February 27, 2012

Surat Cinta

Surat-surat itu masih tersimpan rapi di dalam lemari. Aku masih belum mau membaca isi surat-surat itu. Aku sendiri tidak tahu siapa pengirimnya. Kali pertama aku melihat surat itu berada di dalam absensi kelas yang aku ampu. Surat berwarna pink bermotif bunga-bunga indah itu tidak langsung kubuka. Kubiarkan saja. Mungkin ada yang salah letak, atau mungkin ada yang sengaja meletakkan surat itu ke dalam absensiku.

Beberapa hari kemudian, surat berwarna sama kembali terselip di dalam absensiku. Arghh .. siapakah gerangan yang mengirim surat-surat ini. Tidak ada nama pengirimnya dan aku masih belum mau membaca isi surat yang pertama dan yang kedua itu. Aku biarkan surat-surat itu di dalam lemari di atas tumpukan tugas-tugas sekolah.
*
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphoneku;

“Salam. Pak, malam ini sibuk nggak?”
From : 08528976xxxxx

Nomor itu tidak ada tersimpan di handphoneku, entah siapa pengirim pesan tersebut. Sepertinya dia sengaja mengirim pesan itu tanpa menuliskan nama. Aku tidak membalasnya. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan kembali masuk ke dalam handphoneku;

Kok sms saya nggak dibalas Pak”

Pesan singkat itu dari nomor yang sama dengan pesan sebelumnya. Aku tidak mempedulikan pesan singkat itu. Sudah menjadi kebiasaan, aku tidak pernah mau peduli dengan pesan singkat, maupun panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Aku kembali melanjutkan memeriksa lembar jawab siswa.

Tiba-tiba aku teringat dengan surat yang ada di dalam lemari. Aku berdiri dan segera mengambilnya. Kubuka surat yang pertama.

“Dear my teacher”

Rembulan malam ini bersinar terang seterang hatiku ketika memandangmu. Udara malam ini begitu sejuk, sesejuk hatiku ketika memandangmu. Ketika memandangmu, ada rasa yang tidak bisa kutepis. Ada rasa yang selalu memaksaku untuk selalu melihatmu. Sebuah rasa yang berbeda. Entahlah apa yang terjadi, sejak kedatanganmu di sekolah ini, aku merasa ada semangat baru. Ada sebuah keinginan untuk terus melihatmu. Ada kekhawatiran saat aku tahu dirimu tidak hadir di sekolah.

Aku adalah seseorang yang setiap hari memperhatikan segala tingkahmu. Mulai dari caramu berjalan, caramu tersenyum ketika menyapa murid-muridmu, dan caramu tertawa, sepertinya aku sudah hapal segala kebiasaan-kebiasaanmu selama di sekolah. Kerap kali dirimu tersenyum ketika membaca sebuah buku. Aku sering melihatmu membaca buku-buku yang ada di perpustakaan dan tersenyum. Iya, aku memperhatikanmu demikian detil.

Malam ini aku ingin mengajakmu untuk makan malam bersama. Aku tunggu dirimu di rumah makan yang ada di depan sekolah. Aku tidak akan berhenti menunggu hingga engkau datang menghampiriku.
Dari seorang murid yang mengagumimu

Aku tersenyum membaca surat yang pertama. Otakku mencoba untuk mengingat, mungkin aku pernah melihat seseorang yang sering memperhatikanku selama di sekolah. Ahh.. siapa anak ini?, mengapa dia memiliki rasa yang lebih dari sekedar seorang Guru dan Murid?.
Aku membuka surat yang kedua;

Dear my love

Hujan malam ini mengiringi air mataku, aku menangis karena dirimu telah membuatku menunggu begitu lama. Aku menunggumu sejak rembulan menyinari malam hingga mentari pagi bersinar. Iya, aku menunggumu demikian lama. Tapi dirimu tega. Membuatku menunggu sendirian di depan rumah makan itu. sia-sia rasanya semua yang kulakukan. Aku hanya ingin makan malam berdua denganmu. Layaknya pasangan-pasangan yang lain. Meski kita bukanlah pasangan kekasih, namun izinkan aku untuk melihat senyummu lebih dekat, dan membiarkan hati ini berbunga saat berada di dekat mu.

Air mata ini terus mengalir dan memaksaku untuk terus lelap dalam tidur. Hari  ini aku tidak datang ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. aku memilih untuk berada di rumah. Aku tidak sanggup jika mataku yang merah karena air mata ini beradu pandang dengan kedua matamu.
Surat ini kutitipkan kepada seseorang yang kupercaya akan menjaga rahasia.

Aku menantimu datang  menemuiku.
Dari seseorang yang hatinya telah engkau ambil.

Aku mulai merasa bersalah baru membuka dua surat itu. Mengapa tidak dari kemarin-kemarin aku membaca surat itu. Dengan demikian tentunya dia tidak akan menunggu dan sakit hati karena aku tidak datang menemuinya.
*
Hari ini, diam-diam aku memperhatikan suasana di sekelilingku. Mungkin aku akan menemukan seseorang yang sedang memperhatikanku. Akan tetapi, tidak ada siapa-siapa yang kucurigai. Semua bersikap seperti biasanya. Tidak ada yang aneh. Rasa ingin tahuku siapa gerangan yang mengirim surat-surat itu begitu besar. Aku tidak ingin membuatnya kecewa untuk yang kesekian kalinya. Bila hanya sekedar makan malam berdua tidak apa pikirku. Setelah makan malam aku akan memberikan dia pengertian bahwa hubungan yang terjalin hanya sebatas seorang guru dengan muridnya. Tidak lebih dari itu. aku berharap dia akan mengerti.

Bel berdering pertanda sekolah usai. Kembali kutemukan sebuah surat berwarna sama di atas mejaku. Aku langsung membacanya;

“Temui aku di alun-alun kota pukul 19.00 malam ini. Aku akan mengenakan baju berwarna putih, dan memakai jilbab warna putih.”

Ahhh Tuhan, benar kata Emak di kampung. Hati-hati jangan sampai membuat muridmu jatuh cinta padamu. Perlakukan mereka dengan perlakuan yang sama. Jangan sampai mereka salah rasa dan akan membuat mereka sakit. Diumurmu yang masih sangat muda untuk menjadi seorang guru, rasanya sangat besar kemungkinan muridmu akan jatuh cinta padamu. Dan sekarang sepertinya apa yang dikatakan Emak benar adanya. Ada seorang murid yang jatuh cinta padaku.

Cuaca cerah, aku menuju alun-alun memakai sepada ontel. Sesampainya di alun-alun, kuperhatikan orang-orang yang ada di alun-alun. Begitu banyak orang yang memadati alun-alun, rasanya cukup sulit untuk menemukannya. Aku sudah lelah terus mencari. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam telpon genggamku;

“Pak, aku duduk di depan layar”

Aku segera menuju bagian tengah alun-alun, dari belakang aku bisa melihat dengan jelas seorang wanita yang mengenakan baju berwarna putih dipadu padan dengan jilbab putih. Aku menghampirinya, memandanginya dan mencoba untuk mengenali siapa dia. Ah ternyata dia adalah muridku yang paling pendiam di sekolah.

Aku mengajaknya untuk pergi ke café yang ada di dekat alun-alun. Tidak baik seorang guru berada di tengah alun-alun, gelap-gelapan dengan murid sendiri. Kami duduk berhadapan, dia tersenyum menatapku. Ada sebuah kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.

“Jadi selama ini yang kirim surat dan sering sms itu Mbak Najmi?” Aku terbiasa memanggil murid putri dengan panggilan Mbak.

Najmi terus menatapku, dia cukup berbeda. Di sekolah dia anak yang pendiam dan pemalu. Sekarang dia begitu percaya diri duduk berhadapan denganku, menatapku dengan pandangan seperti itu. Dia tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya memandangiku sambil tersenyum. Sekarang sepertinya aku yang jadi kaku berhadapan dengan murid sendiri. Huh.. pikirku, mengapa aku jadi dag dig dug seperti ini. Aneh memang, duduk berduaan dengan murid sendiri.

*
“Farhan, bangun, udah telat ni”

Seseorang memanggil namaku, dan awwww….dia memukulku dengan buku tebal dan membuatku terbangun dari tidur lelap. Kulihat ke sekeliling, dan ternyata aku berada di kamar kos. Ahhh syukurlah ternyata  itu semua hanya mimpi.

“Kenapa lo senyum-senyum” Debi sahabatku mencoba untuk mencari tahu.
“ehm… gue barusan mimpi ada murid yang jatuh cinta ama gue” jawabku sambil mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.

“Hah , murid lo jatuh cinta ama lo?, untung cuma mimpi. Kalo beneran bisa bahaya”

Debi masih nyerocos sendirian, aku sudah tidak mempedulikan apa yang dia ucapkan.

Dan ternyata semua ini hanyalah mimpi belaka.

February 26, 2012

Sehelai Kain

Bermula dari komentar saya di photo salah satu teman saya di twitter. Pada saat itu dia share dua buah photo.

Photo yang pertama dia tidak menggunakan jilbab. Saya komentarnya gini :

“Saya kaget loh lihat photomu barusan”

Iya, saya kaget karena setahu saya dia selama ini mengenakan jilbab anggun dan cantik. Jadi wajar dong ya kalo saya kaget tiba-tiba dia share photo yang tidak  mengenakan jilbab. Berbeda kalo dari sebelumnya dia memang tidak berjilbab.

Dan yang tidak saya sangka adalah respon dia ;

“hahaha, lo baru tahu aja’’

Entah saya nggak tahu apa maksudnya. Apa mungkin hanya saya saja yang tidak tahu bahwa selama ini dia memang tidak konsisten dalam menggunakan ‘hijab’.  Yang jelas di sini saya menilai ketidak konsistenan dia menggunakan ‘hijab’.

Photo kedua, dia sedang dirangkul oleh pacarnya. Saya komentarnya Cuma gini ;

“Lah yang ini saya malah tambah kaget lagi

Iya, Cuma dua komentar itu yang saya berikan. Saya rasa sangat wajar sebagai seorang teman untuk sekedar berkomentar seperti itu. Toh saya ndak berkomentar yang isinya ceramah atau gimana gitu ya.

Dan kembali, saya tidak menyangka respon darinya ;

“Biasa aja kali, nggak usah lebay gitu. Itu sama pacar saya”

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan dia mau dirangkul ama siapa, saya kan hanya bilang kalo saya sedikit terkejut melihat photo-photo itu karena setahu saya dia selalu mengenakan hijab. Dia kuliah di kampus yang mempelajari al-Qur’an dan saya yakin dia tahu bagaimana pergaulan seorang muslimah.

Saya tidak bermaksud untuk menceramahi. Sebenarnya di sini yang ingin saya tekankan adalah, ketika kamu memutuskan untuk berhijab, maka di situ ada tanggung jawab atas ‘hijab’ yang kamu kenakan. Jangan sampai perlakukanmu tidak sesuai dengan ajaran yang terdapat di ‘hijab’ yang nantinya akan memberikan penilaian miring orang lain kepada dirimu “pake hijab tapi kok kelakuan tidak mencerminkan seorang muslimah’’.

Iya, jangan sampai “hijab” yang kamu gunakan hanya sebatas sehelai kain yang menutupi tubuhmu. Di sana ada pertanggung jawaban. 

Sekian cerita saya di pagi hari ini. Tidak ada maksud apa-apa dari tulisan ini. Melainkan untuk selalu mengingatkan kepada kebaikan. Semoga kita menjadi hamba yang selalu berusaha menjadi yang terbaik di hadapannya.

Kalo di depan atasan saja kita berusaha menjadi bawahan yang melakukan perintahnya dengan sebaik mungkin, maka sudah sepatutnya  kita melakukan yang terbaik di hadapan Dia yang segala Maha.

Selamat berakhir pecan kawan

February 25, 2012

Ibu, izinkan aku kembali

Ibu, sudah lama aku tidak melihat senyum terlukis indah di wajahmu. Senyum yang dulunya selalu menguatkan di saat aku sedang terpuruk, lemah, dan tak berdaya. Senyum yang dulunya mengantarkanku meraih cita-cita. Senyum yang dulu senantiasa menghiasi hari-hariku. Ibu, di manakah letak senyum itu?, mengapa engkau biarkan wajah sendu, tak bercahaya itu menatapku?, izinkan aku melihatmu tersenyum dan izinkan aku untuk kembali dalam pelukanmu. Izinkan aku merawatmu di usia senjamu. Dan jangan engkau biarkan air mata menetes dari kedua bola matamu. 


Aku sadar, semua itu adalah kesalahanku. Senyum itu hilang sejak aku memutuskan semua ini sendirian tanpa peduli dengan kehendakmu Ibu. Akan tetapi, aku juga tidak bisa terus hadir dalam anganmu, terus berkata iya akan semua keinginanmu. Ada jalan di mana aku dan Ibu tidak bisa terus satu jalan. Ada kalanya aku harus berbelok arah sementara Ibu ingin terus berjalan lurus. Aku manusia yang tidak luput dari kesalahan.

*
Kota ini terasa sepi, setelah sekian lama aku pergi meninggalkan Ibu bersama dengan kedua adikku. Sepi karena aku tidak bisa melihat senyum yang sudah kunanti sejak lama. Lama sudah aku tidak bertemu dengan Ibu. Sejak tiga tahun yanga lalu, aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang menjadi tempat kelahiranku, kota yang menjadi kenangan indah di masa kecilku. Kota yang menjadi tempatku merangkai satu persatu dari mimpi-mimpi yang aku, Bapak dan Ibu inginkan. 


Aku sudah berdiri di depan rumah Ibu bersama dengan Shaulla Istriku. Kami masih belum dikarunia oleh Tuhan malaikat kecil, sepertinya Tuhan belum yakin untuk menitipkan senyum indah malaikat-malaikat kecil itu di rumah kami. Tuhan masih membiarkan kami menikmati hidup berdua saja. Tidak apa, pikirku. Jika memang Ia menghendaki kami mempunyai keturunan, maka Ia akan memberikan itu kepada kami. Yang terpenting kami sudah berusaha, selanjutnya adalah berdoa dan tawakkal kepada yang memberi segalanya.

Tidak ada siapa-siapa yang menyambut kedatangan kami ke kota ini. Rumah Ibu tertutup rapat seolah-olah tidak menerima kedatanganku kembali. Adik-adikku yang sudah menyelesaikan sekolah menengah atas juga tidak kelihatan menyambut kedatangan kami berdua. Sudahlah, mungkin mereka sedang tidak ada di rumah, ucapku menghibur Istriku yang sedikit letih. 


Setelah mengucap salam, tidak ada jawaban terdengar dari dalam rumah. Rumah ini seakan-akan sudah lama tidak berpenghuni. Aku mencoba melihat ke bagian dalam rumah melalui kaca jendela, ada Ibu sedang tidur di kursi panjang terbuat dari bambu, beralaskan tikar, berbantalkan sebuah bantal usang. Aku memanggil Ibu, berharap dia akan terbangun dan membukakan pintu untuk kami berdua. Kasihan melihat bidadariku sudah mulai letih setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Setelah beberapa lama menunggu di teras depan rumah, aku melihat kedua adikku, Meko dan Didi membuka pintu pagar. Sepertinya mereka berdua baru pulang dari kebun. Mereka berdua mengais rizki dari hasil berkebun jagung. Dua bulan yang lalu, Meko mengirimkan surat dan memberitahukan tentang hasil kebun mereka berdua. Dengan hasil berkebun inilah mereka berdua membiayai Ibu yang sakit-sakitan. Meski aku rutin mengirimi mereka uang untuk berobat Ibu, namun uang yang kukirimkan tidaklah seberapa. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk Ibu.


“Mas, Akmal?, Mbak Shaulla?,” Meko terlihat terkejut melihat kehadiran kami berdua. Keduanya langsung menjabat tangan kami berdua. Air mata kerinduan menetes membasahi pipiku, Shaulla juga tidak bisa menahan air matanya, dia juga menangis karena haru bertemu adik ipar yang sudah lama ia rindukan.


‘Kalian apa kabar?” Shaulla menanyakan keadaan mereka berdua. 

Sambil membukakan pintu, Meko menjawab;

‘Alhamdulillah, Kami sehat-sehat saja Mbak. Tapi kasian dengan Ibu yang terus sakit-sakitan.’


Pintu terbuka, Ibu masih tidur sambil memeluk bantal guling berwarna abu-abu. Aku duduk di sampingnya, mengelus keningnya yang sudah keriput dimakan usia, mengelus rambutnya yang sudah tidak hitam lagi. Ibu terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arahku dan Shaulla yang duduk di sampingku. Tidak ada senyuman di wajahnya. Ibu langsung menjauhkan tanganku dari mukanya, mukanya juga langsung menunduk tidak ingin melihatku. Ia berdiri dan hendak pergi menuju dapur.


‘Ibu, Akmal sudah kembali ke sini, memenuhi keinginan Ibu yang dulu pernah aku abaikan, kami berdua datang untuk menjagamu Ibu.  Kami betul-betul merindukanmu Ibu.’ Ucapku pelan


Ibu berhenti, sambil berpegang ke sebuah tongkat yang membantunya untuk berdiri. Ibu sudah tidak kuat lagi untuk  berdiri. Ibu, begitu besarkah luka yang telah kubuat sehingga Ibu sudah tidak ingin melihatku lagi?, sudah tidak berkenan untuk menyunggingkan senyuman untukku?. Akmal tahu, semua adalah kesalahanku. Akan tetapi, Aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik, meski aku tahu Ibu tidak pernah menginginkanku kembali. Izinkan aku anakmu ini untuk menebus kesalahan masa lalu yang telah membuat Ibu jadi seperti ini. Beri aku kesempatan Ibu. Ibu terisak menangis. Kusentuh kedua kakinya dan memohon maaf darinya.


‘Ibu, izinkan aku kembali’
*
Beberapa tahun yang lalu, kami adalah keluarga bahagia. Meski aku tinggal di rantau, namun aku masih sering mengirim kabar ke kampung halaman. Akan tetapi kebersamaanku dengan Ibu dan Bapak menjadi hilang sejak kejadian itu. 


Dusta, iya. Karena aku sudah berani berdusta kepada keduanya, membuat mereka merasakan sakit yang begitu dalam. Sakit yang mungkin tidak bisa terobati oleh waktu. Kepergiaanku ke pulau seberang untuk menuntut ilmu, meraih mimpi yang aku harapkan. Bapak bekerja keras demi keberhasilanku, menanam jagung, dan menaman padi. Hasil jerih payahnya dikirimkan ke padaku agar aku bisa belajar dengan baik dan membuat mereka bangga. 


Akan tetapi, bukan kebanggaan yang mereka dapatkan. Melainkan hanya kepingan dusta yang kususun demikian indah sehingga mereka percaya bahwa aku benar-benar belajar, meraih mimpi dan membuat mereka bangga. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa. Tidak ada yang namanya kuliah, tidak yang namanya belajar. Waktuku hanya habis untuk berhura-hura. Semua jerih payah kedua orangtuaku tidak berhasil menjadikanku permata, indah, dan menawan. Hanya kegelapan yang mereka dapat.


Sejak saat itu, Bapak sakit-sakitan. Ibu merawat bapak hari demi hari dan aku tidak pernah berani pulang ke rumah karena dipenuhi rasa bersalah yang begitu besar. Setelah sekian lama berada di dalam kegelapan, Tuhan memberikanku seberkas cahaya melalui tangan Shaulla. Dia datang dan membimbingku menjadi lebih baik. Dia bersedia menikah denganku, dan membujukku untuk kembali dan meminta maaf kepada keduanya. Akan tetapi, keinginanku untuk pulang masih belum bisa membawaku kembali kepada Bapak dan Ibu. Sakit Ibu yang begitu dalam semakin bertambah setelah kepergian Bapak. Ibu tidak pernah tersenyum melihatku. Terakhir kali bertemu dengan Ibu, pada saat Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Ia kembali dengan sakit yang telah kubuat, dan sekarang Ibu pun masih memendam rasa sakit yang begitu dalam.


‘Pergi dari sini, lihat apa yang telah kamu perbuat Akmal. Sekarang apa kamu puas membuat Bapakmu sudah tidak bisa lagi bersama kita?, ia pergi karena sakit yang engkau torehkan dengan begitu kejam ke lubuk hatinya. Ibu tidak ingin melihatmu lagi.’ Kata-kata itu adalah ucapan terakhir Ibu.
*
Ibu, jika memang kedatanganku hanya membuatmu semakin sakit
Jika memang kedatanganku membuatmu menangis tanpa henti
Jika memang kedatanganku membuat luka lama itu kembali terbuka
Maka izinkan aku mencium kedua kakimu untuk terakhir kalinya


Izinkan aku memelukmu dan melihatmu tersenyum meski hanya sekali
Jangan buat aku menjadi gila karena rasa bersalah yang begitu besar
Sudah cukup kegilaan yang telah kuperbuat di masa lalu
Dan aku tidak ingin mengulanginya untuk yang kesekian kalinya.

February 22, 2012

Butir-Butir Cinta

‘Jangan engkau tanya mengapa aku seperti ini, karena memang aku baru kenal dengan yang namanya cinta. Jangan juga engkau tanya seberapa besar cintaku padamu, karena aku sendiri tidak tahu berapa besar cintaku kepadamu. Dan jangan engkau tanya ke mana cinta ini akan kubawa, karena engkau sendiri sudah tahu jawaban apa yang akan engkau dapat. Aku akan membawa cinta ini ke jenjang pernikahan. Yang perlu engkau lakukan adalah menunggu waktunya tiba. Akan tetapi, jangan engkau cemburu, karena cintaku kepadamu tidak melebihi cintaku kepada yang Maha Cinta.’

Aku masih ingat kalimat-kalimat itu mengalir jelas, pelan dan menenangkan hatiku saat itu. Saat di mana engkau mengutarakan cintamu kepadaku. Saat di mana engkau mengukir janji untuk melamarku jika memang Tuhan sudah mengizinkan kita untuk bersama.

‘Aku bukan penganut pacaran, jika memang aku sudah menyukai seseorang, maka aku akan langsung melakukan ta’aruf, dan jika memang kita berdua berniat untuk membangun cinta, maka aku akan menikahimu.’ Katamu di depan orang tuaku. 

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, dan berharap engkau akan segera melamarku setelah melakukan proses ta’aruf seperti yang diajarkan oleh agama Islam. Aku pernah mendengar penjelasan seorang Ustadz di masjid dekat rumah tentang ta’aruf.

“Di dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Ketika seorang laki-laki ingin mengenal seorang perempuan lebih jauh dan berniat menjadikan dia pasangan, maka di sana ada sebuah proses pendekatan yang dinamakan ta’aruf. Setelah ta’aruf dan dirasa ada keinginan yang besar dalam membangun hubungan yang diridhoi’ oleh Allah, maka langkah selanjutnya adalah melamarnya. Kemudian membina rumah tangga.”

“Pacaran dan ta’aruf sungguh jauh berbeda. Ta’aruf dilakukan pada saat kita sudah siap untuk membina rumah tangga. Jadi hubungan yang dijalin adalah untuk mengenal calon pasangan. Sedangkan pacaran, terlalu berbelit-belit, menjalin hubungan sejak umur masih remaja, atau bahkan masih anak-anak dan tidak tahu kapan  akan menikah. Putus dengan yang satu tentunya mencari lagi pasangan yang lain. Jadi, janganlah  risau mendengar perkataan mereka tentangmu yang tidak ingin berpacaran, karena sesungguhnya kesendirianmu bukan karena tidak ada yang memilih, akan tetapi engkau yang memilih untuk sendiri, hingga akhirnya engkau akan bertemu dengan seseorang yang siap menjadikanmu bagian dalam hidupnya. Seseorang yang mencintaimu karena-Nya. Tersenyumlah.”
*
Aku masih terbaring lemah di rumah sakit ini, namun aku masih bisa mengingat janji yang engkau ucapkan untuk melamarku. Entahlah, aku sendiri tidak yakin dengan keadaanku seperti ini, apakah engkau akan tetap melamarku dan menjadikanku ratu dalam kerajaan cinta yang akan engkau bina. Apakah engkau tetap akan menjadikanku bagian dalam bahtera cintamu. Aku terdiam, dan menerawang jawaban apa yang akan aku dengar.

Hari ini engkau berjanji akan mengunjungiku, engkau berjanji akan datang bersama dengan orang tuamu. Akan tetapi, engkau belum tahu bagaimana keadaanku setelah aku mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Aku mengalami lumpuh total, aku hanya bisa berbaring di ranjang ini, dan kadang-kadang aku duduk di sebuah kursi roda dengan bantuan Bapak. Hanya bagian kepala yang bisa kugerakkan, sementara anggota tubuhku yang lain sudah tidak mampu untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Kakiku sudah tidak mampu menopangku saat berdiri. Kedua tanganku sudah tidak sanggup membiarkanku meraih sesuatu. Meski keadaanku seperti ini, aku tetap bersyukur karena aku mempunyai Bapak yang begitu mencintaiku, dia merawatku dengan baik dan selalu memberiku semangat untuk tetap menjaga harapan itu agar tetap hidup. Karena dalam kondisi apapun, hidup dengan harapan akan lebih indah dibandingkan dengan hidup tanpa harapan.

Seseorang mengetuk pintu kamar dan mengucap salam.
‘Assalamu’alaikum’
‘Wa’alaikumussalam.’Jawabku pelan dan meminta Bapak untuk membukakan pintu.

Pintu terbuka, kulihat wajah itu, wajah yang kunanti-nanti, senyum yang sudah kuhapal dengan baik. Sinar matanya yang terang, dan wajahnya yang bercahaya. Dia lah pria yang berniat melamarku. Dia adalah Deki. Pria sederhana yang mempunyai hati berjuta cinta. Dia mampu meluluhkan hatiku sejak kedatangannya pertama kali ke rumahku. Dengan keteguhannya dalam memegang ajaran Islam, rasanya dia adalah seorang pria yang selama ini aku nanti, yang akan menjadi imam dalam keluargaku kelak, dan yang akan menjadi Ayah dari anak-anakku nanti.

‘Bagaimana keadaan Najwa, Bapak.’ Deki bertanya kepada Bapak kemudian memandangku sejenak.
‘Kondisi Najwa terus membaik, kita berdo’a saja agar dia bisa pulih kembali.’
‘Amin.’

Umminya duduk di samping ranjangku. Ummi mengelus keningku dengan penuh kasih sayang. Sementara Abinya duduk bersama dengan Bapak. Mereka sedang bicara serius sambil sesekali melihat ke arahku.

Beberapa saat kemudian, Bapak, Abi Deki, dan Deki mendekatiku. Bapak membantuku untuk duduk. Jantungku berdetak lebih kencang, ada kegelisahan di dalam diri. Deki tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil tersenyum. Dia mulai bicara setelah Abinya memintanya untuk mulai mengatakan sesuatu.

‘Najwa, bukan karena janjiku kepadamu aku datang ke sini, bukan pula karena aku merasa kasihan dengan keadaanmu. Aku datang atas dasar keinginan yang datang dari dalam diri, berharap ini adalah jalan yang sudah Ia tentukan untuk kita berdua. Dan aku yakin jika kita bisa melewati cobaan ini, kita akan meraih kebahagiaan seperti yang kita inginkan.’ Deki tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya.

Maukah engkau menjadi istriku?.’

Dunia seakan bersinar lebih cerah, ada ketenangan mendengar pertanyaan itu, sebuah senyum terukir di bibirku. Aku memandangi Bapak, Bapak tersenyum memandangku dan menundukkan kepala tanda sebuah persetujuan. Aku melihat ke arah Deki yang sedang menundukkan pandangan, dan menunggu jawabanku.

Aku bersedia menikah denganmu, Mas’.
*
Tenda berwarna kuning sudah menghiasi halaman depan rumahku. Janur kuning juga sudah melambai anggun di pintu gerbang. Besok adalah hari pernikahanku. Akan tetapi,  aku sepertinya belum yakin dengan keputusan yang telah kubuat. Ada butir-butir keraguan yang menyesakkan dada. Bukan Deki masalahnya, akan tetapi aku yang merasa tidak pantas berdampingan dengannya. Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari sekedar wanita cacat seperti diriku. Aku tidak ingin merusak ukiran senyum yang selalu menghiasi wajahnya, aku tidak ingin nanti dia menyesal setelah resmi menjadi seseorang yang kupanggil ‘suami’.

Bapak sebagai orang tua tunggal, masuk ke dalam kamar pengantin. Dia mengusap punggungku. Sepertinya dia mengerti apa yang ada dalam pikiranku saat ini.

‘Nduk, wajar jika engkau merasakan gejolak yang begitu kuat dalam diri. Tapi, percayalah ini adalah jalan yang sudah Ia pilihkan untukmu.’

‘Tapi, Pak, menjelang hari pernikahan ini, Najwa terus merasa bahwa Mas Deki pantas mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dari Najwa. Nantinya, Najwa hanya akan membuat Mas Deki sibuk merawat Najwa.’ Bapak hanya diam.

‘Semua keputusan ada di tanganmu Nduk, Bapak tidak bisa memaksamu untuk tetap melanjutkan pernikahan ini.’
 
Aku meminta Bapak mengambilkan handphone yang ada di atas meja rias pengantin dan memintanya untuk menghubungi Mas Deki. Bapak mendekatkan handphone ke telingaku karna aku tidak bisa memegangnya. Setelah mengucap salam, air mataku langsung berjatuhan mengiringi rasa yang gundah akan cinta. Namun aku sudah yakin dengan keputusan yang akan aku ambil.

‘Mas, aku tidak bisa menjadi Istrimu.’ Ucapku pelan sambil terisak.

Tidak ada jawaban dari ujung sana, hanya terdengar suara serak Mas deki. Sepertinya dia sedang menangis dan berusaha untuk merangkai kata demi kata agar aku tetap melanjutkan rencana pernikahan ini. 

‘Tapi, Najwa…..Mas Deki belum menyelesaikan kalimatnya, aku sudah meminta Bapak mengakhiri telpon.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, langit tiba-tiba menangis membasahi tenda yang sudah berdiri kokoh di depan rumah. Dunia seakan menyesalkan keputusanku. 

‘Maafkan aku Mas Deki.’

February 21, 2012

Pelarian

Aku berdiri di tepian jalan, mengenakan gaun berwarna merah, dengan rambut yang tergerai panjang. Sesekali aku masih melihat ke selembar kertas yang ada di tanganku, kertas yang tempo hari aku temukan terselip di bawah pintu rumahku. Surat itu aku temukan dengan beberapa benda yang mengejutkanku. Liontin berbentuk hati, sepatu hak tinggi berwarna merah, dan gaun yang juga berwarna merah yang kukenakan sekarang ini.

"Merry, tunggu aku di tepian jalan depan rumahmu. Dari penggemar rahasiamu, Mr. G" pesan di akhir kalimat dalam surat yang aku temukan itu.

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sore sudah tenggelam. Sebentar lagi malam datang dan biasanya jalanan ini selalu sepi setiap malamnya. Hatiku mulai gelisah, benarkah Mr. G si pengirim pesan misterius itu akan datang? Atau sebaiknya aku pulang saja dan menunggu pesan selanjutnya? Toh kalau ia memang ingin bertemu, ia akan mengirimkan pesan lagi untuk menemuiku.

Jangan, tunggu saja sebentar lagi. Pikiranku memberontak untuk tidak pulang ke rumah. Akhirnya aku memutuskan menyetel lagu dari IPod putihku demi membunuh waktu.

"Merry, kamu percaya kan kalau aku bilang kamu satu-satunya yang membuat aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya?" ucapmu pada malam itu. Aku diam saja. Entah apa maksud pertanyaanmu, karena sama sekali aku tidak meragukanmu.

Semenit kemudian, ku sentuh jidat Niko. "Kamu ngga sakit, ada apa dengan kamu, Nik? Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu?"

*
Niko kemudian memegang tanganku.

"Justru aku bakalan sakit kalau kamu nggak menanggapi perasaanku ini sama sekali." Aku terdiam, entah untuk berapa lama. Malam yang kurasa cukup panjang dan melelahkan untuk membahas masalah perasaan.
"Cinta butuh waktu, Niko," aku menatap matanya lekat-lekat.
"Kamu yakin yang kamu rasakan ini cinta? Bukan sekedar suka? Itu dua hal yang berbeda, Niko."

Di dalam satu ruangan, hanya aku berdua dengan Niko, seperti sedang berperang dengan pertanyaan dan disertai jawabannya masing-masing. Sejenak aku terdiam, menghela napas untuk memulihkan rasaku, karena kadang aku merasa lelah dengan perilaku Niko yang sering mempertanyakan tentang sebuah rasa.

Aku mendengar suara ketukan pintu, sejenak aku meninggalkan Niko sendiri. Mungkin dia juga butuh waktu untuk merangkai pertanyaan selanjutnya. Kubuka perlahan pintu itu, seperti seorang yang sedang mengintip, aku melihat keluar rumah. Ternyata hanya seorang pengantar pizza. Tapi siapa yang memesan pizza?

"Pizza? Siapa yang pesan?" tanyaku. Aku melihat nama kurir pengantar pizza itu.
"Galih Prahmana" aku membacanya pelan.
“Di sini nggak ada yang mesen pizza, Mas.” Keningku berkerut. Kurir bernama Galih itu tersenyum, “wah, saya nggak tahu, Mbak. Saya cuma diperintahkan mengantar pizza ke alamat ini.”

Tadinya aku akan bertanya pada Niko, siapa tahu sebelum kami ngobrol ia sempat menelpon pizza delivery, tapi mengingat obrolan kami barusan, aku mengurungkan niatku. Akhirnya aku menerima pizza ukuran medium itu, lalu membayar sejumlah uang yang tercantum di struknya; walaupun dengan perasaan heran. Ada pemesanan delivery yang bisa sampai sendiri ke alamat tertentu bahkan tanpa dipesan? Aneh.

Aku melangkah kembali ke ruang tengah, lalu meletakkan pizza itu di atas meja tanpa berniat menyentuhnya sedikit pun. Selera makanku sedang lenyap. Niko menoleh, “siapa yang pesen pizza?”
Aku hanya mengangkat bahu, “entah, kayaknya delivery nyasar. Tapi kurirnya kekeuh kalau alamatnya memang di sini. Jadi aku bayar aja.”
*
Ini jelas sudah malam. Aku merasa ini ada yang tidak benar, kenapa dia tega membuatku menunggu lama? Ocehku dalam hati.
Aku memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba telah meluncur sebuah mobil sedan hitam dan berhenti tepat di depanku. Jalanan sepi. Aku sedikit panik, kulangkahkan kakiku dengan cepat menjauhi lokasi itu. Tapi ada dua orang berbadan besar yang mengikutiku dari belakang.

Aku berlari, dua orang itu benar-benar menyeramkan. Baru beberapa langkah aku terjerembab, highheels yang kukenakan sekarang penyebabnya. Aku meringis kesakitan.

Segera saja kulemparkan kedua highheels yang menghambat pelarianku itu. Aku berlari masuk ke dalam taman, pepohonan disana menambah suram suasana, ditambah dua orang tadi masih saja membuntutiku dengan gigih. Langkahku semakin melemah, ditambah banyak sekali kerikil tajam yang dengan relanya mencabik - cabik telapak kakiku.

Bayang - bayang mereka semakin mendekat, dan bisa kurasakan hembusan nafas mereka yang memburu di tengah dinginnya malam.

Kini aku bagaikan seekor kelinci yang masuk ke dalam sarang serigala. Kenapa bisa sebodoh itu aku mengamini ajakan seseorang yang belum tentu aku ketahui secara jelas rupanya?

Kakiku beradu dengan ranting pohon sebesar lengan orang dewasa. Aku terjatuh, aku tidak bisa melihat dengan jelas, hanya baying-bayang yang bisa kulihat. Dan beberapa detik kemudian Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi kemudian, aku pingsan.
*
Rasanya aku baru saja hanyut dalam mimpi dan tidur yang panjang. Perlahan kubuka kedua mataku. Aku berada di sebuah ruangan yang berwarna putih, terbaring lemah di atas sebuah ranjang yang juga berwarna putih. Sepertinya aku sedang berada di sebuah rumah sakit. Di bagian pojok ruangan, ada sebuah kursi, seorang pria berambut pendek bak seorang tentara sedang tertidur. Aku bisa mendengar dengkuran tidurnya. Sepertinya dia baru saja tidur. Di keningnya ada perban putih yang ternoda oleh warna merah darah, di tangannya juga ada luka karena goresan sesuatu. Aku masih memandangi pria itu dan mencoba untuk mengingat siapa dia?

Beberapa menit kemudian, aku mulai ingat siapa gerangan pria itu. Dia adalah pria yang pernah mengantarkan pizza ke rumahku beberapa waktu lalu, aku tidak bisa mengingat siapa namanya. Aku masih belum bisa berdiri untuk menghampiri dan membangunkannya. Kubiarkan dia terlelap dalam tidurnya. Tanganku mencoba untuk meraih segelas air putih yang berada di sebuah meja di samping tempatku berbaring. Akan tetapi, aku malah menjatuhkan air putih tersebut dan membuat dia terbangun dari mimpinya.

Hey, kamu sudah bangun?”.

Pria itu menghampiriku dan tersenyum. Aku mencoba untuk tersenyum, meski aku sendiri masih mempunyai beberapa pertanyaan yang masih belum bisa kujawab. Benarkah dia yang membawaku ke rumah sakit ini?. Dia kah Mr. G yang menuliskan pesan singkat waktu itu?. Dia kembali tersenyum dan sepertinya dia mengerti akan kebingunganku. Dia duduk di samping ranjangku dan mengulurkan tangannya.

Saya Galih alias Mr. G. Kamu pasti bingung bagaimana aku bisa berada di sini?”
“Iya, aku masih bingung” jawabku pelan.
“Nanti saja saya ceritakan. Sekarang yang terpenting adalah kamu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”

*
"Saya tadi melihatmu sedang dikejar-kejar dua orang pria." Mr.G mengawali ceritanya. "Kebetulan aku juga sedang disana."
"Terima kasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku bila kamu tidak ada di daerah situ," ujarku tersenyum lega.
"Maafkan aku, kamu jadi terluka karena menyelamatkanku. Sekarang dua orang itu kemana? Kantor polisi? Atau.." aku tak berani melanjutkan kalimatku.
"Di kantor polisi. Saya sempat berkelahi dengan mereka, tapi mereka juga membuat saya terluka, mungkin karena gelap,  jadi saya tidak bisa banyak melihat senjata mereka, tapi kata dokter, saya terkena pisau. Tak apalah, yang penting engkau selamat," senyumnya mengembang.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Melamun. Pikiranku melayang, tentang kemarin, hari ini dan kenapa harus Mr. G yang ada ditempat itu. Kenapa bukan  Niko?
Niko!!! Kemana dia? Apakah dia tahu aku di rumah sakit? Apakah dia yang ternyata mengejarku semalam? Aku mencari-cari ponselku.
"Kamu sedang mencari  ini?" Mr. G menunjukkan ponselku, lalu memberikannya padaku.
Kulihat tidak ada pesan singkat atau telepon masuk dari Niko pagi ini. Kemana dia?
"Kenapa engkau disini Mr. G? Atau harus aku panggil Galih?" Selidikku.
"Yah, karena aku peduli kepadamu..."
"Peduli??" Aku tak mengerti apa yang dia maksud.
Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Ah, pesan dari Niko. Kubuka perlahan, entah mengapa, aku begitu  menunggunya hari ini.
"Merry, ini Mita, adik Niko. Semalam Niko dibunuh. Sekarang aku sedang dikantor polisi. Kamu dimana? Tolong, temani aku."
Aku terperangah. Shock, terkejut, takut. Pikiranku campur aduk.
"Kenapa Merry? Kenapa wajahmu pucat? Apa yang salah?" Mr.G mencecarku dengan seribu pertanyaan yang tidak dapat kujawab.
Aku menelepon Mita, "aku akan segera kesana."
"Kutunggu. Tadi pagi, aku menemukan jasad Niko berlumuran darah. Jam tangan kulit yang dia banggakan itu dicuri, tapi barang lain tidak ada yang hilang," kata Mita sesegukan.
Mataku sedang memandang Mr. G yang sedang meniup luka gores ditangannya yang memakai jam tangan yang sangat aku kenal. Jam tangan Niko.
--
Cerpen (gaje) hasil kolaborasi saya dengan Yomi Hanna, I.L Putra, Petronela PutriRamadhan Kurniadi, dan Anie Oktarini.

February 16, 2012

Laila

Fauzan dan Zakiyah, adalah pasangan suami istri yang sedang merayakan cinta. Zakiyah, sedang mengandung anak pertama mereka. Setelah hampir tujuh tahun lamanya menanti kehadiran si buah hati, akhirnya Allah mengabulkan keinginan keduanya. Keduanya Ingin menyempurnakan keluarga kecil mereka dengan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu. Sudah terbayang di dalam benak perempuan berumur tiga puluh tahun tersebut akan kabahagiaan yang akan ia dapatkan saat si buah hati lahir ke dunia ini. Terbayang bagaimana dia menyusui malaikat kecilnya, terbayang bagaimana ia dan Fauzan suaminya mengurus segala keperluan permata hati mereka.

“Umi pengennya anak kita ini laki-laki atau perempuan?”, Fauzan mengusap perut istrinya kemudian mendekatkan telinganya ke perut sang istri.
“Apapun jenis kelaminnya Umi akan menerima dengan senyuman, karena semua itu adalah karunia dari-Nya, iya kan Abi?” Zakiyah berucap sambil tersenyum melihat suaminya yang seolah-olah sedang mendengarkan bayi yang ada di dalam perutnya.

Kandungan Zakiyah sudah memasuki bulan ke delapan. Minggu lalu, waktu mereka melakukan periksa rutin ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa satu bulan setengah lagi Insyaallah malaikat kecil mereka akan lahir dan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Fauzan dan Zakiyah tersenyum mendengar penjelasan dokter. Dan berdo’a semoga calon buah hati mereka lahir dengan selamat. Pun demikian dengan sang Ibu yang melahirkan.

Satu Bulan Kemudian

Tepat pada hari Jum’at, sore hari, pukul lima lebih 35 menit, seorang putri cantik terlahir ke dunia. Fauzan membisikkan adzan dan iqamat di telinga putri pertamanya. Berharap dengan mendengar kalimat-kalimat yang baik untuk pertama kalinya, ia akan tumbuh menjadi seorang anak yang sholihah, yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Sanak saudara berkunjung ke rumah Fauzan, mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati mereka.

“Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan saya cucu”. Ucap Pak Aripin sambil menimang cucunya. Ia tidak berhenti menatap ke cucu tercinta. Disentuhnya pipi mungil cucu pertamanya, dan terucap sebuah do’a.

‘Ya Allah, jadikanlah ia anak yang Sholihah”
“Anak yang akan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya”

Air mata menetes dari kedua mata Pak Aripin sebagai wujud kebahagiaan dan rasa syukur atas karunia yang Allah berikan. Di usia senjanya, dia baru merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang cucu. Zakiyah adalah anak satu-satunya. 
“Abah kok nangis?”, Zakiyah menghapus air mata Abahnya dengan selembar tissue.
“Abah  tidak bisa menahan air mata ini agar tetap berada di tempatnya. Ia ingin mengalir dan ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Abah rasakan”.

7 Tahun kemudian

Hari-hari keluarga kecil Fauzan dan Zakiyah begitu bahagia, mereka memberi nama malaikat kecil mereka dengan nama “Laila”. Laila tumbuh menjadi anak yang cerdas, dan sholihah. Diumurnya yang baru menginjak tujuh tahun, Laila sudah pandai mengaji, dia juga sudah rajin melaksanakan shalat lima waktu.

Di sekolah, dia termasuk anak yang membanggakan, dan terkenal mudah senyum. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Kata Ustadz, “senyum itu adalah shadaqah”, ucap Laila pada saat ditanya Umi mengapa Laila selalu senyum meski kadang sedang sakit panas, lapar, ia selalu berusaha untuk tersenyum.

‘Umi, satu minggu lagi Laila akan mengikuti ujian hapalan “Juz ‘Amma”
‘Laila sudah siap untuk ujian?’, Uminya mencoba untuk memastikan kesiapan puterinya.
‘Insyaallah Umi. Laila siap. Doain Laila yang Umi’.
‘Iya, Umi akan selalu mendo’kan anak Umi. Biar anak Umi bisa lulus ujian ‘Juz ‘Amma’.

Setiap selesai shalat, Laila mengulang hapalannya dari surat an-Nas sampai surat an-Naba. Suara indahnya menjadikan rumah mereka begitu tenang. Hiasilah rumah kita dengan lantunan ayat-ayatNya. Jangan biarkan rumah kita hening dari membaca al-Qur’an, begitulah yang dijelaskan oleh Guru al-Qur’annya di sekolah.

Dipertengahan malam, keluarga kecil itu bangun dan melakukan shalat tahajud bersama. Fauzan menjadi imam dari bidadari-bidadari dalam istananya. Ia ingin agar keluarganya menjadi sebuah keluarga yang diridho-nya. Laila, meski masih belia, namun dia sudah sering bangun malam bersama Abi dan Uminya. Ikut bersama bermunajat kepada Allah. Seperti malam ini, selepas shalat tahajud berjama’ah dengan Abinya, ia membuka mushaf al-Qur’an yang sudah mulai usang karena selalu dibaca. Sebelum tidur, dia sudah “muroja’ah” (mengulang hapalan) dari surat an-Naba sampai surat al-Infithor. Sekarang dia ingin melanjutkan mengulang hapalan sampai surat an-Nas. Fauzan menyimak hapalan putrinya dengan senyum bangga mempunyai seorang anak yang berkeinginan besar menghapal Kalam Allah. Zakiyah, menitikkan air mata mendengar lantunan ayat-ayat yang keluar dari kedua bibir Laila. Ujian hapalan “Juz ‘Amma” akan dilakukan besok pagi di sekolah. Laila begitu giat mengulang hapalan dan mempersiapkan diri agar bisa lulus ujian tahfidz dan mendapatkan sertifikat lulus hapalan juz 30 dari sekolah. Dan tentunya ingin meraih ridho Allah.

Bagaimana nak, sudah siap ujiannya?’, Umi Zakiyah mencium kening putrinya sebelum berangkat ke sekolah.
“Insyaallah sudah Umi”.
“Kalo begitu sekarang Laila diantar sama Mang Ujang dulu ya ke sekolahnya. Nanti pukul sembilan Umi menyusul ke sekolah. Sekarang Umi harus beres-beres rumah terlebih dulu. Nanti Abi juga akan nyusul ke sekolah, tapi Abi harus ke kantor dulu. Abi dan Umi Insyaallah akan tepat waktu dan melihat anak Umi ujian tahfidznya. Nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa Umi”. Laila mencium tangan kedua orang tuanya sedikit lama. Berbeda dari hari-hari biasanya. Ada air mata yang keluar dari bola matanya, entah mengapa Laila menangis seolah-olah akan pergi jauh dan tidak kembali.

Mang Ujang sudah berada di depan gerbang, dan siap mengantar Laila sampai ke sekolah. Laila kembali menoleh ke arah kedua orang tuanya, kemudian baru naik ke motor Mang Ujang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba gerimis hadir tanpa diundang, rintik-rintik air hujan yang turun membasahi kerudung Laila. Di simpang jalan menuju sekolah, tiba-tiba ada pemuda yang mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi dan tidak sempat lagi untuk menekan rem motornya, sehingga menabrak motor Mang Ujang. Mang ujang terjatuh, Laila pun demikian. Kepala Laila terhempas ke aspal, dengan posisi muka menghadap aspal. Keningnya berlumuran darah, kedua matanya juga mengeluarkan darah.

Masyarakat di sekitar tempat kejadian langsung membawa Mang Ujang, Laila dan pemuda tadi ke rumah sakit terdekat.

Satu Minggu Kemudian

Laila masih terbaring lemah di rumah sakit. Di tangannya ada sebuah mushaf al-Qur’an berukuran kecil. Laila mengalami kebutaan karena terbentur dengan aspal. Ia sudah tidak bisa lagi melihat tulisan-tulisan yang ada di dalam mushaf al-Qur’annya. Dia juga sudah tidak bisa lagi melihat senyum Abi dan Uminya. Hanya kegelapan yang ada dalam penglihatannya.

Meski dalam kondisi belum pulih, dan buta, namun Laila masih terus mengulang hapalannya.
‘Abi, Laila mau ikut ujian hapalan juz ‘Amma’. Laila mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum meski menahan sakit.

Abi Fauzan meneteskan air mata mendengar ucapan putrinya.

‘Tapi Laila kan belum sembuh Nak’.
‘Nggak apa-apa Abi, Laila mau ujian Juz ‘Amma dengan Ustadz. Wildan’Abi bisa nggak ajakin Ust. Wildan ke rumah sakit. Biar Laila ujiannya di sini saja.

Abi Fauzan dan Umi Zakiyah  meneteskan air mata mendengar permohonan putrinya. Abi Fauzan langsung keluar dari kamar Laila dan menghubungi Ust. Wildan dan berharap ia bisa hadir dan menyimak hapalan Juz ‘Amma Laila. setelah berhasil menghubunginya, dan ia bersedia untuk datang ke rumah sakit, air mata Abi Fauzan terus membasahi kedua pipinya. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Satu jam kemudian, Ust. Wildan sudah berada di rumah sakit dan siap untuk menyimak hapalan Juz ‘Amma Laila. Laila sudah duduk dengan memegang sebuah mushaf al-Qur’an di tangannya, ia mengenakan kerudung putih bersih. Dia sudah siap untuk ujian hapalan juz 30, dia akan membaca dari surat an-Nas sampai surat an-Naba.

Ada Abi Fauzan, Umi Zakiyah, Ustadz Wildan, Laila dan Abah Aripin di dalam ruangan tersebut. Laila mulai membaca surat an-Nas dengan baik. Tidak ada kesalahan di dalam membacanya, terus ke surat-surat berikutnya. Sampai ke surat at-Takwir, ada ayat yang kurang, sehingga Ust. Wildan meminta Laila untuk memmbaca surat at-Takwir dari awal lagi. Hampir empat puluh menit lamanya Laila membaca juz ‘Amma dan disimak oleh Ustadz Wildan yang merupakan Guru al-Qur’annya di sekolah. Sekarang Laila sudah membaca bagian akhir dari surat an-Naba, yang merupakan surat terakhir dari ujiannya kali ini. Setelah sampai pada ayat terakhir, suasana di ruangan itu jadi haru, air mata mengalir dari semua yang hadir. Abi Fauzan, Umi Zakiyah, Abah Aripin, dan juga Ust. Wildan, semuanya meneteskan air mata.

Laila sudah menyelesaikan keinginan terbesarnya untuk ikut ujian dan lulus hapalan juz ‘amma. Ia kembali tertidur dengan memegang sebuah mushaf al-Qur’an, dia tidak pernah ingin melepaskan mushaf yang sudah menemaninya selama menghapal juz 30. Laila masih tidur, meski adzan maghrib sudah berkumandang, namun Laila masih memejamkan matanya. Abi Fauzan dan Umi Zakiyah tidak menyadari bahwa bidadari mereka sudah pergi selepas ujian hapalan juz ‘amma. Dia sudah pergi dengan hasil ujiannya. Dia sudah pergi meninggalkan Abi dan Uminya. Dia pergi dan tidak akan kembali. Setelah mengetahui bahwa bidadari mereka telah tiada, tangisan kembali mewarnai ruangan itu, tangisan kesedihan karena ditinggal oleh seorang anak berhati mulia nan sholihah. Ia sudah kembali kehadirat-Nya.