December 14, 2011

Di Bawah Lindungan Ka'bah

Pagi tadi, saya sempatkan mendownload film yang sebenarnya sudah lama pengen saya tonton. Setelah membaca novelnya, rasanya kurang afdhol kalo saya tidak menonton filmnya. Novel yang saya maksud adalah “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya “Buya Hamka”. Saya termasuk pengagum sosok Buya Hamka, oleh karena itu, saya ingin tahu bagaimana jadinya novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” bila di filmkan.

Dan inilah pendapat saya setelah menonton filmnya :

Dari segi sinematografis film ini bagus, film ini juga berhasil menggambarkan Padang pada tahun 1920an. Akan tetapi entah kenapa saya sama sekali tidak tersentuh dengan film ini, saya tidak mengatakan film ini jelek, toh semua orang mempunyai penilaian tersendiri terhadap karya orang lain, dan saya menghargai karya ini dengan menonton meski dengan mendownload gratisan #plak.

Pada saat membaca novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, saya bisa sangat tersentuh dan meneteskan air mata, akan tetapi pada saat nonton filmnya barusan, entah mengapa saya tidak  tersentuh sama sekali. Saya juga rada aneh dengan adanya adegan Zaenab yang jatuh ke sungai dan kemudian diselamatkan oleh Hamid dan diberi bantuan napas (mouth to mouth). Oleh karena Hamid mencium Zaenab, Ia akhirnya dihukum untuk pergi dari kampung. Padahal, seingat saya, dan memang bener-bener ingat, Hamid pergi dari kampung bukan karna itu, akan tetapi ia pergi karena hatinya tidak kuat mengetahui Zaenab yang dijodohkan dengan Arifin.
Saya juga merasa terganggu dengan adanya iklan beberapa produk yang ditampilkan dan dishoot dengan jelas di dalam film, produk apa yang saya maksud?, silahkan tonton sendiri. #kalem.

Kemudian, saya juga kecewa dengan tokoh Hamid pada saat membaca ayat terakhir surat “Yaasin”Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kullu Syaiwwailaihi Turja’uun” di masjid tidak lama setelah Ibunya meninggal dunia. Seharusnya dia membaca “Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kulli Syaiwwailaihi Turja’uun” bukan “Fasubhaanalladzii Biyadihii Malakuutu Kullu Syaiwwailaihi Turja’uun”.

Mengetahui kesalahan orang lain itu memang lebih mudah dari pada kesalahan sendiri (baru sadar lo hehe). Disini saya tidak menyalahkan, saya hanya ingin berbicara sesuai dengan apa yang saya tahu, dan pengetahuan yang saya tulis di atas tentunya dengan bukti, saya punya novelnya, dan saya tahu ayat-ayat yang dibaca di dalam film tersebut (tolong jangan jitak saya haha).

Film kan tidak meski harus sama persis dengan Novelnya. Ok, saya juga tidak memaksa atau marah karena tidak sama, saya hanya menuliskan pendapat saya setelah menonton film ini, toh saya masih boleh memberikan komentar kan ?, setidaknya saya hanya ingin agar untuk selanjutnya, jika memang ingin membuat film yang menampilkan nilai Keagamaan yang kuat, tidak salahnya sebagai salah satu pertimbangan adalah Aktor atau Aktris bisa membaca dengan baik Al Qur’an, tidak hanya sekedar bisa akting saja, setidaknya tidak terjadi kesalahan saat membaca, jadi orang yang menonton tidak merasa terganggu dengan bacaan-bacaan ayat yang salah dan keliru.

Kok nampaknya saya sangat tidak suka dengan kesalahan membaca ayat terakhir surat “Yaasiin” tersebut ?. hehe... saya bukan tidak suka, saya hanya mengingatkan bahwa ada kesalahan disitu, boleh kan mengingatkan dalam hal kebaikan ?.

Sekian pendapat saya setelah menonton film ini. “baiklah saya mau kabur dulu, takut dijitak oleh yang baca tulisan ini” 1 2 3 “menghilang”.

2 comments:

  1. sama, sebelum nonton film ini disaranin temen bawa tissu yang banyak, katanya banyak nguras air mata..tapi pas nonton, aku aneh..ga nangis blas, cuman memang terharu ketika ibuknya meninggal :D

    ReplyDelete
  2. ya begitulah, hehe.. kita hanya bisanya berkomentar haha...tapi saya lebih kepada kesalahan membaca ayat yg paling saya tekankan :)

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan