November 17, 2011

Deritamu Ibu


Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah tidak beraturan, lobang kecil yang bertebaran di sepanjang jalan, dan batu-batu kerikil yang sesekali beradu dengan jari-jari kakiku. Namun aku tidak peduli akan semua itu, aku tetap berjalan dan memandang ke depan demi bertemu dengan seseorang yang kupanggil Ibu. Ya, Ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini dan baru kali ini akan kulihat wajah yang sedari dulu tidak pernah terbesit dalam benakku, tetesan air mataku ikut hanyut bersama dinginnya malam, berseteru dengan perasaan-perasaan yang tak menentu. Perasaan yang terus berkecamuk di dalam dada akan kerinduan seorang anak terhadap Ibu yang telah berjuang melahirkannya ke dunia ini. Kuambil sapu tangan berwarna biru tua dari tas kecilku, kuusap air mata yang sedari tadi berlomba-lomba untuk turun dan menetes ke bumi. Aku tidak ingin membuat Ibu kecewa, aku tidak ingin melihatnya menangis saat melihat air mata yang bergulir dari pipiku.

Aku berjalan perlahan namun pasti, mendekat dan semakin dekat dengan gubuk tua itu, sebuah gubuk yang terlihat usang dimakan usia, atap seng yang sudah berkarat, dinding yang dihiasi oleh celah-celah kecil yang membuatku bisa melihat ke bagian dalam gubuk meski dari kejauhan.  Oh Tuhan, benarkan Ibu yang telah melahirkanku selama ini tinggal di gubuk tua dan reot seperti ini ?, sementara aku tinggal di rumah bertingkat bersama keluarga besar Ayah. Aku tidur di kasur yang mungkin entah kapan terakhir kali Ibu merasakan kenyamanan tidur di atasnya, aku tidur di kamar yang dilengkapi dengan perabotan mewah. rasanya aku tidak sanggup membayangkan betapa beratnya perjuangan ibu untuk bertahan hidup di tempat seperti ini.

Aku berdiri tegak di depan gubuk sambil mengetuk pintu yang berdebu, dan terdengar suara seseorang berjalan menuju pintu dan membuka pintu.

“Den Senna ?”
"Bi Atun ?"

Bi Atun terlihat gugup saat melihat kedatangannku, dan aku pun tersentak kaget saat melihat perempuan yang mengurusku sedari kecil hingga aku beranjak dewasa  membukakan pintu gubuk ini.

“Bi Atun ngapain disini ?”
“Anu Den, Bibi cuma menyiapkan makan malam Nyonya”

Aku tidak ingin menunggu lama penjelasan Bi Atun, aku langsung masuk dan langsung terperangah saat melihat sosok perempuan tua, rambutnya sudah beruban, wajahnya dihiasi oleh keriput-keriput kecil, dan matanya terpejam, dan aku semakin tidak percaya dengan apa yang kulihat, aku mendekat dan memeluknya dan memastikan bahwa aku hanya sedang dalam keadaan tidak seimbang sehingga mungkin mengganggu penglihatanku. Kupeluk badan kurus itu dan perempuan tua itu yang aku yakin adalah ibuku, ia tidak mempunyai tangan, ia bak boneka kayu sedang terbaring dikasur kapuk nan lusuh.

“Bu, ini Senna, putra Ibu, Senna sudah besar, bahkan Senna akan segera menikah dengan wanita pilihanku sendiri”

Air mataku tumpah tak terbendung ibarat musim kemarau yang diterpa hujan, basah dan membanjiri pipiku. Akan tetapi, Ibu tidak menjawab apa yang kuucapkan, ia hanya diam membisu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Bu, maafkan Senna yang baru sekarang bisa melihat keadaan Ibu, karena memang baru sekarang semuanya terlihat jelas, selama ini yang aku tahu Ibu sudah meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa tahun setelah kelahiranku”.

Aku terus menangis dan menyesali mengapa pertemuan ini baru terjadi sekarang.

“Yang sabar ya Den”

Bi Atun duduk disampingku dan mengusap kepalaku kemudian memberiku segelas air putih.

“Den, Nyonya tidak bisa melihat, Nyonya juga tidak bisa berbicara, Nyonya tidak bisa mendengar dan lumpuh”

Aku semakin menangis sejadi-jadinya saat mendengar apa yang diucapkan Bi Atun.

Sebenarnya sudah lama Bibi ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, kejadian yang menimpa Nyonya puluhan tahun yang lalu, akan tetapi Bibi takut Tuan besar akan ngamuk dan mengusir Bibi dari rumah sementara yang membiayai pendidikan anak-anak Bibi adalah Tuan besar. Kerap kali Tuan mengancam akan memecat Bibi jika sampai Den Senna tahu dimana Nyonya berada. Dan pada saat Aden bertengkar dengan Tuan besar gara-gara Aden terus menanyakan keberadaan Nyonya, karena memang pihak keluarga tidak bisa menunjukkan dimana kuburan Nyonya jika memang nyonya sudah meninggal, Bi Atun akhirnya sadar, sudah waktunya Aden tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bibi sengaja menuliskan surat dan meletakkannya di dalam tas kerja Den Senna tentang keberadaan Nyonya.

Tiga tahun setelah kelahiran Den Senna yang merupakan anak semata wayang Tuan Faisal, Nyonya mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang dari pusat perbelanjaan. Mobilnya di tabrak oleh sebuah truck penganggut besi, dan  Pak Yoga yang waktu itu mengantar Nyonya langsung meninggal di lokasi kejadian, sementara Nyonya mengalami luka yang cukup serius dan koma. Kedua tangannya harus diamputasi karena hancur, kedua matanya juga rusak,  dan setelah sadar dari koma, ia dinyatakan lumpuh total.

Entah apa yang ada di dalam benak Tuan besar, sehingga akhirnya dengan teganya membawa Nyonya ke tempat pengasingan ini, katanya malu dengan rekan kerja, kalau sampai mereka melihat Nyonya yang lumpuh, buta, dan tidak mempunyai tangan. Beginilah keadaan nyonya, untuk makan sehari-hari, mandi dan sebagainya, ia dilayani oleh seorang pembantu yang ditugaskan Tuan besar.

“Maafkan Bibi ya Den, seharusnya sedari dulu Bibi memberitahu Den Senna tentang keberadaan Nyonya”

Kering sudah rasanya air mataku, sudah terlalu banyak air mata yang kutumpahkan dan aku tidak ingin menangis lagi. Kupandangi wajah Ibu,  sungguh malang nasibmu, aku berjanji akan membawa Ibu pulang ke rumah dengan atau tanpa sepengetahuan Ayah. Bila perlu, kita bisa tinggal di rumah kontrakan, yang penting Senna bisa dekat dengan Ibu.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan