February 16, 2012

Laila

Fauzan dan Zakiyah, adalah pasangan suami istri yang sedang merayakan cinta. Zakiyah, sedang mengandung anak pertama mereka. Setelah hampir tujuh tahun lamanya menanti kehadiran si buah hati, akhirnya Allah mengabulkan keinginan keduanya. Keduanya Ingin menyempurnakan keluarga kecil mereka dengan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu. Sudah terbayang di dalam benak perempuan berumur tiga puluh tahun tersebut akan kabahagiaan yang akan ia dapatkan saat si buah hati lahir ke dunia ini. Terbayang bagaimana dia menyusui malaikat kecilnya, terbayang bagaimana ia dan Fauzan suaminya mengurus segala keperluan permata hati mereka.

“Umi pengennya anak kita ini laki-laki atau perempuan?”, Fauzan mengusap perut istrinya kemudian mendekatkan telinganya ke perut sang istri.
“Apapun jenis kelaminnya Umi akan menerima dengan senyuman, karena semua itu adalah karunia dari-Nya, iya kan Abi?” Zakiyah berucap sambil tersenyum melihat suaminya yang seolah-olah sedang mendengarkan bayi yang ada di dalam perutnya.

Kandungan Zakiyah sudah memasuki bulan ke delapan. Minggu lalu, waktu mereka melakukan periksa rutin ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa satu bulan setengah lagi Insyaallah malaikat kecil mereka akan lahir dan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Fauzan dan Zakiyah tersenyum mendengar penjelasan dokter. Dan berdo’a semoga calon buah hati mereka lahir dengan selamat. Pun demikian dengan sang Ibu yang melahirkan.

Satu Bulan Kemudian

Tepat pada hari Jum’at, sore hari, pukul lima lebih 35 menit, seorang putri cantik terlahir ke dunia. Fauzan membisikkan adzan dan iqamat di telinga putri pertamanya. Berharap dengan mendengar kalimat-kalimat yang baik untuk pertama kalinya, ia akan tumbuh menjadi seorang anak yang sholihah, yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Sanak saudara berkunjung ke rumah Fauzan, mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati mereka.

“Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan saya cucu”. Ucap Pak Aripin sambil menimang cucunya. Ia tidak berhenti menatap ke cucu tercinta. Disentuhnya pipi mungil cucu pertamanya, dan terucap sebuah do’a.

‘Ya Allah, jadikanlah ia anak yang Sholihah”
“Anak yang akan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya”

Air mata menetes dari kedua mata Pak Aripin sebagai wujud kebahagiaan dan rasa syukur atas karunia yang Allah berikan. Di usia senjanya, dia baru merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang cucu. Zakiyah adalah anak satu-satunya. 
“Abah kok nangis?”, Zakiyah menghapus air mata Abahnya dengan selembar tissue.
“Abah  tidak bisa menahan air mata ini agar tetap berada di tempatnya. Ia ingin mengalir dan ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Abah rasakan”.

7 Tahun kemudian

Hari-hari keluarga kecil Fauzan dan Zakiyah begitu bahagia, mereka memberi nama malaikat kecil mereka dengan nama “Laila”. Laila tumbuh menjadi anak yang cerdas, dan sholihah. Diumurnya yang baru menginjak tujuh tahun, Laila sudah pandai mengaji, dia juga sudah rajin melaksanakan shalat lima waktu.

Di sekolah, dia termasuk anak yang membanggakan, dan terkenal mudah senyum. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Kata Ustadz, “senyum itu adalah shadaqah”, ucap Laila pada saat ditanya Umi mengapa Laila selalu senyum meski kadang sedang sakit panas, lapar, ia selalu berusaha untuk tersenyum.

‘Umi, satu minggu lagi Laila akan mengikuti ujian hapalan “Juz ‘Amma”
‘Laila sudah siap untuk ujian?’, Uminya mencoba untuk memastikan kesiapan puterinya.
‘Insyaallah Umi. Laila siap. Doain Laila yang Umi’.
‘Iya, Umi akan selalu mendo’kan anak Umi. Biar anak Umi bisa lulus ujian ‘Juz ‘Amma’.

Setiap selesai shalat, Laila mengulang hapalannya dari surat an-Nas sampai surat an-Naba. Suara indahnya menjadikan rumah mereka begitu tenang. Hiasilah rumah kita dengan lantunan ayat-ayatNya. Jangan biarkan rumah kita hening dari membaca al-Qur’an, begitulah yang dijelaskan oleh Guru al-Qur’annya di sekolah.

Dipertengahan malam, keluarga kecil itu bangun dan melakukan shalat tahajud bersama. Fauzan menjadi imam dari bidadari-bidadari dalam istananya. Ia ingin agar keluarganya menjadi sebuah keluarga yang diridho-nya. Laila, meski masih belia, namun dia sudah sering bangun malam bersama Abi dan Uminya. Ikut bersama bermunajat kepada Allah. Seperti malam ini, selepas shalat tahajud berjama’ah dengan Abinya, ia membuka mushaf al-Qur’an yang sudah mulai usang karena selalu dibaca. Sebelum tidur, dia sudah “muroja’ah” (mengulang hapalan) dari surat an-Naba sampai surat al-Infithor. Sekarang dia ingin melanjutkan mengulang hapalan sampai surat an-Nas. Fauzan menyimak hapalan putrinya dengan senyum bangga mempunyai seorang anak yang berkeinginan besar menghapal Kalam Allah. Zakiyah, menitikkan air mata mendengar lantunan ayat-ayat yang keluar dari kedua bibir Laila. Ujian hapalan “Juz ‘Amma” akan dilakukan besok pagi di sekolah. Laila begitu giat mengulang hapalan dan mempersiapkan diri agar bisa lulus ujian tahfidz dan mendapatkan sertifikat lulus hapalan juz 30 dari sekolah. Dan tentunya ingin meraih ridho Allah.

Bagaimana nak, sudah siap ujiannya?’, Umi Zakiyah mencium kening putrinya sebelum berangkat ke sekolah.
“Insyaallah sudah Umi”.
“Kalo begitu sekarang Laila diantar sama Mang Ujang dulu ya ke sekolahnya. Nanti pukul sembilan Umi menyusul ke sekolah. Sekarang Umi harus beres-beres rumah terlebih dulu. Nanti Abi juga akan nyusul ke sekolah, tapi Abi harus ke kantor dulu. Abi dan Umi Insyaallah akan tepat waktu dan melihat anak Umi ujian tahfidznya. Nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa Umi”. Laila mencium tangan kedua orang tuanya sedikit lama. Berbeda dari hari-hari biasanya. Ada air mata yang keluar dari bola matanya, entah mengapa Laila menangis seolah-olah akan pergi jauh dan tidak kembali.

Mang Ujang sudah berada di depan gerbang, dan siap mengantar Laila sampai ke sekolah. Laila kembali menoleh ke arah kedua orang tuanya, kemudian baru naik ke motor Mang Ujang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba gerimis hadir tanpa diundang, rintik-rintik air hujan yang turun membasahi kerudung Laila. Di simpang jalan menuju sekolah, tiba-tiba ada pemuda yang mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi dan tidak sempat lagi untuk menekan rem motornya, sehingga menabrak motor Mang Ujang. Mang ujang terjatuh, Laila pun demikian. Kepala Laila terhempas ke aspal, dengan posisi muka menghadap aspal. Keningnya berlumuran darah, kedua matanya juga mengeluarkan darah.

Masyarakat di sekitar tempat kejadian langsung membawa Mang Ujang, Laila dan pemuda tadi ke rumah sakit terdekat.

Satu Minggu Kemudian

Laila masih terbaring lemah di rumah sakit. Di tangannya ada sebuah mushaf al-Qur’an berukuran kecil. Laila mengalami kebutaan karena terbentur dengan aspal. Ia sudah tidak bisa lagi melihat tulisan-tulisan yang ada di dalam mushaf al-Qur’annya. Dia juga sudah tidak bisa lagi melihat senyum Abi dan Uminya. Hanya kegelapan yang ada dalam penglihatannya.

Meski dalam kondisi belum pulih, dan buta, namun Laila masih terus mengulang hapalannya.
‘Abi, Laila mau ikut ujian hapalan juz ‘Amma’. Laila mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum meski menahan sakit.

Abi Fauzan meneteskan air mata mendengar ucapan putrinya.

‘Tapi Laila kan belum sembuh Nak’.
‘Nggak apa-apa Abi, Laila mau ujian Juz ‘Amma dengan Ustadz. Wildan’Abi bisa nggak ajakin Ust. Wildan ke rumah sakit. Biar Laila ujiannya di sini saja.

Abi Fauzan dan Umi Zakiyah  meneteskan air mata mendengar permohonan putrinya. Abi Fauzan langsung keluar dari kamar Laila dan menghubungi Ust. Wildan dan berharap ia bisa hadir dan menyimak hapalan Juz ‘Amma Laila. setelah berhasil menghubunginya, dan ia bersedia untuk datang ke rumah sakit, air mata Abi Fauzan terus membasahi kedua pipinya. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Satu jam kemudian, Ust. Wildan sudah berada di rumah sakit dan siap untuk menyimak hapalan Juz ‘Amma Laila. Laila sudah duduk dengan memegang sebuah mushaf al-Qur’an di tangannya, ia mengenakan kerudung putih bersih. Dia sudah siap untuk ujian hapalan juz 30, dia akan membaca dari surat an-Nas sampai surat an-Naba.

Ada Abi Fauzan, Umi Zakiyah, Ustadz Wildan, Laila dan Abah Aripin di dalam ruangan tersebut. Laila mulai membaca surat an-Nas dengan baik. Tidak ada kesalahan di dalam membacanya, terus ke surat-surat berikutnya. Sampai ke surat at-Takwir, ada ayat yang kurang, sehingga Ust. Wildan meminta Laila untuk memmbaca surat at-Takwir dari awal lagi. Hampir empat puluh menit lamanya Laila membaca juz ‘Amma dan disimak oleh Ustadz Wildan yang merupakan Guru al-Qur’annya di sekolah. Sekarang Laila sudah membaca bagian akhir dari surat an-Naba, yang merupakan surat terakhir dari ujiannya kali ini. Setelah sampai pada ayat terakhir, suasana di ruangan itu jadi haru, air mata mengalir dari semua yang hadir. Abi Fauzan, Umi Zakiyah, Abah Aripin, dan juga Ust. Wildan, semuanya meneteskan air mata.

Laila sudah menyelesaikan keinginan terbesarnya untuk ikut ujian dan lulus hapalan juz ‘amma. Ia kembali tertidur dengan memegang sebuah mushaf al-Qur’an, dia tidak pernah ingin melepaskan mushaf yang sudah menemaninya selama menghapal juz 30. Laila masih tidur, meski adzan maghrib sudah berkumandang, namun Laila masih memejamkan matanya. Abi Fauzan dan Umi Zakiyah tidak menyadari bahwa bidadari mereka sudah pergi selepas ujian hapalan juz ‘amma. Dia sudah pergi dengan hasil ujiannya. Dia sudah pergi meninggalkan Abi dan Uminya. Dia pergi dan tidak akan kembali. Setelah mengetahui bahwa bidadari mereka telah tiada, tangisan kembali mewarnai ruangan itu, tangisan kesedihan karena ditinggal oleh seorang anak berhati mulia nan sholihah. Ia sudah kembali kehadirat-Nya.

2 comments:

  1. Inspired by Hafalan Shalat Delisa... :) menyentuh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hey kamuuh....baru baca tulisan ini ya? hehe udah lamaaa :D

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan