December 29, 2012

Menyemai Rindu


Aku menatap lekat-lekat wajah adik-adikku, delapan orang laki-laki dan satu orang perempuan. Wajah-wajah itu adalah bagian dari kehidupanku saat ini. Kami sedang menunggu ibu yang sedang menyiapkan sesuatu untuk kami. Ahh ibu, apa lagi kejutan yang akan ia berikan kepada kami, anak-anaknya? Tak pernah berhenti ibu memberi kami kejutan-kejutan yang semakin membuat kami sangat menyayangi ibu. Ibu, dialah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membesarkanku dan sembilan adik-adikku. Ibu berjuang sendiri, membesarkan kami seorang diri, tanpa pernah mengeluh. Bagi ibu, mengeluh hanyalah milik orang-orang yang lemah.
“Kalian harus menjadi orang yang tangguh, harus siap dengan kondisi terburuk sekali pun dalam hidup. Kalian harus percaya, bahwa dalam setiap kesungguhan, selalu akan ada hasil.”
Begitulah pesan yang selalu kami dengar dari sosok ibu yang merupakan mentari hidup kami. Ayah sudah pergi meninggalkan kami sejak empat tahun yang lalu. Ibu sudah berjanji pada ayah, bahwa ibu tidak akan menangisi kepergian ayah. Ibu sudah berjanji pada ayah, bahwa ibu akan mendidik kami sebaik-baik mungkin. Dan ibu menepati janji yang telah diucapkannya pada mendiang ayah.
“Malam ini, ibu akan membicarakan tentang nasib kalian masing-masing. Kalian sudah besar, dan kalian sudah berhak untuk memutuskan kemana langkah kalian selanjutnya. Selagi itu baik, ibu akan mendukung kalian sepenuhnya.” Ibu memulai perbincangan malam ini. Kami semua mendengarkan dengan baik kata-kata yang keluar dari mulut ibu, kami sangat menghormati ibu.
“Untuk anak ibu yang laki-laki, kalian ibu persilahkan pergi merantau kemana pun kalian mau, akan tetapi khusus untuk anak ibu yang perempuan, Anita dan Rara, kalian berdua harus menemani ibu di rumah. Biarkan delapan pendekar yang selalu menjaga keluarga ini pergi memulai langkah mereka sendiri-sendiri.” Ibu menarik nafas panjang, kemudian menatap wajah kami satu persatu.
Aku adalah anak paling tua, Anita, itulah nama yang ibu berikan padaku, sedangkan Rara adalah adikku yang paling kecil, kami sepuluh bersaudara, hanya aku dan Rara yang perempuan, sedangkan yang lainnya adalah laki-laki; Alfian, Anggara, Ardi, Amran, Alfa, Adrian, Antonio, dan Amri.
Ibu pernah memberitahuku mengapa semua anak laki-lakinya diberi nama dengan awalan huruf A, biar mudah mengingatnya, ucap ibu. Namun menurutku justru dengan awalan huruf yang sama, aku sering salah dalam memanggil nama-nama mereka.
Delapan orang adik-adikku akhirnya sudah membuat keputusan masing-masing, tujuh orang di antara mereka sepakat akan pergi ke pulau Sumatera; Palembang, Riau, Aceh, Bengkulu, Medan, Padang, dan Lampung. Sedangkan Amri, ia berbeda sendiri dengan kakak-kakaknya, ia memilih untuk pergi ke pulau Kalimantan. Ibu sama sekali tidak melarang semua keinginan adik-adikku. Ibu sudah berjanji akan mendukung kami selagi tujuan itu baik. Sedangkan aku dan Rara, akan menemani ibu di pulau Jawa.
Hari ini, sanak saudara berkumpul di rumah, mereka akan melepas kepergian delapan orang adikku yang akan pergi merantau ke pulau seberang. Ibu sama sekali tidak menangisi kepergian anak-anaknya, ibu hanya memeluk satu persatu anak-anaknya yang akan pergi, kemudian mencium kening mereka masing-masing dan tak lupa memberi nasehat;
“Jangan lupa shalat, Nak.” Hanya itu pesan ibu.
Aku melepas kepergian adik-adikku dengan air mata, berharap Tuhan akan kembali mempertemukan kami di lain kesempatan. Rara berlari ke arahku, kemudian menangis.
“Kak, aku pasti akan merindukan mereka,” ujarnya sambil terisak.
Hari berganti hari, bulan berganti, dan tahun pun berganti. Sudah lama aku tidak mendapat kabar dari delapan orang adik-adikku, apa kabar mereka, Tuhan? Mengapa hingga lima tahun kepergian mereka, tidak ada satu surat pun yang sampai ke rumah, sebagai tanda bahwa mereka baik-baik adanya. Aku sudah menikah dengan laki-laki pilihan hatiku. Rara baru masuk kuliah dan sedang sibuk dengan berbagai macam tugas kuliah. Aku merawat ibu yang sudah semakin ringkih saja.
Setelah menanti sekian lama, satu persatu adik-adikku mengirimi kami surat, mereka semua baik-baik saja. Namun ada satu yang membuatku sedih, Amri, adik laki-lakiku yang paling kecil sama sekali tidak pernah memberi kabar. Dia merantau seorang diri di Kalimantan. Tuhan, beri Amri kekuatan menjalani hidup yang sudah Engkau takdirkan untuknya.
Tahun berganti, namun Amri tidak pernah memberi kabar tentang keberadaannya. Ibu sudah semakin ringkih, ibu selalu menyebut nama Amri, namun Amri tak kunjung datang. Aku dan adik-adikku sudah berusaha untuk mencari keberadaan Amri, namun tidak pernah membuahkan hasil. Hingga kini, kami tidak tahu dimana Amri, apakah dia masih hidup? Astaghfirullah, aku langsung menepis pemikiran tentang itu. Aku terus berdoa semoga Tuhan memberi keselamatan padanya.
Sepuluh tahun berlalu, kini ibu sudah tidak ada lagi di sampingku, ibu sudah kembali ke sisi Tuhan, dan kami masih belum tahu dimana Amri berada. Aku dan adik-adikku masih tetap yakin, bahwa Amri masih hidup. Meski adik-adikku sudah memiliki keluarga masing-masing di Sumatera, namun kami masih sering menjalin komunikasi, berbagi kabar, dan terus berusaha mencari Amri. Doa-doa terus kami panjatkan pada Allah swt,.
Dua puluh tahun berlalu, di hari raya idul fitri, semua adik-adikku kembali ke pulau jawa, kami sengaja mengatur untuk merayakan hari raya idul fitri bersama-sama. Dan tahun ini, hari raya idul fitri dirayakan di rumahku, tahun lalu di rumah Alfian di Aceh. Kami sudah terbiasa merayakan hari raya idul fitri meski tanpa kehadiran Amri. Di hari raya kali ini, kami memutuskan untuk berhenti mencari Amri. Sudah dua puluh tahun lamanya, dan Amri sama sekali tidak pernah memberi kabar. Kami juga tidak tahu dimana dia berada.
Tiga puluh tahun berlalu, aku sudah tidak lagi memikirkan keberadaan Amri, tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumah, aku berjalan tertatih menuju pintu, anak-anakku sedang pergi, hanya aku sendiri di rumah. Laki-laki dengan seragam layaknya tukang pos sudah berdiri di depan pintu, dia datang menghantarkan selembar surat. Ku amati baik-baik surat yang sekarang ada di tanganku, ku buka perlahan dan mulai ku baca isi surat itu,
“Maaf, saya hanya ingin tahu siapa pemilik alamat ini? Saya menemukan alamat ini di dalam sebuah tas yang sudah usang di dalam gudang. Nama saya Amri, saya tinggal di Kalimantan. Maaf bila kedatangan surat ini mengganggu, saya hanya ingin tahu siapa pemilik alamat ini, dan ada hubungan apa dengan saya?”
Aku menangis membaca surat yang sekarang ada di hadapanku, mungkinkah dia adalah Amri, adikku yang sudah tiga puluh tahun menghilang tanpa kabar? Hatiku berharap bahwa dia adalah Amri, adikku yang selama ini kurindukan.
Aku langsung menghubungi seluruh adik-adikku, memberitahu mereka tentang surat yang baru saja kubaca. Kami kemudian membuat sebuah kesepakatan, bahwa satu di antara kami harus pergi ke Kalimantan dan mencari tahu alamat pengirim yang tertulis di surat. Kami mengumpulkan uang secukupnya, dan memutuskan bahwa Alfa yang akan pergi ke Kalimantan untuk menemui Amri.
Perjalanan Alfa pun dimulai, ia pergi ke Kalimantan dan menemui Amri. Tidak begitu sulit menemukan alamat Amri, namun air mata akhirnya tumpah saat mendengar berbagai macam cerita dari orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Amri.
“Dulu, Amri adalah orang yang sangat sukses, namun di tengah perjalanan karirnya, dia menikah dengan seorang perempuan yang tidak diketahui asal-usulnya. Setelah menikah, Amri tiba-tiba hilang ingatan. Dia sama sekali tidak tahu siapa dirinya, dimana keluarga besarnya, dari mana dia berasal dan lain-lain. Ada yang mengatakan Amri terkena guna-guna. Beberapa tahun kemudian, bisnis yang dijalani Amri mengalami kerugian yang cukup besar, hingga membuatnya harus menjual semua aset yang ada. Amri jatuh miskin. Saat Amri jatuh miskin, istrinya memilih untuk pergi berkerja di luar negeri. Setelah beberapa tahun di luar Negeri, istrinya kembali dengan membawa kekayaan yang berlimpah. Amri semakin goyah, dia semakin tidak mengenal siapa dirinya, kemudian dianggap pembantu oleh istrinya sendiri.”
Begitulah cerita yang Alfa dengar dari tetangga yang ada di dekat rumah Amri. Alfa sudah bertekad, bahwa dia akan kembali dengan membawa Amri, bagaimana pun caranya. Setelah melalui berbagai macam proses, Alfa akhirnya bisa membawa kembali Amri, dan mereka berdua terbang kembali ke pulau Jawa.
Amri sudah kembali, Kami menyambut kedatangannya dengan bahagia. Perlu waktu baginya untuk kembali mengingat akan keluarga besarnya yang selama ini merindukannya. Amri sudah kembali, meski dengan sepotong ingatan yang tak lagi utuh. Dan kini, Amri berada di sampingku, menemani hari tuaku. Amri, akhirnya engkau kembali, adikku.

December 26, 2012

Bahasa Indonesia-ku, Apa kabarmu?




24 Desember 2012
Pagi ini saya pergi ke sekolah, setelah seminggu kemarin saya liburan ke Jogja dan Jakarta. Saat masuk gerbang sekolah, saya kaget melihat berbagai macam banner yang bertuliskan kata-kata motivasi berbahasa Inggris. Di bawah kalimat yang berbahasa Inggris tersebut tertulis artinya dengan bahasa Indonesia dengan ukuran lebih kecil. Entah kenapa, kok saya tidak rela melihat bahasa Indonesia berada di bawah kalimat berbahasa Inggris tersebut. Kesannya bahasa Indonesia menjadi nomor dua, sedangkan bahasa Inggris berada di posisi teratas. Kenapa tidak dibalik saja? Bahasa Indonesia di atas, baru kemudian bahasa Inggris di bagian bawah. Dengan demikian, menurut saya lebih adil.
“Bahasa Indonesia-ku, apa kabarmu?”
“Pernah nggak sih kita berpikir bahwa sebenarnya bahasa Indonesia sudah mulai tergeser keberadaannya oleh bahasa internasional yang bernama bahasa Inggris?”
 Kalo saya pernah dan bahkan merasa khawatir dengan keadaan bahasa pemersatu bangsa ini, ahh lo lebay deh, mungkin ada yang berkata gitu, tapi coba lihat deh lebih lanjut. Coba kalian pergi ke Mall, berasa kayak bukan di Indonesia, semua nama-nama toko, nama-nama jenis makanan yang dijual, dan lain-lain, hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris, terus dimana letak bahasa Indonesia? Masa bahasa Indonesia kalah keren dengan bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing.
“Emangnya nggak keren, ya, kalo nggak pake bahasa Inggris?”
Justru menurut saya itu keren, lagi. Karena kita merasa bangga dengan bahasa Indonesia, bahasa nasional kita. Tapi kenyataannya, bahasa Indonesia sedikit demi sedikit mulai kendur eksistensinya. Percaya atau tidak, lama kelamaan bahasa Indonesia akan hilang. Mungkin akan ada yang bilang kalo saya terlalu berlebihan menanggapinya, tapi, tidak menutup kemungkinan juga, kan, bahasa Indonesia tidak lagi menjadi bahasa nomor satu di negeri kita ini? Coba renungkan lagi.
Saudaraku setanah air, bukan berarti saya melarang kalian menggunakan bahasa asing, silahkan, tapi jangan lupakan bahasa kita, yaitu bahasa Indonesia. Negara kita merupakan Negara yang kaya akan bahasa, hampir setiap daerah memiliki bahasa tersendiri, bahasa Bengkulu dengan bahasa serawai-nya, pulau Jawa dengan bahasa jawa-nya, Medan dengan bahasa Medan-nya, dan lain-lain. Bukankah kita kaya akan bahasa? Akan tetapi yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah, tidak sedikit generasi penerus tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri.
Saya ambil satu contoh “Bahasa Jawa”, saya mengajar di Purwokerto, dimana seharusnya generasi muda bisa berbahasa Jawa, karena mereka terlahir di Jawa, tinggal di jawa dan penerus kebudayaan daerah Purwokerto. Saya mulai khawatir bahwa sepuluh tahun yang akan datang, bahasa Jawa di Purwokerto akan menjadi bahasa asing, karena generasi muda banyak yang tidak mengerti akan bahasa Jawa.
Saya ambil satu bukti, di sekolah tempat saya mengajar, bahasa Jawa menjadi pelajaran yang menakutkan. Mengapa saya bilang menakutkan? Anak-anak lebih memilih mengerjakan soal-soal berbahasa Inggris dibandingkan dengan soal-soal ujian bahasa Jawa. Bahkan bahasa Jawa memiliki nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan nilai bahasa Inggris.
Masih ada yang tidak percaya dengan apa yang saya tulis? Saya berikan satu bukti nyata lain, saya merupakan wali kelas, dari semua nilai yang masuk, nilai bahasa Jawa memiliki poin yang sangat rendah. Bisa dilihat dari nilai bahasa Jawa anak-anak, mulai dari yang paling pintar sekalipun, nilai bahasa Jawa-nya tidak ada yang memuaskan. Ini menunjukkan bahwa generasi penerus sudah mulai melupakan bahasa Jawa yang seharusnya menjadi bahasa yang dibanggakan. Jika terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan, kan, bahasa Jawa akan hilang dari bumi pertiwi kita Indonesia?
Itu satu contoh dari segi bahasa Jawa. Tapi kembali lagi ke judul di atas,
"Bahasa Indonesiaku, apa kabarmu?"
Kalo seandainya bahasa Indonesia bisa berkomentar, mungkin dia juga akan berkomentar bahwa dia sudah tidak lagi menjadi utama di negerinya sendiri. Bahasa Indonesia sudah mulai digeser oleh bahasa asing. Kalo bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia? Renungkanlah.
Ehm, saya hanya bisa koar-koar di lapak ini, berharap akan ada yang membaca tulisan saya ini, kemudian bersama-sama melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nomor wahid di negeri ini. Yuk berbicara bahasa Indonesia, yuk cintai bahasa Indonesia, yuk cintai tanah air kita ini meski apa pun yang terjadi. Dengan segala yang terjadi di negeri kita ini, kecintaan pada tanah air harus tetap ada. Aku Cinta Indonesia.

December 21, 2012

Catatan Hati Sang Guru


 Penulis : Arian Sahidi
 Penyunting : Ridwan K. Firmansyah
Tata Letak : Indie-Publishing.com
Cover : Eka Pinsi Dintha
ISBN : 978-602-7770-29-4
Harga : 32.500
Order via sms : 085773518074


Alhamdulillah, akhirnya buku saya yang ketiga ini bisa terbit juga, berikut beberapa testimoni dari pembaca buku CHSG;
"Sort of a very honest feeling" Setiap pendidik (guru) pasti memiliki rangkaian kisah kebanggaan, kebahagiaan, keharuan, kesedihan dan kekecewaan, serta rangkaian do'a dalam perjalanannya mengantarkan putra-putri didiknya menuju kebaikan dunia dan akhirat. Dan kejujuran Ustadz. Arian Sahidi dalam kisahnya yang lugas dan apik sewajarnya secara kesadaran hati dan pikiran mampu membangun semangat para pendidik untuk sanggup menggoreskan penanya sebagai wujud tulisan hatinya. Jazakallah atas kesempatan yang diberikan untuk berselancar memahami kisah dalam buku ini, semoga kemanfaatannya abadi selalu. Amin.”(Sri Sustantri Widiyowati, an English teacher)

“Catatan Hati Sang Guru adalah kisah-kisah perjalanan yang dikemas dalam cerita ringan dan mengalir, membuat saya tertarik untuk membaca lagi dan lagi hingga halaman terakhir. Banyak sedih, bahagia dan haru yang mewarnai perjalanan penulis. Saya jadi ingat guru-guru zaman sekolah. Betapa mulianya pengabdian seorang guru.”  (Petronela Putri, Blogger)

“Saya kagum dengan gaya penulisan dan isi buku “Catatan Hati Sang Guru”. Saya suka dengan bahasa yang digunakan, lugas dan mudah dimengerti. Baru kali ini saya mendapatkan buku yang mengulas tentang hubungan emosi pengajar dengan anak didiknya. Saya kagum dengan kepedulian penulis terhadap proses pembelajaran baik dikelas maupun diluar kelas. Saya bukanlah seorang guru, tapi menurut saya buku ini bisa merubah wajah pendidikan di sekolah-sekolah. Mudah-mudahan bisa menghasilkan siswa didik yang berkualitas.” (Satria Panca Lelana, Mahasiswa UNSOED)

“Sebagai seorang guru, saya tersentuh ketika membaca tulisan ini. Tulisan-tulisan yang menceritakan bagaimana perhatian seorang guru terhadap anak-anak didiknya. Tulisan dengan gaya ringan, tapi mampu membuat saya meneteskan air mata, tertawa. Semoga kelak, saya bisa menuliskan kisah-kisah murid saya juga.” (Swastikha, Guru TK)

“Saya selalu suka dengan tulisan Pak Guru, yang di blog, “Air Mata Cinta Hanisah” hingga “Catatan Hati Sang Guru” ini. Tulisan beliau ini selalu sarat makna namun tidak terkesan menggurui. Memasukkan unsur-unsur religi tapi tidak terlalu “rasis” merupakan caranya berdakwah dalam menulis. Buku “Catatan Hati Sang Guru” ini wajib di baca oleh orang tua murid dan juga para calon guru yang ingin mengabdi di dunia pendidikan. Tulus tanpa pamrih. Pak Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa di masa kini. Tetap semangat, Pak!” (Nurul Aria, Fisioterapis-Blogger)

“Kesan saya setelah membaca “Catatan Hati Sang Guru” itu kayak naik Roller Coaster! Seru! Gaya bahasa yang santai tapi mengena, tapi kadang juga puitis yang lugas manis, perpaduan yang sempurna! Lewat buku ini, saya benar-benar seperti ikut merasakan betapa indahnya kehidupan Guru dengan cuilan cerita-cerita manis dari para muridnya. Karena tidak dipungkiri bahwa murid-murid sudah menjadi salah satu bagian hidup terindah dari kehidupan Guru nya. Ah! must read!
(Imroatul Azizah, Mahasiswa, Freelance Photographer)

“Guru muda yang cerdas, sederhana dan dekat dengan anak-anak pendidiknya. Sosoknya patut diteladani oleh banyak pendidik, terutama orangtua.” (Reza Nufa, Penulis Novel Iqra’)

Sekian beberapa testimoni dari para pembaca CHSG, semoga buku ini memberikan manfaat kepada pembaca. selamat membaca. :)