April 15, 2011

Jeritan Seorang Insomnia


Perlahan pelan kupejamkan mata menuju peristirahatan. Mencoba memangku mimpi di atas keterlelapan. Lantunan do’a pun mengantarkan perjalanan meninggalkan alam nyata. Rembulan masih setia bercokol di cakrawala, ditemani bintang-bintang, seperti pasangan kekasih yang merajut cinta dibalik keheningan malam. Orang-orang pun dengan tenang terlelap dibawah kaki rembulan.

Aku disini menghela nafas menantikan rasa kantuk yang tak jua tiba. Menantikannya dibalik lamunan perjalanan. Malamku tak seindah dulu yang selalu dihiasi oleh mimpi-mimpi indah. Aku mencoba tetap menantikannya, berharap ia datang dalam redupnya lampu kamarku. Aku bagai Majnun yang merindukan Laila, yang peralahan-lahan seperti orang yang gila karena cintanya. Aku bagai hamba sahaya yang tak pernah merdeka, karena tuanku enggan membebaskanku.

Aku disini berteriak memanggil-manggil yang kunantikan. Oh rasa kantuk kemanakah engkau? Aku hanya meratapi keberadaanmu dibalik dinding kamarku. Rasa kantuk bersalahkah aku padamu, sehingga engkau enggan kembali kepadaku walau hanya sekedar bercengkrama membicarakan hari. Ataukah diri ini sudah tak pantas lagi untuk kau jamah lagi. Mana dirimu yang dulu, yang selalu tersenyum indah ketika duduk di pangkuanku, menemani tiap malamku, datang setiap aku membutuhkanmu.

Wahai pemilik rasa kantuk, mengapa diri ini selalu dirundung gelisah. Apakah aku terlalu jauh dari-Mu? Maafkanlah kehilafan hamba, aku hanya seorang yang membutuhkan rasa kantuk tersebut. Apa yang harus aku lakukan agar dapat bersamanya kembali, apa? tubuh ini terlalu renta untuk tidak hidup bersamanya kembali. Tubuh ini terlalu lemah, terlalu lemah. 

2 comments:

  1. kalo lg insmonia emang mengganggu yah ... susah tidur, dan pas tidur kayak irang tewas ... wkwkwk

    :D

    ReplyDelete
  2. iya bener banget...super mengganggu dan sangat tidak mengenak kan..... saya berharap dirimu kena insomnia suatu hari nanti ha ha ha

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan