March 14, 2012

Ayah, Kami rela melepasmu

Bangunan itu berwarna putih bersih, terdiri dari lima lantai. Aku berdiri di pintu gerbang, melihat ke sekeliling bangunan, memberanikan diri untuk menyapa siapa saja yang lewat di pintu gerbang. Menyapa mereka dengan sebuah senyuman. Setelah sempat bertanya dengan beberapa mahasiswa, aku menuju bagian informasi dan menanyakan kamar nomor berapa yang akan jadi tempat tinggalku selama di sini. Asrama, bangunan lima tingkat itu adalah asrama yang akan menjadi tempat tinggalku selama menuntut ilmu di sini.

Jakarta adalah kota pertama yang kukunjungi, selama ini aku hanya tinggal di sebuah desa terpencil di pulau Sumatera, desa yang berdekatan dengan perbatasan antara Bengkulu dan Lampung. Sebelumnya aku belum pernah bepergian ke kota lain.

*
Delapan tahun yang lalu, aku adalah anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, akan tetapi cita-cita itu langsung berubah setelah melihat Paman yang mengenakan seragam tentara.

“Pak, ari mau jadi seperti Paman” ucapku pada Ayah.

Ayah hanya tersenyum mendengar ucapanku. Dia menatap wajah polosku, kemudian menggendongku dari sawah sampai ke rumah.

Ternyata perubahan cita-cita itu tidak berhenti sampai di situ saja. Suatu ketika, Bapak mengajakku melihat lomba mengaji di kampung sebelah. Seorang anak kecil melantunkan ayat demi ayat dengan merdu, dan membuat ari kecil menitikkan air mata. Entahlah, waktu itu aku begitu tersentuh dengan lantunan ayat demi ayat yang dibacakan oleh anak kecil itu. Sejak itu, aku bilang ke Ayah,

“Ari mau jadi anak yang pandai baca Al-Qur’an”

Ayah memberiku kesempatan belajar membaca Al-Qur’an di salah satu langgar yang ada di desa sebelah. Setiap sore Ayah mengantarkanku untuk belajar mengaji.

Cita-cita itu kemudian berkembang, dari ingin bisa membaca Al-Qur’an, berkembang menjadi ingin bisa membaca dan hapal Al-Qur’an. Demi mewujudkan cita-citaku, Ayah menjadikanku seorang santri di salah satu Pesantren. Pagi aku sekolah di Sekolah Negeri, sore harinya menjadi santri di Pesantren.

*
Umur dua belas tahun adalah masa dimana Ayah memberikanku sebuah hadiah yang sampai hari ini masih kuingat, meski sekarang hadiah itu sudah tidak bisa kupakai lagi, sudah lusuh, sudah tidak bisa kubawa kemana pun aku pergi. Ayah memberikanku sebuah Al-Qur’an. Itu adalah Al-Qur’an pertama yang menjadi milikku sendiri, sekaligus pemberian terindah kala itu.

“Karena kamu sudah selesai iqra 6, maka Ayah belikan Al-Qur’an ini sebagai hadiah.” Ucap Ayah sambil memelukku.

Ayah, dia tidak banyak bicara, dia mencintai kami anak-anaknya dengan cara membangunkan kami yang sedang tidur lelap kala adzan subuh berkumandang, dia menyayangi kami dengan cara mengajarkan kami bagaimana cara shalat, dia menyayangi kami dengan cara bekerja seharian di kebun demi kami sekeluarga, dia menyayangi kami dengan cara mengantarkan kami ke sekolah dengan sepeda ontel miliknya. Serta masih banyak lagi perlakuan sederhana yang dia lakukan sebagai wujud dari kasih sayangnya kepada kami. Aku bahagia memiliki seorang Ayah sepertinya. Dia adalah Ayah terbaik di dunia ini, dia adalah pahlawan bagiku.

Aku masih ingat dengan baik kekhawatiran Ayah waktu tahu kakiku terluka. Padahal lukanya tidak seberapa, hanya tergores sedikit. Waktu itu, aku merengek untuk diajak ke sawah, aku ingin ikut panen padi. Kemudian aku terjatuh, kakiku terkena batu yang ada di pinggir sawah. Ayah berlari menghampiriku, saat mendengar aku menangis tersedu-sedu. Terlihat jelas raut wajahnya yang begitu panik melihatku menangis, melihat aliran darah segar yang keluar dari lututku. Meski panik, Ayah mencoba untuk menenangkanku.

Ah, sungguh banyak kenangan antara aku dan Ayah.

*
Aku sedang mengikuti proses pembelajaran di kampus, Kak Widya mengirim pesan singkat,

“Ari, segera pulang, kami sekeluarga sudah kangen”

Dahiku berkerut, bukannya baru tiga bulan lamanya aku meninggalkan kampung halaman? Pasti kakak hanya becanda jawabku singkat.

“Ayah memintamu untuk segera pulang”

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang ketika membaca pesan singkat dari Kak Widya. Ada apa dengan Ayah?

Langit Jakarta tertutup oleh mendung tebal, kilatan petir menghiasi langit yang mulai gelap. Hujan pun turun secara perlahan membasahi bumi. Aku sedang menunggu bus yang akan membawaku ke Ayah. Ada rasa khawatir yang cukup hebat bergejolak di dada. Sebuah rasa yang aku sendiri tidak bisa mengungkapkannya melalui untaian kata-kata. Wajah Ayah langsung menjadi bayang-bayang yang memenuhi benakku.

“Ayah, aku kembali”

*
Ayah sedang tidur, dia tidur berselimutkan kain berwarna putih, dia sedang dirawat di rumah sakit daerah. Aku menjabat kedua tangan Ibu, kemudian mencium keningnya.

“Ayah sedang istirahat” ucap Ibu.

Ayah sedang berjuang melawan penyakit yang dia derita, aku tidak pernah tahu bahwa pahlawanku selama ini sedang berjuang melawan penyakit yang ada di tubuhnya. Dia selalu tersenyum melihat kami anak-anaknya, tidak pernah dia menampakkan wajah kesedihan. Entahlah, mungkin itu juga salah satu caranya menunjukkan rasa sayangnya. Dia tidak ingin kami melihatnya sedang sedih.

“Ayah, aku menyayangimu” aku mengucapkan kalimat itu sambil mencium rambutnya yang beruban.

Aku dan Kak Deni duduk di depan kamar Ayah, kami berdua tidur secara bergantian hingga subuh menjelang. Suara adzan subuh berkumandang merdu menghiasi malam yang gelap. Aku terbangun dari lelap tidur, kulihat Kak Deni sedang berada di dekat Ayah, dia mencium keningnya, kemudian membantu Ayah duduk.

“Ayah, haus” suara pelan Ayah bisa kudengar dengan baik.

Aku menghampiri Ayah, Kak Deni mengambilkan segelas air putih.

“Ari, kamu shalat subuh dulu, biar Kakak yang menjaga Ayah.” Kak Deni menyuruhku untuk shalat lebih dulu.

Aku pergi meninggalkan Kak Deni dan Ayah menuju ke mushola yang ada di rumah sakit. Dalam doa, aku bermunajat kepada-Nya agar memberikan yang terbaik bagi Ayah.

Ya Allah,
Berilah dia tetap hidup jika memang hidup itu lebih baik baginya,
dan cabutlah nyawanya, jika memang mati itu lebih baik baginya .
Aku percaya dengan segala kehendak-Mu.
Setelah shalat, kulihat Kak Deni berdiri di depan pintu sambil menangis. Entah apa yang terjadi, aku mempercepat langkahku.
“Kak, Ayah nggak apa-apa kan?” tanyaku.
Kak Deni menatapku, memegang pundakku, lalu memelukku.
“Ayah, sudah tiada ri” ucapnya sambil terisak.
Kulepaskan pelukannya, aku berlari memeluk Ayah. Ayah sudah menutup mata,  Aku duduk disamping Ayah sambil memegang kedua tangannya.
Ayah, ini sudah ketentuan yang Maha Kuasa. Ayah tidak perlu khawatir dengan Ibu, kami akan menjaganya dengan baik sebagaimana Ayah menjaga kami dengan penuh kasih sayang. Ayah juga tidak perlu khawatir dengan kuliahku, Insyaallah Dia akan memberikan jalan agar aku bisa kembali belajar dan menggapai semua mimpi yang pernah kita rajut bersama dulu.
Ayah,
Pergilah, kami rela melepasmu.

4 comments:

  1. semoga Allah memberi tempat terindah untuk ayahnda :)

    ReplyDelete
  2. ayah??
    aku sudah lupa bagaimana mengeja kata itu
    hhahahaaa,,


    shelltam.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga masih ingat dengan kasih sayang yang telah Ayahmu berikan ya :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan