March 12, 2012

Pesona Sang Adam

Gelapnya malam menyelimuti Jakarta. Lalu lalang kendaraan sudah mulai berkurang, hanya ada beberapa kendaraan yang masih melaju dengan kencang, memanfaatkan jalanan yang lengang agar bisa sampai tujuan dengan cepat dan segera beristirahat. Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 23:45. Aku masih berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke Bundaran Hotel Indonesia, siapa tahu masih ada angkutan yang beroperasi meski malam hanya tinggal separuh. Sudah hampir lima belas menit aku berdiri di sini, sambil menghisap sebatang rokok, namun tidak ada lagi angkutan yang beroperasi, ahh…sepertinya taxi adalah pilihan terakhir menuju ke sana.

Aku menghentikan sebuah taxi, kusenderkan kepalaku, mataku mulai terpejam perlahan. Aku mengantuk.

“Nanti kalo sudah sampai Bundaran Hotel Indonesia, tolong bangunkan saya ya, Pak” Ucapku sebelum hanyut dalam mimpi.
*
Aku sudah duduk di Bundaran Hotel Indonesia, menatap bangunan-bangunan tinggi menjulang. Dinginnya angin malam mulai terasa, aku hanya mengenakan kemeja panjang kotak-kotak tanpa jacket. Sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan kantuk yang datang menghampiri. Akan tetapi, Andry sahabatku mengirimkan pesan singkat untuk menemuinya di sini. Ada hal penting yang ingin dia ceritakan. Tapi di mana dia? Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu, dia belum juga datang.

Beberapa saat kemudian, seseorang menyeberang jalan menuju ke arah tempatku duduk, dia mengenakan jacket berwarna hitam, sepertinya dia Andry.

“Sorry, motorku tiba-tiba bocor, jadi aku jalan kaki dari McDonalds ke sini” ucapnya sambil menyeka keringat yang mengalir di mukanya. Kemudian dia duduk di sampingku.

 

Aku memberikannya sebotol air mineral, sepertinya dia cukup lelah berjalan kaki menuju bundaran.


*

Suasana di bundaran sudah semakin sepi, hanya ada beberapa pasang anak muda, sepertinya mereka sedang bahagia merayakan cinta. Ada  yang sedang mengabadikan moment kebersamaan mereka berdua dengan latar belakang Bundaran Hotel Indonesia. Ada juga yang hanya duduk berduaan sambil menatap langit yang penuh dengan kerlap-kerlip bintang.

 

Kami berdua saling diam untuk beberapa waktu, hingga akhirnya Andry mulai menceritakan alasannya memintaku untuk datang menemuinya.

 

“Bara, aku sudah tidak tahan hidup dalam keadaan seperti ini” Andry berucap pelan, sambil menundukkan pandangannya.

“Aku sudah tidak tahan hidup dalam kebohongan, 26 tahun aku hidup dalam keadaan seperti ini, berpura-pura menjadi seorang laki-laki seutuhnya. Bukannya aku tidak mencoba menjadi seperti kalian, yang suka akan kemolekan tubuh wanita, suka akan kecantikan mereka. Akan tetapi, sepertinya semua yang kulakukan sia-sia. Buktinya sampai hari ini aku masih tidak tertarik dengan segala macam keindahan kaum Hawa.” Lanjutnya dengan suara serak.

Setelah selesai mencurahkan segala keluh kesahnya, kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya. Aku hanya menjadi pendengar, tidak berani berkomentar apa-apa tentangnya. Dia memang sahabatku sedari dulu, kami pernah satu kelas di sekolah menengah atas, dan kami pun kuliah di Perguruan Tinggi yang sama. Aku memang sudah tahu tentangnya yang tidak menyukai kaum Hawa, kaum Adam lebih menawan di matanya dibandingkan kaum Hawa. Itu saja, selebihnya dia layaknya seperti laki-laki lain.

“Orang tuamu sudah tahu?” tanyaku dengan penuh hati-hati.

“Belum” jawabnya sambil menghapus air matanya dengan jacket yang ia gunakan.

Apa yang aku alami saat ini, bukanlah sesuatu yang patut untuk mereka ketahui. Ini adalah aib bagiku dan aku tidak ingin menyakiti mereka dengan menceritakan semua ini. Aku tidak ingin Ibu tambah sakit-sakitan saat tahu anak semata wayangnya adalah pecinta kaum Adam. Aku tidak mau melihat Bapak marah setelah tahu bahwa putra kesayangannya, yang selama ini dia dambakan, yang selama ini selalu dia puji, tidak tertarik dengan kecantikan wanita.

Aku memang tertarik dengan laki-laki, akan tetapi, aku selalu mencoba untuk tidak menuruti ketertarikan itu. Sampai hari ini aku tidak pernah menjalin kasih dengan lelaki mana pun. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin terus menerus hidup dalam keadaan seperti ini. Aku ingin membangun keluarga, membina rumah tangga bersama seseorang yang bisa kupanggil Istri, seseorang yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku. Tapi mengapa setelah sekian lama aku mencoba, tidak ada perubahan yang berarti? Aku terus berharap bahwa suatu hari nanti, ketika aku terbangun dari tidur lelap, aku berbeda dengan Andry yang sebelumnya. Aku terbangun dan menjadi Andry yang mulai jatuh cinta dengan Hawa. Mereka para ahli dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki kelainan sepertiku ini bisa kembali menjadi laki-laki normal.

“Tapi mana buktinya?”

Mereka juga bilang;

“Bila seorang laki-laki normal bisa berubah menjadi pecinta sesama jenis, maka laki-laki pecinta sesama jenis pun bisa berubah menjadi laki-laki normal.”

Mudah memang mereka mengatakan hal itu, karena mereka tidak dalam posisiku. Seandainya mereka di posisiku, aku tidak yakin mereka bisa mengatakan semua itu.

“Lupakan semua yang mereka ucapkan, Andry” jawabku

Menurutku, sekarang yang terpenting adalah adanya niat dari dalam hatimu untuk terus meyakinkan dirimu bahwa engkau tidak berbeda. Engkau adalah seorang pria dan pria hanya diperuntukkan untuk wanita, bukan sesama pria. Bukankah dulu engkau pernah bilang bahwa selama harapan itu tetap ada, akan ada masanya di mana dirimu akan terbangun dengan naluri laki-laki. Sebagaimana Adam yang mencintai Hawa. Adam bisa kembali bertemu dengan Hawa karena ia hidup dengan harapan. Dan aku yakin, masih ada harapan bagimu untuk berubah. Tidak ada usaha yang sia-sia, pasti akan ada hasilnya. Mungkin bukan saat ini, tapi nanti. Teruslah mencoba.

*

Suasana hening, aku hanyut dalam pikiranku sendiri. Andry berjalan mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia. Entah sudah berapa kali dia berjalan mengitari bundaran. Aku membiarkannya untuk berpikir dan berharap akan timbul harapan baru yang akan membuatnya kuat untuk terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Dalam kondisi seperti ini, dia memang butuh seseorang yang bisa dia jadikan tempat untuk berbagi dan aku hanya bisa menjadi seorang pendengar yang baik, tidak lebih.

7 comments:

  1. hmmm...

    kapan hari aku pernah dapat sms seorang temen. cowok. yang intinya dia nanya, gimana sikapku kalo punya temen seperti (mirip) yang kamu tulis di atas. :|

    tahu ndak jawabanku apa? semuanya tentang pilihan. :|

    karena waktu itu yang kulakukan ketika dia bertanya itu. aku tahu. yg dia harap dariku adalah bukan jawaban yang nge-judge.

    tapi sampai saat ini, berharap itu hanya pertanyaan iseng temanku. =D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah saya juga bakalan bingung kalo ditanya kayak gitu. :))

      Delete
  2. haha... saya yang waktu itu lagi makan, baca sms-nya langsung keselek =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. pernah punya teman yg berkelainan seperti itu? :D

      Delete
    2. Pernah, sahabat dekat saya. Dan dia juga menceritakan awal mula dia seperti itu. "karena kecelakaan". saya sayang sama dia.. dan alhamdulillah setelah dia mendekatkan diri kepadaNYA,, dia kembali "normal"...


      saya nangis lhooh waktu dia cerita itu. Semangkuk es campur jadi tak tersentuh oleh saya...

      Delete
    3. Saya pernah.. sahabat dekat saya... Waktu itu dia cerita awal mula memiliki kelainan seperti itu... katanya karena "kecelakaan" yang sangat dibencinya...

      Alhadmulillah setelah dia semakin mendekat sama pencipta,, sekarang dia kembali "normal"..

      Saya nangis dan sempet speechless waktu denger itu.. dan semangkuk es campur di depan saya jadi tak tersentuh :D

      Delete
    4. Syukurlah kalo dia kembali menjadi laki-laki normal. kembali kepada qodratnya sebagai seorang laki-laki yang tertarik kepada lawan jenis. bukan jeruk minum jeruk :) . :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan