February 13, 2012

Anan

2002-2006
Sebut saja namaku Anan, aku seorang santri di Pondok Pesantren di Bengkulu. Tidak ada kebahagian lain yang bisa kugambarkan selain kebahagiaanku bisa belajar di Pondok ini. Setiap hari, selain belajar Ilmu Agama, kami juga belajar pelajaran-pelajaran umum, seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan lain-lain. Jangan Tanya apakah aku bahagia mondok di sini, karena jawabannya sudah pasti iya, aku bahagia.

Aku anak tunggal, Bapak dan Emak sangat menyayangiku, kalian tentu sudah mendengar banyak kisah tentang anak semata wayang yang dimanja oleh kedua orang tuanya dan aku adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang begitu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hampir setiap minggu, orang tuaku datang menjengukku di Ponpes. Emak biasanya memasak dan membawakan makanan-makanan kesukaanku.

Selama di pondok pesantren, aku hanya diizinkan untuk pulang ke rumah satu kali dalam satu bulan. Dan aku sangat memanfaatkan waktu itu untuk bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku. Bapak dan Emak tidak bisa membaca Al-Qur’an, sebagai santri, tentunya aku bertanggung jawab untuk membantu keduanya belajar membaca Al-Qur’an, shalat pun demikian, setiap kali aku pulang ke rumah, aku yang menjadi imam.

Dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006, rasanya adalah tahun-tahun kebahagianku. Berkumpul bersama dengan teman-teman dari penjuru daerah. Aku pernah terpilih menjadi ketua OSIS,  Ustadz dan Ustadzah di Pondok begitu menyayangiku. Aku mempunyai begitu banyak sahabat, setiap liburan, sahabat-sahabatku sering kuajak ke rumah.
  
Februari 2006
Kehidupanku mulai berbalik arah, beberapa tahun yang lalu, aku merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam di Pondok ini. Akan tetapi sekarang aku sudah mulai terbawa arus, tidak semua santri di pondok itu baik, ada juga yang merokok, ada yang sering bersembunyi jika waktu shalat tiba, sering kabur ke luar Pondok, dan ada juga yang pacaran.

Aku sudah tidak lagi jadi anak yang baik, entah sudah berapa kali aku melanggar tata tertib Pondok. Shalat pun sudah jarang aku lakukan, al-Qur’an juga hanya tersimpan rapi di dalam lemariku. Setiap ba’da maghrib, semua santri biasanya membaca al-Qur’an, sedangkan aku dan beberapa temanku, hanya membaca al-Qur’an sebentar kemudian kami lanjutkan dengan bercanda, bercerita hingga waktu isya tiba. Begitu juga setiap ba’da subuh, selalu ada kegiatan ‘Mufradat’ (menghapal kosa-kata baru dalam bahasa Arab dan Inggris). Jangankan menghapal kosa kata baru, kosa kata yang dulu saja sudah tidak mampu untuk kuingat karena aku sudah tidak pernah memperhatikan penjelasan Ustadz yang menjelaskan di depan.

Hari berganti, minggu pun berganti, aku dan beberapa temanku memutuskan untuk keluar dari Pesantren, tidak betah menjadi alasan kami ketika ditanya oleh orang tua masing-masing. Orang tuaku tidak pernah berani untuk memaksakan kehendak mereka. Meskipun mereka berkeinginan kuat agar aku tetap di Pondok, mereka tidak pernah mengungkapkan itu, keinginan mereka hanya terpendam dan lama-lama menguap.

Aku bebas, teriakku saat pertama kali aku keluar dari pesantren dan bukan berstatus sebagai santri lagi. Bapak mencarikan sekolah yang mau menerimaku, karena saat itu sudah hampir ujian semester kenaikan kelas, rasanya kecil kemungkinan untuk bisa mendapatkan sekolah yang akan menerimaku. Beberapa sekolah sudah Bapak datangi, Emak juga ikut bersama Bapak mencarikan sekolah, tidak ada sekolah yang mau menerimaku.

“Ada satu sekolah yang mungkin akan menerimamu, Anan ‘’ kata Bapak malam itu.
“Sekolah di mana Pak?’’
‘’Besok kita coba ke sana saja. Mudah-mudahan mereka mau menerimamu’’

Benar apa yang dibilang Bapak, sekolah tersebut mau menerimaku sebagai siswa dengan membayar uang dengan jumlah yang cukup besar. Sekolahnya bukanlah sekolah yang bagus, kebanyakan dari siswa adalah anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah mereka dahulu, atau yang tidak diterima di sekolah-sekolah yang bagus atau bisa dikatakan sekolah anak-anak buangan.

Aku semakin menjadi anak yang nakal, lingkunganku yang setiap harinya sangat berbeda dengan kehidupan selama di Pondok, minum-minuman keras menjadi hal yang sangat biasa bagiku, hampir setiap malam aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku, bersenang-senang, ditemani beberapa perempuan.

2009
Kegilaanku terhadap perempuan dan alkohol sudah sangat susah untuk dipisahkan, sepertinya dua kebiasaan itu sudah mendarah daging. Hingga akhirnya seorang perempuan datang ke rumah dan menemui orang tuaku. Sebut saja namanya Sendu.

‘Aku hamil,’ Sendu membuat sebuah pengakuan di depan orang tuaku dan meminta pertanggung jawabanku.

Orang tuaku meneteskan air mata dan memaksaku untuk menjawab apakah pengakuan Sendu itu benar atau tidak. Dan aku mengakui semua itu. Kedua orang tua kami masing-masing sepakat untuk menikahkan kami. Aku yang baru saja lulus SMA, sementara Sendu masih kelas satu SMA. Kami menikah dan Sendu melahirkan seorang anak yang membuat kedua orang tuaku bahagia, kebahagian mendapat seorang cucu perempuan.

Januari 2010
Aku tidak pernah tahu bahwa sebenarnya Bapak menyimpan beban bathin yang begitu berat, dan itu semua bermula dari kebiasaan-kebiasaan burukku, mabuk, dan main perempuan. Meski sudah menikah, aku masih tetap melanjutkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Tanpa sepengetahuan keluarga, Bapak akhirnya menikah dengan seorang Janda. Setelah beberapa bulan menikah, barulah Bapak memberitahu Emak tentang pernikahannya, bahkan saat itu istri mudanya sudah hamil muda.

Emak terpukul dan sering menangis. Sementara Bapak jarang berbicara dengan Emak. Tidak kulihat lagi ada kemesraan keduanya. Sudah tidak pernah lagi terdengar canda tawa Emak dan Bapak. Aku stress, dan tertekan melihat keadaan keluargaku. Aku jarang pulang ke rumah, aku lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-teman.

28/2/2010
Seorang teman datang dari Jakarta, dia tidak pernah tahu akan kejadian-kejadian yang sudah aku alami. Aku menceritakan semuanya kepadanya. Dia adalah salah satu senior yang merupakan sahabat terbaikku waktu di Pondok. Bapak dan Emak sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Aku menangis menceritakan semuanya, dia pun ikut meneteskan air mata mendengar perjalanan hidup yang aku pilih.

‘Masih belum terlambat untuk berubah, Kakak yakin Anan pasti bisa’ kalimat itu yang ia ucapkan.

Dua hari dia bermalam di rumah, aku merasakan ketenangan, aku merasakan kehadiran seorang Ayah di rumah. Dia membimbingku untuk jadi lebih baik. Setelah dua hari di rumah. Dia kembali ke Jakarta, dan aku pun kembali dengan kebiasaan-kebiasaan burukku.

Oktober 2010
Entahlah, rasanya aku sudah tidak kuat lagi menahan beban hidup. Aku sudah tidak kuat dengan kondisi keluargaku yang semakin jauh dari kata harmonis. Emak sakit-sakitan, sementara Bapak lebih banyak menghabiskan waktu dengan Istri mudanya.

Malam itu, aku pergi ke sebuah tempat, menghabiskan malam dengan berhura-hura. Minum-minuman keras, dan memakai obat-obatan terlarang. Aku tidak pernah tahu bahwa malam itu adalah akhir dari perjalanan hidupku, malam itu adalah malam terakhir aku bersama dengan teman-teman.

Keesokan harinya, aku ditemukan sudah tidak bernyawa di salah satu tempat yang cukup jauh dari rumah. Aku sudah tiada, aku sudah meninggal karena overdosis, busa putih mengalir dari mulutku. Ini adalah akhir hidupku, hidup yang aku pilih sendiri.

Kepada siapapun yang membaca kisahku, silahkan ambil pelajaran dari kisahku ini. Semoga kalian tidak memilih jalan yang telah kupilih yang akhirnya membawaku kepada maut. Buatlah kisah yang indah yang akan membuatmu selalu dikenang karena kebaikan selama masa hidupmu.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan