March 19, 2012

Mengarus Senja


Aku duduk di pinggiran sungai, menjentikkan jari-jariku di atas air, melemparkan batu-batu kecil ke tengah sungai. Melihat betapa besar kuasa-Nya, betapa indah ciptaan-Nya. Batu-batu besar yang tersebar di sepanjang sungai, pepohonan rindang yang berjejer rapi di pinggir sungai, burung-burung yang berkicau merdu, semua hanyalah bagian kecil dari keindahan yang telah Ia berikan kepada makhluk-Nya. Di bagian hilir, beberapa warga sedang menikmati kejernihan air sungai, mandi, mencuci baju, dan mengangkut air ke rumah dengan ember-ember berukuran sedang. Suasana yang sejuk, indah, dan menenangkan. Rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan atas segala yang telah Ia berikan.

Ibu menghampiriku, duduk di sampingku, dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Kami hanya diam melihat keagungan Tuhan, hanyut dalam pikiran masing-masing. Ibu membawa segelas air putih, kemudian memberikannya kepadaku.

“Kamu merindukan Bapak?” tanya Ibu, sambil melihat ke arahku.

Siapa yang tidak rindu dengan orang yang selama ini telah mendidikku hingga aku bisa menjadi seperti ini? Seseorang yang telah mengajarkanku bagaimana mensyukuri segala nikmat yang telah Ia berikan, seseorang yang selama ini telah membuatku menjalani hidup ini dengan senyuman dan penuh syukur.

“Iya, Aziz rindu dengan Bapak” jawabku pelan.

Bapak, dia laki-laki yang selama ini mengajarkanku bagaimana menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Aku belajar tanggung jawab darinya, bagaimana dia berjuang demi kami sekeluarga, mencari ikan di sepanjang sungai yang membelah desa kami dengan desa sebelah. Sebuah sungai yang kami beri nama “penyandingan”. Aku tidak tahu pasti mengapa sungai itu diberi nama penyandingan. Kata Bapak, para tetua kampung yang memberikan nama tersebut. Hanya itu saja, Bapak tidak menjelaskan mengapa nama itu yang dipilih.

Meski kami bukan berasal dari keluarga yang kaya, akan tetapi kami merasakan kebahagiaan yang cukup. Karena dalam situasi apa pun sebenarnya kita bisa hidup dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan ada apabila kita hidup dengan penuh rasa syukur. Mensyukuri hidup berarti telah membuka pintu kebahagiaan dan ketenangan bathin. 

Bapak dengan gigih menyekolahkanku ke kota. Setiap awal bulan, Bapak datang menjengukku, membawa segala kebutuhanku selama belajar di kota; beras, minyak tanah, aneka macam sayur mayur, dan buah-buahan. Bapak menanam beraneka macam sayur mayur di ladang, menghiasi halaman rumah dengan tanaman bayam, dan menanam pohon pisang di belakang rumah. Rumah kami begitu sejuk, hijau, dan asri.

*
Pagi ini, aku dan Bapak akan pergi mencari ikan di sungai, menggunakan sebuah kail, dan jaring ikan yang berukuran sedang. Kami berjalan menyusuri sungai yang berbatu, menuju hulu sungai. Batu-batu berukuran besar menjadi pemandangan yang menakjubkan. Bapak menyuruhku duduk di sebuah batu sambil mengail ikan dengan sebatang kail yang terbuat dari bambu.

Bapak memasang jaring ikan dari tempatku duduk sampai ke seberang sungai. Ia berenang dengan lincahnya bak atlit renang yang sering kulihat di televisi tetangga. Setelah selesai memasang jaring, Bapak bermaksud kembali menyeberang dan duduk bersamaku. Tiba-tiba, sesuatu terjadi begitu cepat. Suara gemuruh air dari hulu sungai mengejutkanku, mengejutkan Bapak yang sedang berenang. Bapak tidak bisa bertahan, arus air begitu kuat, membawa tubuh kurusnya ke hilir dan terhempas ke batu-batu yang ada di sungai. Aku berteriak meminta tolong, berharap ada warga yang sedang berada di dekat sungai. Suaraku menjadi serak karena terus berteriak  meminta tolong, namun tidak ada satu pun orang yang mendengarkan jeritanku. Aku hanya anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya mampu melihat Bapak yang hanyut hingga menghilang dari penglihatan. Kami berada di tempat yang cukup jauh dari pemukiman warga. Bapak sudah hilang, tenggelam bersama keruhnya air sungai.

Aku berlari dengan mata yang berembun, detak jantung yang tak menentu, meminta tolong ke warga kampung. Beberapa warga berlari mengikutiku, menuju tempat dimana Bapak hilang terbawa derasnya air sungai. Pencarian terus dilakukan hingga senja menjelang, Bapak ditemukan dibalik sebuah batu, tersangkut di ranting pohon berukuran lengan orang dewasa yang melintas di celah-celah batu. Tubuhnya sudah memucat, dan seukir senyum menghias wajahnya.

Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu Bapak, hari terakhir aku pergi mencari ikan bersamanya. Biasanya, setelah selesai mencari ikan, kami langsung menjual ikan hasil tangkapan, kemudian membeli segala kebutuhan kami sehari-hari.

*
“Kamu ingat pesan Bapakmu waktu kamu mau sekolah ke Kota?” Ibu menanyaiku yang sedang tertunduk menahan haru karena rindu.

Aku menganggukkan kepala kemudian menatap wajah Ibu yang sudah renta.

Tidak mungkin aku melupakan pesan itu, sebuah pesan yang selalu dia ucapkan.

“Jangan tinggalkan shalat, Nak”

Itu saja, karena ketika seseorang sudah mendirikan shalat dengan baik, Insyaallah dia bisa menjadi anak yang baik. Seorang anak yang menjalankan segala ajaran shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Bapak akan marah jika tahu anak-anaknya tidak melaksanakan shalat, dan akan marah jika kami tidak mengaji di masjid. Ia selalu mengatakan ;

“Kalian boleh menjadi apa pun; dokter, polisi, guru, atau yang lain. Bapak tidak pernah memaksakan kehendak. Akan tetapi, jangan pernah lupa untuk beribadah kepada-Nya. Karena hakekat manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya” Bapak sering mengingatkan kami akan hal ini.

Senja menjelang, para petani kembali ke rumah mereka masing-masing, anak-anak kecil berlarian di pinggir sungai, aku berjalan bersama Ibu menuju rumah. Melangkahkan kaki di atas bumi-Nya, melewati hamparan sawah yang hijau, mensyukuri segala karunia-Nya dalam tiap hembusan nafas.

Tuhan,
Bapak sudah mengenalkanku kepada-Mu
Mengajarkanku bagaimana bersujud kepada-Mu
Mengingatkanku yang kadang lupa kepada-Mu
Membimbingku agar menjadi hamba-Mu

Tuhan,
Kutitipkan rindu ini padamu

Sumber gambar : di sini

5 comments:

  1. Jadi teringat Bapak,,,

    Pesan sebelum beliau meninggalkan Ibu,saya, dan adik2...

    Baca ini rasanya jiwa saya mengembara saat masih ada dia dan rindu itu semakin terasa :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga Beliau diberi ketenangan di sisi-Nya . Amin

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan