February 21, 2012

Pelarian

Aku berdiri di tepian jalan, mengenakan gaun berwarna merah, dengan rambut yang tergerai panjang. Sesekali aku masih melihat ke selembar kertas yang ada di tanganku, kertas yang tempo hari aku temukan terselip di bawah pintu rumahku. Surat itu aku temukan dengan beberapa benda yang mengejutkanku. Liontin berbentuk hati, sepatu hak tinggi berwarna merah, dan gaun yang juga berwarna merah yang kukenakan sekarang ini.

"Merry, tunggu aku di tepian jalan depan rumahmu. Dari penggemar rahasiamu, Mr. G" pesan di akhir kalimat dalam surat yang aku temukan itu.

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sore sudah tenggelam. Sebentar lagi malam datang dan biasanya jalanan ini selalu sepi setiap malamnya. Hatiku mulai gelisah, benarkah Mr. G si pengirim pesan misterius itu akan datang? Atau sebaiknya aku pulang saja dan menunggu pesan selanjutnya? Toh kalau ia memang ingin bertemu, ia akan mengirimkan pesan lagi untuk menemuiku.

Jangan, tunggu saja sebentar lagi. Pikiranku memberontak untuk tidak pulang ke rumah. Akhirnya aku memutuskan menyetel lagu dari IPod putihku demi membunuh waktu.

"Merry, kamu percaya kan kalau aku bilang kamu satu-satunya yang membuat aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya?" ucapmu pada malam itu. Aku diam saja. Entah apa maksud pertanyaanmu, karena sama sekali aku tidak meragukanmu.

Semenit kemudian, ku sentuh jidat Niko. "Kamu ngga sakit, ada apa dengan kamu, Nik? Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu?"

*
Niko kemudian memegang tanganku.

"Justru aku bakalan sakit kalau kamu nggak menanggapi perasaanku ini sama sekali." Aku terdiam, entah untuk berapa lama. Malam yang kurasa cukup panjang dan melelahkan untuk membahas masalah perasaan.
"Cinta butuh waktu, Niko," aku menatap matanya lekat-lekat.
"Kamu yakin yang kamu rasakan ini cinta? Bukan sekedar suka? Itu dua hal yang berbeda, Niko."

Di dalam satu ruangan, hanya aku berdua dengan Niko, seperti sedang berperang dengan pertanyaan dan disertai jawabannya masing-masing. Sejenak aku terdiam, menghela napas untuk memulihkan rasaku, karena kadang aku merasa lelah dengan perilaku Niko yang sering mempertanyakan tentang sebuah rasa.

Aku mendengar suara ketukan pintu, sejenak aku meninggalkan Niko sendiri. Mungkin dia juga butuh waktu untuk merangkai pertanyaan selanjutnya. Kubuka perlahan pintu itu, seperti seorang yang sedang mengintip, aku melihat keluar rumah. Ternyata hanya seorang pengantar pizza. Tapi siapa yang memesan pizza?

"Pizza? Siapa yang pesan?" tanyaku. Aku melihat nama kurir pengantar pizza itu.
"Galih Prahmana" aku membacanya pelan.
“Di sini nggak ada yang mesen pizza, Mas.” Keningku berkerut. Kurir bernama Galih itu tersenyum, “wah, saya nggak tahu, Mbak. Saya cuma diperintahkan mengantar pizza ke alamat ini.”

Tadinya aku akan bertanya pada Niko, siapa tahu sebelum kami ngobrol ia sempat menelpon pizza delivery, tapi mengingat obrolan kami barusan, aku mengurungkan niatku. Akhirnya aku menerima pizza ukuran medium itu, lalu membayar sejumlah uang yang tercantum di struknya; walaupun dengan perasaan heran. Ada pemesanan delivery yang bisa sampai sendiri ke alamat tertentu bahkan tanpa dipesan? Aneh.

Aku melangkah kembali ke ruang tengah, lalu meletakkan pizza itu di atas meja tanpa berniat menyentuhnya sedikit pun. Selera makanku sedang lenyap. Niko menoleh, “siapa yang pesen pizza?”
Aku hanya mengangkat bahu, “entah, kayaknya delivery nyasar. Tapi kurirnya kekeuh kalau alamatnya memang di sini. Jadi aku bayar aja.”
*
Ini jelas sudah malam. Aku merasa ini ada yang tidak benar, kenapa dia tega membuatku menunggu lama? Ocehku dalam hati.
Aku memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba telah meluncur sebuah mobil sedan hitam dan berhenti tepat di depanku. Jalanan sepi. Aku sedikit panik, kulangkahkan kakiku dengan cepat menjauhi lokasi itu. Tapi ada dua orang berbadan besar yang mengikutiku dari belakang.

Aku berlari, dua orang itu benar-benar menyeramkan. Baru beberapa langkah aku terjerembab, highheels yang kukenakan sekarang penyebabnya. Aku meringis kesakitan.

Segera saja kulemparkan kedua highheels yang menghambat pelarianku itu. Aku berlari masuk ke dalam taman, pepohonan disana menambah suram suasana, ditambah dua orang tadi masih saja membuntutiku dengan gigih. Langkahku semakin melemah, ditambah banyak sekali kerikil tajam yang dengan relanya mencabik - cabik telapak kakiku.

Bayang - bayang mereka semakin mendekat, dan bisa kurasakan hembusan nafas mereka yang memburu di tengah dinginnya malam.

Kini aku bagaikan seekor kelinci yang masuk ke dalam sarang serigala. Kenapa bisa sebodoh itu aku mengamini ajakan seseorang yang belum tentu aku ketahui secara jelas rupanya?

Kakiku beradu dengan ranting pohon sebesar lengan orang dewasa. Aku terjatuh, aku tidak bisa melihat dengan jelas, hanya baying-bayang yang bisa kulihat. Dan beberapa detik kemudian Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi kemudian, aku pingsan.
*
Rasanya aku baru saja hanyut dalam mimpi dan tidur yang panjang. Perlahan kubuka kedua mataku. Aku berada di sebuah ruangan yang berwarna putih, terbaring lemah di atas sebuah ranjang yang juga berwarna putih. Sepertinya aku sedang berada di sebuah rumah sakit. Di bagian pojok ruangan, ada sebuah kursi, seorang pria berambut pendek bak seorang tentara sedang tertidur. Aku bisa mendengar dengkuran tidurnya. Sepertinya dia baru saja tidur. Di keningnya ada perban putih yang ternoda oleh warna merah darah, di tangannya juga ada luka karena goresan sesuatu. Aku masih memandangi pria itu dan mencoba untuk mengingat siapa dia?

Beberapa menit kemudian, aku mulai ingat siapa gerangan pria itu. Dia adalah pria yang pernah mengantarkan pizza ke rumahku beberapa waktu lalu, aku tidak bisa mengingat siapa namanya. Aku masih belum bisa berdiri untuk menghampiri dan membangunkannya. Kubiarkan dia terlelap dalam tidurnya. Tanganku mencoba untuk meraih segelas air putih yang berada di sebuah meja di samping tempatku berbaring. Akan tetapi, aku malah menjatuhkan air putih tersebut dan membuat dia terbangun dari mimpinya.

Hey, kamu sudah bangun?”.

Pria itu menghampiriku dan tersenyum. Aku mencoba untuk tersenyum, meski aku sendiri masih mempunyai beberapa pertanyaan yang masih belum bisa kujawab. Benarkah dia yang membawaku ke rumah sakit ini?. Dia kah Mr. G yang menuliskan pesan singkat waktu itu?. Dia kembali tersenyum dan sepertinya dia mengerti akan kebingunganku. Dia duduk di samping ranjangku dan mengulurkan tangannya.

Saya Galih alias Mr. G. Kamu pasti bingung bagaimana aku bisa berada di sini?”
“Iya, aku masih bingung” jawabku pelan.
“Nanti saja saya ceritakan. Sekarang yang terpenting adalah kamu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”

*
"Saya tadi melihatmu sedang dikejar-kejar dua orang pria." Mr.G mengawali ceritanya. "Kebetulan aku juga sedang disana."
"Terima kasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku bila kamu tidak ada di daerah situ," ujarku tersenyum lega.
"Maafkan aku, kamu jadi terluka karena menyelamatkanku. Sekarang dua orang itu kemana? Kantor polisi? Atau.." aku tak berani melanjutkan kalimatku.
"Di kantor polisi. Saya sempat berkelahi dengan mereka, tapi mereka juga membuat saya terluka, mungkin karena gelap,  jadi saya tidak bisa banyak melihat senjata mereka, tapi kata dokter, saya terkena pisau. Tak apalah, yang penting engkau selamat," senyumnya mengembang.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Melamun. Pikiranku melayang, tentang kemarin, hari ini dan kenapa harus Mr. G yang ada ditempat itu. Kenapa bukan  Niko?
Niko!!! Kemana dia? Apakah dia tahu aku di rumah sakit? Apakah dia yang ternyata mengejarku semalam? Aku mencari-cari ponselku.
"Kamu sedang mencari  ini?" Mr. G menunjukkan ponselku, lalu memberikannya padaku.
Kulihat tidak ada pesan singkat atau telepon masuk dari Niko pagi ini. Kemana dia?
"Kenapa engkau disini Mr. G? Atau harus aku panggil Galih?" Selidikku.
"Yah, karena aku peduli kepadamu..."
"Peduli??" Aku tak mengerti apa yang dia maksud.
Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Ah, pesan dari Niko. Kubuka perlahan, entah mengapa, aku begitu  menunggunya hari ini.
"Merry, ini Mita, adik Niko. Semalam Niko dibunuh. Sekarang aku sedang dikantor polisi. Kamu dimana? Tolong, temani aku."
Aku terperangah. Shock, terkejut, takut. Pikiranku campur aduk.
"Kenapa Merry? Kenapa wajahmu pucat? Apa yang salah?" Mr.G mencecarku dengan seribu pertanyaan yang tidak dapat kujawab.
Aku menelepon Mita, "aku akan segera kesana."
"Kutunggu. Tadi pagi, aku menemukan jasad Niko berlumuran darah. Jam tangan kulit yang dia banggakan itu dicuri, tapi barang lain tidak ada yang hilang," kata Mita sesegukan.
Mataku sedang memandang Mr. G yang sedang meniup luka gores ditangannya yang memakai jam tangan yang sangat aku kenal. Jam tangan Niko.
--
Cerpen (gaje) hasil kolaborasi saya dengan Yomi Hanna, I.L Putra, Petronela PutriRamadhan Kurniadi, dan Anie Oktarini.

2 comments:

  1. keliatan banget kolaborasinya. masing-masing penulis masih 'egois'
    *saya mengomentari sebagai pembaca*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini kolaborasi paling ribet yg pernah saya lakukan :D

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan