August 26, 2011

Digaji Berapa?



Alhamdulillah, sore ini saya sudah kembali menikmati kemacetan kota Jakarta, meski merasakan kemacetan yang tak kunjung usai, namun saya tidak bisa memungkiri bahwa saya merindukan suasana macet seperti ini (halahhh bo’ong banget).

Baiklah, kali ini saya akan bercerita tentang sebuah pertanyaan yang menurut saya sedikit mengusik kenyamanan saya. Yupzz sangat mengusik bahkan, belum 2 jam saya menginjakkan kaki di kota Jakarta ini, pertanyaan ini sudah berulang kali saya dengar. Bahkan sebelumnya memang sudah sangat sering diutarakan.

digaji berapa ?” Gede nggak gajinya ? kalo gede gue mau juga dong ngajar disana.
Pertanyaan diatas entah sudah berapa kali ditanyakan oleh beberapa orang teman yang satu fakultas dengan saya (fakultas pendidikan tentunya, bukan kedokteran :D). beberapa hari yang lalu saya pernah menuliskan bahwa menjadi guru itu harus dengan keihklasan, ikhlas bukan berarti nggak digaji, akan tetapi jika yang menjadi pertimbangan anda ingin mengajar hanya karena dapat gaji yang besar, itu salah besar.

Mengapa saya katakana salah besar? Karena kalo memang ingin dapat gaji yang besar ya jangan jadi guru, karena jadi guru itu ya hanya segitulah gajinya. Beda dengan gaji anggota DPR. Jadi pesan saya satu, saat anda memilih untuk mengabdikan diri menjadi seorang guru, guru apapun itu, yang harus anda benahi pertama kali adalah niat anda. 

Seorang guru pernah menuliskan kalimat yang sampai sekarang selalu saya ingat :

“saya menjadi guru bukan ingin menjadi kaya, akan tetapi saya yakin Tuhan menjanjikan sesuatu yang indah buat saya”

Kalo boleh jujur, saya kecewa dengan kalian yang sudah menjadikan gaji sebagai pertimbangan pertama dalam mengabdikan diri menjadi guru. Kalo niat kita mengajar saja sudah salah, bagaimana hasilnya akan baik ?

Percayalah, Tuhan mempunyai rencana yang indah buat kita, jika kita mengajar dengan penuh keihklasan, maka kita pun akan merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Tidak ada salahnya gaji juga dimasukkan dalam pertimbangan, toh kita pun memang butuh akan hal itu untuk biaya hidup. akan tetapi jangan jadikan besar kecilnya gaji sebagai tujuan utama anda menjadi guru.

Sekian celotehan saya malam ini.
Maaf rada esmosi saya …(minum teh botol dulu biar adem). :D

Tidak ada maksud apa-apa dari tulisan ini, hanya ingin menekankan kepada semua guru yang ada dimuka bumi ini, yakinlah bahwa pengabdian kita akan diberikan ganjaran yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Kuasa baik di dunia maupun dikehidupan selanjutnya. Yakinlah.

August 20, 2011

Problema Remaja





Umur remaja adalah umur peralihan dari anak menjelang remaja, yang merupakan masa perkembangan terakhir bagi pembinaan kepribadian atau masa persiapan  untuk memasuki umur dewasa, problemanya tidak sedikit. Telah banyak penelitian yang telah dilakukan  orang dalam mencari problema  yang umum dihadapi oleh remaja, baik di Negara yang telah maju, maupun yang masih berkembang.

Menurut Prof. Zakiyah Drajat  diantara problema Remaja  yang tampak dengan jelas ialah:

-       Masalah Hari Depan

Setiap remaja memikirkan hari depannya, ia ingin mendapat kepastian, akan menjadi apakah ia nanti setelah tamat. Pemikiran akan hari depan itu semakin memuncak dirasakan oleh mereka yang duduk di bangku Universitas atau mereka yang berada di dalam kampus. Tidak jarang kita mendengar kalimat-kalimat yang memantulkan kecemasan akan hari depan itu, misalnya : “ hari depan suram”, “buat apa belajar, toh sama saja yang berijazah dan tidak berijazah sama-sama tidak dapat bekerja” dan seterusnya.

Kecemasan hari depan yang kurang pasti, itu telah menimbulkan berbagai problema lain, yang mungkin menambah suramnya masa depan remaja itu, misalnya semangat belajar menurun, kemampuan berpikir berkurang, rasa tertekan timbul, bahkan kadang-kadang sampai kepada mudahnya mereka terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik, kenakalan dan penyalah gunaan narkotika. Perhatian mereka terhadap agama berkurang , bahkan tidak jarang terjadi kegoncangan hebat dalam kepercayaan kepada Tuhan. Contoh dalam hal ini sangat banyak, dapat anda  perhatikan sendiri dalam setiap kampus.

Termasuk dalam pemikiran akan hari depan itu, masalah pembentukan rumah tangga di masa depan yang tidak jauh, kedudukannya dalam masyarakat dan hari depan masyarakat dan bangsanya.

-       Masalah Hubungan Dengan Orang Tua

Ini juga termasuk masalah yang di hadapi oleh remaja dari dulu sampai sekarang. Seringkali terjadi pertentangan pendapat antara orang tua dan anak-anaknya yang telah remaja atau dewasa. Kadang-kadang hubungan kurang baik timbul, karena remaja mengikuti arus dan mode: seperti rambut gondrong,pakaian kurang sopan, lagak lagu dan terhadap orang tua kurang hormat. Prof. Zakiyah Drajat menuliskan pengalamannya dalam berhubungan dengan orang-orang yang menderita jiwa, banyak ketidak serasian antara orang tua dan anak-anaknya yang remaja atau dewasa; yang menderita bukan hanya remaja saja, tapi orang tua kadang-kadang lebih menderita lagi. Ada remaja yang patah semangat dalam menjalani hidup, bergaul dengan lingkungan yang tidak baik sehingga dia pun hanyut dalam lingkungan yang tidak baik itu, berani melawan orang tua, kabur dari rumah, tidak menyukai orang tuanya, atau bahkan ada yang sampai berniat akan membunuh orang tuanya karena sangat paniknya.

-       Masalah Moral dan Agama

Biasanya kemerosotan moral disertai dengan sikap menjauh dari Agama. Nilai-nilai moral yang tidak didasarkan pada agama akan terus berubah sesuai dengan keadaan waktu dan tempat. Keadaan nilai-nilai yang berubah itu menimbulkan kegoncangan pula, karena menyebabkan orang hidup tanpa pegangan yang pasti. Nilai yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, karena nilai agama itu absolut  dan berlaku sepanjang zaman, tidak dipengaruhi oleh waktu, tempat dan keadaan. Oleh karena itu, orang yang kuat keyakinan beragamanyalah yang mampu mempertahankan nilai agama yang absolut itu dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak akan terpengaruh oleh arus kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat serta akan dapat mempertahankan ketenangan jiwanya.

August 19, 2011

Pastikan Anak Senang di Sekolah

Sekolah yang baik adalah sekolah yang memanusiakan manusia, artinya sekolah benar-benar memberikan layanan pendidikan anak sesuai potensi, kelebihan dan kekurangan yang anak miliki, yang memberikan rasa aman dan nyaman secara fisik maupun psikologis. Yang tak kalah penting untuk dicermati oleh orang tua adalah sejauh mana kesiapan anak untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi disekolah? Apakah anak sudah benar-benar siap masuk sekolah ataukah jangan-jangan mau sekolah karena didesak oleh orang tua yang terlalu bersemangat.

-          Kapan anak siap Sekolah ?

Secara umum anak siap belajar diluar  rumah (sekolah) pada usia 3 sampai 4 tahun, tergantung dari kondisi masing-masing anak. Sementara untuk duduk kelas satu SD idealnya setelah berumur 6 tahun.

Beragamnya usia anak yang siap belajar di sekolah perlu ditinjau juga dari beberapa aspek. Seperti peran orang tua dan keluarga dalam menstimulasi anak untuk siap sekolah, lalu peran lingkungan bermain anak yang ada disekitar rumah, serta kesiapan secara psikologis dari anak itu sendiri.

Orang tua memang harus jeli melihat perkembangan usia anak balita karena perbedaan usia yang hanya 1 bulan saja bisa menyebabkan perbedaan  kematangan yang jauh. Selain itu dorongan  dan motivasi orang tua dan lingkungan serta guru yang mengajar  sangat berperan dalam menentukan  kesiapan anak untuk sekolah. Ingat, yang menentukan anak siap masuk sekolah tidak hanya semata-mata karena mereka sudah pandai  dalam calistung (baca-tulis-hitung) tetapi jauh diluar itu adalah kesiapan  mereka untuk belajar menerima  keberadaan orang lain, belajar untuk mematuhi aturan/tatat tertib sekolah, belajar menghadapi masalah yang muncul dengan teman atau guru, belajar untuk mandiri (jauh dari orang tua) saat mereka di kelas, belajar untuk percaya diri, belajar untuk berbagi perhatian dan lain sebagainya.


-          Kemampuan berbahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi kita dengan orang lain. Dengan berkembangnya kemampuan bahasa yang anak miliki menunjukkan satu kesiapan anak untuk mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Jika perkembangan bahasa anak mengalami hambatan maka anak akan mengalami hambatan pula di sekolah untuk  berinteraksi dengan orang lain. Anak akan cepat frustasi karena kurang bisa mengungkapkan keinginan secara verbal.

Reaksi anak yang  kurang mampu berbahasa dengan baik ketika mengungkapkan keinginannya ada yang tiba-tiba menangis, marah-marah bahkan main fisik (mencubit, memukul, dan menendang). Hal ini dilakukan anak karena ketidakmampuan dalam mengungkapkan secara verbal keinginan mereka pada orang lain.

-          Kematangan Emosi 

Emosi terbagi menjadi dua yaitu emosi psitif , misalnya rasa senang, gembira, bangga, percaya diri, berani dan lain sebagainya. Sedangkan rasa marah, sedih, kecewa dan takut termasuk emosi negatif.

Anak anak yang sudah siap belajar di bangku sekolah adalah anak-anak yang mampu mengatur emosinya dengan baik. Mereka mampu mengeksperesikan emosi baik emosi negative maupun  positif  dengan baik dan sesuai pada tempatnya atau proporsional.

-          Perkembangan sosial 

Aspek perkembangan sosial anak saat duduk di bangku sekolah sangat penting. Anak usia empat tahun secara umum sudah menunjukkan kemauan untuk bergaul dengan orang lain. Mereka terlihat  senang berada dalam kelompok bermain dengan teman sebayanya. Apabila anak-anak usia ini mengalami masalah dengan temannya saat bergaul maka dengan memberikan pengertian tentang bagaimana bergaul yang baik maka mereka sudah bisa memahami dan mau melaksanakan nasehat dari orang tua selain itu anak sudah mau untuk berbagi dengan teman, mau kerjasama , saling menghargai. Proses ini akan terus berlangsung selama di TK. Untuk anak yang belum siap bersoialisasi maka mereka cenderung untuk bersikap egois atau mementingkan dirinya sendiri sehingga teman-temannya tidak suka.

-          Perkembangan Intelektual

Sebelumnya mari kita samakan persepsi mengenai perkembangan intelektual anak. Perkembangan intelektual anak  jangan disamakan dengan  dengan kemampuan anak untuk menghapal materi, kemampuan anak dalam membaca, menulis, berhitung. Jauh dari itu bahwa perkembangan intelektual lebih kepada kemampuan anak dalam mencerna  informasi  yang diberikan, kemampuan daya tangkap  anak dan kemampuan anak dalam memahami konsep sebab akibat. Kekeliruan yang sering kita lakukan sebagai orang tua adalah terlalu dini mengajarkan anak untuk membaca dan berhitung   bukan pada bagaimana kita mengasah daya tangkap , daya nalar anak supaya anak lebih siap dalam menerima  pelajaran akademik tersebut dan bertahan lama kemampuan yang anak miliki karena lebih matang dalam menerima pelajaran.

-          Perkembangan Jasmani (Motorik)

Kesehatan fisik anak tidak kalah penting ketika anak duduk di bangku sekolah . kemampuan motorik anak baik motorik halus maupun kasar harus sudah terlatih sebelum anak masuk sekolah. Hal ini berpengaruh terhadap keaktifan anak ketika belajar dan bermain dengan temannya  yang melibatkan kemampuan fisik mereka. Jika anak mampu bermain dengan teman-temannya  maka mereka akan lebih percaya diri. Jika anak dalam kondisi sehat maka akan lebih siap dan lebih semangat dalam menerima pelajaran di sekolah.

August 18, 2011

Lentera Untuk Ipat


REPOST
Life's most urgent question is: What are you doing for others?"
- Martin Luther King, Jr. -

Pernahkah kalian membayangkan harus hidup dalam kondisi fisik yang kurang sempurna dan ketidakjelasan apa jenis kelamin kalian, apakah kalian perempuan atau laki-laki? Jangankan bermimpi menjadi seorang model yang berkulit bagus, bermimpi memiliki kulit selayaknya manusia normal saja mungkin tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya.

Tersebutlah seorang bocah berusia 5 tahun yang tinggal di daerah Warakas bernama Fatahiyah atau yang kerap dipanggil Ipat. Dia memiliki kelainan genetik sejak lahir. Hampir separuh kulit tubuhnya menghitam dan ditumbuhi bulu, serta memiliki kelamin ganda. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, karena ketidaksempurnaan fisiknya ini juga berpengaruh pada kondisi psikologis Ipat. Dia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, dan cenderung tertutup. Kalau bertemu dengan orang lain, dia lebih sering menunduk dan tidak mau memandang wajah orang yang mengajaknya bicara.

Ayah Ipat sendiri adalah seorang pekerja serabutan yang penghasilan setiap harinya tentu kurang bisa diharapkan, sedangkan ibu Ipat adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ipat adalah anak keempat dari lima bersaudara. Saudara-saudara Ipat semuanya tumbuh dan memiliki fisik yang normal, hanya Ipat yang memiliki kondisi fisik seperti itu.

Dulu, hampir setiap hari Ayah Ipat mengusahakan dana untuk pengobatan Ipat dengan cara mengajak Ipat ikut bersamanya sambil mengetuk simpati satu persatu orang agar bersedia membagikan sebagian rezekinya untuk pengobatan Ipat. Namun tentu saja hasilnya kurang maksimal. Ipat yang waktu itu masih balita, mengalami kelelahan fisik, dan mungkin juga psikis, karena selain harus melakukan perjalanan yang melelahkan juga harus rela mempertontonkan kekurangan fisiknya kepada orang lain.

Hari Sabtu (6/7) lalu, saya beserta empat teman yang lain, dan juga Si Hubby, berkesempatan untuk bertemu Ipat dan keluarga dalam acara buka bersama di salah satu tempat makan di daerah Danau Sunter. Itu adalah kali pertama saya melihat Ipat, anak yang rencananya akan kami bantu. Bocah berperawakan kecil itu cenderung diam, lebih banyak menunduk, tidak mau bertatapan mata dan bicara dengan kami. Butuh waktu untuk bisa menetralisasi keadaan supaya Ipat bersedia membaur bersama kami.

Saya juga berkesempatan ngobrol dengan Pak Ecim, ayah Ipat. Dia mengatakan bahwa dulu sebenarnya Ipat sudah sempat dioperasi kulitnya, yang operasinya disponsori oleh salah satu stasiun televisi swasta. Namun entah mengapa yang ditangani oleh stasiun televisi tersebut ternyata hanya sampai dengan tahap operasinya saja. Sementara tindak lanjut perawatan dan pengobatan pasca operasi tidak ada sama sekali. Terpaksalah Pak Ecim mencari dana lagi untuk pengobatan pasca operasi Ipat.

Sayangnya, dibalik kisah memprihatinkan itu ternyata masih ada pihak-pihak yang tega memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Berkedok ingin membantu Ipat dan keluarga, ujung-ujungnya malah justru meminta uang dari keluarga Ipat yang jelas-jelas dari keluarga kurang mampu. Itulah sebabnya, kami memilih untuk mendampingi sendiri Pak Ecim dan keluarga, utamanya dalam proses pengobatan Ipat nantinya.

Masalah ternyata tak berhenti sampai disitu saja, sebagai pemegang kartu GAKIN (Keluarga Miskin), seharusnya pengobatan Ipat tidak dikenakan biaya sama sekali, namun justru kebalikannya, Ipat masih harus dikenakan biaya sebesar Rp200.000,- untuk biaya tes kromosom di RSCM.
"Pak, bukannya semua pemegang kartu Gakin seharusnya bebas biaya pengobatan ya?"

"Iya, Mbak. Nggak tahu nih, saya juga bingung. Kemarin saya bawa Ipat periksa ke Cipto, tapi lab-nya itu yang di sebelah rumah sakitnya. Saya nggak tahu itu bagian apanya, kayanya swastanya ya, Mbak.. Jadi ya tetap harus bayar... "

Sepertinya memang harus ada yang mendampingi Pak Ecim ke RSCM, mengingat disana rentan sekali pasien-pasien/keluarga lugu macam Pak Ecim ini digiring oleh calo menuju jalan yang tidak semestinya, sehingga pelayanan yang seharusnya gratis pun menjadi berbayar. Sebetulnya ingin sekali melakukan pendampingan terhadap Pak Ecim dalam mengurus pengobatan Ipat di RSCM, namun apa daya, karena saya dan juga 3 orang teman saya yang lain juga diikat oleh jam kerja, sehingga kurang memungkinkan jika harus melakukan pendampingan.

Selepas berbuka bersama, kami mengantarkan Ipat dan keluarganya hingga sampai rumah. Sebelumnya, jangan pernah berpikir bahwa rumah Ipat ini terletak di sebuah perkampungan dengan jalanan yang lebar, atau setidaknya cukup untuk dilewati sebuah sebuah motor/sepeda. Jalanan menuju rumahnya benar-benar sempit dalam arti kata yang sebenarnya. Jalanan setapak yang hanya muat untuk satu orang. Semakin ke dalam, semakin mengerucut hingga kami harus berjalan miring untuk menuju ke rumahnya yang berada di pojokan itu. Jalanannya pun dipenuhi dengan bebatuan. Bersyukur bahwa badan kami tidak terlalu gemuk, sehingga masih memungkinkan untuk melewati jalanan sesempit itu.

Setelah melalui perjalanan yang rumit itu akhirnya kami sampai di rumah Ipat. Indera penciuman kami pun langsung disambut dengan bau khas sungai keruh. Rumahnya sendiri berbentuk bangunan dua lantai semi permanen, kombinasi antara tembok dan triplek-triplek bekas. Sebenarnya sedih deh kalau melihat kondisi fisik rumah yang kurang layak disebut rumah itu. Namun rupanya mereka tidak punya pilihan lain untuk tinggal karena beruntung mereka masih bisa merasakan memiliki tempat tinggal dan tidak hidup menggelandang.
Ipat tampak mulai sedikit merasa nyaman dengan kehadiran kami di rumahnya. Dia mulai berani berdendang kecil, dan akhirnya dia pun mulai berani beratraksi menyanyikan lagu Playboy-nya Seven Icon dengan artikulasi yang kurang jelas. Si Hubby mengambil beberapa gambar Ipat dengan menggunakan kamera handphone secara candid. Kenapa harus candid? Ya, karena Ipat tidak pernah mau sengaja diambil gambarnya. Seperti yang saya ceritakan tadi Ipat sangat tertutup apalagi dengan orang-orang baru yang belum dikenalnya.

Sementara Ipat asyik bermain sendiri dengan abangnya, kami pun melanjutkan diskusi masalah pengobatan Ipat dan langkah selanjutnya yang akan kami ambil. Ditengah diskusi kami, tiba-tiba Ipat melintas di sela-sela kami yang saat itu duduk di lantai. Dia meminta ibunya membuka baju bawahannya karena mengeluh badannya gatal. Saat itulah saya melihat sebagian tubuh Ipat yang berwarna kehitaman dan ditumbuhi bulu. Bagian perutnya hingga ke paha, dan beberapa bagian di kakinya pun mengalami bercak-bercak kehitaman dan ditumbuhi bulu. Sungguh trenyuh melihatnya :(. Tidak berani membayangkan jika saya yang harus mengalami hal itu. Wajah ditumbuhi jerawat saja sudah uring-uringan dan kurang percaya diri, apalagi jika sebagian kulit saya berwarna hitam legam sejak lahir dan berbulu seperti itu :-s. Belum lagi ketidakjelasan jenis kelaminnya, apakah Ipat ini seorang perempuan atau laki-laki. Hal-hal itulah yang secara psikologis mengakibatkan Ipat mengalami krisis kepercayaan diri, karena memang kondisi fisiknya sedikit berbeda dengan manusia normal pada umumnya.

Menurut keterangan Nanda, salah satu teman yang juga akan membantu Ipat, jika kartu Gakin yang dimiliki Pak Ecim tidak berlaku, maka operasi Ipat akan menelan biaya kurang lebih sebesar 40 juta rupiah. Tentu ini adalah biaya yang sangat besar jika harus ditanggung sendiri oleh keluarga Pak Ecim yang hanya seorang buruh serabutan. Oleh karena itu, dibutuhkan bantuan dana dari para donatur, siapapun itu yang peduli terhadap nasib Ipat dan keluarganya. Kami pun tidak mampu jika harus sendirian tanpa bantuan teman-teman yang lain.

Namun, jika uang tersebut sudah terkumpul dan ternyata kartu Gakin Pak Ecim berlaku sehingga seluruh biaya operasi Ipat ditangani secara gratis, uangnya mau dikemanakan? Ya, setidaknya uang tersebut bisa dipergunakan untuk membiayai hidup Pak Ecim dan keluarga selama Ipat dirawat di RS, dan bisa dipergunakan juga untuk biaya pasca operasi.

Nah, berhubung kita juga masih menunggu hasil tes kromosom dari RSCM, sehingga masih belum bisa dipastikan apa jenis kelamin Ipat. Bersyukur jika nantinya dia berjenis kelamin perempuan, karena berarti Ipat tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk menyesuaikan diri, karena tampilan Ipat sekilas memang lebih cenderung ke anak perempuan. Tapi jika tes hasil kromosom nanti ternyata menyebutkan hal yang sebaliknya Ipat akan butuh seorang psikolog untuk melakukan pendampingan.

Bagi teman-teman yang ingin membantu Ipat, silakan berkirim email ke saya devieriana@gmail.com, inandatiaka@gmail.com, mohtaufan@ymail.com, atau ke ekaiswahyuni@gmail.com.

Jika teman-teman diberikan kelapangan rezeki oleh Allah dan ingin sedikit berbagi menolong adik kita yang kurang beruntung ini, silakan disalurkan ke Bank Mandiri Cabang Bandung Siliwangi dengan No. Rekening 13 0000 4747 641 a.n. Inanda Tiaka. Semoga segala berkah tercurah kepada teman-teman semua. Aamiin...

"Be thankful for what you have, but never take what you have for granted. Share with those who are less fortunate. You do not know what tomorrow brings."
- Catherine Pulsifer -

August 17, 2011

Dua Puluh Dua Tahun

Tidak terasa, sudah dua puluh dua tahun saya ngekost di dunia ini.

Di umur yang sudah tidak muda lagi, saya hanya berharap Allah akan memberikan saya kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain. Kehidupan yang membawa keberkahan.

Sedikit cerita, gara-gara saya lahir pas 17 Agustus , saya mendapatkan Beasiswa Study dari SD-SMA. Keren kan ? ha ha :D. Tapi semua itu tidak lepas dari kehendak dari Yang Maha Kuasa.

Ulang tahun bukanlah suatu peristiwa yang harus dirayakan dengan bermegah-megahan, akan tetapi puji syukur dan cara kita memaknai hidup lah yang lebih penting. Kembali berkaca diri, berusaha menjalani hidup ini dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

pesan saya kepada Arian Sahidi ( saya sendiri) adalah

"belajar untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam menghadapi permasalahan hidup."

August 16, 2011

Tetapi ....

Memandangmu adalah suatu anugerah
Memilikimu adalah sebuah amanah
Menjagamu adalah tanggung jawab
Jauh darimu membuatku sengsara

Tetapi...

Aku tidak ingin memandangmu jika engkau tidak memandangku
Aku tidak ingin memilikimu jika engkau tidak ingin memiliki diriku
Aku tidak ingin menjagamu jika engkau tidak berusaha tuk menjagaku
Aku juga tidak akan merindukanmu jika engkau selalu menjauh dariku

Senyummu membuatku bertanya , apa yang membuatmu tersenyum saat menatapku ?
Tawamu membuatku merasa engkau menertawakanku
Candamu membuatku sakit hati

August 15, 2011

"Apa yang kau cari?"

"Apa yang kau cari?", adalah sebuah pertanyaan yang selalu menghantui kemana aku pergi dan dimana aku berada. Sebuah pertanyaan yang selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sebuah pertanyaan yang dipenuhi sekelumit misteri bagi si penjawab. Pertanyaan tersebut hanyalah terdiri dari satu kalimat, empat kata dan empat belas huruf. Namun memerlukan jawaban yang sangat panjang dan rumit. Sehingga pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan sebuah perbuatan, bukan perkataan atau dengan teori yang penuh dengan omong kosong belaka.

Ayah, memberi nasihat-nasihat kehidupan kepadaku, "Nak, perhatikan dan dengarkan apa yang ada disekitarmu. Belajarlah tentang sesuatu darinya. Carilah ilmu, karena itu adalah sebaik-baiknya bekal, sehingga engkau tidak akan lelah untuk memikulnya. Engkau tidak akan menjadi orang yang menyesal karena berteman dengan ilmu, Engkau akan melihat dengan ilmu, engkau akan mendengar dengan ilmu dan engkau akan berbicara dengan ilmu. Maka engkau tidak akan menjadi orang yang buta, tuli dan bisu".
"Nak, Bersekutulah dengan kenyataan. Bila tidak begitu, engkau akan selalu diliputi resah bila harapan yang kau bingkai dan kau pajang dalam dinding-dinding mimpi kehidupan tidak tercapai. Nak, jangan kau memgikuti arus, karena itu hanya akan membuatmu terjebak oleh buih-buih yang menipu. Jangan pula kau melawan arus, karena itu akan membuatmu hancur berkeping-keping. Tapi yang kau harus lakukan adalah mengatasi arus, karena dengan begitu kau akan tahu kapan harus mengikuti dan melawan arus, sehingga kau tidak akan menjadi orang yang terjebak atau hancur".

Aku adalah orang yang terjebak diantara pertanyaan yang dilematis, bahkan aku tidak mampu untuk menjawabnya dengan sistematis. "Apa yang kau cari?", ilmukah? Atau gelar kesarjanaan yang selalu dipuja-puja oleh orang disekitarnya?, sehingga orang rela melakukan apa saja demi memilkinya.

Aku berfikir bahwa yang terpenting adalah ilmu, maka aku tidak akan menjadi orang yang memuja sebuah gelar. Aku melihat banyak orang yang mempunyai gelar tetapi dalam keilmuannya nol besar. Sebab mereka hanya memikiran cangkangnya bukan isinya. Maka aku putuskan ketika masuk perguruan tinggi harus merubah sebuah paradigma berfikir yang salah. Paradigma bahwa gelar adalah segalanya namun esensi dari gelar tersebut hilang ditelan gengsi.

August 09, 2011

Bahagia Menjadi Guru



Kebahagian seorang guru adalah manakala melihat murid-muridnya senyum bahagia, sedih saat mendengar anak-anak yang tidak masuk sekolah. bahagia saat mendengar sapa mereka saat bertemu di luar jam sekolah. bahagia saat mereka datang menjenguk saat kita sedang tidak bisa mengajar.

Sudah hampir 2 Bulan lamanya saya menikmati betapa indahnya menjalani hidup menjadi seorang guru, setiap hari, menyambut kedatangan mereka adalah hal yang paling ditunggu, melihat senyum mereka, menjawab salam yang terucap tulus dari mereka dan kadang bercanda dengan mereka. segala keletihan terasa menghilang saat melihat mereka datang seraya berkata, assalamu'alaikum ustadz. really, 100 % i'm happy.

Meski kadang mereka membuat kesal, tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecintaanku pada dunia mengajar. ya namanya juga anak-anak, tidak semuanya saat dibilang A langsung nurut A, tidak semua saat Guru berkata diam, lalu mereka diam.

Setiap Anak itu unik, mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan pernah membanding-bandingkan si A dengan si B yang akhirnya akan membuat mereka merasa bahwa mereka tidaklah pantas untuk mendapatkan pujian karena mereka selalu dibanding-bandingkan dengan teman-temannya. jangan sesekali menghardik mereka dengan kata-kata kasar yang nantinya akan mereka tiru.

Dunia pendidikan adalah dunia yang kuimpikan sedari dulu. bahagia rasanya bisa berbagi ilmu dengan orang-orang. bahagia rasanya melihat mereka menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, bahagia saat mereka berkata : Ustadz. kemarin sakit apa ? kok nggak masuk ?. arghhh mereka memang membuat hidup ini lebih berwarna.

Saya bahagia dengan duniaku, saya tidak pernah menyesal telah memilih dunia ini.
dan saya bahagia menjadi seorang guru.

Hari ini, esok dan seterusnya

Sekilas memang tidak ada yang istimewa dari mereka, mereka hanyalah orang-orang yang sudah tua renta yang sedang berusaha meraih apa yang mereka lupakan pada waktu mereka masih muda.

Mereka adalah sekelompok orang-orang yang sedang belajar bagaimana membaca al-Qur'an di mulai dari awal (pengenalan hurus Alif, Ba, Ta dan seterusnya).

Akan tetapi coba lihat lebih jauh, semangat mereka , keinginan mereka untuk bisa itu terlihat jelas. Lantas, tegah kah saya menghancurkan semangat mereka dengan berkata "maaf saya sibuk dan tidak ada waktu untuk membantu mereka belajar cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar".

Atau tega kah saya berkata " emang waktu masih muda ngapain aja ?, umur udah bau tanah baru mau belajar membaca al-Qur'an, sekarang baru nyeselkan ?"

Saya tidak setega itu kok wahai warga ngerumpi, dan bukan berarti saya sudah mahir dan tidak perlu untuk belajar lagi, saya akan terus belajar dan belajar menjadi lebih baik lagi.

Banyak yang bisa saya ambil pelajaran dari mereka.

Coba lihat lebih dalam, Semangat mereka memberikan saya pelajaran yang begitu berharga, bahwa kita harus manfaatkan waktu kita sebaik mungkin agar tidak menyesal di hari tua.

Mereka juga mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk terus belajar, selagi ada kemauan maka akan ada jalan menggapai apa yang kita tuju.

Mereka juga mengajarkan saya untuk tidak malu belajar dengan siapapun, entah dengan orang yang sudah tuakah, seumuran kah, atau dengan orang yang masih muda di bawah kita. Dengan siapapun kita bisa belajar tanpa perlu gengsi karena kita lebih tua, karena kita lebih tinggi jabatannya, atau karena kita lebih kaya dan sebagainya.

Mereka juga termasuk orang-orang yang beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk mempelajari Kitab Suci al-Qur'an.

Dari sini sebenarnya bisa kita ambil pelajaran bahwa tidak ada kata cukup untuk belajar,


"Tuntut lah ilmu dari buaian hingga liang lahat"
"manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu"


Belajar itu tidak terbatas pada umur.
Teruslah belajar dan belajar.

Hari ini, esok dan seterusnya teruslah belajar dan belajar.

August 07, 2011

Kejadian-Kejadian membawa Hikmah

Seperti biasa, hari minggu adalah waktunya untuk lari sejenak dari rutinitas mengajar, akan tetapi ada kejadian-kejadian yang membuat hari ini lebih bermakna.

Kejadian pertama, pada saat saya dan beberapa teman menuju ke salah satu tempat wisata di banyumas, Motor salah satu teman mogok alias remnya bermasalah ( untungnya tidak jauh dari sana ada bengkel), jadi masalah pertama bisa terselesaikan.

Kejadian kedua, setelah selesai memperbaiki motor di bengkel, pada saat mau menyeberang jalan, tepat di depan mata saya, 2 orang perempuan yang sedang mengendarai motor (tidak memakai helm) dan bermaksud untuk menyeberang ditabrak oleh motor yang melaju kencang dari belakang. Spontan saya berteriak menyebut asma-Nya dan berlari menghampiri kedua perempuan tadi, dan membawanya ke pinggir jalan kemudian istirahat di salah satu rumah warga.

Kejadian ketiga, pada saat perjalanan pulang, ban motor yang saya naiki pecah, dan dengan senang hati, kita mencari tambal ban terdekat sambil istirahat shalat Ashar, karena tambal bannya ngantri (ternyata bukan hanya BBM yang ngantri, tambal ban pun ngantri ), jadilah kita berbuka di salah satu masjid yang tidak jauh dari tempat tambal Ban.


Kejadian keempat yang bisa dibilang lucu, kurang lebih 3 minggu yang lalu saya disuruh pindah ke rumah yang disediakan oleh pihak sekolah dan menjadi asisten salah satu guru besar yang sedang melanjutkan S3 di Sudan, dan hari senin kemarin saya sudah mulai menempati rumah yang disediakan oleh pihak sekolah, dan jujur saya memang belum pernah lihat sang Guru besar tersebut, dan ternyata malam ini beliau sudah datang dari Sudan dan Beliau juga yang mengimami sholat tharawih. akan tetapi, karena saya sholat di pojok kiri Masjid, jadi saya tidak bisa melihat wajah sang imam atau pun pakaian yang digunakan.


Setelah selesai sholat tharawih, mata saya tertuju kepada seseorang yang saya kira dialah sang Guru yang baru kembali dari Sudan tadi, and jeng---jeng-jeng ternyata saya salah orang bozzz....wkwkw...teman yang disamping saya malah cengengesan ngetawain,,, berghhh....

Dari kejadian pertama dan ketiga, bisa diambil hikmah bahwa dalam hidup akan selalu ada rintangan-rintangan yang mencoba untuk menghalangi kita menggapai apa yang kita tuju. Akan selalu ada kerikil-kerikil yang menjadi penghalang kita dalam meraih impian, dan kita harus siap dengan rintangan-rintangan tersebut.

Dari kejadian kedua, kita bisa mengambil pelajaran bahwa hati-hati dan patuh terhadap peraturan lalu lintas itu sangatlah penting, bukan untuk orang lain, akan tetapi demi keselamatan kita juga. Kita harus tau kapan waktu yang tepat untuk menyeberang dsb. Sekali lagi , semua itu demi keselamatan kita juga.

Dan dari kejadian keempat bisa diambil pelajaran bahwa jangan malu untuk bertanya, apa salahnya saya bertanya dengan teman yang disamping saya, kalo tadi saya bertanya, maka tidak akan terjadi yang namanya salah orang.

August 06, 2011

Ini Tentang Hidup

Pernahkah kalian merasakan hidup ini seakan-akan tidak berpihak pada kita, acapkali kita melihat orang-orang yang menurut kita sangat beruntung dengan segala kesempurnaannya, mempunyai keluarga yang bahagia, disenangi oleh tetangga, punya banyak teman dsb.

Jujur, saya pernah merasakan itu, saya pernah merasa bahwa dunia ini tidak adil, seberapa keras aku mencoba untuk menjadi lebih baik, ketidak adilan itu semakin terasa, hingga akhirnya aku bisa mengerti bahwa yang mampu membuat kita bahagia itu adalah diri kita sendiri, dalam keadaan apapun sebenarnya kita bisa membuat hidup kita lebih berarti, tidak hanya sekedar melihat kesana-kemari dan selalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

dalam pekerjaan pun kadang aku merasakan betapa inginnya aku seperti si A dan si B, atau kalau bisa ingin menjadi seperti si C, tanpa pernah menyadari bahwa sebenarnya aku mempunyai sesuatu yang istimewa yang mereka tidak miliki, mengapa hanya kekuranganku saja yang kuperhatikan , mungkin seandainya kelebihan pada diri ini bisa berbicara, dia akan berkata, wahai arian, ada aku disini, kenapa aku engaku abaikan, bukankah aku ada untuk membuatmu istimewa?

hidup memang kadang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, namun ingat, rencana pun tidak bisa hanya satu, kita harus mempunya plan A dan B, disaat Plan A tidak berhasil maka Plan B yang harus kita laksanakan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dalam artian kita harus selalu siap menghadapi resiko apapun dari apa yang kita pilih.

August 03, 2011

Menanti Jawaban Sang Ombak

Laki-laki itu, ia terlihat hanyut dalam lamunan memandang sekumpulan ombak yang berlabuh di tepi pantai, sedikit ku perhatikan gerak-geriknya, kadang ia menatapku dengan penuh tanda tanya, kadang ia terlihat melihat ke langit yang sudah mulai gelap, kadang ia juga menulis sesuatu di atas pasir, semakin lama ia semakin bersikap aneh, pada awalnya ia hanya duduk, namun sekarang ia terlihat membuat sebuah lingkaran dan berkeliling sendiri sambil meneriakkan beberapa kalimat dengan suara yang cukup keras dan dapat kudengar dengan jelas sekali kata-kata yang ia teriakkan " AKu INGINkan DIa Tuhan, Mengapa ENGkau Ambil diA begitu Cepat,,MeNGAPA TUhan...? Aku Juga INgin MerasaKAN Kebahagian BersaMAnya....Tapi Baru Beberapa Hari BahaGia itu Kuraih sudah ENgKau Ambil Kembali...tidak PAntaskan AKu bHAGIa"

Iya,,laki-laki itu tidak lain adalah kakakku, sudah beberapa hari ia datang ke pantai ini , bahkan ia pernah duduk dari subuh sampai maghrib , ia hanya duduk seorang diri dan memandang ke tengah laut, melihat ombak-ombak, mendengarkan kebisingan para nelayan yang sedang sibuk pergi melaut,,, kadang bertemankan panasnya matahari, kadang ia berselimutkan air hujan yang dingin. Sedangkan aku hanya duduk beberapa meter dari tempat dimana ia duduk dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pernah kucoba untuk mendekati dan mengajaknya berbincang, namun tidak satupun dari kata-kata yang kuucapkan ia jawab, ia tetap diam meski lidah ini sudah letih untuk mengajaknya berbicara agar tidak hanyut dalam kesedihan karena orang yang ia cintai telah pergi.Jika aku di posisi dia sekarang, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, duduk di tepi pantai ini , menghabiskan waktu , menemani ombak-ombak, menjadi tempat berhembusnya angin pantai .

Minggu yang lalu, warga digemparkan dengan penemuan seorang wanita di pinggir pantai ini yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa, ia mengenakan baju panjang berwarna jingga, dipadu padankan dengan kerudung yang juga berwarna jingga, wajahnya terlihat tersenyum meski sudah tidak dalam keadaan hidup, ia terlihat seakan-akan ia sedang melihat orang yang ia cintai, mata itu begitu tajam memandang langit yang sudah mulai gelap, teriakan histeris langsung terdengar dari kejauhan, ANNIsA.....Annisa....ANNisa....ya...suara itu suara DiDI Kakakku sekaligus suami Kak ANNIsa yang di temukan sudah meninggal di tepi pantai.

Tidak ada yang tahu penyebab pasti meninggalnya kak ANNISa....tidak ada seorangpun yang tahu apa ia dibunuh atau tidak, yang jelas ia ditemukan dalam keadaan begitu aneh, tidak ada memar sedikitpun di sekujur tubuhnya sebagai tanda kalau ia meninggal karena adanya tindak kekerasan, bajunya terlihat bersih rapih seolah-olah ia tertidur dipinggir pantai dan tidak terbangun untuk selama-lamanya.

Seandainya ombak bisa berbicara, mungkin ia akan bercerita tentang kejadian yang sesungguhnya.

Merajut Pakaian Taqwa

Pada hakekatnya, pakaian adalah segala yang “melekat” di badan ini; entah baju, celana, segala aksesoris yang “melekat” lainnya, termasuk perhiasan. Selaras dengan pengertian ini, bahkan Allah membahasakan suami sebagai “pakaian” dari istri; dan istri adalah “pakaian” dari suami (Q.S. Al-Baqarah: 187: hunna libaasul lakum wa antum libaasun lahunna). Mungkin karena suami dan istri pun “melekat” satu sama lain, hingga mereka tak ubahnya seperti pakaian.

Setidaknya ada 3 macam fungsi pakaian yang disebut di dalam Al-Qur’an. Pertama, pakaian sebagai penutup aurat (Q.S. An-Nuur: 58 dan Al-A’raf: 26). Kedua, pakaian sebagai perhiasan (Q.S. Al-A’raf: 26). Dan ketiga, pakaian sebagai pelindung, yakni dari panas dan hujan, juga dari serangan musuh (Q.S. An-Nahl:81).

Tak kurang dari 20 ayat ditemukan di dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian. Entah memakai bahasa “libaasun”, “kiswatun”, “saraabil”, maupun “tsiyab”. Namun, semuanya berbicara tentang pakaian lahiriah. Pakaian dunia. Hanya ada satu yang menyebutkan tentang pakaian ruhani.

Pakaian ruhani adalah sebenar-benar pakaian, yang menunjukkan baik buruknya seseorang. Meski seseorang mengenakan pakaian lahiriah yang mewah dan mahal, tetapi jika pakaian ruhaninya rusak, jelek, terhina, maka dirinya akan terhina pula. Pakaian lahiriahnya tidak bermanfaat apa-apa. Pakaian lahiriahnya tak bisa melindungi kejelekannya. Mungkin ia akan mulia dalam pandangan manusia, tetapi tidak dalam pandangan Allah.

Apakah pakaian ruhani yang dimaksud? Al-Qur’an menyebutnya sebagai pakaian taqwa (libaasut taqwa). Sebagaimana firmannya, “Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Q.S. Al-A’raf: 26).

Tentang taqwa, imam Ali karramallahu wajhah berkata:

اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَ الْعَمَلُ بِالتَنْزْيِلِ وَ اْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

(Takut kepada Zat Yang Mahaagung; mengamalkan apa yang diturunkan (al-Qur’an); dan menyiapkan diri untuk menyambut datangnya hari yang kekal [akhirat]).

Ramadan adalah hari-hari dimana kita memintal benang-benang pakaian takwa itu. Hari demi hari kita memintalnya, dengan harapan pada akhir Ramadan, hari kemenangan Idul Fitri, pakaian itu telah sempurnalah sudah dan bisa kita kenakan di hari yang berbahagia itu. Bukan untuk dipakai sekali, setelah itu dilepas kembali. Bukan. Tetapi, pakaian takwa itu seharusnya kita pakai seterusnya sampai tiba kembali Ramadan berikutnya, dimana kita akan memeriksa pakaian takwa itu kembali barangkali ada lubang, kotor, sobek dsb yang perlu kita cuci, jahit dan rajut kembali.

Bagaimana kita merajutnya? Barangkali di sinilah relevannya sabda Nabi Saw., “Jika datang bulan Ramadan, maka dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu semua syaitan.” (muttafaq ‘alaih). 

Semua tidak lain sebagai motivasi buat kita untuk memperbanyak amal kebaikan kita. Mumpung kesempatan itu dibuka lebar-lebar oleh Allah. Allah sedang membuka “Big Sale”. Obral besar-besaran. Tarawih, tadarus, sadaqah, membayar zakat, menolong orang, memberi ta’jil orang berbuka puasa, menghentikan menggunjing orang. Semuanya adalah jalan-jalan kebaikan; jalan-jalan merajut pakaian takwa kita.

August 02, 2011

Silaturahmi Ramadhan


setelah sepuluh tahun tidak bertemu , akhirnya kemarin Sabtu 30 Juli 2011, saya kembali bisa bertemu dengan Guru saya waktu masih di bangku Sekolah (1  SMP).

10 Tahun yang lalu, saya mempunyai seorang guru dari Purworejo Jawa Tengah, beliau mengabdikan diri selama 1 tahun untuk mengajar di Bengkulu. satu tahun kemudian Ia kembali ke Pulau Jawa  dan baru kemarin bisa kembali berjumpa.

kalo di tanya apa saya bahagia ? saya akan bilang SAYA SANGAT BAHAGIA bisa kembali bertemu  dengan salah satu guru yang banyak memberikan Pelajaran berharga dalam perjalanan hidupku.

sebenarnya tidak ada rencana yang matang untuk pergi ke Purworejo, akan tetapi memang Allah menghendaki saya untuk kembali bertemu dengan Guru saya ini. dengan mengendarai sepeda motor, perjalanan pun saya tempuh , Purwokerto - Purworejo kurang lebih 3 Jam ( itu karena saya tidak berani ngebut :D).

dan sejarah pun ditulis..untuk pertama kalinya saya berani memakai motor sendiri dengan jarak yang cukup jauh ( setidaknya menurut saya).

Kalo di tanya apa saya Nyasar ? YES..SAYA NYASAR ( ha ha)...ya iyalah namanya juga pertama kali pergi ke Purworejo...nggak ada gambaran sedikitpun tentang keadaan daerah ini..dan parahnya lagi keberangkatan pun memang tidak direncanakan, jadi modalnya ya hanya bertanya dan terus bertanya dengan orang-orang yang saya temui di jalan. mungkin hampir 20 orang lebih yang sudah membantu menunjukkan  kemana arah yang harus saya tuju agar sampai pada tujuan.

Sesampainya disana, Guru saya berkata " kamu sudah besar sekarang nak ( yupzz udah Gede saya pak )...kamu sekarang  gemukan ( jadi inget badan saya waktu masih SMP kayak tiang listrik , Kurus tinggi Hidup lagi dan panggilan yang melekat waktu itu adalah KUTILANG * kurus tinggi Langsing *)..and saya menghabiskan waktu selama 2 hari disana sebelum akhirnya kembali ke Purwokerto dan memulai rutinitas mengajar...semoga di lain kesempatan ada waktu untuk kembali bersua.

dan akhirnya ;;;

mari selalu menjaga hubungan baik dengan siapapun...jangan pernah memutuskan hubungan silaturahmi.

ilustrasi : http://orbitanoora.blogspot.com/2010/07/sms-ucapan-selamat-idul-fitri-1431-h.html

Cara Membuat READMORE Otomatis

 
PERTAMA, silakan masuk ke acount blogger anda kemudian pilih Edit Html, jangan lupa memberikan tanda ceklis pada bacaan "Expand Widget Template" atau lihat gambar di bawah ini :




cari kode  
</head> 
 
kemudian masukkan script di bawah ini persis dibawah kode tersebut.
 
<script type='text/javascript'> var thumbnail_mode = &quot;no-float&quot; ; summary_noimg = 430; summary_img = 340; img_thumb_height = 100; img_thumb_width = 120; </script> <script src='http://rizqi.moehamed.googlepages.com/read-moreotomatis.js' type='text/javascript'/>
 
 
KEDUA, cari kode html berikut ini : <data:post.body/> atau <p><data:post.body/></p>  
 
ganti kode tersebut dengan kode di bawah ini :
 
<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;item&quot;'>
<div expr:id='&quot;summary&quot; + data:post.id'><data:post.body/></div>
<script type='text/javascript'>createSummaryAndThumb(&quot;summary<data:post.id/>&quot;);
</script>
<span class='rmlink' style='float:right;padding-top:20px;'>
<a expr:href='data:post.url'>&#187;&#187;&#160;&#160;READMORE...</a></span>
</b:if>
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'><data:post.body/></b:if>


Keterangan : tulisan yang berwarna merah adalah yang bisa anda ganti.
==> Summary noimg 430 = tinggi artikel terpenggal tanpa image
==> Summar img 430 = tinggi artikel terpenggal dengan image
==> Readmore bisa anda ganti dengan Baca Selengkapnya, full read dll...
 
KETIGA, klik save templateSelanjutnya anda bisa melakukan postingan dan lihat hasilnya, Readmore atau baca selengkapnya akan secara otomatis terpasang setelah anda publish postingannya. 
 
sumber :  http://zona-klik.blogspot.com/2009/08/cara-membuat-readmore-otomatis.html