January 02, 2012

non-violence education

 ...{Kediri} Ayah seorang siswa menghajar seorang Guru di depan kelas...
...{Pati} Seorang Ibu Guru menghukum murid-muridnya yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa...
...{Bengkalis} Seorang Guru SD menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat...
...{Yogyakarta} Karena tidak berbusana kartinian, seorang siswa SMU ditelanjangi di hadapan rekan-rekannya hingga tinggal mengenakan celana dalam...

Peristiwa-periwstiwa di atas menggambarkan betapa kekerasan sudah merajalela dalam dunia pendidikan. Pertanyaannya adalah, mengapa semua itu bisa terjadi ? Selama ini, pendidikan di tanah air terlalu menekankan pada aspek kognitif saja, dan kurang memperhatikan pada aspek afektif. Padahal aspek afektif mempunyai peran penting dalam dunia pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan mengintrodusir "budaya damai" (culture of peace) dalam pendidikan. Dan ini bisa dikembangkan dengan menerapkan pendidikan tanpa kekerasan (non-violence education) atau pendidikan damai (peace education).

Dari berbagai kasus kekerasan dalam dunia pendidikan menunjukkan bahwa kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik oleh pendidik, peserta didik, maupun masyarakat. Kualitas kekerasan pun bertingkat, dari kekerasan ringan yang bisa langsung diselesaikan di tempat, kekerasan ringan, hingga ke tindak kriminal. Apa pun itu bentuknya, mendidik dengan kekerasan tidaklah patut. Sudah selayaknya dunia pendidikan menjadi wahana inseminasi nilai-nilai moral, peradaban, dan ilmu pengetahuan.

Kekerasan tidak bisa dan tidak akan pernah bisa dihilangkan dengan kekerasan. Sebab, hal itu tidak hanya menimbulkan kekerasan baru dan susulan, bahkan juga berarti telah melegitimasi penggunaan kekerasan itu sendiri. Menghentikan kekerasan dengan jalan kekerasan hanya akan membuat lingkaran setan dimana bentuk kekerasan menjadi spiral violence tanpa ujung pangkal. Ibn Hazm berpendapat , bahwa cara yang paling baik dan efektif menghilangkan kejahatan, penyakit dan kekerasan, adalah melakukan perilaku yang berlawanan. Artinya, kejahatan dilawan dengan kebaikan, penyakit dilawan dengan obat, dan kekerasan dilawan dengan perdamaian.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan