February 25, 2012

Ibu, izinkan aku kembali

Ibu, sudah lama aku tidak melihat senyum terlukis indah di wajahmu. Senyum yang dulunya selalu menguatkan di saat aku sedang terpuruk, lemah, dan tak berdaya. Senyum yang dulunya mengantarkanku meraih cita-cita. Senyum yang dulu senantiasa menghiasi hari-hariku. Ibu, di manakah letak senyum itu?, mengapa engkau biarkan wajah sendu, tak bercahaya itu menatapku?, izinkan aku melihatmu tersenyum dan izinkan aku untuk kembali dalam pelukanmu. Izinkan aku merawatmu di usia senjamu. Dan jangan engkau biarkan air mata menetes dari kedua bola matamu. 


Aku sadar, semua itu adalah kesalahanku. Senyum itu hilang sejak aku memutuskan semua ini sendirian tanpa peduli dengan kehendakmu Ibu. Akan tetapi, aku juga tidak bisa terus hadir dalam anganmu, terus berkata iya akan semua keinginanmu. Ada jalan di mana aku dan Ibu tidak bisa terus satu jalan. Ada kalanya aku harus berbelok arah sementara Ibu ingin terus berjalan lurus. Aku manusia yang tidak luput dari kesalahan.

*
Kota ini terasa sepi, setelah sekian lama aku pergi meninggalkan Ibu bersama dengan kedua adikku. Sepi karena aku tidak bisa melihat senyum yang sudah kunanti sejak lama. Lama sudah aku tidak bertemu dengan Ibu. Sejak tiga tahun yanga lalu, aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang menjadi tempat kelahiranku, kota yang menjadi kenangan indah di masa kecilku. Kota yang menjadi tempatku merangkai satu persatu dari mimpi-mimpi yang aku, Bapak dan Ibu inginkan. 


Aku sudah berdiri di depan rumah Ibu bersama dengan Shaulla Istriku. Kami masih belum dikarunia oleh Tuhan malaikat kecil, sepertinya Tuhan belum yakin untuk menitipkan senyum indah malaikat-malaikat kecil itu di rumah kami. Tuhan masih membiarkan kami menikmati hidup berdua saja. Tidak apa, pikirku. Jika memang Ia menghendaki kami mempunyai keturunan, maka Ia akan memberikan itu kepada kami. Yang terpenting kami sudah berusaha, selanjutnya adalah berdoa dan tawakkal kepada yang memberi segalanya.

Tidak ada siapa-siapa yang menyambut kedatangan kami ke kota ini. Rumah Ibu tertutup rapat seolah-olah tidak menerima kedatanganku kembali. Adik-adikku yang sudah menyelesaikan sekolah menengah atas juga tidak kelihatan menyambut kedatangan kami berdua. Sudahlah, mungkin mereka sedang tidak ada di rumah, ucapku menghibur Istriku yang sedikit letih. 


Setelah mengucap salam, tidak ada jawaban terdengar dari dalam rumah. Rumah ini seakan-akan sudah lama tidak berpenghuni. Aku mencoba melihat ke bagian dalam rumah melalui kaca jendela, ada Ibu sedang tidur di kursi panjang terbuat dari bambu, beralaskan tikar, berbantalkan sebuah bantal usang. Aku memanggil Ibu, berharap dia akan terbangun dan membukakan pintu untuk kami berdua. Kasihan melihat bidadariku sudah mulai letih setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Setelah beberapa lama menunggu di teras depan rumah, aku melihat kedua adikku, Meko dan Didi membuka pintu pagar. Sepertinya mereka berdua baru pulang dari kebun. Mereka berdua mengais rizki dari hasil berkebun jagung. Dua bulan yang lalu, Meko mengirimkan surat dan memberitahukan tentang hasil kebun mereka berdua. Dengan hasil berkebun inilah mereka berdua membiayai Ibu yang sakit-sakitan. Meski aku rutin mengirimi mereka uang untuk berobat Ibu, namun uang yang kukirimkan tidaklah seberapa. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk Ibu.


“Mas, Akmal?, Mbak Shaulla?,” Meko terlihat terkejut melihat kehadiran kami berdua. Keduanya langsung menjabat tangan kami berdua. Air mata kerinduan menetes membasahi pipiku, Shaulla juga tidak bisa menahan air matanya, dia juga menangis karena haru bertemu adik ipar yang sudah lama ia rindukan.


‘Kalian apa kabar?” Shaulla menanyakan keadaan mereka berdua. 

Sambil membukakan pintu, Meko menjawab;

‘Alhamdulillah, Kami sehat-sehat saja Mbak. Tapi kasian dengan Ibu yang terus sakit-sakitan.’


Pintu terbuka, Ibu masih tidur sambil memeluk bantal guling berwarna abu-abu. Aku duduk di sampingnya, mengelus keningnya yang sudah keriput dimakan usia, mengelus rambutnya yang sudah tidak hitam lagi. Ibu terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arahku dan Shaulla yang duduk di sampingku. Tidak ada senyuman di wajahnya. Ibu langsung menjauhkan tanganku dari mukanya, mukanya juga langsung menunduk tidak ingin melihatku. Ia berdiri dan hendak pergi menuju dapur.


‘Ibu, Akmal sudah kembali ke sini, memenuhi keinginan Ibu yang dulu pernah aku abaikan, kami berdua datang untuk menjagamu Ibu.  Kami betul-betul merindukanmu Ibu.’ Ucapku pelan


Ibu berhenti, sambil berpegang ke sebuah tongkat yang membantunya untuk berdiri. Ibu sudah tidak kuat lagi untuk  berdiri. Ibu, begitu besarkah luka yang telah kubuat sehingga Ibu sudah tidak ingin melihatku lagi?, sudah tidak berkenan untuk menyunggingkan senyuman untukku?. Akmal tahu, semua adalah kesalahanku. Akan tetapi, Aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik, meski aku tahu Ibu tidak pernah menginginkanku kembali. Izinkan aku anakmu ini untuk menebus kesalahan masa lalu yang telah membuat Ibu jadi seperti ini. Beri aku kesempatan Ibu. Ibu terisak menangis. Kusentuh kedua kakinya dan memohon maaf darinya.


‘Ibu, izinkan aku kembali’
*
Beberapa tahun yang lalu, kami adalah keluarga bahagia. Meski aku tinggal di rantau, namun aku masih sering mengirim kabar ke kampung halaman. Akan tetapi kebersamaanku dengan Ibu dan Bapak menjadi hilang sejak kejadian itu. 


Dusta, iya. Karena aku sudah berani berdusta kepada keduanya, membuat mereka merasakan sakit yang begitu dalam. Sakit yang mungkin tidak bisa terobati oleh waktu. Kepergiaanku ke pulau seberang untuk menuntut ilmu, meraih mimpi yang aku harapkan. Bapak bekerja keras demi keberhasilanku, menanam jagung, dan menaman padi. Hasil jerih payahnya dikirimkan ke padaku agar aku bisa belajar dengan baik dan membuat mereka bangga. 


Akan tetapi, bukan kebanggaan yang mereka dapatkan. Melainkan hanya kepingan dusta yang kususun demikian indah sehingga mereka percaya bahwa aku benar-benar belajar, meraih mimpi dan membuat mereka bangga. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa. Tidak ada yang namanya kuliah, tidak yang namanya belajar. Waktuku hanya habis untuk berhura-hura. Semua jerih payah kedua orangtuaku tidak berhasil menjadikanku permata, indah, dan menawan. Hanya kegelapan yang mereka dapat.


Sejak saat itu, Bapak sakit-sakitan. Ibu merawat bapak hari demi hari dan aku tidak pernah berani pulang ke rumah karena dipenuhi rasa bersalah yang begitu besar. Setelah sekian lama berada di dalam kegelapan, Tuhan memberikanku seberkas cahaya melalui tangan Shaulla. Dia datang dan membimbingku menjadi lebih baik. Dia bersedia menikah denganku, dan membujukku untuk kembali dan meminta maaf kepada keduanya. Akan tetapi, keinginanku untuk pulang masih belum bisa membawaku kembali kepada Bapak dan Ibu. Sakit Ibu yang begitu dalam semakin bertambah setelah kepergian Bapak. Ibu tidak pernah tersenyum melihatku. Terakhir kali bertemu dengan Ibu, pada saat Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Ia kembali dengan sakit yang telah kubuat, dan sekarang Ibu pun masih memendam rasa sakit yang begitu dalam.


‘Pergi dari sini, lihat apa yang telah kamu perbuat Akmal. Sekarang apa kamu puas membuat Bapakmu sudah tidak bisa lagi bersama kita?, ia pergi karena sakit yang engkau torehkan dengan begitu kejam ke lubuk hatinya. Ibu tidak ingin melihatmu lagi.’ Kata-kata itu adalah ucapan terakhir Ibu.
*
Ibu, jika memang kedatanganku hanya membuatmu semakin sakit
Jika memang kedatanganku membuatmu menangis tanpa henti
Jika memang kedatanganku membuat luka lama itu kembali terbuka
Maka izinkan aku mencium kedua kakimu untuk terakhir kalinya


Izinkan aku memelukmu dan melihatmu tersenyum meski hanya sekali
Jangan buat aku menjadi gila karena rasa bersalah yang begitu besar
Sudah cukup kegilaan yang telah kuperbuat di masa lalu
Dan aku tidak ingin mengulanginya untuk yang kesekian kalinya.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan