September 24, 2011

Wasiat Cinta (part 1)

Saat pikirku sedang melayang jauh, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku, dan terdengar seseorang memanggil namaku, suara itu sudah tidak asing lagi bagiku, otakku segera memutar memori yang mungkin sudah terletak di bagian bawah alam sadarku untuk mengingat suara orang yang mengetuk pintu rumahku, namun tak mampu kuingat siapa pemilik suara itu. Kubuka pintu secara perlahan dan dengan sedikit dipenuhi perasaan kaget, dan tak percaya, ternyata pemilik suara itu adalah Andita sahabat lamaku sekaligus cinta pertamaku yang tak berbalas yang sudah lama tak pernah kutahu akan kabar beritanya...

''Andita, ucapku,..

''Ia tersenyum seraya berucap...iya, ini aku .... ...

Dengan sedikit perasaan tidak percaya aku terus bertanya benarkah ini Andita...?

Andita, ia seorang wanita yang dulu pernah mengisi hatiku dan kini sudah menjadi seorang ibu dari buah hatinya dan menjadi seorang istri dari sahabatku sendiri ‘ Raka.

Raka, ia adalah sahabat karibku dari kecil, ....dia yang telah berhasil menjadikan Andita sebagai ratu dalam rumah tangganya meskipun sebelumnya wanita cantik itu pernah menjadi bagian dalam kisah cintaku yang tak berbalas.

Sebelum Raka dan Andita menikah, kita adalah tiga sahabat, Aku ( Reza ), Raka, dan Andita....Raka dan aku pernah satu sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah akhir, hingga akhirnya kita berdua berpisah saat Ujian Sekolah Menengah Akhir Selesai dan kita pun pergi melanjutkan studi ke tempat yang berbeda, aku di Jakarta, sementara Raka di Padang, ia masuk ke sebuah Universitas di Padang dan mengambil Jurusan Tekhnik Sipil. Sedangkan aku memilih kuliah di Jakarta dan masuk Ke Sebuah Universitas Swasta dan mengambil Jurusan Psikologi, karena memang dari kecil, cita-cita ku adalah menjadi seorang Psikolog.

Sedangkan Andita, dia wanita cantik di desa tetangga, aku dan Raka kenal dengannya pada saat Lebaran, saat itu kita sama-sama sedangkan menikmati keindahan sebuah sungai yang berbatu yang terletak tidak begitu jauh dari rumah di mana kami tinggal, dengan sedikit malu-malu, aku dan Raka memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Saat itu ia terlihat sedangkan asyik dengan sebuah kamera digital di tangannya dan berusaha mengabadikan keindahan alam yang ada disekelilingnya. Dengan perasaan tak menentu, kuberanikan diri tuk menyapanya dan berusaha untuk memberikan senyum terbaikku.

''Hai....,lagi ngapain ?

Sementara aku menyapa, Raka hanya diam mematung di sampingku dan membiarkanku sendiri di penuhi dengan perasaan yang tak menentu..rasa takut, perasaan gelisah, dan malu. Dengan tersenyum, ..." aku sedang mengabadikan keindahan sungai dan sekelilingnya..kalian ...? Tanyanya balik sambil memperhatikan Raka yang sedari tadi hanya diam membisu sambil tersenyum malu.

Kebetulan sedang menikmati keindahan pemandangan di sungai ini juga...bagaimana kalau kita bertiga berkeliling sambil menikmati keindahan pemandangan sungai ini secara berbarengan pasti terasa lebih seru...? Usulku tanpa sadar.

Tanpa basa-basi, Andita langsung menerima ajakanku, kami segera berjalan-jalan sambil menikmati sejuknya udara dan hijaunya dedaunan yang ada disekeliling sungai, di tambah lagi dengan pesona bebatuan besar yang ada di tengah dan pinggiran sungai. Hingga akhirnya sorepun menjelang, aku dan raka pulang dengan mengendarai sebuah sepeda Motor, sedangkan Andita memilih mengendarai Motor kesayangannya sendiri menuju rumah.

Itulah saat pertama kali aku dan Raka mengenal akan sosok wanita cantik berlesung Pipit, rambutnya hitam panjang terurai, senyumnya begitu mempesona, kedua bola matanya begitu indah. Semua keindahan itu membuat Ia wanita tercantik yang pernah kutemui saat itu. Ternyata bukan hanya aku dan Raka yang tak bisa melupakan pertemuan singkat itu, Andita pun merasakan hal yang sama, dan ini semua adalah awal dari persahabatan antara aku , Raka dan Andita.

Hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Persahabatan diantara kami pun terasa begitu erat, di saat salah satu dari kami dalam keadaan susah, kita selalu menyelesaikan kesusahan itu secara bersama dan begitulah selanjutnya.

Hingga suatu hari, aku merasakan ada perasaan lain di hati ini, aku merasakan perasaan cinta yang begitu kuat dan terus subur hingga tak bisa lagi kutahan, namun sayang ternyata perasaan ku sudah terlambat untuk diungkapkan, Raka dan Andita ternyata sudah lama saling menyintai tanpa sepengetahuanku. Aku pun harus menghapus perasaan cinta ini dari hati, dan berusaha untuk menerima kenyataan bahwa wanita yang kucintai sudah menentukan pilihan hatinya. Sakit memang terasa saat pertama aku tau akan cinta mereka berdua. Namun aku pun tidak boleh egois, sedikit demi sedikit aku pun bisa menerima semua keadaan ini.

Ternyata kisah asmara antara Raka dan Andita tak sekedar cinta basa basi yang lambat laun akan hilang, semakin lama keyakinan keduanya semakin kuat untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan semua itu sebagai bukti akan kekuatan cinta.

Pernikahan itu menjadi akhir dari harapanku untuk memiliki Andita sepenuhnya, pernikahan itu juga menjadi pemisah antara aku, Raka, dan Andita. Setelah melakukan proses pernikahan, Raka membawa pujaan hatinya turut serta ke Padang, sementara aku melanjutkan studi Magister di kampus yang sama di Jakarta.

Sekian lama keduanya tidk ada kabar, aku pun sudah di sibukkan dengan rutinitas keseharian pergi ke kampus dan mengikuti perkuliahan demi menggapai cita-cita. tidak pernah kuterima kabar dari keduanya, nomor handphone nya pun sudah tidak bisa dihubungi, kadang aku bertanya dalam hati, bagaimana keadaan keduanya..? masih ingatkah keduanya akan masa-masa itu, masa dimana persahabatan itu terasa begitu membekas di hati, kisah dimana saat-saat kebersamaan yang tidak pernah bisa terhapus dalam catatan perjalanan hidupku.

Dan hari ini semua terasa mimpi, Andita berdiri dihadapanku dengan membawa seorang anak kecil yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kuusap kedua mataku tuk meyakinkan akan semua ini, benarkah ini semua..? ataukah aku sedang bermimpi..? kucubit kedua pipiku dan Arghhh Sakit yang kurasa dan itu menjadi tanda bahwa aku sedang tidak dalam keadaan bermimpi.

Andita dan anak kecil yang disampingnya kupersilahkan duduk di ruang tamu, sambil sedikit membetulkan kemeja yang kukenakan, aku pun duduk dan memulai pembicaraan. ..

Kapan datang ke Jakarta...?

Baru saja tadi pagi sampai dijakarta, dan rumah ini adalah rumah pertama dan tujuan utama kedatanganku ke Jakarta.

Mendengar jawaban Andita tadi, begitu banyak pertanyaan yang ada akan apa sebenarnya yang membuat Ia rela jauh-jauh datang dari Padang ke Jakarta hanya untuk menemuiku, mungkinkah sudah terjadi sesuatu antara Raka dan Andita...? Atau mungkinkah ada hal lain yang sangat penting sehingga mengharuskan Ia datang menemuiku di Jakarta. Semua pertanyaan itu berkumpul menjadi satu dalam benakku.

Sambil memegang tangan anak kecil yang ada disampingnya, andita memberitahuku bahwa anak kecil itu adalah Anaknya dan Hanisah adalah nama yang mereka berikan kepadanya, kemudian dengan tangan gemetar dan dipenuhi keringat kecil, ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kecil yang ia bawa, Ini adalah wasiat terakhir saat raka masih hidup, kau bisa membacanya sekarang ucapnya. Aku tidak keberatan jika engkau ingin membacanya sendiri dan aku akan datang kembali besok pagi ucapnya.

Aku pun semakin tidak mengerti akan apa sebenarnya yang terjadi dengan Raka, dan mengapa wasiat itu tertuju untukku, mengapa tidak orang lain? mengapa bukan orang tuanya yang ada di kampung? atau sanak kerabatnya yang lain yang mungkin lebih berhak untuk menerima selembar kertas ini.

Segera kuambil selembar kertas yang diberikan Andita, dan kubaca:

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sahabatku, saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi, surat ini sengaja kubuat untukmu dan hanya Andita dan Kau ( Reza ) yang berhak membaca surat ini, surat ini kubuat dalam keadaan sehat, sadar tanpa adanya paksaan dari siapapun. aku tahu mungkin ini begitu berat dan kau pun mungkin sulit mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Reza sahabatku, kau adalah satu-satunya sahabat yang tak pernah kulupakan selama ini, meskipun kita sudah tidak pernah ada komunikasi lagi, namun aku tidak akan pernah melupakan semua kenangan dalam persahabatan kita. Sebelumnya aku ingin minta maaf, karena saat aku dan Andita memilih untuk menjalin hubungan dalam ikatan cinta tidak memberitahumu terlebih dahulu, meskipun sebenarnya aku tahu bahwa dalam hatimu pun merasakan perasaan yang sama terhadap Andita, kau pun merasakan perasaan cinta yang begitu besar, namun bukan niatku tuk menyakiti dan membuatmu kecewa akan semua ini.


Aku berhenti sejenak membaca surat itu sambil menatap ke arah Andita yang sedari tadi tak hentinya-hentinya menangis. Aku tidak mau menunda waktu terlalu lama untuk membaca surat Raka untuk ku:

Reza, aku tidak tahu dengan siapa lagi aku harus meminta pertolongan, hanya engkau lah orang yang ku percayai dan kuyakin engkau bisa melakukan apa yang kuinginkan, kuingin kau melakukan semua ini bukan untukku, namun demi Andita dan Anakku, aku tidak ingin melihat Andita dan Hanisah Anakku menderita setelah aku pergi, aku ingin keduanya selalu tersenyum meskipun kusudah tidak bisa melihat semua itu lagi . Satu hal yang ingin kupinta dari mu, " Aku ingin engkau menikah dengan Andita dan menjaga Hanisah anakku, Aku ingin engkau membahagiakan keduanya dengan penuh kasih sayang. Aku memohon dengan sepenuh hati, engkau ingin mengabulkan permintaanku ini dengan hati yang ikhlas . 

Namun jika memang engkau tidak bisa mengabulkan pintaku ini dikarenakan sudah mempunyai pilihan lain, aku pun tidak ingin membuatmu kecewa untuk kesekian kalinya, aku pun tidak bisa memaksakan kehendak atas dirimu. Namun jika semua itu masih mungkin untuk kau lakukan, ku ingin kau menjadikan permohonan ku ini sebagai sebuah jalan yang mungkin memang sudah ditakdirkan dalam kisah hidup kita. Wasalam  Sahabatmu  Raka Hartono
Tanpa kusadari air mataku menetes, aku tidak tahu apa aku harus sedih atau gembira membaca surat ini, kuusap air mataku dengan baju yang kukenakan, dan kupandangi wajah Andita yang sudah dipenuhi dengan air mata, tangannya terus mengusap air mata yang keluar dari kedua mata indahnya. Dengan suara sedikit terisak kutanyakan akan apa sebenarnya terjadi dengan Raka.
bersambung .....


No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan