February 22, 2012

Butir-Butir Cinta

‘Jangan engkau tanya mengapa aku seperti ini, karena memang aku baru kenal dengan yang namanya cinta. Jangan juga engkau tanya seberapa besar cintaku padamu, karena aku sendiri tidak tahu berapa besar cintaku kepadamu. Dan jangan engkau tanya ke mana cinta ini akan kubawa, karena engkau sendiri sudah tahu jawaban apa yang akan engkau dapat. Aku akan membawa cinta ini ke jenjang pernikahan. Yang perlu engkau lakukan adalah menunggu waktunya tiba. Akan tetapi, jangan engkau cemburu, karena cintaku kepadamu tidak melebihi cintaku kepada yang Maha Cinta.’

Aku masih ingat kalimat-kalimat itu mengalir jelas, pelan dan menenangkan hatiku saat itu. Saat di mana engkau mengutarakan cintamu kepadaku. Saat di mana engkau mengukir janji untuk melamarku jika memang Tuhan sudah mengizinkan kita untuk bersama.

‘Aku bukan penganut pacaran, jika memang aku sudah menyukai seseorang, maka aku akan langsung melakukan ta’aruf, dan jika memang kita berdua berniat untuk membangun cinta, maka aku akan menikahimu.’ Katamu di depan orang tuaku. 

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, dan berharap engkau akan segera melamarku setelah melakukan proses ta’aruf seperti yang diajarkan oleh agama Islam. Aku pernah mendengar penjelasan seorang Ustadz di masjid dekat rumah tentang ta’aruf.

“Di dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Ketika seorang laki-laki ingin mengenal seorang perempuan lebih jauh dan berniat menjadikan dia pasangan, maka di sana ada sebuah proses pendekatan yang dinamakan ta’aruf. Setelah ta’aruf dan dirasa ada keinginan yang besar dalam membangun hubungan yang diridhoi’ oleh Allah, maka langkah selanjutnya adalah melamarnya. Kemudian membina rumah tangga.”

“Pacaran dan ta’aruf sungguh jauh berbeda. Ta’aruf dilakukan pada saat kita sudah siap untuk membina rumah tangga. Jadi hubungan yang dijalin adalah untuk mengenal calon pasangan. Sedangkan pacaran, terlalu berbelit-belit, menjalin hubungan sejak umur masih remaja, atau bahkan masih anak-anak dan tidak tahu kapan  akan menikah. Putus dengan yang satu tentunya mencari lagi pasangan yang lain. Jadi, janganlah  risau mendengar perkataan mereka tentangmu yang tidak ingin berpacaran, karena sesungguhnya kesendirianmu bukan karena tidak ada yang memilih, akan tetapi engkau yang memilih untuk sendiri, hingga akhirnya engkau akan bertemu dengan seseorang yang siap menjadikanmu bagian dalam hidupnya. Seseorang yang mencintaimu karena-Nya. Tersenyumlah.”
*
Aku masih terbaring lemah di rumah sakit ini, namun aku masih bisa mengingat janji yang engkau ucapkan untuk melamarku. Entahlah, aku sendiri tidak yakin dengan keadaanku seperti ini, apakah engkau akan tetap melamarku dan menjadikanku ratu dalam kerajaan cinta yang akan engkau bina. Apakah engkau tetap akan menjadikanku bagian dalam bahtera cintamu. Aku terdiam, dan menerawang jawaban apa yang akan aku dengar.

Hari ini engkau berjanji akan mengunjungiku, engkau berjanji akan datang bersama dengan orang tuamu. Akan tetapi, engkau belum tahu bagaimana keadaanku setelah aku mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Aku mengalami lumpuh total, aku hanya bisa berbaring di ranjang ini, dan kadang-kadang aku duduk di sebuah kursi roda dengan bantuan Bapak. Hanya bagian kepala yang bisa kugerakkan, sementara anggota tubuhku yang lain sudah tidak mampu untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Kakiku sudah tidak mampu menopangku saat berdiri. Kedua tanganku sudah tidak sanggup membiarkanku meraih sesuatu. Meski keadaanku seperti ini, aku tetap bersyukur karena aku mempunyai Bapak yang begitu mencintaiku, dia merawatku dengan baik dan selalu memberiku semangat untuk tetap menjaga harapan itu agar tetap hidup. Karena dalam kondisi apapun, hidup dengan harapan akan lebih indah dibandingkan dengan hidup tanpa harapan.

Seseorang mengetuk pintu kamar dan mengucap salam.
‘Assalamu’alaikum’
‘Wa’alaikumussalam.’Jawabku pelan dan meminta Bapak untuk membukakan pintu.

Pintu terbuka, kulihat wajah itu, wajah yang kunanti-nanti, senyum yang sudah kuhapal dengan baik. Sinar matanya yang terang, dan wajahnya yang bercahaya. Dia lah pria yang berniat melamarku. Dia adalah Deki. Pria sederhana yang mempunyai hati berjuta cinta. Dia mampu meluluhkan hatiku sejak kedatangannya pertama kali ke rumahku. Dengan keteguhannya dalam memegang ajaran Islam, rasanya dia adalah seorang pria yang selama ini aku nanti, yang akan menjadi imam dalam keluargaku kelak, dan yang akan menjadi Ayah dari anak-anakku nanti.

‘Bagaimana keadaan Najwa, Bapak.’ Deki bertanya kepada Bapak kemudian memandangku sejenak.
‘Kondisi Najwa terus membaik, kita berdo’a saja agar dia bisa pulih kembali.’
‘Amin.’

Umminya duduk di samping ranjangku. Ummi mengelus keningku dengan penuh kasih sayang. Sementara Abinya duduk bersama dengan Bapak. Mereka sedang bicara serius sambil sesekali melihat ke arahku.

Beberapa saat kemudian, Bapak, Abi Deki, dan Deki mendekatiku. Bapak membantuku untuk duduk. Jantungku berdetak lebih kencang, ada kegelisahan di dalam diri. Deki tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil tersenyum. Dia mulai bicara setelah Abinya memintanya untuk mulai mengatakan sesuatu.

‘Najwa, bukan karena janjiku kepadamu aku datang ke sini, bukan pula karena aku merasa kasihan dengan keadaanmu. Aku datang atas dasar keinginan yang datang dari dalam diri, berharap ini adalah jalan yang sudah Ia tentukan untuk kita berdua. Dan aku yakin jika kita bisa melewati cobaan ini, kita akan meraih kebahagiaan seperti yang kita inginkan.’ Deki tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya.

Maukah engkau menjadi istriku?.’

Dunia seakan bersinar lebih cerah, ada ketenangan mendengar pertanyaan itu, sebuah senyum terukir di bibirku. Aku memandangi Bapak, Bapak tersenyum memandangku dan menundukkan kepala tanda sebuah persetujuan. Aku melihat ke arah Deki yang sedang menundukkan pandangan, dan menunggu jawabanku.

Aku bersedia menikah denganmu, Mas’.
*
Tenda berwarna kuning sudah menghiasi halaman depan rumahku. Janur kuning juga sudah melambai anggun di pintu gerbang. Besok adalah hari pernikahanku. Akan tetapi,  aku sepertinya belum yakin dengan keputusan yang telah kubuat. Ada butir-butir keraguan yang menyesakkan dada. Bukan Deki masalahnya, akan tetapi aku yang merasa tidak pantas berdampingan dengannya. Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari sekedar wanita cacat seperti diriku. Aku tidak ingin merusak ukiran senyum yang selalu menghiasi wajahnya, aku tidak ingin nanti dia menyesal setelah resmi menjadi seseorang yang kupanggil ‘suami’.

Bapak sebagai orang tua tunggal, masuk ke dalam kamar pengantin. Dia mengusap punggungku. Sepertinya dia mengerti apa yang ada dalam pikiranku saat ini.

‘Nduk, wajar jika engkau merasakan gejolak yang begitu kuat dalam diri. Tapi, percayalah ini adalah jalan yang sudah Ia pilihkan untukmu.’

‘Tapi, Pak, menjelang hari pernikahan ini, Najwa terus merasa bahwa Mas Deki pantas mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dari Najwa. Nantinya, Najwa hanya akan membuat Mas Deki sibuk merawat Najwa.’ Bapak hanya diam.

‘Semua keputusan ada di tanganmu Nduk, Bapak tidak bisa memaksamu untuk tetap melanjutkan pernikahan ini.’
 
Aku meminta Bapak mengambilkan handphone yang ada di atas meja rias pengantin dan memintanya untuk menghubungi Mas Deki. Bapak mendekatkan handphone ke telingaku karna aku tidak bisa memegangnya. Setelah mengucap salam, air mataku langsung berjatuhan mengiringi rasa yang gundah akan cinta. Namun aku sudah yakin dengan keputusan yang akan aku ambil.

‘Mas, aku tidak bisa menjadi Istrimu.’ Ucapku pelan sambil terisak.

Tidak ada jawaban dari ujung sana, hanya terdengar suara serak Mas deki. Sepertinya dia sedang menangis dan berusaha untuk merangkai kata demi kata agar aku tetap melanjutkan rencana pernikahan ini. 

‘Tapi, Najwa…..Mas Deki belum menyelesaikan kalimatnya, aku sudah meminta Bapak mengakhiri telpon.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, langit tiba-tiba menangis membasahi tenda yang sudah berdiri kokoh di depan rumah. Dunia seakan menyesalkan keputusanku. 

‘Maafkan aku Mas Deki.’

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan