March 19, 2012

Taman Surga



Buku-buku itu kini mulai usang dan berdebu. Satu persatu kubuka, kubaca, dan kukenang kembali. Semua itu adalah buku pribadiku, tidak ada seorang pun kuizinkan untuk membacanya. Dia menyimpan begitu banyak cerita tentangku. Tentang malam yang dingin kala hujan membasahi bumi, tentang kepingan rindu yang tak sanggup kusatukan kembali, tentang air mata yang menemani hari-hariku, tentang tekad yang menguatkanku, tentang mimpi-mimpi yang ingin kuraih, tentang sahabat yang membuat hidupku lebih berwarna, dan tentangnya yang kusebut dengan cinta.

7 Mei 2001
Hari ini aku duduk di pematang sawah, memberi makan bebek-bebek peliharaan Ayah. Menunggu siang berganti malam, menunggu matahari bergantikan  redupnya sinar rembulan. Ditemani rumput-rumput yang mulai meninggi, dan suara gemuruh air yang mengalir di siring sawah.

Teman-temanku sudah sibuk kesana-kemari mendaftar ke sekolah impian mereka. Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke sekolah menengah pertama favorit, atau pergi meraih mimpi ke kota. Sementara aku belum mendaftar ke satu sekolah pun. Entah apa yang terjadi, aku tidak tertarik belajar di sekolah-sekolah umum yang ada di kecamatan. Setiap kali Ayah menanyakan keinginanku, aku hanya menjawab,

“Aku belum tahu mau masuk ke sekolah mana, Ayah”

Mendengar jawabanku, Ayah hanya diam dan menganggukkan kepalanya.

11 Mei 2011
Dia berasal dari Medan Sumatera Utara, aku memanggilnya Abang Nur, dialah yang selama ini mengajarkanku baca tulis al-Qur’an. Setiap selesai mengaji, dia memberikan tugas untuk menulis kurang lebih sepuluh ayat.

“Biar kalian pandai menulis Arab” ucapnya.

Semua ucapannya itu terbukti. Kini aku pandai menulis Arab. Dia juga yang memberiku semangat untuk belajar ilmu Agama.

19 Mei 2001
Bang Nur datang menemui Ayah, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku duduk di depan televisi, bersama Tenti adik perempuanku. Kami berdua bercanda ria, tertawa, aku paling suka mencubit pipinya sampai memerah.

Setelah Bang Nur pulang, Ayah memanggilku ke ruang tamu. Ibu duduk di samping Ayah, aku duduk di depan mereka berdua. Ayah memberitahuku maksud kedatangan Bang Nur adalah ingin memasukkanku ke sebuah Pondok Pesantren di Kota Bengkulu. Roudlotul Ulum namanya. Ada semangat yang mengalir dari dalam diri, aku langsung setuju dengan semua itu dan bersedia belajar di Pesantren.

*
Aku kembali membalik lembar demi lembar catatan harianku, kutemukan tulisan yang membuatku tersenyum, tertawa mengenang masa itu.

28 Agustus 2001
Sudah hampir satu bulan lamanya aku menjadi santri, aku masih belum terbiasa jauh dari orang tua, aku rindu dengan masakan Ibu, aku rindu dengan pijitan Ayah, aku rindu dengan Tenti yang masih kecil nan lugu, rindu dengan Adik Meko yang baru berumur tiga tahun.

Tuhan, malam ini aku menangis lagi seperti malam-malam sebelumnya. aku menangis di balik selimut putih bergaris-garis hitam pemberian sekolah. Teman satu kamarku tidak ada yang tahu bahwa aku menangis meratapi rindu yang menyesakkan dada. Mereka mengira aku sudah hanyut dalam mimpi di balik selimutku, padahal aku menangis Tuhan.

Ini rahasia kita Tuhan, jangan sampai mereka tahu ada air mata yang menemani malamku.

2 Oktober 2001
Sekarang aku sudah mulai betah belajar di Pesantren. Aku mempunyai banyak kawan, mereka semua baik padaku. Ibu rutin berkunjung ke Pesantren. Butuh waktu lima jam dari kampung ke Pesantren. Aku juga baru tahu bahwa arti nama pesantren “Roudlotul Ulum” itu artinya “Taman Surga”. Aku mulai menyukai Bahasa Arab, aku sudah mulai berani mengucapkan “Shobahal Khair” yang berarti selamat pagi kepada teman-temanku, dan beberapa kalimat percakapan sehari-hari yang kupelajari setiap ba’da subuh.

Aku suka suasana pesantren, aku tinggal di Pondok Badar. Asrama kami berbentuk pondokan-pondokan kecil menyerupai rumah adat Bengkulu. Aku dan tujuh orang temanku tinggal di Pondok Badar. Mereka berasal dari Kabupaten yang berbeda; Candra berasal dari Kabupaten Muko-Muko, Marsuan dan Hendry berasal dari Bengkulu Selatan, dan empat orang lainnya berasal dari Bengkulu Utara.

27 Desember 2001
Hari ini aku pulang ke rumah, ingin melepas rindu dengan keluarga, berkunjung ke sanak saudara, dan bermain bersama teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Meski baru beberapa bulan aku meninggalkan kampung halaman, tapi rindu ini begitu besar, dan aku ingin mengobati rasa rindu ini dengan bertemu mereka.

Aku sudah sampai di rumah, sekarang aku sedang berada di kamar melepas penatnya perjalanan. Tadi aku sudah menikmati masakan Ibu, dipijit oleh Ayah, dan tentunya bermain bersama kedua adikku Tenti dan Meko. Kedua adikku begitu bahagia melihat kedatanganku, mereka bergelayut manja di pundakku.

Setelah tinggal di Pesantren, berat badanku menurun, Kak Yunita sempat mengejekku, waktu melihatku datang dengan tubuh yang kurus kering seperti orang yang sudah lama tidak makan. Kak Yuni memanggilku “kutilang” kurus tinggi langsing. Katanya tubuhku menyaingi tiang listrik yang ada di depan rumah. 

28 Desember 2001
Hari ini hari Jum’at, dan hari ini pertama kali aku disuruh menjadi khotib di masjid depan rumah. Karena ini pengalaman pertama, badanku bergetar hebat, peluhku membasahi kemeja putih polos yang kupakai.

Semoga di kesempatan selanjutnya aku jadi lebih berani berdiri di depan sana, berbicara dengan lantang di atas mimbar, dan menyeru umat kepada kebaikan.

*
Adzan isya berkumandang, kututup buku harianku, menghentikan sejenak aktifitas dan segera menuju rumah-Nya, aku ingin menghadap-Nya. Kubasuh anggota badanku dengan air wudhu, kubiarkan bekas air wudhu menetes, dan ikut masuk ke dalam barisan para jama’ah yang sudah lebih dulu datang ke masjid.

Setelah shalat, aku bertawajjuh kepada-Nya, mengucapkan untaian doa, memohon ampunan dan ridho-Nya.
Tuhan,
Terimakasih hari ini Engkau masih memberikanku kesempatan untuk bisa menghadap-Mu. Terimakasih atas kesempatan yang telah Engkau berikan kepadaku, kesempatan untuk menuntut Ilmu di Taman Surgamu.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan