December 09, 2011

Ketetapan Hati

Malam semakin larut, sinar rembulan dan bintang menghiasi langit tempatku menuntut ilmu, aku duduk di bagian belakang asrama yang kami beri nama “Shofa”. Seiring waktu yang berjalan, aku mulai membuka lembaran memori yang aku punya, aku keluarkan masing-masing kenangan dan juga fase-fase yang dulu pernah aku lewati hingga berada di titik ini. Aku membutuhkan seseorang yang mengerti. Aku membutuhkan jawaban atas puzzle yang menyesatkan ini. Aku akan mencari jawaban atas kegundahanku ini, bagaimana pun itu caranya.

Entah sudah berapa lama aku duduk disini, terus mabuk dengan kegundahan yang tak urung usai, sesekali kupandangi bintang yang sedari tadi bersinar terang, dalam hati aku bergumam, mungkinkah kegundahanku berganti dengan ketenangan setenang saat aku duduk menatap indah sinar bintang?

Aku masih tak habis pikir dengan apa yang kini aku hadapi. Aku tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Berada dalam kondisi yang tak sepenuhnya aku harapkan seperti ini. Mengapa harus ada perjodohan ini? Mengapa harus aku?. Bukankah masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dariku? Bukankah aku hanya seorang santri yang masih belum cukup usia untuk mendapatkan panggilan suami, aku memang kenal dengan wanita itu, dia memang sholehah, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa kedatanganku ke pesantren ini mempunyai maksud tertentu, kedua orang tuaku sudah mengatur sedemikian baik hingga akhirnya aku dijodohkan dengan putri sang kiai pemilik pesantren. Lebih parahnya lagi, Anita sudah terlanjur mencintaiku, meski kami hidup di lingkungan pesantren, tapi aku tidak bisa lepas dari yang namanya cinta. Aku mencintai Anita, tapi aku juga tidak ingin menyakiti hati Zahrah putri kiai yang selama ini aku puja. Entahlah, aku masih butuh waktu untuk membuat keputusan, di sisi lain, Zahrah ternyata memang mencintaiku sejak awal aku masuk ke pesantren ini.

Tidak ada yang salah dengan cinta. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Namun, jika dalam waktu bersamaan aku harus menyakiti dua perempuan yang kini ada di depanku. Lalu cinta seperti apa yang kupunya sekarang? Aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Aku tidak ingin membunuh perasaan yang suci ini dengan keputusan yang bodoh dan juga dengan cara yang bodoh. Aku tidak mungkin melarikan diri dari apa yang aku hadapi kini. Aku harus bersikap dewasa. Berusaha mengatasi semuanya dengan bijaksana. Karena bukankah memang dengan begitu semua masalah kita akan terselesaikan? Masalah hadir untuk dihadapi, bukan untuk ditinggalkan begitu saja tanpa penyelesaian.

Tanpa kusadari, ternyata Ilham sedari tadi duduk di belakangku sambil menatapku.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Ega?”
Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya. “Sudah lama duduk disana?”
“Kurang lebih tujuh menit yang lalu.”
“Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, Ilham.”

Yang kutahu, Ilham belum mengetahui tentang perjodohan ini, entah apa jadinya jika ia tahu bahwa aku dijodohkan dengan putri kiai yang dicintainya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Zahrah tidak menerima cintanya, namun aku bisa melihat dengan jelas betapa Ilham masih mengharapkan cintanya bisa berlabuh di hati bidadari pujaannya.

Kulihat Ilham memutar-mutar gelas yang ia pegang sekarang.
“Jangan simpan mereka dalam hatimu, Ega.”
Aku tersentak mendengar Ilham mengucapkan itu. “Maksud kamu Ilham?”
Tiba-tiba tanpa aku sadari sebelumnya Ilham melemparkan gelas yang ia pegang sekarang ke arahku. Gelas yang ia pegang kini berada di atas kepalaku. Aku terkesiap dan terkejut karenanya. Kutangkap gelas itu dengan kedua tanganku.
“Kamu sudah gila, Ilham? Mengapa kamu lemparkan gelas itu ke arahku?”
Ilham hanya tersenyum melihatku terkejut seperti itu.
“Jika kamu menyimpan mereka di tanganmu. Kamu tak akan merasa khawatir dan ketakutan ketika kehilangan mereka.”
“Ilham, aku masih belum mengerti dengan yang kamu katakan.”
“Jika kamu menganggap cinta yang kamu punya sekarang sebagai anugerah dan pemberian dari Dia yang kini kita cintai. Kamu akan menganggap itu sebagai titipan. Kamu tidak akan merasa khawatir ketika cinta itu Dia ambil lagi nanti.”

Aku terkejut dengan apa yang Ilham ucapkan. “Kamu sudah mendengar tentang perjodohan itu?”
“Iya. Dan aku kini ingin sekadar menyadarkanmu. Betapa nikmat dariNya hanyalah titipan. Dia bisa mengambilnya kapan pun Dia inginkan.”
“Tapi itu tidak mudah.”
“Sama halnya ketika aku lemparkan gelas itu kepadamu, Ega. Jika kamu menyimpan ia di tanganmu, ketika ia jatuh atau pun rusak sekali pun, kamu tak akan khawatir. Kamu tidak akan takut dengan apa pun yang kamu hadapi.”

Kepalaku tertunduk mendengarnya.
“Simpan ia di tanganmu. Jangan kamu simpan ia di hatimu.”
“Tapi bagaimana dengan cintamu, Ilham?”
“Apa engkau sanggup melihat aku bersanding dengan wanita yang engkau cintai? Dan apakah kita akan terus menjadi teman seperti sekarang ini jika aku menjadi pendamping hidup Zahrah pujaan hatimu.”
“Aku bukan anak kecil lagi Ga, aku tahu mana yang seharusnya aku lakukan, jika memang keputusanmu untuk menerima perjodohan ini, maka aku pun akan menerima ini sebagai takdir dari-Nya.”
“Dan jika aku menolak perjodohan ini, apa kamu masih akan memperjuangkan cintamu?”
“Kita lihat saja nanti, sekarang yang penting adalah kamu segera membuat keputusan, mohon petunjuk pada-Nya dalam setiap sujudmu, lakukan sholat Istikharah, dengan demikian kamu akan lebih yakin dalam memilih keputusan apa yang akan engkau buat, tidak perlu belarut-larut seperti ini, kamu hanya butuh keyakinan penuh pada dirimu sendiri.”
“Apa yang kini akan kamu lakukan?”
“Aku ingin melihat Zahrah bahagia. Seperti arti dari namanya Ega, Zahra itu bunga. Wanginya bisa dirasakan oleh semua orang. Namun hanya orang yang terpilihlah yang bisa memetik ia dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya.”

Ilham berlalu pergi meninggalkanku sendirian. Setelah mendengar apa yang di ucapkannya, aku sedikit lebih yakin dengan keputusan yang akan aku buat.

Dengan segenap keyakinan, akhirnya kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu. Aku ingin bermunajat meminta ketetapan hati dari Dia yang Maha Mencinta. Aku tahu Dialah yang sanggup mengeluarkanku dari segala sesuatu yang kuhadapi kini.
“Bismillah. Jika memang apa yang kini baik menurutku ternyata memang buruk di sisimu. Maka ambillah ia. Namun jika memang apa yang kini kuragukan adalah yang terbaik menurutmu. Maka tunjukkanlah kepadaku cinta yang memang benar-benar Engkau ridhai.”
Tanpa terasa air mata turun membanjiri kedua mataku.
“Aku mencintaiMu. Selalu berharap akan cintaMu. Tunjukanlah apa yang memang benar-benar baik untukku ya Allah.”

Tulisan Kolaborasi : Arian Sahidi dan Teguh Puja

Semua butuh proses

Perlahan namun pasti engkau akan bisa. engkau hanya perlu terus mencoba dan percaya.
Entah sudah berapa kali barisan-barisan kalimat yang tertulis di word ini aku hapus, sedari tadi aku mencoba menulis, namun yang ada hanya berhenti setelah beberapa kalimat tersusun rapi. Setiap kalimat yang tertulis berakhir dengan ditekannya “Backspace” yang ada di  keyboard laptopku.

Entah sudah berapa kali aku seperti ini, tiap kali ingin menulis , tiap kali aku mencoba untuk bercerita dengan rangkaian kata, tiap kali pula aku berhenti di kalimat-kalimat awal dan tidak pernah dilanjutkan, tulisan-tulisan pembuka itu hanya tersimpan rapi di folder-dolder yang kuberi nama “Tulisan Arian”, “Curhat”, “Belajar Nulis”.

Jarum jam di depanku sudah menunjukkan pukul 09.45 menjelang siang, padahal aku duduk di depan laptop dan mencoba untuk menulis sejak pukul 08.15. aku duduk di pojok perpustakaan sementara murid-murid sedang sibuk membaca buku, ada juga yang masih ujian praktek susulan. Sesekali kualihkan pandangan ke murid-murid berharap ada kalimat yang akan terangkai setelah memandang mereka.

Aku  pernah membaca  kiat-kiat menulis di salingsilang.com, mereka bilang kalo mau menulis itu terlebih dahulu pakai otak kanan, jangan pakai otak kiri. Ketika kita menggunakan otak kanan, maka tulislah secara spontan, tidak perlu mengedit terlebih dahulu, berhenti membaca tulisan yang sedang ditulis, teruslah menulis sampai selesai. Baru kemudian setelah selesai menulis, kita bisa menulis dengan menggunakan otak kiri, menulis dengan otak kiri adalah dimana kita memperhatikan kembali tulisan yang sudah kita tulis, susunan kalimat, tata bahasa, dan sebagainya.

Tidak ada yang langsung bagus dalam menulis, semuanya butuh proses. Jadi mulai hari ini Arian harus terus belajar agar bisa menulis. Tidak usah terburu-buru dan malu karena memang pada awal menulis belum tentu ada orang yang ingin membaca tulisan kita kan ?, menulislah karena memang dirimu ingin menulis, bukan karena ingin dipuji karena tulisanmu memberi inspirasi dan sebagainya. Akan tetapi menulislah karena memang engkau ingin bisa menulis.

Sekian kegalauanku menjelang siang ini.

Juna

IBU

Kereta api Bromo jurusan Purwokerto-Jakarta baru saja berlalu dari hadapanku, aku masih memandang ke arah Kereta Api dengan penuh perasaan sedih melepas kepergiaan putra semata wayangku. Juna, dia adalah lentera hidupku, dia yang selama ini selalu menguatkanku dikala aku sedang terpuruk, dia yang selama ini membantuku mengumpulkan kayu bakar untuk dijual ke tetangga, dia juga yang kalo pagi menjelang menjadi imam sholatku. Juna, dia adalah mutiara hati yang telah Allah berikan kepadaku, diumurku yang sudah memasuki kepala lima, aku bahagia hidup berdua dengannya setelah Reza suamiku pergi meninggalkan kami berdua.

Kereta api semakin jauh dan tak terlihat lagi dari pandangan mataku yang sudah mulai rabun ini, aku beranjak meninggalkan Stasiun  Purwokerto bertemankan dingin dan rintik-rintik hujan, aku mengenakan jaket usam peninggalan ayah Juna guna membuat badanku hangat.

“Junanya sudah berangkat Bu Yasmin?”

Terdengar seseorang menyebut namaku, aku menoleh ke arah suara itu dan kulihat Pak Irul sedang duduk di atas motor Supra miliknya. Dia yang tadi mengantar  Juna menuju Stasiun.

“Iya, Pak, Juna sudah berangkat Ke Jakarta, mohon do’anya ya pak, agar Juna bisa menggapai apa yang ia impikan sedari dulu bisa terwujud”
“Amin, mari saya antar Bu Yasmin pulang ke rumah”
“Terimakasih Pak, saya naik angkotan umum saja”
“Hati-hati di Jalan Buk”
“Iya, terimakasih Pak”.

Aku berlalu meninggalkan Pak Irul dan masuk ke dalam sebuah angkutan umum menuju Jatiwinangun.

JUNA
Kurang lebih 6 jam perjalanan dari Purwokerto menuju Jakarta, aku tertidur lelap selama di perjalanan. Sekarang aku sedang berdiri di Stasiun Gambir Jakarta, aku memang sudah pernah sekali mendatangi kota Jakarta yang katanya kota besar dan semua orang berbondong-bondong ke Jakarta. Aku datang ke Jakarta karena ingin belajar di salah satu Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an Jakarta, Pak Meko yang merupakan Guru Agama sewaktu aku masih  di SMA mengatakan bahwa ini adalah perguruan tinggi yang mendalami ilmu-ilmu Al Qur’an. Aku tertarik masuk ke Perguruan Tinggi ini setelah melihat bagaimana Pak Meko bisa menghapal Al Qur’an dengan baik dan beliau merupakan salah satu lulusan terbaik. Pak Meko banyak memberikanku pengetahun-pengetahuan keagamaan, dia yang mengajariku bagaimana cara membaca Al Qur’an, Sholat, dan dia juga yang sudah memberikan saya inspirasi untuk menghapal Kalam-Nya.

Tidak jauh dari tempat aku berdiri, ada seorang polisi yang terlihat sedang menjaga pintu keluar Stasiun. Aku mendekatinya dan bertanya :

“ Pak, maaf mengganggu, saya mau ke Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan, akan tetapi saya tidak tau naik angkutan umum yang mana ?”
“ Lebak Bulus?”
“Iya”
“Adik silahkan menyeberang, nanti akan ada Metro Mini nomor 20 jurusan Senen Lebak Bulus yang lewat sini”
“Terimakasih pak”

Aku segera menyeberangi jalanan yang penuh dengan kendaraan-kendaraan pribadi dan angkutan umum. Tidak lama berselang, Metro Mini berwarna merah dan bernomor 20 berhenti tidak jauh dari tempat aku berdiri, aku berlari ke arah metro mini tersebut dan duduk di bagian belakang. Seorang kernet terlihat sedang mengambil ongkos  setiap penumpang.

“Ongkosnya Mas”
‘Berapa Mas”
“Seperti biasa aja”
“Saya baru kali ini naik, jadi belum tahu berapa ongkosnya mas”
“2500 aja mas”
Aku mengeluarkan uang ribuan dua lembar dan lima ratusan.

Cuaca hari ini cukup terik, aku bermandikan keringat selama di dalam bis, sesekali orang yang disampingku mengeluh:

“Jakarta kapan nggak macet sih, dari zaman saya SD sampai saya punya anak yang sekolah SD tetep aja macet”

Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya, dalam hati aku berkata “ sudah tahu Jakarta itu kota besar yang terkenal dengan Macet dan Banjirnya, masih aja banyak  komentar”.
“Bulus, Bulus, Bulus, ayo habis, habis”
Aku melihat tulisan besar
“Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan”

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga di Lebak Bulus dan akan segera sampai di Asrama Mahasiswa, dari terminal Lebak Bulus, Kampusku ternyata sudah sangat dekat, aku bahkan bisa berjalan kaki dari Terminal menuju Asrama dan Kampus. Sesampainya di Asrama, aku langsung mendaftar di pihak pengelola Asrama dan memenuhi persayaratan administrasi. Setelah selesai mendaftar, aku baru diizinkan tinggal di kamar 310 yang ada di lantai 3.

Bersambung.....