December 07, 2011

Jubah Cinta

“Negara kita ini semakin hari semakin nggak jelas ya Zam, setiap hari ada aja berita kriminal, korupsi, banjir, gue muak ngeliat tv yang ada di rumah, mendingan gue kasihkan ke tetangga sebelah aja, itung-itung amal. Tadi pagi aja, baru juga ngidupin tv, udah muncul berita pencabulan, rampok, padahal nonton tv kan bagus untuk ngupdate informasi, tapi kalo yang ditayangin itu berita korupsi, pencabulan, rampok, yang ada gue malah pengen muntah tau nggak”

“Zam, hey, Azzam lo dengerin gue ngomong nggak sih ?”
“Azzam, Azzam, wuy Azzam lo kenapa sih , bukannya dengerin teman ngomong malah ngelamun.”
“Hah ? emang dari tadi lo ngomong ya Vin?”
“Nggak, dari tadi gue makan rujak, puas lo.”
“Sorry, gue kok tiba-tiba inget nyokap di kampung. Udah seminggu gue nggak ada ngubungin, maklum akhir bulan, duit udah nipis, kalo ni duit gue pakai untuk beli pulsa, yang ada gue nggak makan ntar.”
“Lo ngomong dong dari kemarin kalo pengen nelpon nyokap, kan lo bisa pake handphone gue.”
“Gue nggak enak lah Vin, terus-terusan ngerepotin lo”
“Alah lo tuh ya, kayak baru kenal gue kemarin sore aja, kita kan udah kenal sejak belum lahir ha ha.”
“Tuh kan, lo itu kebiasaan ya Vin, teman lagi serius malah lo becandain, kapan lo warasnya sih Vin.”
“Waras ? jadi menurut lo gue nggak waras ?”
“Sebenarnya lo itu waras, dan akan lebih waras lagi kalo lo mulai berbicara dengan lemah lembut kayak cewek-cewek yang lain, lo itu cewek tapi kayak cowok  tau nggak.”
“Lah kan bagus, dari pada lo, cowok tapi kayak cewek ha ha.”
“Eh tuh metro mininya udah datang, gue pulang duluan ya.”

Aku melepas kepergian Vina dengan senyum kecut, Vina cewek yang baik, tapi kacaunya tidak ketulungan, setiap hari di kampus kerjaannya ngomentarin apa saja yang menurutnya tidak enak. Seperti minggu lalu, penjaga kantin mengundurkan diri, karena hampir tiap hari Vina mencaci tukang kantin yang suka plin plan kalo ngitung duit kembalian.

“Kota, Kota, bus terakhir, teriak seorang kernet metro mini 86 jurusan Lebak Bulus-Kota”

Aku berlari menuju bus, kusandarkan badan yang begitu pegal karena seharian Vina memaksa untuk ikut demo di depan kantor Mahkamah Konstitusi, aku terlelap tidur selama perjalanan menuju Kota.

“habis, habis, habis”

Suara kernet itu memaksaku untuk bangun dari tempat duduk, dan turun menuju kamar kos yang menjadi tempat peristirahatan setelah seharian beraktifitas. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka pusing dengan keadaan negara yang semakin hari semakin semberawut, demo dimana-mana, koruptor meraja lela, akan tetapi sudah tiga hari ini sahabatku Vina selalu merengek memaksaku untuk ikut andil dalam demo, meski aku cuma jadi kambing congek yang tidak mengerti demo itu dilakukan atas inisiatif siapa, bahkan setelah selesai demo saya lihat seseorang membagi-bagikan uang pecahan lima puluh ribuan ke semua pendemo. Arghh ini kah yang dinamakan dengan demo titipan seperti yang pernah Vina jelaskan kemarin.

Hari ini aku harus pergi ke kampus lebih awal karena ada bimbingan skripsi, Prof. Darwis selaku pembimbing skripsiku hanya bisa bertemu pada jam 7 pagi, setelahnya beliau akan sibuk dengan kegiatan mengajar. Jam 07:03 metro mini yang aku tumpangi berhenti tepat di depan kampus, aku berlari memasuki gerbang kampus dan langsung menuju ke ruangan Prof. Darwis, jantungku berdetak kencang tak menentu, sudah terbayang di dalam benakku ocehan Prof  karena terlambat.

“Pagi pak, maaf saya terlambat”
“Pagi, mengapa terlambat? Sudah tahu sekarang jam berapa ?, sekarang jam 07.07, jadi saudara terlambat 7 menit.”
“Maaf Prof, tadi dijalanan macet, saya sudah berangkat secepat mungkin.”
“Baru tahu Jakarta macet ?, jawab Prof. dengan ketus, Saya tidak mau tahu alasan saudara, karena terlambat maka bimbingan kita cancel di lain waktu.”
“Tapi prof, belum selesai kalimat yang keluar dari mulutku, Prof. Langsung pergi keluar ruangan.”

Aku keluar ruangan Prof. Darwis dengan hati kecewa, karena sangat susah untuk bertemu dengan Prof. Darwis, beliau merupakan satu-satunya Prof yang membuatku tidak bergeming kalau sedang berhadapan dengannya.

“Kenapa lo ? pagi-pagi udah murung aja”
“Vina menepuk pundakku sambil memberikan segelas kopi”
“Nggak apa-apa kok, nggak ada yang perlu lo khawatirkan”
“Halah, lo itu kebiasaan banget ya, lo telat kan ? jadi bimbingan skripsi lo di cancel, ngaku aja deh”
“Begitulah, jawabku dengan suara memelas.”
“Santai aja, ngapain sih  lo pusing-pusing mikirin skripsi, kayak gue ni,  tinggal suruh kakak senior yang ngerjain, kasih duit, jadi deh skripsi gue, nggak perlu pusing-pusing, hidup itu jangan dibuat ribet coy.” Komentar Vina seenaknya.
“Eh, lihat deh cowok yang di toko seberang, tu orang nggak bosan-bosan ya make jubah panjang setiap hari, kayak teroris ya.”

Mataku berusaha mencari sosok yang dikatakan Vina , di seberang jalan, terlihat cowok tinggi, putih, dan berjubah.

“Kok lo tahu kalo dia pake jubah tiap hari , padahal kita kan nggak pernah ke toko itu, lo suka ya ama dia ? atau malah lo memang suka merhatiin dia ?”
“Enak aja lo”
“Awwww,, sakit Vin, Vina memukulku dengan Buku perbankan tebal yang ada di tangannya.
“Jadi begini Zam, tiap hari kan kita lewat di depan toko itu kalo mau pulang, jadi otomatis gue sering ngeliat tu cowok.”
“Tapi kok gue nggak pernah lihat ya”
“Mata lo itu kan udah nggak sehat alias rabun, makanya nggak kelihatan.”
“Udah ah, udah jam 07.30 ni, ke kelas yuk, ntar kena semprot ama dosen kalo terlambat.”

Pukul 12:00, waktunya istirahat Vin, lo  mau makan ke kantin atau di kelas aja ? tanyaku pada Vina yang kelihatan sedang sibuk dengan laptopnya.

“Vin, lo lagi ngeliat apaan sih? Penting banget kayaknya. Kuambil laptop Vina dan aku tertawa sekeras-kerasnya saat mengetahui Vina sedang melihat gambar-gambar pria berjubah di inernet”
“Jadi lo browsing cowok-cowok pake jubah di internet ? , aneh lo ya, sebenarnya ada apa sih ama lo?”
“Udah diam lo Zam, nggak usah banyak komentar, kan yang boleh komentar itu Cuma gue, lo kalo mau ikutan komentar harus jadi cewek dulu ha ha, kalo lo banyak komentar, lo tambah lebih kayak cewek.”
“Terserah lo aja deh, gue lapar, mau ke kantin dulu, lo mau nitip apa ?”
“Emang lo punya duit ? ha ha”
“Huh, sial lo Vin”
“Udah sana pergi, ntar keburu habis waktu istirahatnya.”

Setelah selesai makan siang, aku berjalan menuju kelas dan mencari Vina, akan tetap tidak ada Vina di kelas.

“Bro, ada lihat Vina nggak ? , tanyaku ke teman-teman di kelas.”
“Tadi dia pergi ke toko seberang Zam.”

Aku bergegas menuruni tangga, dan berlari menuju toko yang ada diseberang jalan. Dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas Vina sedang berbincang dengan cowok yang pagi tadi dia ceritakan. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.

“Vin, lo ngapain disini ?”
“Nah lo sendiri ngapain pake acara nyusul gue segala.”
“Ditanya malah balik nanya.”
“Zam, kenalkan, ini mas Helmi, yang punya toko Baju Muslim ini.”
“Saya Azzam mas”
“Helmi.”

Kutarik tangan Vina menjauh dari toko. Vin, bukannya lo nggak suka ya dengan cowok yang berjubah itu ?

“Emang gue pernah bilang kayak gitu ya Zam ?”
“Tadi pagi kan lo sendiri yang bilang ?”
“Pagi tadi kan gue nggak bilang apa-apa selain memberitahu kalo di toko ini ada cowok yang tiap hari itu pake jubah,, itu doang kan, lo kenapa sih Zam, kok tiba-tiba jadi marah-marah nggak jelas gini ?”
“Terserah lo deh,”

Aku meninggalkan Vina yang tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam benakku. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang baru saja kulakukan, mengapa tiba-tiba aku marah-marah hanya karena Vina menemui mas Helmi, aku bahkan tidak tahu obrolan mereka.

Keesokan harinya, seperti biasa, Vina datang mendekatiku dan membawa segelas kopi jahe, aku hanya diam, Vina pun tidak cerewet seperti biasanya. Dia hanya meletakkan kopi jahe di sampingku dan pergi menuju kelas. Selama di kelas, Vina tidak mengajakku berbicara sepatah kata pun, bahkan dia hanya diam saat aku mengajaknya ke kantin untuk makan siang.

“Vin, tunggu, teriakku saat melihat Vina keluar menuju gerbang kampus.”
“Sorry, kemarin gue juga nggak tau kenapa tiba-tiba marah ama lo, beneran deh, gue minta maaf ya.”
Vina menatapku dengan seksama, kemudian pergi begitu saja.
“Vin, gue kan udah minta maaf.”
Vina membalikkan badannya dan kembali menatapku kemudian dia tertawa sekencang-kencangnya.

Aku hanya berdiri seperti  melihat orang gila yang tertawa tanpa peduli dengan lalu lalangnya mahasiswa yang ada di kampus.

Setelah puas tertawa, Vina mendekatiku dan berbisik “lo kalo lagi marah tambah kayak cewek tau nggak “ ha ha.

Aku makin bingung dengan tingkah Vina.
“Jadi lo nggak beneran marah ama gue ?, thank God, gue bakalan jadi orang paling menyesal sedunia kalo lo beneran marah ama gue.”
“Ya nggak lah, ngapain juga gue harus marah-marah ama lo, tapi gue nggak enak aja ama mas Helmi kemarin.”

Mendengar nama Helmi, terasa ada duri yang menusuk ke dalam dada ini. Selama perjalanan menuju kos, aku masih dipenuhi tanda tanya, apa yang salah dengan hati ini, kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan yang beda saat melihat Vina dekat dengan mas Helmi. Apakah aku cemburu ?, tidak mungkin, bukankah selama ini aku tidak pernah peduli dengan siapa Vina bergaul, bahkan dengan teman-teman yang sering pergi demo dengannya pun aku tidak pernah mempermasalahkan.

Setelah kejadian itu, meski aku sudah minta maaf dengan Vina, tapi kami jarang bertemu, karena aku sibuk dengan skripsi yang harus kuselesaikan tepat waktu, pada bulan April nanti aku sudah bertekad untuk ikut wisuda. Meski tidak sering bercanda ria bersama lagi, tapi Vina masih sering sms atau telpon.

Dering handphone terdengar ditelingaku, kulihat di layar handphone nama Vina Calling.

“Hy, Vin, lo nelpon gue bukan mau nagih utang kan ?”
“Azzam, bisa nggak sih lo nggak usah bahas masalah hutang,”
“Iya deh, sorry, ada apa ?”
“Gue mau cerita sama lo, tapi lo jangan marah kayak kemarin ya.”
“Emang ada alasan untuk marah ya ?”
“Ya siapa tau penyakit lo sedang kumat”
“Ok, mau ngomongin apa ?”
“Lo dengerin aja dan nggak usah komentar macam-macam ya.”
“Ok boss”
“Masih ingat dengan mas Helmi yang punya toko di depan kampus kan ?”
“Iya, kenapa dengan mas Helmi?”
“Udah hampir satu bulan ini, gue sering ketemu dengan mas Helmi, lo jangan mikir yang macam-macam ya, gue ketemu ama dia nggak Cuma sendirian kok, tapi bareng keluarga.”
“Bareng keluarga ? , maksudnya ?”

“Ternyata mas Helmi itu lulusan pesantren, jadi dia paham masalah agama, jadi waktu papa meminta gue mencari guru Agama untuk keluarga, gue nggak punya nama lain selain mas Helmi, karena mas Helmi pernah cerita kalo dia lulusan salah satu pesantren di Jogja dan melanjutkan mengelola toko baju muslim yang ada di depan kampus yang merupakan warisan keluarganya.”

Terus ?

“Terus, waktu gue minta dia untuk jadi guru agama di rumah, awalnya mas Helmi ragu, karena dia takut nggak punya waktu untuk itu, tapi setelah gue jelasin kalo satu minggu Cuma 3 kali pertemuan dan itu pun menyesuaikan dengan waktu mas Helmi, mas Helmi akhirnya bersedia jadi guru Agama keluarga. Setiap selesai maghrib hari Senin, Rabu dan Sabtu mas helmi ke rumah ngajarin keluarga gue ngaji, sholat dan sebagainya. Sekarang gue udah bisa sholat loh Zam.”
“Zam, zam, lo masih dengerin gue kan ?”
“Iya, gue dengerin kok, terus ?”
“Dari tadi lo ngomong terus, terus mulu, komentar apa kek”.
“Lah kan lo sendiri yang bilang tadi kalo gue Cuma dengerin dan nggak boleh komentar.”
“Oh iya, he he, gue lupa.”
“Jadi maksudnya nelpon ini cuma mau cerita kalo lo sekarang sudah taubat ya ? ledekku.”
“Ehm, gimana ya, kurang lebih seperti itu, nggak tahu kenapa tiap kali mas Helmi datang ke rumah, ngajarin Ngaji, ngajarin Sholat, gue ngerasa tenang banget. Dia itu tidak seperti yang gue bayangin tau nggak.”
“Emang lo ngebayangin mas Helmi kayak apa ?”

“Lo masih inget nggak, cowok yang berpakaian sama seperti mas Helmi di kampus beberapa tahun yang lalu, yang keluar karena gue sering ngomongin dia itu teroris, lo kan tahu juga kalo  gue benci banget ama tu cowok, tiap hari itu cowok koar-koar kayak khutbah jum’at di kampus dan selalu menghina gue karena gue nggak pake jilbab dan gue muslim, lo juga mungkin masih ingat waktu dia bilang gue itu kafir karena gue pake baju dan celana yang katanya kurang bahan itu.”

“Iya gue ingat, dan kayaknya satu kampus juga masih ingat kejadian itu”
“Nah mas Helmi itu tidak seperti itu, waktu gue cerita tentang cowok pake jubah yang berantem ama gue di kampus, mas Helmi malah tertawa terbahak-bahak.
“Kok mas Helmi ketawa ?”
“Katanya, ini kata mas Helmi lo, kita boleh saja tidak suka dengan orang lain, akan tetapi jangan benci orangnya, kita cukup tidak suka akan perbuatannya saja, jangan membenci orangnya, kita juga boleh mengingatkan orang lain selagi itu memang benar, akan tetapi kita juga harus mengingatkan mereka dengan baik, dan penuh kesabaran, kita tidak boleh langsung mengatakan “dia kafir” karena  dia tidak sholat, semua ada aturannya. Kita mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan sabar, karena sesuatu yang baik harus disampaikan dengan baik, kalo kita nasehatin orang sambil bawa golok, yang ada malah berantem, bukan malah nurut tapi mereka malah akan benci ama kita.”
“Wah lo udah kayak ustadzah ya Vin.”
“Ustadzah ?”
“Habis cara lo ngomong  sekarang itu sudah beda, udah nggak kayak dulu lagi.”
“Biasa aja kok Zam, gue Cuma mencoba untuk jadi lebih baik lagi. Udah malam ni, gue tidur duluan ya, thanks udah mau dengerin ocehan gue malam ini. Assalamu’alaikum zam, moga mimpi ketemu jin , sambungan telpon terputus bersamaan dengan tawa kecil Vina di ujung telpon.

Setelah mendengar cerita Vina, aku merasa ada yang benar-benar beda dengan dia, tidak biasanya dia begitu semangat berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan Agama, bahkan ngucap salam pada saat nelpon pun baru malam ini terdengar.

Setelah belakangan ini aku disibukkan dengan proses pembuatan skripsi, research dan sekarang semua sudah selesai, hanya menunggu wisuda, masih ada 2 minggu lagi sebelum wisuda, sudah lama aku tidak duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan kampus bersama dengan Vina. Pagi ini aku sengaja datang lebih awal dan menunggu Vina sambil menyediakan kopi jahe kesukaannya.

Sebuah metro mini berhenti di depan kampus, dan seorang wanita berjilbab tampak turun dari metro mini, aku kecewa, padahal aku sudah berharap bahwa yang turun itu adalah Vina. Akan tetapi kekecewaanku berubah menjadi tanda tanya saat mengetahui bahwa wanita berjilbab yang turun dari metro mini tadi berjalan menuju ke arahku. Aku jadi salah tingkah, wanita itu tetap berjalan dan berhenti tidak jauh dari tempat aku duduk, dia duduk di bangku yang berada kurang lebih 2 meter di depanku, kemudian memandangku, pipiku memerah, karena tidak biasa ada wanita yang memandangku dengan seperti itu.

“Assalamu’alaikum Zam”

Jantungku berdetak kencang, Suara itu , itu kan suara Vina, tapi apa benar yang berjilbab ini Vina.
“Wa’alaikumussalam”
“Zam, emangnya lo nggak kenal gue ya ?”

Kupandangi wajah itu dan aku tersentak kaget setelah menyadari bahwa wanita berjilbab yang sekarang berada di depanku benar-benar Vina. Aku masih terdiam dan tidak percaya bahwa wanita berjilbab ini adalah Vina, Vina yang setiap hari biasanya mengenakan pakaian yang biasa disebut orang pakaian yang kurang bahan, dan sekarang yang ada hanyalah Vina yang mengenakan setelah gamis berwarna putih, dan jilbab putih memanjang yang menutupi dadanya.

“Lo mau kondangan ya Vin ? tumben pakai pakaian kayak gini”.
Vina tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, emangnya aneh banget ya ngelihat gue pake jilbab ?
“Iya, nggak biasa aja, lo nggak sedang stress kan ?”
“Stress ? nggak lah”
“Sebenarnya gue udah lama pengen cerita tentang keinginan gue memakai jilbab, tapi lo nya sibuk banget. Semenjak mas Helmi ngajarin Agama di rumah, gue jadi banyak tahu tentang Islam, dan seperti yang lo lihat sekarang, gue udah memilih untuk menutup auratku dengan pakaian yang memang sudah diatur dalam agama kita, bukankah agama kita mewajibkan wanita untuk mengenakan hijab ?, seharunya lo senang dong ngelihat gue udah pakai jilbab, bukan malah ngeledekin.”
“Gue sih senang lo pake jilbab, tapi karena ini baru pertama gue lihat, jadi wajar dong kalo gue kaget.”
“Kita memang biasa seperti itu zam, coba lihat mas Helmi diseberang sana, mas helmi pernah bilang kalo orang-orang sering memandangnya aneh, atau bahkan ada yang menuduh dia itu teroris hanya karena dia mengenakan pakaian yang memang belum terbiasa kita lihat dan berbeda dari yang orang lain kenakan. Padahal tidak semua orang yang berpakaian seperti itu teroris kan ?
“Aku menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dengan apa yang diucapkan Vina.”
“Dan salah satu yang mengatakan mas Helmi itu teroris kan lo sendiri ? , celetukku”
 “Yupz, tapi itu dulu, sebelum aku mengenal dia lebih jauh”

Diperjalanan pulang menuju kos, aku berhenti di depan toko baju muslim, terlihat jelas dari kaca toko  beberapa jubah, baju muslim, dan perlengkapan ibadah lainnya. Mataku lama memandangi jubah putih yang tergantung di dekat pintu masuk.

“Silahkan masuk mas, lihat-lihat dulu boleh”.
“Terimakasih mbak, saya Cuma numpang lewat, aku bergegas meninggalkan toko.”
Beberapa hari kemudian, aku kembali berhenti di toko baju muslim itu dan melihat jubah putih itu masih tergantung rapi di dekat kaca.
“Silahkan masuk mas, seorang penjaga toko membukakan pintu toko.”

Entah apa yang terjadi, aku langsung masuk ke toko dan langsung mendekati jubah putih yang sedari tadi aku perhatikan. Aku hanya berdiri di dekat jubah putih dan membayangkan aku memakainya.

“Jubahnya boleh dicoba mas, ruang ganti disebelah sana.”
“Terimakasih mbak”

Aku langsung mengambil jubah putih dan membawanya ke ruang ganti. Kulihat diriku di depan cermin sedang mengenakan jubah putih, tidak ada yang aneh menurutku, yang membedakan hanyalah ukuran dan panjangnya saja. Apa benar orang-orang sering menganggap aneh mereka yang memakai jubah seperti ini ?, tiada salahnya aku mencoba dan membuktikan sendiri bagaimana orang-orang melihatku saat mengenakan jubah ini.

“Mbak, saya beli yang ini”
“Sarungnya nggak sekalian mas?”
Aku baru ingat bahwa tidak ada sarung di kosan, baik sarungnya sekalian mbak.
“Yang mana mas?”
“Yang mana aja mbak”.

Setelah selesai membayar, aku meminta izin penjaga toko untuk langsung mengenakan jubah di ruang ganti.

“Mbak, boleh saya langsung memakai jubah ini di ruang ganti ?”
“Silahkan mas”

Setelah selesai mengenakan jubah putih yang baru saja kubeli, aku keluar dari toko dan berdiri di pinggir jalan raya. Aku bisa melihat orang-orang memperhatikanku dengan seksama, bahkan ada beberapa orang yang menyapaku.

“Mau kemana Syekh?”
“Mau kemana ustadz ?”
Atau ada yang menegurku:
“mau khutbah dimana pak ustadz ?”

Baru sebentar aku berdiri di pinggir jalan raya, sudah banyak sekali kata-kata yang terdengar, aku makin penasaran, akhirnya aku masuk ke dalam sebuah taxi dan meminta supir untuk membawaku ke Pondok Indah Mall yang ada di Jakarta Selatan. Begitu turun dari taxi, orang-orang disekitarku ada yang acuh, ada juga yang memandangku dengan pandangan aneh. Aku tidak mempedulikan mereka, aku terus berjalan masuk ke dalam Mall dan aku mendapatkan perlakuan yang sama, ada yang hanya hanya sekedar memandangku, ada juga yang menegurku dengan ustadz, kiyai, bahkan teroris.

Aku tersadar bahwa apa yang diucapkan oleh mas Helmi benar adanya, masyarakat kita kerap kali memandang aneh mereka yang mengenakan jubah sebagai pakaian sehari-hari, padahal tidak ada salahnya selama mereka baik kepada kita. Vina telah membukakan mataku, arghhh Vina, sekarang engkau begitu beda dengan Vina yang aku kenal dulu, tapi perubahan itu membuatku merasakan bahwa aku cinta padamu.

Dan itulah cinta, kadang kita tidak pernah menyadari bahwa cinta sudah berada di dekat kita, kita hanya memerlukan waktu untuk tahu bahwa ia ada di dekatmu. Dan saat cinta ini mampu tuk kuucap, maka jubah putih ini akan jadi saksi cintaku padamu Vina.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan