September 25, 2011

Wasiat Cinta (part 2)

Andita pun memulai ceritanya.

Reza, ( suara Andita terdengar serak-serak basah saat menyebut namaku), tidak lama setelah aku menikah dengan Raka, aku sangat bahagia, bagaimana tidak, aku mendapatkan seorang suami yang begitu menyayangiku dan begitupun sebaliknya aku sangat menyayanginya dengan sepenuh hati. Ia selalu memberikan perhatian begitu besar kepadaku, apa lagi di saat aku sedang mengandung Hanisah, ia selalu mencium perutku dan seolah-olah sedang berbicara dengan jabang bayi yang ada dalam rahimku.

Kebahagian itu memuncak di saat aku melahirkan Hanisah, keluarga kami seakan-akan keluarga yang paling bahagia di dunia ini, aku mempunyai seorang suami yang begitu menyayangiku serta seorang anak yang sangat lucu yang menghiasi hari-hariku.Namun semua kebahagian itu tiba-tiba berubah menjadi duka berkepanjangan hingga akhirnya Raka meninggal dunia.

Saat Hanisah berumur 5 bulan, Raka pamit untuk pergi ke lokasi Bangunan yang sedang Ia kerjakan, ia bermaksud mengawasi para karyawan yang sedang bekerja karena memang saat itu Raka suamiku menjadi pemborong bangunan yang sedang ia kerjakan, di saat itu lah semua bermula, Raka yang sedang mengawasi berjalannya proses pembangunan tiba-tiba berteriak, seorang karyawan segera berlari menghampirinya dan menyaksikan pristiwa yang sangat memilukan, sebagian badannnya tertimpa beberapa kayu yang berukuran besar,tidak jauh dari tempat Raka berdiri memang ada beberapa kayu berukuran besar dan ternyata kayu itu bergeser dan mengenai sebagian badannya, hanya dada dan kepalanya yang terselamatkan sementara bagian yang lainnya sudah berada di bawah tumpukan kayu, Karyawan yang menyaksikan semua itu segera berteriak meminta tolong, semua karyawan berusaha untuk mengangkat kayu yang berada di atas tubuhnya, sepuluh menit berlalu, kayu-kayu itupun bisa dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Raka pun di bawa ke Rumah Sakit, selama di perjalanan menuju Rumah Sakit, raka kehabisan banyak sekali darah, aku mengetahui kejadian itu tiga puluh menit setelah Raka berada di Rumah Sakit dan di tangani oleh beberapa dokter.

Saat itu aku sedang membersihkan rumah sambil menemani Hanisah bermain, setelah mendengar kabar bahwa Raka di rumah sakit, aku pun segera menuju Rumah Sakit yang di maksud, dan kutemukan Raka sedang terbaring lemas tidak sadarkan diri di kamar pasien. Aku menangis dan terus berdo'a untuk keselamatannya. Tidak berhenti kumenatap mukanya yang terbaring di atas tempat tidur dan berharap Ia lekas segera sadar.

Dua puluh jam lamanya Raka terbaring lemah tidak sadarkan diri di ruang pasien, sedikit demi sedikit ia mulai sadarkan diri, aku sangat merasakan kebahagian yang begitu besar saat tahu bahwa Raka sudah sadarkan diri. Ini merupakan sebuah keajaiban, ia bisa bertahan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Aku tidak peduli akan apa yang akan dilakukan dokter selanjutnya, sekarang melihat suamiku sudah sadarkan diri saja aku sudah merasakan kebahagian yang tidak terbayar oleh apapun. Raka terlihat masih sangat lemah, ia memandangiku dan hanisah sambil tersenyum. Tidak berapa lama kemudian ia kembali tertidur.

Raka di rawat di Rumah Sakit selama kurang lebih empat bulan, setelah empat bulan kemudian ia baru diperbolehkan pulang ke rumah, kedua kakinya sudah tidak bisa berpungsi seperti sedia kali, kedua tangannya pun sudah tidak bisa lagi bergerak, ia mengalami lumpuh Total, hanya bagian kepalanya yang bisa berfungsi untuk bergerak. Aku tidak pernah risih dengan keadaannya saat itu, meskipun aku harus menggantikan posisinya sebagai kepala rumah tangga, aku harus berkerja mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dua bulan berlalu, raka terlihat sehat meskipun dalam keadaan yang sudah tidak sempurna, ia masih bisa makan meskipun harus disuapin, ia masih bisa ke toilet meskipun dengan bantuanku, hari demi hari kami lalui kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Aku tidak pernah mengeluh akan keadaannya. Kadang-kadang ia berucap kata-kata yang tidak ingin kudengar, " Dita, jika memang engkau sudah tidak sanggup merawatku dalam keadaan seperti ini, aku rela engkau tinggalkan, aku tidak ingin melihatmu tersiksa. Saat aku mendengar ucapannya, kupeluk tubuhnya sambil menangis dan aku selalu berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak akan pernah berpaling darinya meskipun aku harus bekerja dan merawat ia selamanya.

Ternyata tuhan berkehendak lain, memasuki bulan keempat ia pulang dari rumah sakit, ia tiba-tiba sakit panas tinggi, aku pun panik, Raka kubawa ke Puskesmas terdekat, dokter memeriksa kesehatannya dan berkata"; Raka hanya terkena demam biasa, ia hanya butuh istirahat lebih banyak, aku bisa bernapas lega dan sedikit tenang setelah mendengarkan penjelasan dari dokter.

Tepat pukul 00.57 tengah malam,Raka membangunkanku yang tertidur di sampingnya, ia memanggil namaku, aku terbangun dan melihat ia memandangiku sambil menyuruhku memegang kedua tangannya dan berucap:" Istriku, aku sudah tidak tahan dengan semua ini, aku ingin pergi menghadapnya, jika aku sudah pergi jauh, jagalah Hanisah baik-baik, dan aku sudah meninggalkan beberapa wasiat di dalam brangkas yang ada di kamar kita, kau bisa membukanya setelah aku tiada. Mendengar semua itu aku menangis dan kupeluk tubuhnya yang sudah mulai kurus. Di saat aku sedang memeluknya, ia menghembuskan napas terakhir , pergi untuk selamanya dan tidak kembali.

Aku sangat terpukul saat tahu bahwa ia sudah pergi meninggalkanku, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, semua sudah menjadi takdir hidupku, aku harus kehilangan orang yang aku cintai dalam keadaan seperti ini.

Andita berhenti bercerita dan menundukkan kepalanya sambil sedikit memandangi wajah buah hatinya yang sedang tertidur pulas di pangkuannya. Reza, itu adalah kejadian yang sudah aku alami selama ini, dan berbekal sebuah surat ini aku datang kepadamu. Semua terserah padamu, jika engkau bersedia mengikuti apa yang ada dalam surat ini, maka aku pun akan berusaha menjadi bagian dalam hidupmu. Namun jika memang tidak ada jalan untuk melaksanakan isi surat ini, aku pun tidak mau memaksamu melakukan apa yang ada di dalam surat ini.

Aku terdiam mendengar semua yang diucapkan Andita, aku tidak bisa begitu saja mengatakan menerima atau pun menolak isi surat yang sudah Raka tujukan padaku. Aku butuh waktu panjang untuk bisa berkata iya atau tidak.

Suasana hening, pikirku terpaku akan jawaban apa yang akan aku berikan atas pertanyaan Andita, haruskah aku menerimanya sebagai istriku, ataukah sebaliknya, Jujur, perasaan cinta itu masih ada dalam hati ini, aku memang masih mencintainya, namun hanya sebatas sahabat, perasaanku sudah tidak seperti saat pertama aku jatuh cinta padanya. Perasaan itu sudah memudar termakan oleh waktu. Dan akupun sudah menyerahkan isi hatiku kepada wanita lain yang sekarang menjadi kekasih hidupku.

Reza, terdengar suara Andita memanggil namaku, aku sedikit tersentak dari lamunan. Aku mencoba untuk melihat kearahnya, Andita memandangku dengan pandangan yang tidak biasa, pandangan itu begitu tajam, aku pun tidak sanggup beradu pandang dengannya, entah mengapa pandangan itu begitu berbeda, ia memandangku seolah-olah memintaku untuk memberikan kepastian.

Dengan suara sedikit serak, Andita menyebut namaku untuk yang ke sekian kalinya, Reza, hari ini aku sudah sedikit lega karena sudah bisa bertemu denganmu dengan membawa selembar surat ini, perasaanku akan semakin lega setelah aku mendapat jawabmu akan semua ini.

Dengan dipenuhi kebingungan, aku mencoba untuk menyatakan apa yang ada dalam benakku saat ini. Dita, bukan aku tidak mau menjalankan amanah dari Raka suamimu dan juga Sahabatku, aku butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa memberikan kepastian akan jawaban atas semua ini. Aku akan memikirkan semua ini terlebih dahulu, jika memang aku sudah bisa menjawab, nanti aku akan coba untuk menghubungimu. Dan aku harap engkau bisa menerima apapun jawaban yang akan kuberikan nanti.

Aku tidak tahu pasti apakah Andita kecewa atau tidak, yang jelas setelah mendengar penjelasanku, ia segera berpamitan untuk pulang. Aku pun tidak bisa mencegah ia untuk tetap tinggal di sini. Aku hanya berharap ia bisa kuat menerima keadaan ini. Ia pergi dengan perasaan tidak menentu, kadang-kadang terlihat ia menoleh kearahku, hingga akhirnya beberapa menit kemudian Andita dan buah hatinya hilang di kejauhan.

Kututup pintu rumahku dan kembali duduk di depan sebuah LCD TV yang ada di ruang tamu, sambil melihat program-program yang ada di TV, aku mengambil segelas air putih dengan harapan akan membuat pikiranku sedikit lebih tenang.

Tiga hari berlalu, aku masih belum bisa menemukan jawaban atas permasalahan yang sedang kuhadapi saat ini, hingga memasuki hari ke tujuh, aku mencoba untuk menghubungi nomor handphone Andita dan membuat janji bertemu.

Tepat pukul 19.45 menit, aku datang lebih awal ke tempat yang sudah kami sepakati sebelumnya, sebuah taman yang terletak tidak begitu jauh dari rumahku dan tempat dimana Andita menginap. Lima belas menit kemudian, Andita datang dengan menumpang sebuah taksi berwarna biru, ia mengenakan gaun berwarna hijau muda, di tambah dengan sebuah tas kecil yang membuat penampilannya begitu sempurna, ia masih terlihat cantik meskipun sudah mempunyai seorang anak, ia masih terlihat seperti seorang gadis yang belum pernah menikah. Ia menuju tempat dimana aku sudah menunggunya.

Andita terlihat seperti tidak ada persoalan sedikitpun, ia terlihat lebih santai jauh berbeda saat pertama ia datang kerumah. Aku tidak mau menunda-nunda lagi, aku langsung ke tujuan utama pertemuan ini. Dita, aku ingin memberikan kepastian jawaban atas apa yang ada dalam surat Raka beberapa hari yang lalu. Aku berharap engkau bisa menerima apapun jawaban yang akan engkau dengar nanti.

Andita, Aku tidak bisa menikah denganmu, perasaanku sudah tidak seperti dahulu saat pertama kali aku jatuh cinta denganmu. Sekarang yang ada di hatiku hanyalah perasaan seorang sahabat. Meskipun aku masih sendiri, tapi hatiku tetap meronta saat ingin kuterima semua yang ada di dalam surat suamimu. Aku harap engkau mau menerima keputusanku. Maaf bila wasiat cinta ini tidak mampu untuk aku tunaikan. Karena cintaku sudah berpindah ke lain hati.

September 24, 2011

Wasiat Cinta (part 1)

Saat pikirku sedang melayang jauh, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku, dan terdengar seseorang memanggil namaku, suara itu sudah tidak asing lagi bagiku, otakku segera memutar memori yang mungkin sudah terletak di bagian bawah alam sadarku untuk mengingat suara orang yang mengetuk pintu rumahku, namun tak mampu kuingat siapa pemilik suara itu. Kubuka pintu secara perlahan dan dengan sedikit dipenuhi perasaan kaget, dan tak percaya, ternyata pemilik suara itu adalah Andita sahabat lamaku sekaligus cinta pertamaku yang tak berbalas yang sudah lama tak pernah kutahu akan kabar beritanya...

''Andita, ucapku,..

''Ia tersenyum seraya berucap...iya, ini aku .... ...

Dengan sedikit perasaan tidak percaya aku terus bertanya benarkah ini Andita...?

Andita, ia seorang wanita yang dulu pernah mengisi hatiku dan kini sudah menjadi seorang ibu dari buah hatinya dan menjadi seorang istri dari sahabatku sendiri ‘ Raka.

Raka, ia adalah sahabat karibku dari kecil, ....dia yang telah berhasil menjadikan Andita sebagai ratu dalam rumah tangganya meskipun sebelumnya wanita cantik itu pernah menjadi bagian dalam kisah cintaku yang tak berbalas.

Sebelum Raka dan Andita menikah, kita adalah tiga sahabat, Aku ( Reza ), Raka, dan Andita....Raka dan aku pernah satu sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah akhir, hingga akhirnya kita berdua berpisah saat Ujian Sekolah Menengah Akhir Selesai dan kita pun pergi melanjutkan studi ke tempat yang berbeda, aku di Jakarta, sementara Raka di Padang, ia masuk ke sebuah Universitas di Padang dan mengambil Jurusan Tekhnik Sipil. Sedangkan aku memilih kuliah di Jakarta dan masuk Ke Sebuah Universitas Swasta dan mengambil Jurusan Psikologi, karena memang dari kecil, cita-cita ku adalah menjadi seorang Psikolog.

Sedangkan Andita, dia wanita cantik di desa tetangga, aku dan Raka kenal dengannya pada saat Lebaran, saat itu kita sama-sama sedangkan menikmati keindahan sebuah sungai yang berbatu yang terletak tidak begitu jauh dari rumah di mana kami tinggal, dengan sedikit malu-malu, aku dan Raka memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Saat itu ia terlihat sedangkan asyik dengan sebuah kamera digital di tangannya dan berusaha mengabadikan keindahan alam yang ada disekelilingnya. Dengan perasaan tak menentu, kuberanikan diri tuk menyapanya dan berusaha untuk memberikan senyum terbaikku.

''Hai....,lagi ngapain ?

Sementara aku menyapa, Raka hanya diam mematung di sampingku dan membiarkanku sendiri di penuhi dengan perasaan yang tak menentu..rasa takut, perasaan gelisah, dan malu. Dengan tersenyum, ..." aku sedang mengabadikan keindahan sungai dan sekelilingnya..kalian ...? Tanyanya balik sambil memperhatikan Raka yang sedari tadi hanya diam membisu sambil tersenyum malu.

Kebetulan sedang menikmati keindahan pemandangan di sungai ini juga...bagaimana kalau kita bertiga berkeliling sambil menikmati keindahan pemandangan sungai ini secara berbarengan pasti terasa lebih seru...? Usulku tanpa sadar.

Tanpa basa-basi, Andita langsung menerima ajakanku, kami segera berjalan-jalan sambil menikmati sejuknya udara dan hijaunya dedaunan yang ada disekeliling sungai, di tambah lagi dengan pesona bebatuan besar yang ada di tengah dan pinggiran sungai. Hingga akhirnya sorepun menjelang, aku dan raka pulang dengan mengendarai sebuah sepeda Motor, sedangkan Andita memilih mengendarai Motor kesayangannya sendiri menuju rumah.

Itulah saat pertama kali aku dan Raka mengenal akan sosok wanita cantik berlesung Pipit, rambutnya hitam panjang terurai, senyumnya begitu mempesona, kedua bola matanya begitu indah. Semua keindahan itu membuat Ia wanita tercantik yang pernah kutemui saat itu. Ternyata bukan hanya aku dan Raka yang tak bisa melupakan pertemuan singkat itu, Andita pun merasakan hal yang sama, dan ini semua adalah awal dari persahabatan antara aku , Raka dan Andita.

Hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Persahabatan diantara kami pun terasa begitu erat, di saat salah satu dari kami dalam keadaan susah, kita selalu menyelesaikan kesusahan itu secara bersama dan begitulah selanjutnya.

Hingga suatu hari, aku merasakan ada perasaan lain di hati ini, aku merasakan perasaan cinta yang begitu kuat dan terus subur hingga tak bisa lagi kutahan, namun sayang ternyata perasaan ku sudah terlambat untuk diungkapkan, Raka dan Andita ternyata sudah lama saling menyintai tanpa sepengetahuanku. Aku pun harus menghapus perasaan cinta ini dari hati, dan berusaha untuk menerima kenyataan bahwa wanita yang kucintai sudah menentukan pilihan hatinya. Sakit memang terasa saat pertama aku tau akan cinta mereka berdua. Namun aku pun tidak boleh egois, sedikit demi sedikit aku pun bisa menerima semua keadaan ini.

Ternyata kisah asmara antara Raka dan Andita tak sekedar cinta basa basi yang lambat laun akan hilang, semakin lama keyakinan keduanya semakin kuat untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan semua itu sebagai bukti akan kekuatan cinta.

Pernikahan itu menjadi akhir dari harapanku untuk memiliki Andita sepenuhnya, pernikahan itu juga menjadi pemisah antara aku, Raka, dan Andita. Setelah melakukan proses pernikahan, Raka membawa pujaan hatinya turut serta ke Padang, sementara aku melanjutkan studi Magister di kampus yang sama di Jakarta.

Sekian lama keduanya tidk ada kabar, aku pun sudah di sibukkan dengan rutinitas keseharian pergi ke kampus dan mengikuti perkuliahan demi menggapai cita-cita. tidak pernah kuterima kabar dari keduanya, nomor handphone nya pun sudah tidak bisa dihubungi, kadang aku bertanya dalam hati, bagaimana keadaan keduanya..? masih ingatkah keduanya akan masa-masa itu, masa dimana persahabatan itu terasa begitu membekas di hati, kisah dimana saat-saat kebersamaan yang tidak pernah bisa terhapus dalam catatan perjalanan hidupku.

Dan hari ini semua terasa mimpi, Andita berdiri dihadapanku dengan membawa seorang anak kecil yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kuusap kedua mataku tuk meyakinkan akan semua ini, benarkah ini semua..? ataukah aku sedang bermimpi..? kucubit kedua pipiku dan Arghhh Sakit yang kurasa dan itu menjadi tanda bahwa aku sedang tidak dalam keadaan bermimpi.

Andita dan anak kecil yang disampingnya kupersilahkan duduk di ruang tamu, sambil sedikit membetulkan kemeja yang kukenakan, aku pun duduk dan memulai pembicaraan. ..

Kapan datang ke Jakarta...?

Baru saja tadi pagi sampai dijakarta, dan rumah ini adalah rumah pertama dan tujuan utama kedatanganku ke Jakarta.

Mendengar jawaban Andita tadi, begitu banyak pertanyaan yang ada akan apa sebenarnya yang membuat Ia rela jauh-jauh datang dari Padang ke Jakarta hanya untuk menemuiku, mungkinkah sudah terjadi sesuatu antara Raka dan Andita...? Atau mungkinkah ada hal lain yang sangat penting sehingga mengharuskan Ia datang menemuiku di Jakarta. Semua pertanyaan itu berkumpul menjadi satu dalam benakku.

Sambil memegang tangan anak kecil yang ada disampingnya, andita memberitahuku bahwa anak kecil itu adalah Anaknya dan Hanisah adalah nama yang mereka berikan kepadanya, kemudian dengan tangan gemetar dan dipenuhi keringat kecil, ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kecil yang ia bawa, Ini adalah wasiat terakhir saat raka masih hidup, kau bisa membacanya sekarang ucapnya. Aku tidak keberatan jika engkau ingin membacanya sendiri dan aku akan datang kembali besok pagi ucapnya.

Aku pun semakin tidak mengerti akan apa sebenarnya yang terjadi dengan Raka, dan mengapa wasiat itu tertuju untukku, mengapa tidak orang lain? mengapa bukan orang tuanya yang ada di kampung? atau sanak kerabatnya yang lain yang mungkin lebih berhak untuk menerima selembar kertas ini.

Segera kuambil selembar kertas yang diberikan Andita, dan kubaca:

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sahabatku, saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi, surat ini sengaja kubuat untukmu dan hanya Andita dan Kau ( Reza ) yang berhak membaca surat ini, surat ini kubuat dalam keadaan sehat, sadar tanpa adanya paksaan dari siapapun. aku tahu mungkin ini begitu berat dan kau pun mungkin sulit mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Reza sahabatku, kau adalah satu-satunya sahabat yang tak pernah kulupakan selama ini, meskipun kita sudah tidak pernah ada komunikasi lagi, namun aku tidak akan pernah melupakan semua kenangan dalam persahabatan kita. Sebelumnya aku ingin minta maaf, karena saat aku dan Andita memilih untuk menjalin hubungan dalam ikatan cinta tidak memberitahumu terlebih dahulu, meskipun sebenarnya aku tahu bahwa dalam hatimu pun merasakan perasaan yang sama terhadap Andita, kau pun merasakan perasaan cinta yang begitu besar, namun bukan niatku tuk menyakiti dan membuatmu kecewa akan semua ini.


Aku berhenti sejenak membaca surat itu sambil menatap ke arah Andita yang sedari tadi tak hentinya-hentinya menangis. Aku tidak mau menunda waktu terlalu lama untuk membaca surat Raka untuk ku:

Reza, aku tidak tahu dengan siapa lagi aku harus meminta pertolongan, hanya engkau lah orang yang ku percayai dan kuyakin engkau bisa melakukan apa yang kuinginkan, kuingin kau melakukan semua ini bukan untukku, namun demi Andita dan Anakku, aku tidak ingin melihat Andita dan Hanisah Anakku menderita setelah aku pergi, aku ingin keduanya selalu tersenyum meskipun kusudah tidak bisa melihat semua itu lagi . Satu hal yang ingin kupinta dari mu, " Aku ingin engkau menikah dengan Andita dan menjaga Hanisah anakku, Aku ingin engkau membahagiakan keduanya dengan penuh kasih sayang. Aku memohon dengan sepenuh hati, engkau ingin mengabulkan permintaanku ini dengan hati yang ikhlas . 

Namun jika memang engkau tidak bisa mengabulkan pintaku ini dikarenakan sudah mempunyai pilihan lain, aku pun tidak ingin membuatmu kecewa untuk kesekian kalinya, aku pun tidak bisa memaksakan kehendak atas dirimu. Namun jika semua itu masih mungkin untuk kau lakukan, ku ingin kau menjadikan permohonan ku ini sebagai sebuah jalan yang mungkin memang sudah ditakdirkan dalam kisah hidup kita. Wasalam  Sahabatmu  Raka Hartono
Tanpa kusadari air mataku menetes, aku tidak tahu apa aku harus sedih atau gembira membaca surat ini, kuusap air mataku dengan baju yang kukenakan, dan kupandangi wajah Andita yang sudah dipenuhi dengan air mata, tangannya terus mengusap air mata yang keluar dari kedua mata indahnya. Dengan suara sedikit terisak kutanyakan akan apa sebenarnya terjadi dengan Raka.
bersambung .....


September 23, 2011

dan Cinta itu ...

Datang , meski dengan sembunyi
Melihat meski hanya dari kejauhan
Mendengar meski tidak sempurna
Meraih hati secara perlahan tapi pasti

Dan cinta itu.....
Kembali setelah lama menghilang
Kembali mengukir hatiku yang sudah rata akan cinta
Lama memang aku tidak bertegur sapa dengannya
Dan hari kemarin adalah awal cinta bersemi

September 21, 2011

Pinang daku dengan Ar Rahman

Mentari pagi masih belum beranjak pergi, namun Shofiah sudah tampak sibuk memilah-milah setelan gamis mana yang akan ia pakai untuk bertemu dengan keluarga Faiz, hari ini adalah pertemuan keluarga Shofiah dan Faiz sekaligus acara lamaran.
Dag dig dug jantung wanita berkerudung ini sebagai tanda bahwa ia sudah lama menantikan hari ini tiba, sudah sekian lama ia menanti kedatangan seseorang yang akan menjadi imam dalam keluarganya. Ia tidak hanya sekedar mencari seorang suami, namun lebih dari itu, ia mencari sosok yang mampu membimbing ia dalam kehidupan dunia dan akhirat, yang nantinya akan menjadi imam di lembar demi lembar kehidupan.
Faiz, ia pemuda yang pendiam, taat beribadah, dan pemuda yang sangat susah untuk ditebak. Diumurnya yang memasuki angka 28 tahun, rasanya ia sudah mulai siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama Shofiah wanita yang baru saja ia kenal.
Faiz dan Shofiah diperkenalkan oleh kedua orang tua masing-masing,  dan ternyata keduanya saling memiliki rasa untuk memiliki, sehingga mereka tidak hanya sekedar diperkenalkan, namun lebih dari itu, pertemuan singkat itu sudah mengarah kepada rencana pernikahan. Setelah acara lamaran nanti keduanya akan segera menikah.
Waktu yang dinanti akhirnya tiba, tampak di depan rumah Shofiah keluarga besar Faiz, Faiz tampak gagah mengenakan batik dipadu padan dengan celana dan sepatu berwarna hitam. Kedua orang tuanya pun tampak mendampingi putra tunggal mereka.
Tidak bisa dipungkiri, Faiz pun merasakan dag dig dug yang tak menentu. Orang tua faiz segera memulai pembicaraan dengan mengatakan maksud kedatangan keluarga besar mereka adalah untuk melamar shofiah sebagi calon istri dari Faiz. Suasana tampak hening sejenak sampai akhirnya Shofiah berucap ,
“Shofiah bersedia dilamar oleh mas Faiz dengan 3 Syarat
-       Mas faiz membaca bil ghoib (hapalan)  Surat Ar Rahman”
-    Shofiah tidak ingin resepsi yang megah, cukup acara akad nikah dan makan bersama keluarga saja, tidak perlu adanya panggung megah dsb.
-      Mas Faiz berjanji akan membimbing Shofiah agar bisa menjadi seorang Hafidzhoh (orang yang hafal al-Qur’an)
Orang tua Shofiah terlihat senyum dan meneteskan air mata mendengar jawaban putrinya, Faiz terlihat diam sejenak sebelum ia memulai membaca surat Ar Rahman sampai selesai sebagai tanda bahwa ia setuju dengan syarat yang pertama.  Setelah selesai membaca surat Ar Rahman, Faiz menundukkan kepala , kemudian mengangkat kembali kepalanya sambil berkata bahwa dia setuju dengan syarat yang kedua dan ketiga.
Suasana tampak riuh mendengar jawaban Faiz, Faiz telah berhasil meminang Shofiah, tidak biasa memang, namun itulah yang Shofiah kagum dari seorang Faiz, selain pemuda yang baik, ternyata faiz juga seorang Hafidzh Al Qur’an dan Shofiah ingin bersama-sama dengan Faiz mengkaji kalam Allah.

September 20, 2011

Bunda







Bunda, kerap kali aku menangis bila mengingat semua yang telah engkau lakukan untukku.
Hidupku telah engkau warnai dengan warna-warni kebahagiaan
Tidak sedetik pun engkau rela aku merasa tidak aman
Dekapanmu mampu membuatku merasa tenang.

Sekarang, aku berada jauh darimu
Jauh bukan berarti aku tidak merindumu
Aku merindumu Bunda
Aku haus akan belaianmu

Dan sekarang engkau sedang terbaring lemah di kasur itu
Badanmu yang dulu berisi terlihat semakin mengurus
Engkau hanya bisa tersenyum
Meski kadang menahan sakit yang begitu dalam.

Jarak yang memisahkan kita bukan menjadi alasanku untuk tidak bersamamu
Sesegera mungkin aku akan berada disampingmu
Dalam tidur pun bayanganmu selalu menghantuiku
Getaran dihatiku membuatku semakin merindumu

Tidak mampu aku membalas semua yang telah engkau lakukan untukku
Hanya satu pintaku pada Tuhan yang maha kuasa
Semoga Bunda segera diberikan kesembuhan
dan bisa bercanda ria bersama kami anak-anakmu
Amin.

September 18, 2011

Murka

Cinta,
Sadarkah engkau bahwa aku membencimu
melihat wajahmu aku sudah tidak sudi
apalagi bertutur sapa dengan dirimu
Aku sangat membencimu

Why ?
Karena engkau telah berani lari dariku tanpa seizinku
Cintamu tak punya etika, tak punya hati
Engkau datang sesuka hati dan pergi saat cintamu merasuk dalam jiwaku.

Diam, teriakku saat engkau mencoba untuk berucap.
Sudah cukup rasanya aku mendengar suara lirihmu
Sedu sedan tangismu tak mampu jua membuatku tersenyum.

Cukup , teriakku kembali padamu
Pergi saja bersama hembusan angin
Terbang layaknya kapas yang terbawa arah angin
dan jangan kembali.

Murkaku padamu belum berakhir
ini hanya sekedar sesal yang sengaja engkau buat.
aku Murka dengan Cinta yang telah engkau ukir

September 13, 2011

Hidup


Pada saat mudik lebaran kemarin, saya sempat bersilaturahmi ke rumah saudara yang baru saja ditinggal suaminya, ia menangis saat pertama kali melihat kedatangan saya, ia menangis karena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Bagaimana tidak, sekarang dia adalah seorang Janda muda yang memiliki 3 orang anak-anak yang masih sangat kecil, ia bahkan belum yakin dengan apa yang akan ia lakukan dengan kehidupan yang akan ia jalani kedepannya.


Saya berusaha untuk memberikan ia pegangan agar kuat menjalani kehidupan ini. Kita memang tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan meninggalkan dunia fana ini. 


Tidak ada yang bisa menjamin bahwa siang hari nanti kita semua masih bisa menikmati makan siang bersama teman, rekan kantor, keluarga dan lain sebagainya.


Gambar diatas adalah salah satu anaknya yang masih sangat kecil dan butuh kasih sayang seorang Ayah. dan melihat anak-anaknya yang sedang bermain, hati saya terenyuh dan tidak bisa membayangkan betapa berat perjuangan dia sebagai seorang ibu. 3 orang anaknya masih sangat kecil, yang paling tua masih berumur kurang lebih 9 tahun, yang nomor dua berumur 2 tahunan, sedangkan yang paling kecil masih berumur 3 bulan. Dan keluarganya bukanlah keluarga yang berkecukupan.


Hari itu Allah memberikan pelajaran begitu berharga dalam hidup saya, dimana saya harus menyadari bahwa kita hanyalah sementara mengisi dunia ini, kita dalam perjalanan panjang menuju tujuan akhir yaitu Akhirat-Nya. Hari itu Allah juga mengajarkan saya untuk selalu bersyukur atas ni'mat yang Ia berikan.


Begitulah kehidupan wahai saudaraku, kerap kali kita tidak mensyukuri hidup, padahal masih banyak sekali orang-orang disekitar kita yang hidup dibawah garis kemiskinan. Kerap kali kita tidak menyadari bahwa ada hak-hak orang yang kurang mampu di dalam harta yang kita miliki. Kadang kita hanya bisa membanding-bandingkan dengan hidup orang-orang yang berada diatas kita tanpa menyadari bahwa apa yang kita miliki tidak akan dibawa mati. Hanyalah kain kapan yang akan kita bawa mati, dan amal lah yang akan menjadi pembela kita dihari kemudian nanti. Tidak ada yang hidup abadi di dunia ini, kita semua akan kembali kepada-Nya.


Tuhan akan memberikan ganjaran atas apa yang kita perbuat di dunia, apakah kita termasuk hambanya yang selalu patuh terhadap apa yang Ia perintahkan atau malah sebaliknya ?


Hanya kita yang tahu akan jawaban semua itu.
Mari mensyukuri hidup


Mari peduli dengan keadaan saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita.


Mari persiapkan diri kita menghadapi kematian


Mari terus meningkatkan amal ibadah kita agar menjadi hamba yang dicintai-Nya.

September 11, 2011

Setiap anak adalah Bintang


“Setiap anak adalah Bintang”
Kehadiran seorang anak dilingkungan keluarga merupakan suatu anugerah yang tidak ternilai harganya, ia merupakan anugerah ajaib yang diberikan sang pencipta kepada kita. 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa anak memberi warna tersendiri dalam keluarga kita, kehadiran mereka memberikan arti  yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

 Kembali kepada ungkapan diatas, ungkapan diatas sangat sering kita dengar dilingkungan sekolah tempat anak-anak kita belajar dan itu diyakini oleh para guru. Sadar atau tidak, ungkapan diatas mampu memberikan rasa percaya diri yang lebih kepada anak baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Namun kadang kita sebagai orang tua kerap kali lupa bahwa setiap anak itu adalah bintang, kerap kali kita membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya dan itu bisa menurunkan harga diri dan rasa percaya diri anak. Kadang kita membuat standar yang sama terhadap anak padahal mereka berbeda.

Sebagai orang tua, kita harus jeli dalam melihat keunikan anak kita, jangan pernah tertipu dengan sistem ranking yang ada disekolah, karena itu hanya menilai aspek kognisi anak saja. Nilai raport, ranking, jangan disama artikan dengan nilai diri anak. Masih banyak nilai-nilai yang tidak tercantum dalam raport, nilai sosial, emosi, dan akhlak anak. Tetapi tentunya orang tua jangan sampai menumbuhkan persepsi bahwa prestasi di sekolah itu tidak penting. Yang perlu digaris bawahi adalah, mungkin dari segi pelajaran di sekolah, anak memang tidak mempunyai kemampuan yang lebih, akan tetapi bisa saja anak memiliki kemampuan yang membanggakan dibidang yang lain, olahraga, seni, tarik suara, dsb.

Sangat penting bagi orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengetahui keunikan anak, dan setelah kita mengetahui keunikan anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai orang tua:

Beri Pengakuan
Orang tua yang sudah tahu kemampuan putra putrinnya maka sebaiknya segera memberikan penghargaan. Tanpa adanya penghargaan yang sifatnya nyata maka sama saja tidak berarti ketika orang tua hanya sekedar tahu tanpa diiringi dengan penghargaan terhadap anak.

Komunikasi yang baik yang terjalin antara orang tua dan anak, akan mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, komunikasi bisa saja berbentuk verbal atau non verbal. Komunikasi verbal bisa saja berbentuk pujian terhadap prestasi yang anak dapatkan, sedangkan komunikasi non verbal bisa berupa pelukan  dan ciuman hangat kepada anak.

Kembangkan dari sini
Dengan mengetahui kelebihan anak, maka orang tua akan lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi tersebut. Selaku orang tua, kita hanya memfasilitasi anak dalam meraih apa yang ia cita-citakan sesuai dengan bakat yang mereka miliki.

Tak perlu memperbandingkan
Di awal sudah dijelaskan bahwa setiap anak itu memiliki keunikan masing-masing. Maka sebaiknya kita selaku orang tua jangan sesekali membanding-bandingkan anak dengan yang lain, karena itu akan membuat rasa percaya dirinya menurun dan ia akan merasa tidak adanya penghargaan yang diberikan orang tua terhadap apa yang ia lakukan.

September 09, 2011

Rajutan Asmara


A - ku memang hanya masa lalumu yang sudah lama menghilang bersama waktu
R - ajutan asmara yang sudah kurajut sedari dulu kini kembali terurai
I - ngin rasanya aku kembali merajut asmara yang dulu pernah kita lalui
A- ku, kamu, dan dunia menjadi saksi kisah asmara yang pernah kita bina
N- amun kini, semua itu hanyalah kenangan yang entah kapan akan terulang
S- elalu ada kenangan yang membuat hidup ini lebih berwarna
I - tulah cinta, cinta yang membuatku gila karenamu
L - ambat tapi pasti, aku berusaha menghapus semua  tentangmu dalam duniaku
E - ntahlah, mungkin memang aku yang terlalu mendambakan cintamu
N - amun, anganku hanyalah sebatas angan
C - intamu sudah berpindah kelain hati
E - ngkau tampak bahagia bersanding dengannya
R - ajutan asmara ini biarlah kusimpan meski sudah terurai


* Gue Bikin Puisi ini gara-gara ikutan Tantangan Master
Teguh Puja

September 08, 2011

Malaikat Kecil


Beberapa menit sebelum keberangkatanku, Winda adikku yang paling kecil masih tertawa dengan lepas, bercanda dengan ponakan saya yang seumuran dengannya. Mereka berdua terlihat asik dengan kesibukan mereka, berlari kesana kemari, tertawa, kejar-kejaran. Wajah itu tampak begitu lugu dan penuh dengan kebahagiaan.

Namun, semua kebahagiaan itu berupa menjadi kesedihan, saat malaikat kecilku ini melihat sebuah Bus besar yang akan membawaku ke negeri seberang. Dia menangis sejadi-jadinya saat menyadari bahwa sudah waktunya saya kembali ke rutinitas semula. Dia memelukku dengan erat seolah tidak ingin terpisah jauh dariku, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, dia hanya menatapku dengan penuh harap agar saya bisa tetap tinggal dan bermain bersama dengannya seperti hari-hari sebelumnya.

Winda, hari ini engkau belum banyak mengerti akan semua yang terjadi, namun suatu saat engkau akan menyadari bahwa kakak pergi untuk kembali. Jika memang sudah waktunya, kakak pasti akan kembali berada disampingmu, bermain bersama di Pantai, nonton TV bareng, makan, tertawa dsb. 

Wahai Malaikat Kecilku, hapus air matamu, jangan engkau habiskan air matamu hanya untuk menangisi kepergian kakak, simpan air matamu untuk menangis di hari-hari dimana air mata itu engkau butuhkan.

07 September 2011

Pukul 06.34 PM, saya sempatkan untuk menelphone Winda, dari ujung telephone terdengar suara seperti menangis, arghhh sudah 2 hari saya pergi masihkan engkau menangis ?

- Winda lagi ngapain ?
- belajar kak, dia begitu semangat menceritakan apa yang ia pelajari di sekolahan. Tadi winda belajar menulis angka dari 1 – sampai 20, ibuk guru juga ngajarin kita nyanyi. Syukurlah ucapku dalam hati, dia sudah mulai bisa ceria kembali meski aku tidak disampingnya, sehari sebelumnya, dia sempat panas tinggi dan terus menyebut namaku.
- Winda bisa nggak nulisnya ?
- bisa….tapi Dimas (ponakan saya) nggak bisa nulis angka 1- 20, dia hanya bisa nulis 1-10 saja.

Saya sudah berniat mengakhiri percakapan karena takut mengganggu dia yang sedang belajar, tapi seketika winda berucap :
kak, kapan pulang ? *aku ke’induan* (adik rindu kakak)*
Saya  tidak berharap mendengar kalimat itu, namun sudah terlanjur kudengar, setelah mengucapkan kalimat itu, malaikat kecilku ini pamit untuk tidur.

Begitulah, hubungan yang terjalin antara saya dan malaikat kecilku ini begitu erat. 

Sayangilah adik kita sebagaimana kita menyayangi diri kita sendiri, terkadang kita gengsi membawa anak kecil bersama kita hanya karena kita masih bujangan, malu dilihat teman-teman sebaya. 

Saya berusaha untuk mengajak Winda kemana pun saya pergi, selagi memang bisa saya bawa. Dari hal-hal kecil yang kita lakukan bersama, terjalinlah ikatan bathin yang kuat antara kami berdua.
*bahasa diatas sudah saya ubah , karena saya menggunakan bahasa daerah Bengkulu saat menelpon Winda*

September 07, 2011

Cerita Mudik Lebaran 1432 H


26 Agustus 2011

Hari ini , saya akan melakukan mudik rutin, setiap tahun saya usahakan untuk bisa berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman nan jauh disana. Bus yang saya tumpangi akan membawa saya ke Jakarta. Purwokerto – Jakarta  tidaklah jauh, hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 jam (tentunya itu kalo sedang tidak macet), tapi nampaknya kali ini perjalanan saya menuju Jakarta sedikit memerlukan tenaga ekstra, jam 06.45 pagi saya berangkat dari Purwokerto, dan baru tiba di Jakarta pukul 19.37. 
Saya sengaja memilih untuk istirahat di Jakarta, sekalian bertemu dengan teman-teman zaman kuliah dahulu, setelah puas melepas rindu dengan teman-teman di asrama, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu.

28 Agustus 2011

Jam di tangan menunjukkan pukul 05.07 pagi hari, saya segera mencari taxi dan langsung menuju terminal Kali Deres, di tiket yang saya beli tertulis bahwa seluruh penumpang harus sudah berkumpul sebelum jam 08.00. tentunya saya tidak ingin menjadi orang yang terlambat dan tidak jadi mudik bukan ?. tepat pukul 06.49 saya sudah berada di Terminal, check in tiket keberangkatan dan disanalah saya sedikit kecewa karena Bus yang akan saya  tumpangi masih terjebak bersama dengan ratusan kendaraan atau mungkin ribuan kendaraan lainnya di pelabuhan Bakauheni .  


Saya harus menunggu kedatangan Bus dari pukul 08.00 sampai pukul 15.47 , kalau ditanya apakah saya jenuh menunggu ? sudah tentu jawabannya Iya, saya jenuh. Akan tetapi anganku melayang jauh ke kampung halaman dan itu  yang membuat saya tetap semangat menunggu. Meski lelah karena dalam keadaan puasa. Namun akhirnya Bus yang saya tumpangi datang juga.

Ternyata perjuangan saya tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah sampai di Pelabuhan Merak Banten, saya juga harus bersabar karena harus menunggu lamanya antrian untuk memasuki kapal, Bus yang saya tumpangi sudah mengantri dari pukul 17.45 , dan baru bisa masuk ke dalam kapal pada pukul  23.07 malam. Kebayangkan betapa lamanya menunggu ? dan kalian semua pasti tahu bahwa menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Tapi keinginan untuk bertemu keluarga besar di kampung halaman menjadi penyemangat tersendiri.
Selama di perjalanan, ternyata begitu banyak sekali kendala, dimulai dari AC mobil yang bermasalah, hingga mogok pada saat mendaki jalanan yang terjal. Ini kali pertama saya mengalami perjalanan yang menurut saya lumayan menyita tenaga, biasanya saya memilih jalur udara untuk bisa mudik. Selain karena saya tidak dapat tiket pesawat, nampaknya saya juga ingin merasakan betapa indahnya mudik melalui jalur darat. Biasanya saya juga mudik pada pertengahan puasa, bukan pada akhir Ramadhan yang tentunya puncak  arus mudik lebaran.

29  Agustus – 05 September 2011

Setelah melalui perjalanan mudik yang cukup melelahkan, pertarungan itu bisa kumenangkan meski dengan cucuran keringat. Dari kejauhan sudah kulihat wajah Ibu menanti kedatanganku di pinggir jalan raya, Ibu dan Winda adikku yang paling kecil menyambut kedatanganku, saya kira hanya ada ibunda dan si kecil Winda saja yang menantikan kehadiranku, ternyata Ayahanda sudah menyiapkan Motor untuk mengangkut barang-barang yang saya bawa.

Peluk cium hangat dari kedua orang tuaku membuat lelahnya perjalanan segera hilang, tawa adikku yang paling kecil pun menambah kebahagiannku. 

Selama di Rumah, saya habiskan waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar, pergi berkunjung ke rumah saudara-saudara dan saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan Winda. Setiap kali saya mudik, Winda memang tidak ingin jauh dari pelukanku, kemana pun saya pergi, dia akan merengek untuk ikut, dan selagi saya bisa membawanya pergi, saya akan berusaha membawanya ikut serta. Namun tidak untuk malam hari.

Kadang saya harus rela menunggu hingga ia terlelap tidur untuk bisa keluar rumah dan bermain dengan teman-teman. Karena kalo Winda masih melek, dia akan menangis sejadi-jadinya agar bisa ikut.
Saya dan Winda memang begitu dekat, kedekatan kami berdua pun membuat orang lain berpikiran bahwa Winda adalah Anakku, bukan Adikku.

07 September 2011
Dan hari ini, saya sudah kembali ke Purwokerto Banyumas, menyiapkan diri untuk bertemu dengan murid-muridku, dan menyiapkan diri untuk kembali kepada rutinitas mengajar.
Semoga Tahun depan saya masih bisa menikmati perjalanan Mudik Lebaran. Amin