February 27, 2012

Surat Cinta

Surat-surat itu masih tersimpan rapi di dalam lemari. Aku masih belum mau membaca isi surat-surat itu. Aku sendiri tidak tahu siapa pengirimnya. Kali pertama aku melihat surat itu berada di dalam absensi kelas yang aku ampu. Surat berwarna pink bermotif bunga-bunga indah itu tidak langsung kubuka. Kubiarkan saja. Mungkin ada yang salah letak, atau mungkin ada yang sengaja meletakkan surat itu ke dalam absensiku.

Beberapa hari kemudian, surat berwarna sama kembali terselip di dalam absensiku. Arghh .. siapakah gerangan yang mengirim surat-surat ini. Tidak ada nama pengirimnya dan aku masih belum mau membaca isi surat yang pertama dan yang kedua itu. Aku biarkan surat-surat itu di dalam lemari di atas tumpukan tugas-tugas sekolah.
*
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphoneku;

“Salam. Pak, malam ini sibuk nggak?”
From : 08528976xxxxx

Nomor itu tidak ada tersimpan di handphoneku, entah siapa pengirim pesan tersebut. Sepertinya dia sengaja mengirim pesan itu tanpa menuliskan nama. Aku tidak membalasnya. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan kembali masuk ke dalam handphoneku;

Kok sms saya nggak dibalas Pak”

Pesan singkat itu dari nomor yang sama dengan pesan sebelumnya. Aku tidak mempedulikan pesan singkat itu. Sudah menjadi kebiasaan, aku tidak pernah mau peduli dengan pesan singkat, maupun panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Aku kembali melanjutkan memeriksa lembar jawab siswa.

Tiba-tiba aku teringat dengan surat yang ada di dalam lemari. Aku berdiri dan segera mengambilnya. Kubuka surat yang pertama.

“Dear my teacher”

Rembulan malam ini bersinar terang seterang hatiku ketika memandangmu. Udara malam ini begitu sejuk, sesejuk hatiku ketika memandangmu. Ketika memandangmu, ada rasa yang tidak bisa kutepis. Ada rasa yang selalu memaksaku untuk selalu melihatmu. Sebuah rasa yang berbeda. Entahlah apa yang terjadi, sejak kedatanganmu di sekolah ini, aku merasa ada semangat baru. Ada sebuah keinginan untuk terus melihatmu. Ada kekhawatiran saat aku tahu dirimu tidak hadir di sekolah.

Aku adalah seseorang yang setiap hari memperhatikan segala tingkahmu. Mulai dari caramu berjalan, caramu tersenyum ketika menyapa murid-muridmu, dan caramu tertawa, sepertinya aku sudah hapal segala kebiasaan-kebiasaanmu selama di sekolah. Kerap kali dirimu tersenyum ketika membaca sebuah buku. Aku sering melihatmu membaca buku-buku yang ada di perpustakaan dan tersenyum. Iya, aku memperhatikanmu demikian detil.

Malam ini aku ingin mengajakmu untuk makan malam bersama. Aku tunggu dirimu di rumah makan yang ada di depan sekolah. Aku tidak akan berhenti menunggu hingga engkau datang menghampiriku.
Dari seorang murid yang mengagumimu

Aku tersenyum membaca surat yang pertama. Otakku mencoba untuk mengingat, mungkin aku pernah melihat seseorang yang sering memperhatikanku selama di sekolah. Ahh.. siapa anak ini?, mengapa dia memiliki rasa yang lebih dari sekedar seorang Guru dan Murid?.
Aku membuka surat yang kedua;

Dear my love

Hujan malam ini mengiringi air mataku, aku menangis karena dirimu telah membuatku menunggu begitu lama. Aku menunggumu sejak rembulan menyinari malam hingga mentari pagi bersinar. Iya, aku menunggumu demikian lama. Tapi dirimu tega. Membuatku menunggu sendirian di depan rumah makan itu. sia-sia rasanya semua yang kulakukan. Aku hanya ingin makan malam berdua denganmu. Layaknya pasangan-pasangan yang lain. Meski kita bukanlah pasangan kekasih, namun izinkan aku untuk melihat senyummu lebih dekat, dan membiarkan hati ini berbunga saat berada di dekat mu.

Air mata ini terus mengalir dan memaksaku untuk terus lelap dalam tidur. Hari  ini aku tidak datang ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. aku memilih untuk berada di rumah. Aku tidak sanggup jika mataku yang merah karena air mata ini beradu pandang dengan kedua matamu.
Surat ini kutitipkan kepada seseorang yang kupercaya akan menjaga rahasia.

Aku menantimu datang  menemuiku.
Dari seseorang yang hatinya telah engkau ambil.

Aku mulai merasa bersalah baru membuka dua surat itu. Mengapa tidak dari kemarin-kemarin aku membaca surat itu. Dengan demikian tentunya dia tidak akan menunggu dan sakit hati karena aku tidak datang menemuinya.
*
Hari ini, diam-diam aku memperhatikan suasana di sekelilingku. Mungkin aku akan menemukan seseorang yang sedang memperhatikanku. Akan tetapi, tidak ada siapa-siapa yang kucurigai. Semua bersikap seperti biasanya. Tidak ada yang aneh. Rasa ingin tahuku siapa gerangan yang mengirim surat-surat itu begitu besar. Aku tidak ingin membuatnya kecewa untuk yang kesekian kalinya. Bila hanya sekedar makan malam berdua tidak apa pikirku. Setelah makan malam aku akan memberikan dia pengertian bahwa hubungan yang terjalin hanya sebatas seorang guru dengan muridnya. Tidak lebih dari itu. aku berharap dia akan mengerti.

Bel berdering pertanda sekolah usai. Kembali kutemukan sebuah surat berwarna sama di atas mejaku. Aku langsung membacanya;

“Temui aku di alun-alun kota pukul 19.00 malam ini. Aku akan mengenakan baju berwarna putih, dan memakai jilbab warna putih.”

Ahhh Tuhan, benar kata Emak di kampung. Hati-hati jangan sampai membuat muridmu jatuh cinta padamu. Perlakukan mereka dengan perlakuan yang sama. Jangan sampai mereka salah rasa dan akan membuat mereka sakit. Diumurmu yang masih sangat muda untuk menjadi seorang guru, rasanya sangat besar kemungkinan muridmu akan jatuh cinta padamu. Dan sekarang sepertinya apa yang dikatakan Emak benar adanya. Ada seorang murid yang jatuh cinta padaku.

Cuaca cerah, aku menuju alun-alun memakai sepada ontel. Sesampainya di alun-alun, kuperhatikan orang-orang yang ada di alun-alun. Begitu banyak orang yang memadati alun-alun, rasanya cukup sulit untuk menemukannya. Aku sudah lelah terus mencari. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam telpon genggamku;

“Pak, aku duduk di depan layar”

Aku segera menuju bagian tengah alun-alun, dari belakang aku bisa melihat dengan jelas seorang wanita yang mengenakan baju berwarna putih dipadu padan dengan jilbab putih. Aku menghampirinya, memandanginya dan mencoba untuk mengenali siapa dia. Ah ternyata dia adalah muridku yang paling pendiam di sekolah.

Aku mengajaknya untuk pergi ke café yang ada di dekat alun-alun. Tidak baik seorang guru berada di tengah alun-alun, gelap-gelapan dengan murid sendiri. Kami duduk berhadapan, dia tersenyum menatapku. Ada sebuah kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.

“Jadi selama ini yang kirim surat dan sering sms itu Mbak Najmi?” Aku terbiasa memanggil murid putri dengan panggilan Mbak.

Najmi terus menatapku, dia cukup berbeda. Di sekolah dia anak yang pendiam dan pemalu. Sekarang dia begitu percaya diri duduk berhadapan denganku, menatapku dengan pandangan seperti itu. Dia tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya memandangiku sambil tersenyum. Sekarang sepertinya aku yang jadi kaku berhadapan dengan murid sendiri. Huh.. pikirku, mengapa aku jadi dag dig dug seperti ini. Aneh memang, duduk berduaan dengan murid sendiri.

*
“Farhan, bangun, udah telat ni”

Seseorang memanggil namaku, dan awwww….dia memukulku dengan buku tebal dan membuatku terbangun dari tidur lelap. Kulihat ke sekeliling, dan ternyata aku berada di kamar kos. Ahhh syukurlah ternyata  itu semua hanya mimpi.

“Kenapa lo senyum-senyum” Debi sahabatku mencoba untuk mencari tahu.
“ehm… gue barusan mimpi ada murid yang jatuh cinta ama gue” jawabku sambil mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.

“Hah , murid lo jatuh cinta ama lo?, untung cuma mimpi. Kalo beneran bisa bahaya”

Debi masih nyerocos sendirian, aku sudah tidak mempedulikan apa yang dia ucapkan.

Dan ternyata semua ini hanyalah mimpi belaka.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan