March 15, 2012

Rindu Yang Membeku



Winda menari sambil bernyanyi di depan teman-temannya. Dia menyanyikan lagu “Balonku ada lima” sambil memegang balon yang berwarna-warni. Suaranya lantang terdengar jelas. Segurat senyum menghiasi wajahnya yang lugu, yang membuat siapa pun gemas melihatnya. Winda, umurnya baru lima tahun, dia sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak di sekolah bersama dengan teman-temannya. Dia dikenal sebagai anak yang pintar, dan baik hati. Ahh…siapa yang tidak kenal dengannya di sekolah ini?

“Ma, Kak Yahya jadi pulang kan hari ini?”  Winda kecil bergelayut manja di pelukan Ibunya.

“Iya, hari ini Kak Yahya baru berangkat dari Jakarta ke Riau menggunakan jalur darat. Jadi, dua hari lagi baru sampai rumah. Winda mandi dulu ya, udah sore” Bu Ria mencium kening putrinya.

Putri kecil itu melepaskan pelukan Ibunya, berlari ke belakang sambil membawa selembar handuk, bergambarkan balon yang berwarna merah hati.

*
Yahya duduk di bawah sebuah pohon besar yang ada di taman terminal. Terminal Kali Deres, entah apa maksud dari nama terminal ini? Mungkin dulunya disini ada sebuah kali yang mengalir deras, pikirnya. Dia duduk beralaskan kardus bekas, menunggu Bus yang akan membawanya pulang ke rumah sambil membaca buku.

Bulan Ramadhan, adalah bulan yang penuh berkah. Setiap insan berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah, mengharapkan keridhoan dari Tuhan semesta alam. Yahya hanya bisa pulang ke rumah satu tahun sekali. Itu pun hanya satu minggu lamanya.

Yahya sudah menunggu bus sedari pagi hingga matahari tepat di atas kepalanya. Bus yang akan membawanya pulang belum juga datang. Pihak terminal mengatakan Bus terjebak macet di pelabuhan Bangkahuni, antrian panjang memasuki kapal membuat bus terlambat sampai ke Jakarta. Ditambah kurangnya kapal yang beroperasi, membuat para penumpang semakin lama menunggu kedatangan bus.

“Kak, sudah sampai dimana?” suara Winda dari ujung telpon

“Kakak masih di Jakarta, busnya belum datang. Winda sabar ya, kakak udah mau pulang kok” Yahya menghibur adiknya yang sudah tidak sabar menunggu kedatangannya.

Yahya dan Winda, mereka begitu dekat. Pada saat liburan seperti ini, keduanya menghabiskan waktu bersama. Winda paling suka diajak melihat suasana pantai, bermain dengan air laut, mandi, dan berlari-lari di pesisir pantai. Kemana pun Yahya pergi, dia pasti merengek untuk ikut. Jika tidak dipenuhi, maka tangisan akan terdengar memekakkan telinga. Kadang Yahya harus pergi diam-diam jika memang tidak bisa membawanya pergi. Tapi, Yahya seorang Kakak yang sangat menyayangi adiknya. Dia selalu berusaha untuk mengajak adiknya pergi. Tapi tidak di malam hari. Angin malam tidak baik untuk anak sekecil dia. Yahya membiarkan adiknya tertidur lelap, baru kemudian dia pergi bersama teman-temannya.

Pernah suatu ketika, Yahya ikut Mamanya ke rumah kerabat jauh. Winda tidak mau melepaskan pelukannya, sehingga para kerabat mengira bahwa dia adalah buah hati Yahya. Yahya hanya tersenyum mendengar itu semua. Siapa pun yang belum mengenal mereka berdua akan mengatakan hal yang sama. Mereka begitu dekat.

*
“Ma, kok Kakak belum juga sampai rumah? Kan udah dua hari” Winda menanyakan kedatangan kakaknya sambil meminum segelas susu buatan Ibunya.

“Menjelang lebaran seperti ini, perjalanan pulang memang memakan waktu lama, Nak. Tadi Kak Yahya telpon, katanya ntar sore Insyaallah sudah sampai rumah”

Winda tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan Ibunya. Sudah terbayang dibenaknya dia dan Kakaknya akan bermain bersama. Membeli makanan kesukaannya. Bermain di pantai. Menuliskan nama mereka berdua di pasir putih yang ada di pantai. Sungguh, sebuah kebahagiaan yang ia nanti. Jika waktu bisa dipercepat, ingin rasanya detik ini juga dia sudah bisa memeluk erat tubuh Kakaknya, kemudian langsung mengajaknya bermain.

Sambil menunggu kedatangan Kakaknya, Winda membuka satu persatu album photo dia bersama Kakaknya. Setiap tahun, Yahya memberikan dia hadiah berupa album photo kebersamaan mereka selama liburan.

*
Pepohonan berbaris rapi di bukit barisan, air sungai mengalir jernih, burung-burung terbang tinggi mengepakkan sayap pindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Sinar matahari sejuk bersinar, menambah indahnya pemandangan selama di perjalanan. Sungguh berbeda dengan Jakarta, air sungai yang dulunya jernih, sekarang sudah dipenuhi oleh sampah dan limbah-limbah industri. Pohon habis ditebang, sawah ditimbun kemudian berubah menjadi gedung-gedung bertingkat.

Yahya hanyut dalam mimpi, letih menempuh perjalanan jauh. Bus melaju dengan kencang, melewati indahnya kuasa Sang Pencipta. Hamparan sawah yang menghijau, petani bermandikan keringat di bawah terik matahari, anak-anak kecil sedang berlarian di pinggir sawah. Sungguh, pemandangan yang luar biasa indahnya.

Yahya membuka kedua matanya, memperhatikan sekelilingnya. Sebagian besar Para penumpang sedang tertidur lelap. Di ujung sebelah kanan, seorang pemuda sedang tertawa kecil, berbisik dengan seseorang yang ada diujung telpon. Yahya mengambil sebotol air mineral dari tasnya, kemudian membasahi kerongkongannya yang sudah mulai kering.

*
Winda duduk di teras rumah menanti kedatangan Kakak tercinta. Dia memegang selembar kertas bertuliskan “Welcome Kak Yahya” yang diberi warna hijau daun. Di bagian pinggir, diberi gambar rumput-rumput kecil yang juga diberi warna hijau daun.

Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, Winda berlari menuju gerbang, senyum langsung menghiasi wajahnya yang sudah letih menanti kehadiran sang Kakak. Dia berlari, memeluk kakaknya yang sedang mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Yahya mencium kening malaikat kecilnya, kemudian memberikan sebuah bingkisan berwarna pink. Winda semakin bahagia menerima pemberian Kakaknya.  

Kak, jangan pergi lagi ya
Tubuhku rapuh oleh rindu yang membeku

1 comment:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan