August 09, 2011

Bahagia Menjadi Guru



Kebahagian seorang guru adalah manakala melihat murid-muridnya senyum bahagia, sedih saat mendengar anak-anak yang tidak masuk sekolah. bahagia saat mendengar sapa mereka saat bertemu di luar jam sekolah. bahagia saat mereka datang menjenguk saat kita sedang tidak bisa mengajar.

Sudah hampir 2 Bulan lamanya saya menikmati betapa indahnya menjalani hidup menjadi seorang guru, setiap hari, menyambut kedatangan mereka adalah hal yang paling ditunggu, melihat senyum mereka, menjawab salam yang terucap tulus dari mereka dan kadang bercanda dengan mereka. segala keletihan terasa menghilang saat melihat mereka datang seraya berkata, assalamu'alaikum ustadz. really, 100 % i'm happy.

Meski kadang mereka membuat kesal, tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecintaanku pada dunia mengajar. ya namanya juga anak-anak, tidak semuanya saat dibilang A langsung nurut A, tidak semua saat Guru berkata diam, lalu mereka diam.

Setiap Anak itu unik, mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan pernah membanding-bandingkan si A dengan si B yang akhirnya akan membuat mereka merasa bahwa mereka tidaklah pantas untuk mendapatkan pujian karena mereka selalu dibanding-bandingkan dengan teman-temannya. jangan sesekali menghardik mereka dengan kata-kata kasar yang nantinya akan mereka tiru.

Dunia pendidikan adalah dunia yang kuimpikan sedari dulu. bahagia rasanya bisa berbagi ilmu dengan orang-orang. bahagia rasanya melihat mereka menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, bahagia saat mereka berkata : Ustadz. kemarin sakit apa ? kok nggak masuk ?. arghhh mereka memang membuat hidup ini lebih berwarna.

Saya bahagia dengan duniaku, saya tidak pernah menyesal telah memilih dunia ini.
dan saya bahagia menjadi seorang guru.

Hari ini, esok dan seterusnya

Sekilas memang tidak ada yang istimewa dari mereka, mereka hanyalah orang-orang yang sudah tua renta yang sedang berusaha meraih apa yang mereka lupakan pada waktu mereka masih muda.

Mereka adalah sekelompok orang-orang yang sedang belajar bagaimana membaca al-Qur'an di mulai dari awal (pengenalan hurus Alif, Ba, Ta dan seterusnya).

Akan tetapi coba lihat lebih jauh, semangat mereka , keinginan mereka untuk bisa itu terlihat jelas. Lantas, tegah kah saya menghancurkan semangat mereka dengan berkata "maaf saya sibuk dan tidak ada waktu untuk membantu mereka belajar cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar".

Atau tega kah saya berkata " emang waktu masih muda ngapain aja ?, umur udah bau tanah baru mau belajar membaca al-Qur'an, sekarang baru nyeselkan ?"

Saya tidak setega itu kok wahai warga ngerumpi, dan bukan berarti saya sudah mahir dan tidak perlu untuk belajar lagi, saya akan terus belajar dan belajar menjadi lebih baik lagi.

Banyak yang bisa saya ambil pelajaran dari mereka.

Coba lihat lebih dalam, Semangat mereka memberikan saya pelajaran yang begitu berharga, bahwa kita harus manfaatkan waktu kita sebaik mungkin agar tidak menyesal di hari tua.

Mereka juga mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk terus belajar, selagi ada kemauan maka akan ada jalan menggapai apa yang kita tuju.

Mereka juga mengajarkan saya untuk tidak malu belajar dengan siapapun, entah dengan orang yang sudah tuakah, seumuran kah, atau dengan orang yang masih muda di bawah kita. Dengan siapapun kita bisa belajar tanpa perlu gengsi karena kita lebih tua, karena kita lebih tinggi jabatannya, atau karena kita lebih kaya dan sebagainya.

Mereka juga termasuk orang-orang yang beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk mempelajari Kitab Suci al-Qur'an.

Dari sini sebenarnya bisa kita ambil pelajaran bahwa tidak ada kata cukup untuk belajar,


"Tuntut lah ilmu dari buaian hingga liang lahat"
"manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu"


Belajar itu tidak terbatas pada umur.
Teruslah belajar dan belajar.

Hari ini, esok dan seterusnya teruslah belajar dan belajar.