July 24, 2011

Kasih Sayang Seorang Ibu


Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

sumber gambar : http://katabijak.files.wordpress.com/2008/10/ibu.jpg

What Is Your Passion ?


Saya ingin bercerita tentang beberapa teman yang mengundurkan diri dari proses job training calon guru di tempat saya mengajar.

Dan dari sekian banyak yang ikut seleksi itu, hanya 5 orang yang lolos seleksi calon guru, dan diwajibkan untuk mengikuti job training, karena saya ikut bergabung, jadi jumlah yang ikut job training menjadi 6 orang. Akan tetapi pada hari pertama job training, yang hadir ternyata hanya ada 4 orang , saya dan 3 orang calon guru baru itu. Sementara yang 2 orang lainnya mengundurkan diri setelah mengikuti proses seleksi yang cukup memakan waktu.

Karena saya hanya mengikuti 1 minggu saja, otomatis yang ikut job training selama 2 minggu itu hanya ada 3 orang lagi. Dan tadi malam saya mendapatkan kabar bahwa yang ikut job training hanya ada 2 orang lagi, yang satunya juga sudah ikut mengundurkan diri ?

What ? kaget dong....kok bisa mengundurkan diri ? padahal hanya 3 hari lagi loh job trainingnya ? Setelah saya tanya mengapa mengundurkan diri, berikut alasannya :

1. Teman yang pertama mengatakan bahwa saya tidak sanggup mengajar di sekolah seperti ini, tidak siap bagaimana maksudnya ? , standar guru di sini memang benar-benar orang-orang yang kompeten di bidangnya sementara saya anda bisa lihat sendiri bagaimana kemampuan saya.

• Dalam hati saya bertanya-tanya, kemana semangat yang nampak pada saat mengikuti proses seleksi dan semangat yang nampak di hari-hari pertama ikut job training. Semangat itu sudah hilang dari wajahnya. bukankah seharusnya dengan ketatnya seleksi, seharusnya memberi motivasi bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dan terus belajar ? .

• Ketika  saya tanya, terus sekarang mau ngajar dimana ? , jawabannya tetap sama, akan mengajar, tetapi bukan di sini.

2. Teman yang kedua mengatakan bahwa menjadi guru bukanlah jiwa saya.

• Kembali dalam hati saya bertanya-tanya, kalo memang guru bukanlah jiwa anda mengapa sedari awal ikut proses seleksi dan ikut proses job training ?

• Menjadi guru itu harus panggilan jiwa, bukan hanya dijadikan sebagai batu lompatan saja, akan tetapi diperlukan jiwa pengabdian untuk menjadi seorang guru.

Di sini saya ingin mengatakan , lakukanlah pekerjaan yang memang benar-benar anda sukai, sehingga anda pun akan melakukannya dengan baik karena memang itu panggilan jiwa. Dan terus belajar mengasah diri, sehingga anda memang menjadi orang yang berkompeten di bidangnya.

* sok serius yah saya nulisnya _ ha ha_........

so , tell me what is your passion now ?

Sumber gambar dari Sini