, Kota, bus terakhir, teriak seorang kernet metro mini 86 jurusan Lebak Bulus-Kota”

Aku berlari menuju bus, kusandarkan badan yang begitu pegal karena seharian Vina memaksa untuk ikut demo di depan kantor Mahkamah Konstitusi, aku terlelap tidur selama perjalanan menuju Kota.

“habis, habis, habis”

Suara kernet itu memaksaku untuk bangun dari tempat duduk, dan turun menuju kamar kos yang menjadi tempat peristirahatan setelah seharian beraktifitas. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka pusing dengan keadaan negara yang semakin hari semakin semberawut, demo dimana-mana, koruptor meraja lela, akan tetapi sudah tiga hari ini sahabatku Vina selalu merengek memaksaku untuk ikut andil dalam demo, meski aku cuma jadi kambing congek yang tidak mengerti demo itu dilakukan atas inisiatif siapa, bahkan setelah selesai demo saya lihat seseorang membagi-bagikan uang pecahan lima puluh ribuan ke semua pendemo. Arghh ini kah yang dinamakan dengan demo titipan seperti yang pernah Vina jelaskan kemarin.

Hari ini aku harus pergi ke kampus lebih awal karena ada bimbingan skripsi, Prof. Darwis selaku pembimbing skripsiku hanya bisa bertemu pada jam 7 pagi, setelahnya beliau akan sibuk dengan kegiatan mengajar. Jam 07:03 metro mini yang aku tumpangi berhenti tepat di depan kampus, aku berlari memasuki gerbang kampus dan langsung menuju ke ruangan Prof. Darwis, jantungku berdetak kencang tak menentu, sudah terbayang di dalam benakku ocehan Prof  karena terlambat.

“Pagi pak, maaf saya terlambat”
“Pagi, mengapa terlambat? Sudah tahu sekarang jam berapa ?, sekarang jam 07.07, jadi saudara terlambat 7 menit.”
“Maaf Prof, tadi dijalanan macet, saya sudah berangkat secepat mungkin.”
“Baru tahu Jakarta macet ?, jawab Prof. dengan ketus, Saya tidak mau tahu alasan saudara, karena terlambat maka bimbingan kita cancel di lain waktu.”
“Tapi prof, belum selesai kalimat yang keluar dari mulutku, Prof. Langsung pergi keluar ruangan.”

Aku keluar ruangan Prof. Darwis dengan hati kecewa, karena sangat susah untuk bertemu dengan Prof. Darwis, beliau merupakan satu-satunya Prof yang membuatku tidak bergeming kalau sedang berhadapan dengannya.

“Kenapa lo ? pagi-pagi udah murung aja”
“Vina menepuk pundakku sambil memberikan segelas kopi”
“Nggak apa-apa kok, nggak ada yang perlu lo khawatirkan”
“Halah, lo itu kebiasaan banget ya, lo telat kan ? jadi bimbingan skripsi lo di cancel, ngaku aja deh”
“Begitulah, jawabku dengan suara memelas.”
“Santai aja, ngapain sih  lo pusing-pusing mikirin skripsi, kayak gue ni,  tinggal suruh kakak senior yang ngerjain, kasih duit, jadi deh skripsi gue, nggak perlu pusing-pusing, hidup itu jangan dibuat ribet coy.” Komentar Vina seenaknya.
“Eh, lihat deh cowok yang di toko seberang, tu orang nggak bosan-bosan ya make jubah panjang setiap hari, kayak teroris ya.”

Mataku berusaha mencari sosok yang dikatakan Vina , di seberang jalan, terlihat cowok tinggi, putih, dan berjubah.

“Kok lo tahu kalo dia pake jubah tiap hari , padahal kita kan nggak pernah ke toko itu, lo suka ya ama dia ? atau malah lo memang suka merhatiin dia ?”
“Enak aja lo”
“Awwww,, sakit Vin, Vina memukulku dengan Buku perbankan tebal yang ada di tangannya.
“Jadi begini Zam, tiap hari kan kita lewat di depan toko itu kalo mau pulang, jadi otomatis gue sering ngeliat tu cowok.”
“Tapi kok gue nggak pernah lihat ya”
“Mata lo itu kan udah nggak sehat alias rabun, makanya nggak kelihatan.”
“Udah ah, udah jam 07.30 ni, ke kelas yuk, ntar kena semprot ama dosen kalo terlambat.”

Pukul 12:00, waktunya istirahat Vin, lo  mau makan ke kantin atau di kelas aja ? tanyaku pada Vina yang kelihatan sedang sibuk dengan laptopnya.

“Vin, lo lagi ngeliat apaan sih? Penting banget kayaknya. Kuambil laptop Vina dan aku tertawa sekeras-kerasnya saat mengetahui Vina sedang melihat gambar-gambar pria berjubah di inernet”
“Jadi lo browsing cowok-cowok pake jubah di internet ? , aneh lo ya, sebenarnya ada apa sih ama lo?”
“Udah diam lo Zam, nggak usah banyak komentar, kan yang boleh komentar itu Cuma gue, lo kalo mau ikutan komentar harus jadi cewek dulu ha ha, kalo lo banyak komentar, lo tambah lebih kayak cewek.”
“Terserah lo aja deh, gue lapar, mau ke kantin dulu, lo mau nitip apa ?”
“Emang lo punya duit ? ha ha”
“Huh, sial lo Vin”
“Udah sana pergi, ntar keburu habis waktu istirahatnya.”

Setelah selesai makan siang, aku berjalan menuju kelas dan mencari Vina, akan tetap tidak ada Vina di kelas.

“Bro, ada lihat Vina nggak ? , tanyaku ke teman-teman di kelas.”
“Tadi dia pergi ke toko seberang Zam.”

Aku bergegas menuruni tangga, dan berlari menuju toko yang ada diseberang jalan. Dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas Vina sedang berbincang dengan cowok yang pagi tadi dia ceritakan. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.

“Vin, lo ngapain disini ?”
“Nah lo sendiri ngapain pake acara nyusul gue segala.”
“Ditanya malah balik nanya.”
“Zam, kenalkan, ini mas Helmi, yang punya toko Baju Muslim ini.”
“Saya Azzam mas”
“Helmi.”

Kutarik tangan Vina menjauh dari toko. Vin, bukannya lo nggak suka ya dengan cowok yang berjubah itu ?

“Emang gue pernah bilang kayak gitu ya Zam ?”
“Tadi pagi kan lo sendiri yang bilang ?”
“Pagi tadi kan gue nggak bilang apa-apa selain memberitahu kalo di toko ini ada cowok yang tiap hari itu pake jubah,, itu doang kan, lo kenapa sih Zam, kok tiba-tiba jadi marah-marah nggak jelas gini ?”
“Terserah lo deh,”

Aku meninggalkan Vina yang tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam benakku. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang baru saja kulakukan, mengapa tiba-tiba aku marah-marah hanya karena Vina menemui mas Helmi, aku bahkan tidak tahu obrolan mereka.

Keesokan harinya, seperti biasa, Vina datang mendekatiku dan membawa segelas kopi jahe, aku hanya diam, Vina pun tidak cerewet seperti biasanya. Dia hanya meletakkan kopi jahe di sampingku dan pergi menuju kelas. Selama di kelas, Vina tidak mengajakku berbicara sepatah kata pun, bahkan dia hanya diam saat aku mengajaknya ke kantin untuk makan siang.

“Vin, tunggu, teriakku saat melihat Vina keluar menuju gerbang kampus.”
“Sorry, kemarin gue juga nggak tau kenapa tiba-tiba marah ama lo, beneran deh, gue minta maaf ya.”
Vina menatapku dengan seksama, kemudian pergi begitu saja.
“Vin, gue kan udah minta maaf.”
Vina membalikkan badannya dan kembali menatapku kemudian dia tertawa sekencang-kencangnya.

Aku hanya berdiri seperti  melihat orang gila yang tertawa tanpa peduli dengan lalu lalangnya mahasiswa yang ada di kampus.

Setelah puas tertawa, Vina mendekatiku dan berbisik “lo kalo lagi marah tambah kayak cewek tau nggak “ ha ha.

Aku makin bingung dengan tingkah Vina.
“Jadi lo nggak beneran marah ama gue ?, thank God, gue bakalan jadi orang paling menyesal sedunia kalo lo beneran marah ama gue.”
“Ya nggak lah, ngapain juga gue harus marah-marah ama lo, tapi gue nggak enak aja ama mas Helmi kemarin.”

Mendengar nama Helmi, terasa ada duri yang menusuk ke dalam dada ini. Selama perjalanan menuju kos, aku masih dipenuhi tanda tanya, apa yang salah dengan hati ini, kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan yang beda saat melihat Vina dekat dengan mas Helmi. Apakah aku cemburu ?, tidak mungkin, bukankah selama ini aku tidak pernah peduli dengan siapa Vina bergaul, bahkan dengan teman-teman yang sering pergi demo dengannya pun aku tidak pernah mempermasalahkan.

Setelah kejadian itu, meski aku sudah minta maaf dengan Vina, tapi kami jarang bertemu, karena aku sibuk dengan skripsi yang harus kuselesaikan tepat waktu, pada bulan April nanti aku sudah bertekad untuk ikut wisuda. Meski tidak sering bercanda ria bersama lagi, tapi Vina masih sering sms atau telpon.

Dering handphone terdengar ditelingaku, kulihat di layar handphone nama Vina Calling.

“Hy, Vin, lo nelpon gue bukan mau nagih utang kan ?”
“Azzam, bisa nggak sih lo nggak usah bahas masalah hutang,”
“Iya deh, sorry, ada apa ?”
“Gue mau cerita sama lo, tapi lo jangan marah kayak kemarin ya.”
“Emang ada alasan untuk marah ya ?”
“Ya siapa tau penyakit lo sedang kumat”
“Ok, mau ngomongin apa ?”
“Lo dengerin aja dan nggak usah komentar macam-macam ya.”
“Ok boss”
“Masih ingat dengan mas Helmi yang punya toko di depan kampus kan ?”
“Iya, kenapa dengan mas Helmi?”
“Udah hampir satu bulan ini, gue sering ketemu dengan mas Helmi, lo jangan mikir yang macam-macam ya, gue ketemu ama dia nggak Cuma sendirian kok, tapi bareng keluarga.”
“Bareng keluarga ? , maksudnya ?”

“Ternyata mas Helmi itu lulusan pesantren, jadi dia paham masalah agama, jadi waktu papa meminta gue mencari guru Agama untuk keluarga, gue nggak punya nama lain selain mas Helmi, karena mas Helmi pernah cerita kalo dia lulusan salah satu pesantren di Jogja dan melanjutkan mengelola toko baju muslim yang ada di depan kampus yang merupakan warisan keluarganya.”

Terus ?

“Terus, waktu gue minta dia untuk jadi guru agama di rumah, awalnya mas Helmi ragu, karena dia takut nggak punya waktu untuk itu, tapi setelah gue jelasin kalo satu minggu Cuma 3 kali pertemuan dan itu pun menyesuaikan dengan waktu mas Helmi, mas Helmi akhirnya bersedia jadi guru Agama keluarga. Setiap selesai maghrib hari Senin, Rabu dan Sabtu mas helmi ke rumah ngajarin keluarga gue ngaji, sholat dan sebagainya. Sekarang gue udah bisa sholat loh Zam.”
“Zam, zam, lo masih dengerin gue kan ?”
“Iya, gue dengerin kok, terus ?”
“Dari tadi lo ngomong terus, terus mulu, komentar apa kek”.
“Lah kan lo sendiri yang bilang tadi kalo gue Cuma dengerin dan nggak boleh komentar.”
“Oh iya, he he, gue lupa.”
“Jadi maksudnya nelpon ini cuma mau cerita kalo lo sekarang sudah taubat ya ? ledekku.”
“Ehm, gimana ya, kurang lebih seperti itu, nggak tahu kenapa tiap kali mas Helmi datang ke rumah, ngajarin Ngaji, ngajarin Sholat, gue ngerasa tenang banget. Dia itu tidak seperti yang gue bayangin tau nggak.”
“Emang lo ngebayangin mas Helmi kayak apa ?”

“Lo masih inget nggak, cowok yang berpakaian sama seperti mas Helmi di kampus beberapa tahun yang lalu, yang keluar karena gue sering ngomongin dia itu teroris, lo kan tahu juga kalo  gue benci banget ama tu cowok, tiap hari itu cowok koar-koar kayak khutbah jum’at di kampus dan selalu menghina gue karena gue nggak pake jilbab dan gue muslim, lo juga mungkin masih ingat waktu dia bilang gue itu kafir karena gue pake baju dan celana yang katanya kurang bahan itu.”

“Iya gue ingat, dan kayaknya satu kampus juga masih ingat kejadian itu”
“Nah mas Helmi itu tidak seperti itu, waktu gue cerita tentang cowok pake jubah yang berantem ama gue di kampus, mas Helmi malah tertawa terbahak-bahak.
“Kok mas Helmi ketawa ?”
“Katanya, ini kata mas Helmi lo, kita boleh saja tidak suka dengan orang lain, akan tetapi jangan benci orangnya, kita cukup tidak suka akan perbuatannya saja, jangan membenci orangnya, kita juga boleh mengingatkan orang lain selagi itu memang benar, akan tetapi kita juga harus mengingatkan mereka dengan baik, dan penuh kesabaran, kita tidak boleh langsung mengatakan “dia kafir” karena  dia tidak sholat, semua ada aturannya. Kita mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan sabar, karena sesuatu yang baik harus disampaikan dengan baik, kalo kita nasehatin orang sambil bawa golok, yang ada malah berantem, bukan malah nurut tapi mereka malah akan benci ama kita.”
“Wah lo udah kayak ustadzah ya Vin.”
“Ustadzah ?”
“Habis cara lo ngomong  sekarang itu sudah beda, udah nggak kayak dulu lagi.”
“Biasa aja kok Zam, gue Cuma mencoba untuk jadi lebih baik lagi. Udah malam ni, gue tidur duluan ya, thanks udah mau dengerin ocehan gue malam ini. Assalamu’alaikum zam, moga mimpi ketemu jin , sambungan telpon terputus bersamaan dengan tawa kecil Vina di ujung telpon.

Setelah mendengar cerita Vina, aku merasa ada yang benar-benar beda dengan dia, tidak biasanya dia begitu semangat berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan Agama, bahkan ngucap salam pada saat nelpon pun baru malam ini terdengar.

Setelah belakangan ini aku disibukkan dengan proses pembuatan skripsi, research dan sekarang semua sudah selesai, hanya menunggu wisuda, masih ada 2 minggu lagi sebelum wisuda, sudah lama aku tidak duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan kampus bersama dengan Vina. Pagi ini aku sengaja datang lebih awal dan menunggu Vina sambil menyediakan kopi jahe kesukaannya.

Sebuah metro mini berhenti di depan kampus, dan seorang wanita berjilbab tampak turun dari metro mini, aku kecewa, padahal aku sudah berharap bahwa yang turun itu adalah Vina. Akan tetapi kekecewaanku berubah menjadi tanda tanya saat mengetahui bahwa wanita berjilbab yang turun dari metro mini tadi berjalan menuju ke arahku. Aku jadi salah tingkah, wanita itu tetap berjalan dan berhenti tidak jauh dari tempat aku duduk, dia duduk di bangku yang berada kurang lebih 2 meter di depanku, kemudian memandangku, pipiku memerah, karena tidak biasa ada wanita yang memandangku dengan seperti itu.

“Assalamu’alaikum Zam”

Jantungku berdetak kencang, Suara itu , itu kan suara Vina, tapi apa benar yang berjilbab ini Vina.
“Wa’alaikumussalam”
“Zam, emangnya lo nggak kenal gue ya ?”

Kupandangi wajah itu dan aku tersentak kaget setelah menyadari bahwa wanita berjilbab yang sekarang berada di depanku benar-benar Vina. Aku masih terdiam dan tidak percaya bahwa wanita berjilbab ini adalah Vina, Vina yang setiap hari biasanya mengenakan pakaian yang biasa disebut orang pakaian yang kurang bahan, dan sekarang yang ada hanyalah Vina yang mengenakan setelah gamis berwarna putih, dan jilbab putih memanjang yang menutupi dadanya.

“Lo mau kondangan ya Vin ? tumben pakai pakaian kayak gini”.
Vina tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, emangnya aneh banget ya ngelihat gue pake jilbab ?
“Iya, nggak biasa aja, lo nggak sedang stress kan ?”
“Stress ? nggak lah”
“Sebenarnya gue udah lama pengen cerita tentang keinginan gue memakai jilbab, tapi lo nya sibuk banget. Semenjak mas Helmi ngajarin Agama di rumah, gue jadi banyak tahu tentang Islam, dan seperti yang lo lihat sekarang, gue udah memilih untuk menutup auratku dengan pakaian yang memang sudah diatur dalam agama kita, bukankah agama kita mewajibkan wanita untuk mengenakan hijab ?, seharunya lo senang dong ngelihat gue udah pakai jilbab, bukan malah ngeledekin.”
“Gue sih senang lo pake jilbab, tapi karena ini baru pertama gue lihat, jadi wajar dong kalo gue kaget.”
“Kita memang biasa seperti itu zam, coba lihat mas Helmi diseberang sana, mas helmi pernah bilang kalo orang-orang sering memandangnya aneh, atau bahkan ada yang menuduh dia itu teroris hanya karena dia mengenakan pakaian yang memang belum terbiasa kita lihat dan berbeda dari yang orang lain kenakan. Padahal tidak semua orang yang berpakaian seperti itu teroris kan ?
“Aku menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dengan apa yang diucapkan Vina.”
“Dan salah satu yang mengatakan mas Helmi itu teroris kan lo sendiri ? , celetukku”
 “Yupz, tapi itu dulu, sebelum aku mengenal dia lebih jauh”

Diperjalanan pulang menuju kos, aku berhenti di depan toko baju muslim, terlihat jelas dari kaca toko  beberapa jubah, baju muslim, dan perlengkapan ibadah lainnya. Mataku lama memandangi jubah putih yang tergantung di dekat pintu masuk.

“Silahkan masuk mas, lihat-lihat dulu boleh”.
“Terimakasih mbak, saya Cuma numpang lewat, aku bergegas meninggalkan toko.”
Beberapa hari kemudian, aku kembali berhenti di toko baju muslim itu dan melihat jubah putih itu masih tergantung rapi di dekat kaca.
“Silahkan masuk mas, seorang penjaga toko membukakan pintu toko.”

Entah apa yang terjadi, aku langsung masuk ke toko dan langsung mendekati jubah putih yang sedari tadi aku perhatikan. Aku hanya berdiri di dekat jubah putih dan membayangkan aku memakainya.

“Jubahnya boleh dicoba mas, ruang ganti disebelah sana.”
“Terimakasih mbak”

Aku langsung mengambil jubah putih dan membawanya ke ruang ganti. Kulihat diriku di depan cermin sedang mengenakan jubah putih, tidak ada yang aneh menurutku, yang membedakan hanyalah ukuran dan panjangnya saja. Apa benar orang-orang sering menganggap aneh mereka yang memakai jubah seperti ini ?, tiada salahnya aku mencoba dan membuktikan sendiri bagaimana orang-orang melihatku saat mengenakan jubah ini.

“Mbak, saya beli yang ini”
“Sarungnya nggak sekalian mas?”
Aku baru ingat bahwa tidak ada sarung di kosan, baik sarungnya sekalian mbak.
“Yang mana mas?”
“Yang mana aja mbak”.

Setelah selesai membayar, aku meminta izin penjaga toko untuk langsung mengenakan jubah di ruang ganti.

“Mbak, boleh saya langsung memakai jubah ini di ruang ganti ?”
“Silahkan mas”

Setelah selesai mengenakan jubah putih yang baru saja kubeli, aku keluar dari toko dan berdiri di pinggir jalan raya. Aku bisa melihat orang-orang memperhatikanku dengan seksama, bahkan ada beberapa orang yang menyapaku.

“Mau kemana Syekh?”
“Mau kemana ustadz ?”
Atau ada yang menegurku:
“mau khutbah dimana pak ustadz ?”

Baru sebentar aku berdiri di pinggir jalan raya, sudah banyak sekali kata-kata yang terdengar, aku makin penasaran, akhirnya aku masuk ke dalam sebuah taxi dan meminta supir untuk membawaku ke Pondok Indah Mall yang ada di Jakarta Selatan. Begitu turun dari taxi, orang-orang disekitarku ada yang acuh, ada juga yang memandangku dengan pandangan aneh. Aku tidak mempedulikan mereka, aku terus berjalan masuk ke dalam Mall dan aku mendapatkan perlakuan yang sama, ada yang hanya hanya sekedar memandangku, ada juga yang menegurku dengan ustadz, kiyai, bahkan teroris.

Aku tersadar bahwa apa yang diucapkan oleh mas Helmi benar adanya, masyarakat kita kerap kali memandang aneh mereka yang mengenakan jubah sebagai pakaian sehari-hari, padahal tidak ada salahnya selama mereka baik kepada kita. Vina telah membukakan mataku, arghhh Vina, sekarang engkau begitu beda dengan Vina yang aku kenal dulu, tapi perubahan itu membuatku merasakan bahwa aku cinta padamu.

Dan itulah cinta, kadang kita tidak pernah menyadari bahwa cinta sudah berada di dekat kita, kita hanya memerlukan waktu untuk tahu bahwa ia ada di dekatmu. Dan saat cinta ini mampu tuk kuucap, maka jubah putih ini akan jadi saksi cintaku padamu Vina.