March 31, 2012

Wasiat Cinta




Aku sedang duduk di ruang tamu, menikmati sore dengan segelas teh hangat dan sepiring kecil mendoan. Seseorang mengetuk pintu rumahku. Suara salam itu bisa kudengar dengan baik. Suara itu mengingatkanku pada seseorang. Aku berjalan menuju pintu depan sambil mencoba  untuk mengingat siapa pemilik suara itu. Suara yang sudah sering kudengar, sepertinya aku tahu pemilik suara itu.

Kubuka pintu secara perlahan, kulihat seseorang sedang memegang tangan putri kecilnya, sambil memegang tas berwarna putih berukuran sedang. Ia memakai baju gamis panjang berwarna orange, memakai jilbab yang senada dengan warna gamisnya. Andita, dialah wanita yang dulu pernah mengisi relung hatiku. Kemudian dia pergi membina rumah tangga dengan Raka Sahabatku.

Aku menjawab salam darinya, kemudian mempersilahkan dia dan putri kecilnya masuk ke ruang tamu.

“Dita, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku masih tidak percaya yang ada di depanku ini adalah kamu, Andita” ucapku.

Dia tersenyum manis sekali, sama seperti senyum yang dulu pernah kudambakan akan menemani hari-hariku.

“Alhamdulillah, aku baik-baik saja Mas”

*

Andita, wanita yang dulu pernah kudambakan cintanya, pernah kuiginkan hadirnya dalam tiap hembusan nafasku, pernah kupuja sepenuh hati, dan pernah menggoreskan luka di hati ini. Meski goresan itu bukanlah dia yang membuatnya, melainkan karena cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Namun, goresan itu membekas di dalam hatiku.

Beberapa tahun yang lalu, aku, Raka, dan Andita adalah sahabat baik. Rasanya persahabatan kami tidak akan pernah terpisahkan. Saling berbagi dalam suka maupun duka, saling mendukung satu sama lain, dan saling mengingatkan agar terus menjadi lebih baik dari hari ke hari. Indahnya sebuah persahabatan yang berdasarkan atas saling percaya dan pengertian. Aku menikmati indahnya persahabatan diantara kami bertiga.

Tidak ada yang tahu akan hati seseorang selain dia dan Tuhan yang menilai hati. Ketika cinta merayu hatimu, menimbulkan getar-getar rindu, dan menyesakkan dada. Saat cinta sudah menguasai hatimu, dan tidak ada kemampuan untuk menahan, saat itulah engkau akan merasakan betapa kuatnya rasa yang terus bergejolak di dalam sana.

Layaknya hati seorang insan, aku pun merasakan jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada Andita sahabatku sendiri. Namun, aku mencoba untuk menahan semua rasa itu. Aku terus mengadukan rasa itu kepada Dia yang menguasai hatiku. Ada air mata yang mengalir tiap kali cinta itu memaksa untuk diucapkan. Cinta itu hanya mampu untuk kutahan dalam diri, dan tidak mampu untuk kuucapkan.

*

“Kapan datang ke Jakarta?” tanyaku.
“Tadi pagi” jawabnya.

Reza, ini  Shaulla putriku.
Shaulla kecil menjabat kedua tanganku sambil tersenyum.

Andita tidak banyak berbicara, dia mengeluarkan kertas dari tasnya, kemudian memberikannya kepadaku. Dahiku berkerut sambil memegang kertas tersebut. Aku tidak segera membacanya. Kulihat Dita menangis, membersihkan air matanya dengan sapu tangan berwarna biru. Dia hanya diam menundukkan pandangan.

“Kertas apa ini Dita?”
“Mas Reza silahkan baca sendiri” jawabnya sambil terisak. Dia menangis.

Perlahan, kubuka dan kubaca.

Salam sahabatku. Apa kabar? Aku berharap engkau selalu dalam keadaan sehat. Terus semangat menggapai mimpi yang dulu pernah kita lukis bersama di pinggiran kali “muara sambat” yang sering kita kunjungi. Kita memang sudah lama tidak bertemu karena jarak yang memisahkan. Tapi jangan khawatir, aku masih ingat akan dirimu. Ingat akan kebersamaan kita dalam meraih mimpi beberapa tahun yang lalu.

Sahabatku, maaf jika baru kali ini aku memberitahumu tentang hal ini. Dulu, sebenarnya aku tahu akan getar-getar cintamu kepada Andita. Akan tetapi, aku pun merasakan getaran yang sama. Aku jatuh cinta kepadanya. Aku tidak ingin lama-lama memendam rasa. Aku tidak ingin terus menimbang rasa, segera kulamar Andita. Kami pun menikah. Kulihat air matamu saat mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Maafkan aku.

Kawan, saat engkau membaca surat ini, aku pastikan bahwa aku sudah tidak bisa bertemu denganmu. Aku  tidak bisa menjabat tanganmu lagi. Aku titipkan surat ini kepada Andita. Dia yang akan membawa surat ini kepadamu. Aku telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali.

Reza, sore ini mendung. Aku menuliskan surat ini sambil menangis, menahan sakit yang terus membuat tubuhku menjadi lemah. Aku sudah tidak sekuat dulu lagi, Za. Aku sudah tidak mampu berlari bersamamu seperti dulu. Aku hanya bisa duduk di kursi roda ini, Za.

Sahabatku, kali ini izinkan aku meminta pertolonganmu. Aku berharap engkau akan mengerti akan rasa yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Coba engkau lihat wajah Andita Istriku, dia masih cantik seperti dulu. Dia seorang istri yang sholehah. Dia sangat berbakti kepadaku, mencintaiku apa adanya. Setia menemaniku meski sekarang semua tidak seperti dulu lagi.

Reza, aku ingin engkau menikahi Andita. Aku tidak tega melihatnya membesarkan Shaulla putri kecilku sendirian. Aku ingin memastikan bahwa dia akan mendapatkan kasih sayang seorang Ayah yang tulus mencintainya dengan sepenuh hati. Kasih sayang yang tulus itu aku inginkan darimu. Namun, jika memang engkau sudah mempunyai pendamping hidup, jangan paksakan untuk memadu istrimu. Aku tidak ingin ada yang tersakiti karena permintaanku. Nikahi Andita jika memang kemungkinan itu masih ada. Kutitipkan Andita dan Putriku kepadamu.

Sahabatmu
Raka Hartono

Air mataku menganak sungai. Bayang-bayang Raka terus hadir dalam benakku. Kenangan demi kenangan satu persatu hadir mengingatkanku tentangnya. Aku menangis mengetahui bahwa dia sudah pergi meninggalkanku. Pergi dan tidak akan pernah kembali.

Kutatap Andita yang masih menangis. Shaulla sedang tertidur pulas dipangkuannya. Matanya memerah karena terus menangis.

“Apa yang terjadi, Dita?”

*

Andita memulai ceritanya.

Mas Reza, aku bahagia menikah dengan Mas Raka. Dia adalah suami idaman. Dia mencintaiku dengan tulus. Kebahagian kami semakin bertambah setelah kehadiran Shaulla. Tangisnya, tawanya, membuat rumah kami bak surga. Aku benar-benar bahagia.

Namun, Tuhan memberi kami cobaan begitu berat. Aku tetap meyakini bahwa Tuhan tidak akan mencoba hamba-Nya diluar dari batas kemampuan hamba-Nya. Aku menerima semua cobaan itu dengan penuh kesabaran. Tidak pernah aku mengeluh atas semua itu.

Saat Shaulla berumur dua tahun, sedang lucu-lucunya, Mas Raka mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di kursi roda menahan sakit yang terus menyiksanya dari hari ke hari. Akan tetapi, aku mencintainya, Mas. Aku tetap bersamanya. Aku rela kerja demi memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Kerja serabutan. Aku masih bahagia.

Malam itu, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Dia memanggil Mas Raka lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku ikhlas melepasnya. Karena tidak ada yang bisa mengetahui kapan seseorang akan kembali ke sisi-Nya. Aku ikhlas.

Andita berhenti bercerita, dia menundukkan kepalanya sambil memandangi wajah buah hatinya yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.

“Mas, hanya itu yang bisa kuceritakan.”

“Aku datang ke sini ingin menyampaikan surat yang ditulis oleh Mas Raka. Aku tidak ingin memaksa Mas menjalankan amanat dari Mas Raka. Namun, jika memang Mas bersedia untuk menikah denganku, aku rela menjadi Istrimu. Aku akan mencoba untuk menjadi istri yang baik. Seorang Istri yang berbakti kepada suami.”

*

Aku bersujud di hadapan-Nya. Meminta petunjuk dari Dia yang Maha Kuasa. Aku mengadu akan jawaban apa yang akan kuberikan kepada Andita. Jujur, rasa itu masih ada. Aku masih mencintainya. Namun, perasaanku kepadanya tidak seperti dulu lagi.

Hari ini aku sudah berjanji akan memberikan jawaban. Aku berharap apapun jawabanku, Dita akan menerima semua ini dengan lapang dada. Tidak lama kemudian, Dita datang. Dia  duduk di hadapanku. Shaulla bergelayut manja di pangkuan Ibunya. Dia tersenyum menatapku. Ada ketenangan melihat senyum buah hatinya. Beberapa saat kemudian, Shaulla menarik tanganku, memanggilku dengan panggilan “Ayah”.

“Ayah sudah lama menunggu?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ada kebahagiaan mendengar panggilan itu.

“Ayah Belum lama menunggu Nak Shaulla” jawabku.

Andita meneteskan air mata mendengar pertanyaan Putrinya.


Andita, perjalanan jauh telah engkau tempuh. Engkau rela menemuiku hanya untuk mengantarkan surat wasiat yang ditulis oleh Raka suamimu, sekaligus sahabatku.

“Aku bersedia menikah denganmu. Percayalah, aku bersedia menikah denganmu bukan karena rasa kasihan, akan tetapi karena aku masih mencintaimu.” Ucapku dengan penuh keyakinan.

Kutatap langit,

“Sahabatku, aku mengabulkan permintaanmu. Aku bersedia menikah dengan Andita. Tuhan membantuku menjawab semua ini. Doaku menyertaimu.”

sumber gambar : disini

March 21, 2012

Air Mata Cinta Hanisah


Menikah, perempuan mana yang tidak ingin menikah? Menjalani hidup dengan seseorang yang disebut Suami, berbagi suka maupun duka, saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan menjadi seorang Ibu. Begitu pun dengan diriku, diumurku yang sudah tidak muda lagi, aku menanti hadirnya seseorang yang akan meminangku, menjadikanku tambatan hatinya, menjadikanku permaisuri dalam bahtera rumah tangganya.

Tidak bisa kupungkiri, kadang aku bertanya kepada Tuhan, siapa jodohku Tuhan? Mengapa begitu lama hati ini Engkau biarkan kosong ?  Izinkan aku mengetahui siapa kelak yang akan menjadi suamiku, agar aku tidak perlu risau. Aku tidak ingin menjadi tuna cinta Tuhan.
Tapi, kembali aku menyadari bahwa Tuhan sudah memilihkan seseorang yang akan menjadi suamiku, dan aku mempercayai itu.

Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan. (QS. An-Naba’ [78] : 8)

*
Bapak memanggilku, mengajakku berbicara tentang seseorang yang ingin datang ke rumah. Seseorang yang ingin mengenalku lebih jauh dengan ta’aruf. Seorang lelaki yang sudah kukenal, katanya. Tapi siapa dia? Ah…aku tunggu saja dia datang ke rumah. Jika memang dia jodohku, aku yakin Tuhan akan mempersatukan kami.

“Afifah, nurut apa kata Bapak” ujarku

Tuhan, inikah jawaban atas doa-doaku selama ini?

Aku duduk di depan meja rias di kamarku, memakai gamis dan jilbab panjang berwarna ungu. Hatiku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentangnya, lelaki yang malam ini akan datang ke rumah dan mengenalku melalui keluargaku. Siapa dia? Benarkah aku sudah mengenalnya? Dimana? Kapan? Seabrek pertanyaan itu datang secara bersamaan.

Seseorang mengetuk pintu kamarku,

“Afifah, Bapak menyuruhmu ke ruang tamu” Ibu mengagetkanku yang sedang melamun.

Aku berjalan menuju ruang tamu dengan penuh tanda Tanya. Ibu memegang erat jari tanganku dan membisikkan kata-kata yang menenangkanku,

“Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya, Nak.”

Aku duduk di antara Bapak dan Ibu. Di depanku ada seorang lelaki yang sudah tidak asing bagiku. Dia datang bersama kedua orangtuanya. Lelaki itu sedang menundukkan pandangannya.

Lelaki itu adalah Mas Haikal, aku memang sudah mengenalnya sejak Ramadhan tahun lalu, dia adalah salah satu Imam di masjid dekat rumah. Selama Ramadhan, dia menjadi Imam shalat tharawih. Suaranya begitu merdu membaca ayat demi ayat Kalam Tuhan. Banyak jama’ah yang memuji keindahan bacaannya, merdu suaranya, dan kerendahan hatinya.

Aku memang tidak pernah berkenalan langsung dengannya. Aku hanya sebatas tahu namanya, dan tentangnya dari cerita teman-teman akhwat-ku yang menaruh hati padanya. Tapi, mengapa dia ingin mengenalku? Bukankah masih banyak akhwat yang lebih cantik, cerdas, dan sholihah dariku?

Astaghfirullah, apa yang baru saja kupikirkan? Bukankah Tuhan tidak pernah memandang kecantikan, kecerdasan dan kekayaan seseorang sebagai landasan kemulian?

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” 
(QS. Al-Hujurat [49]:13)

**
Ayah mengenalkanku dengan Haikal dan kedua orang tuanya. Aku menjabat kedua tangan Ibu haikal, kemudian menangkupkan kedua tanganku di depan dada sebagai wujud penghormatanku kepada Haikal dan Ayahnya. Aku tidak mungkin menjabat tangan mereka. Aku yakin mereka mengerti maksudku.

Perkenalan keluarga begitu hangat, Ayah Haikal menceritakan tentang anaknya yang baru pulang ke Indonesia. Sebelumnya, dia menuntut ilmu di Negeri Jiran Malaysia. Tepatnya di Universitas Kebangsaan Malaysia. Haikal satu Universitas dengan Hanisah Adikku. Dia juga menceritakan tentang niat anaknya yang ingin mengenalku lebih jauh melalui pendekatan keluarga. Berharap akan ada niat yang sama antara diriku dan dirinya untuk membangun cinta meraih ridho-Nya. Haikal bukan hanya sekedar ingin mengenalku, dia langsung melamarku di depan kedua orang tuaku.

Aku sempat terkejut mendengar ucapan Ayahnya. Tapi kucoba untuk menyembunyikan keterkejutanku, mencoba untuk tenang. Kupegang erat tangan Ibu di sampingku, Ibu memandangku dan tersenyum.

“Saya serahkan semuanya kepada Afifah, karena dia yang akan menjalani” Bapak menjawab maksud dan tujuan kedatangan keluarga Haikal.
“Beri saya waktu untuk memikirkan hal ini” jawabku.

***
Hanisah duduk di ruang makan, tidak jauh dari ruang tamu. Dia adalah adik perempuan Afifah. Dia tidak sengaja mencuri dengar perbincangan di ruang tamu. Ada embun di pojok sana, membasahi kedua bola matanya. Ada sakit yang menjelma di dalam hatinya. Sakit seperti ditusuk-tusuk duri tanpa belas kasihan. Terbayang dalam ingatannya saat pertama kali bertemu dengan Haikal di  Bangi, Selangor. Mereka bertemu pada saat pertemuan Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Kebangsaan Malaysia (PPI UKM). Sejak itu, dia mulai mengagumi sosok Haikal yang santun, cerdas dan sederhana.

Tapi, dia mencoba untuk menyembunyikan semua itu saat Afifah menghampirinya.

“Nisa, kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa, kak. Nisa ke kamar dulu.”

Hanisah berlalu meninggalkan Afifah yang kebingungan melihat Adiknya. Dia sempat melihat bekas air mata yang membasahi pipi Adiknya. Hanisah berlari masuk ke dalam kamar sambil menghapus air matanya. Dia menuju kamar mandi, membasuh anggota badannya dengan air wudhu, kemudian bersujud di atas sajadah panjang.

Ya Allah,
Ampuni hamba yang menangis bukan karena-Mu
Menangis karena kecintaanku kepada makhluk-Mu
Aku tidak ingin buta karena cinta kepada ciptaan-Mu
Aku serahkan semua rasa ini pada-Mu.
Aku ingin mencintai karena kecintaanku kepada-Mu.

Setelah mengadukan segala keluh kesahnya kepada Allah Tuhannya, ada ketenangan di hati Hanisah.

****
Haikal dan Afifah bersanding di pelaminan. Para tamu undangan mengucap selamat atas pernikahan mereka, mendoakan mereka,

“Barakallahulakuma Wa Barakallahu’alaikuma Wa Jama’a Bainakuma Filkhair”

Keduanya begitu serasi.

Sedangkan Hanisah, ia membaur bersama tamu undangan, bercengkerama dengan mereka, mencoba untuk menepis rasa yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Ia mengenakan gamis dan jilbab panjang berwarna merah marun. Dia cantik.

Dalam untaian do’a, Nisa mengadukan segalanya kepada yang Maha Cinta, kepada Allah yang menilai hati manusia.

Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku pasangan dan anak-anak yang menggembirakan hatiku. Dan jadikanlah aku perintis orang-orang yang bertakwa.

sumber gambar Disini

March 19, 2012

Taman Surga



Buku-buku itu kini mulai usang dan berdebu. Satu persatu kubuka, kubaca, dan kukenang kembali. Semua itu adalah buku pribadiku, tidak ada seorang pun kuizinkan untuk membacanya. Dia menyimpan begitu banyak cerita tentangku. Tentang malam yang dingin kala hujan membasahi bumi, tentang kepingan rindu yang tak sanggup kusatukan kembali, tentang air mata yang menemani hari-hariku, tentang tekad yang menguatkanku, tentang mimpi-mimpi yang ingin kuraih, tentang sahabat yang membuat hidupku lebih berwarna, dan tentangnya yang kusebut dengan cinta.

7 Mei 2001
Hari ini aku duduk di pematang sawah, memberi makan bebek-bebek peliharaan Ayah. Menunggu siang berganti malam, menunggu matahari bergantikan  redupnya sinar rembulan. Ditemani rumput-rumput yang mulai meninggi, dan suara gemuruh air yang mengalir di siring sawah.

Teman-temanku sudah sibuk kesana-kemari mendaftar ke sekolah impian mereka. Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke sekolah menengah pertama favorit, atau pergi meraih mimpi ke kota. Sementara aku belum mendaftar ke satu sekolah pun. Entah apa yang terjadi, aku tidak tertarik belajar di sekolah-sekolah umum yang ada di kecamatan. Setiap kali Ayah menanyakan keinginanku, aku hanya menjawab,

“Aku belum tahu mau masuk ke sekolah mana, Ayah”

Mendengar jawabanku, Ayah hanya diam dan menganggukkan kepalanya.

11 Mei 2011
Dia berasal dari Medan Sumatera Utara, aku memanggilnya Abang Nur, dialah yang selama ini mengajarkanku baca tulis al-Qur’an. Setiap selesai mengaji, dia memberikan tugas untuk menulis kurang lebih sepuluh ayat.

“Biar kalian pandai menulis Arab” ucapnya.

Semua ucapannya itu terbukti. Kini aku pandai menulis Arab. Dia juga yang memberiku semangat untuk belajar ilmu Agama.

19 Mei 2001
Bang Nur datang menemui Ayah, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku duduk di depan televisi, bersama Tenti adik perempuanku. Kami berdua bercanda ria, tertawa, aku paling suka mencubit pipinya sampai memerah.

Setelah Bang Nur pulang, Ayah memanggilku ke ruang tamu. Ibu duduk di samping Ayah, aku duduk di depan mereka berdua. Ayah memberitahuku maksud kedatangan Bang Nur adalah ingin memasukkanku ke sebuah Pondok Pesantren di Kota Bengkulu. Roudlotul Ulum namanya. Ada semangat yang mengalir dari dalam diri, aku langsung setuju dengan semua itu dan bersedia belajar di Pesantren.

*
Aku kembali membalik lembar demi lembar catatan harianku, kutemukan tulisan yang membuatku tersenyum, tertawa mengenang masa itu.

28 Agustus 2001
Sudah hampir satu bulan lamanya aku menjadi santri, aku masih belum terbiasa jauh dari orang tua, aku rindu dengan masakan Ibu, aku rindu dengan pijitan Ayah, aku rindu dengan Tenti yang masih kecil nan lugu, rindu dengan Adik Meko yang baru berumur tiga tahun.

Tuhan, malam ini aku menangis lagi seperti malam-malam sebelumnya. aku menangis di balik selimut putih bergaris-garis hitam pemberian sekolah. Teman satu kamarku tidak ada yang tahu bahwa aku menangis meratapi rindu yang menyesakkan dada. Mereka mengira aku sudah hanyut dalam mimpi di balik selimutku, padahal aku menangis Tuhan.

Ini rahasia kita Tuhan, jangan sampai mereka tahu ada air mata yang menemani malamku.

2 Oktober 2001
Sekarang aku sudah mulai betah belajar di Pesantren. Aku mempunyai banyak kawan, mereka semua baik padaku. Ibu rutin berkunjung ke Pesantren. Butuh waktu lima jam dari kampung ke Pesantren. Aku juga baru tahu bahwa arti nama pesantren “Roudlotul Ulum” itu artinya “Taman Surga”. Aku mulai menyukai Bahasa Arab, aku sudah mulai berani mengucapkan “Shobahal Khair” yang berarti selamat pagi kepada teman-temanku, dan beberapa kalimat percakapan sehari-hari yang kupelajari setiap ba’da subuh.

Aku suka suasana pesantren, aku tinggal di Pondok Badar. Asrama kami berbentuk pondokan-pondokan kecil menyerupai rumah adat Bengkulu. Aku dan tujuh orang temanku tinggal di Pondok Badar. Mereka berasal dari Kabupaten yang berbeda; Candra berasal dari Kabupaten Muko-Muko, Marsuan dan Hendry berasal dari Bengkulu Selatan, dan empat orang lainnya berasal dari Bengkulu Utara.

27 Desember 2001
Hari ini aku pulang ke rumah, ingin melepas rindu dengan keluarga, berkunjung ke sanak saudara, dan bermain bersama teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Meski baru beberapa bulan aku meninggalkan kampung halaman, tapi rindu ini begitu besar, dan aku ingin mengobati rasa rindu ini dengan bertemu mereka.

Aku sudah sampai di rumah, sekarang aku sedang berada di kamar melepas penatnya perjalanan. Tadi aku sudah menikmati masakan Ibu, dipijit oleh Ayah, dan tentunya bermain bersama kedua adikku Tenti dan Meko. Kedua adikku begitu bahagia melihat kedatanganku, mereka bergelayut manja di pundakku.

Setelah tinggal di Pesantren, berat badanku menurun, Kak Yunita sempat mengejekku, waktu melihatku datang dengan tubuh yang kurus kering seperti orang yang sudah lama tidak makan. Kak Yuni memanggilku “kutilang” kurus tinggi langsing. Katanya tubuhku menyaingi tiang listrik yang ada di depan rumah. 

28 Desember 2001
Hari ini hari Jum’at, dan hari ini pertama kali aku disuruh menjadi khotib di masjid depan rumah. Karena ini pengalaman pertama, badanku bergetar hebat, peluhku membasahi kemeja putih polos yang kupakai.

Semoga di kesempatan selanjutnya aku jadi lebih berani berdiri di depan sana, berbicara dengan lantang di atas mimbar, dan menyeru umat kepada kebaikan.

*
Adzan isya berkumandang, kututup buku harianku, menghentikan sejenak aktifitas dan segera menuju rumah-Nya, aku ingin menghadap-Nya. Kubasuh anggota badanku dengan air wudhu, kubiarkan bekas air wudhu menetes, dan ikut masuk ke dalam barisan para jama’ah yang sudah lebih dulu datang ke masjid.

Setelah shalat, aku bertawajjuh kepada-Nya, mengucapkan untaian doa, memohon ampunan dan ridho-Nya.
Tuhan,
Terimakasih hari ini Engkau masih memberikanku kesempatan untuk bisa menghadap-Mu. Terimakasih atas kesempatan yang telah Engkau berikan kepadaku, kesempatan untuk menuntut Ilmu di Taman Surgamu.

Mengarus Senja


Aku duduk di pinggiran sungai, menjentikkan jari-jariku di atas air, melemparkan batu-batu kecil ke tengah sungai. Melihat betapa besar kuasa-Nya, betapa indah ciptaan-Nya. Batu-batu besar yang tersebar di sepanjang sungai, pepohonan rindang yang berjejer rapi di pinggir sungai, burung-burung yang berkicau merdu, semua hanyalah bagian kecil dari keindahan yang telah Ia berikan kepada makhluk-Nya. Di bagian hilir, beberapa warga sedang menikmati kejernihan air sungai, mandi, mencuci baju, dan mengangkut air ke rumah dengan ember-ember berukuran sedang. Suasana yang sejuk, indah, dan menenangkan. Rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan atas segala yang telah Ia berikan.

Ibu menghampiriku, duduk di sampingku, dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Kami hanya diam melihat keagungan Tuhan, hanyut dalam pikiran masing-masing. Ibu membawa segelas air putih, kemudian memberikannya kepadaku.

“Kamu merindukan Bapak?” tanya Ibu, sambil melihat ke arahku.

Siapa yang tidak rindu dengan orang yang selama ini telah mendidikku hingga aku bisa menjadi seperti ini? Seseorang yang telah mengajarkanku bagaimana mensyukuri segala nikmat yang telah Ia berikan, seseorang yang selama ini telah membuatku menjalani hidup ini dengan senyuman dan penuh syukur.

“Iya, Aziz rindu dengan Bapak” jawabku pelan.

Bapak, dia laki-laki yang selama ini mengajarkanku bagaimana menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Aku belajar tanggung jawab darinya, bagaimana dia berjuang demi kami sekeluarga, mencari ikan di sepanjang sungai yang membelah desa kami dengan desa sebelah. Sebuah sungai yang kami beri nama “penyandingan”. Aku tidak tahu pasti mengapa sungai itu diberi nama penyandingan. Kata Bapak, para tetua kampung yang memberikan nama tersebut. Hanya itu saja, Bapak tidak menjelaskan mengapa nama itu yang dipilih.

Meski kami bukan berasal dari keluarga yang kaya, akan tetapi kami merasakan kebahagiaan yang cukup. Karena dalam situasi apa pun sebenarnya kita bisa hidup dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan ada apabila kita hidup dengan penuh rasa syukur. Mensyukuri hidup berarti telah membuka pintu kebahagiaan dan ketenangan bathin. 

Bapak dengan gigih menyekolahkanku ke kota. Setiap awal bulan, Bapak datang menjengukku, membawa segala kebutuhanku selama belajar di kota; beras, minyak tanah, aneka macam sayur mayur, dan buah-buahan. Bapak menanam beraneka macam sayur mayur di ladang, menghiasi halaman rumah dengan tanaman bayam, dan menanam pohon pisang di belakang rumah. Rumah kami begitu sejuk, hijau, dan asri.

*
Pagi ini, aku dan Bapak akan pergi mencari ikan di sungai, menggunakan sebuah kail, dan jaring ikan yang berukuran sedang. Kami berjalan menyusuri sungai yang berbatu, menuju hulu sungai. Batu-batu berukuran besar menjadi pemandangan yang menakjubkan. Bapak menyuruhku duduk di sebuah batu sambil mengail ikan dengan sebatang kail yang terbuat dari bambu.

Bapak memasang jaring ikan dari tempatku duduk sampai ke seberang sungai. Ia berenang dengan lincahnya bak atlit renang yang sering kulihat di televisi tetangga. Setelah selesai memasang jaring, Bapak bermaksud kembali menyeberang dan duduk bersamaku. Tiba-tiba, sesuatu terjadi begitu cepat. Suara gemuruh air dari hulu sungai mengejutkanku, mengejutkan Bapak yang sedang berenang. Bapak tidak bisa bertahan, arus air begitu kuat, membawa tubuh kurusnya ke hilir dan terhempas ke batu-batu yang ada di sungai. Aku berteriak meminta tolong, berharap ada warga yang sedang berada di dekat sungai. Suaraku menjadi serak karena terus berteriak  meminta tolong, namun tidak ada satu pun orang yang mendengarkan jeritanku. Aku hanya anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya mampu melihat Bapak yang hanyut hingga menghilang dari penglihatan. Kami berada di tempat yang cukup jauh dari pemukiman warga. Bapak sudah hilang, tenggelam bersama keruhnya air sungai.

Aku berlari dengan mata yang berembun, detak jantung yang tak menentu, meminta tolong ke warga kampung. Beberapa warga berlari mengikutiku, menuju tempat dimana Bapak hilang terbawa derasnya air sungai. Pencarian terus dilakukan hingga senja menjelang, Bapak ditemukan dibalik sebuah batu, tersangkut di ranting pohon berukuran lengan orang dewasa yang melintas di celah-celah batu. Tubuhnya sudah memucat, dan seukir senyum menghias wajahnya.

Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu Bapak, hari terakhir aku pergi mencari ikan bersamanya. Biasanya, setelah selesai mencari ikan, kami langsung menjual ikan hasil tangkapan, kemudian membeli segala kebutuhan kami sehari-hari.

*
“Kamu ingat pesan Bapakmu waktu kamu mau sekolah ke Kota?” Ibu menanyaiku yang sedang tertunduk menahan haru karena rindu.

Aku menganggukkan kepala kemudian menatap wajah Ibu yang sudah renta.

Tidak mungkin aku melupakan pesan itu, sebuah pesan yang selalu dia ucapkan.

“Jangan tinggalkan shalat, Nak”

Itu saja, karena ketika seseorang sudah mendirikan shalat dengan baik, Insyaallah dia bisa menjadi anak yang baik. Seorang anak yang menjalankan segala ajaran shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Bapak akan marah jika tahu anak-anaknya tidak melaksanakan shalat, dan akan marah jika kami tidak mengaji di masjid. Ia selalu mengatakan ;

“Kalian boleh menjadi apa pun; dokter, polisi, guru, atau yang lain. Bapak tidak pernah memaksakan kehendak. Akan tetapi, jangan pernah lupa untuk beribadah kepada-Nya. Karena hakekat manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya” Bapak sering mengingatkan kami akan hal ini.

Senja menjelang, para petani kembali ke rumah mereka masing-masing, anak-anak kecil berlarian di pinggir sungai, aku berjalan bersama Ibu menuju rumah. Melangkahkan kaki di atas bumi-Nya, melewati hamparan sawah yang hijau, mensyukuri segala karunia-Nya dalam tiap hembusan nafas.

Tuhan,
Bapak sudah mengenalkanku kepada-Mu
Mengajarkanku bagaimana bersujud kepada-Mu
Mengingatkanku yang kadang lupa kepada-Mu
Membimbingku agar menjadi hamba-Mu

Tuhan,
Kutitipkan rindu ini padamu

Sumber gambar : di sini