April 25, 2012

Bahagia Merayakan Cinta

Bahagia Merayakan Cinta (6)

Terlabuhlah sudah rindu ini
Terlabuhlah sudah cinta ini
Lama ku nanti hadirmu dalam dekapku
Kini, telah kujumpai hangatnya cintamu
Bidadariku, aku bahagia bisa bersanding denganmu

Dalam hening malam, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Evan masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya, seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu sehingga dia tidak bisa merebahkan badannya di atas ranjang, kemudian tidur lelap meninggalkan segala kegelisahan yang ada. Inikah yang dirasakan oleh setiap orang yang akan menikah? Tanyanya dalam hati. Kegelisahan yang menghantuinya membuat dia mengeluarkan peluh yang membasahi kaos oblong yang dia pakai. Di tangannya ada selembar kertas yang bertuliskan bacaan ijab qabul yang harus dia hapal. Dia mengulang kalimat-kalimat itu sampai hapal. Awalnya, dia mencoba untuk menghapal ijab qabul yang berbahasa arab, namun dia merasa kesulitan untuk mengucapkannya. Lidahnya masih belum bisa fasih mengucapkan semua itu. Mungkin itu dikarenakan dia masih belum pandai membaca Al-Qur’an, dia masih dalam proses memperbaiki bacaannya, agar bisa menjadi lebih baik dan bisa menjadi imam bagi keluarga kecilnya nanti.

Malam ini adalah malam terakhir Evan berstatus bujangan. Esok hari jika tidak ada halangan yang melintang, dia akan menjadi seorang suami. Dia akan menikah dengan wanita pujaannya. Wanita yang selama ini telah menemani mimpi-mimpinya. Lantas, apa yang sebenarnya Evan takutkan? Bukankah ini semua adalah keputusan yang sudah dia buat sendiri? Menikah dengan Winda adalah impiannya. Tapi, dia tetap gelisah.

Jarum jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Evan baru bisa tidur lelap dan melupakan kegelisahan yang mengganggu malamnya. Suara gerimis menemani keheningan malam. Malam betul-betul hening, seakan-akan tidak ingin mengusik Evan yang baru bisa istirahat melepas lelah.

Evan Pria Nugraha, hanya dalam hitungan jam dia akan duduk di samping Winda calon istrinya, di hadapan Pak Penghulu dan disaksikan oleh keluarga kedua mempelai. Mereka akan disahkan dalam sucinya ikatan pernikahan. Meski dia sudah berusaha untuk tidak gelisah dan canggung menunggu hari bahagia itu tiba, namun kenyataannya sejak kemarin dia tetap gelisah menunggu hari bahagia itu datang.

Proses menuju gerbang pernikahan tidak semuanya sesuai dengan rencananya. Awalnya, kedua orangtuanya meragukan keputusan mereka menerima Winda sebagai calon menantu mereka. Keraguan mereka muncul saat Bu Zaitun menceritakan hal yang sebenarnya. Bu Zaitun memberitahu Pak Nugraha dan istrinya bahwa Winda adalah anak angkatnya. Namun, keraguan itu berubah menjadi keridhoan saat mereka melihat kesungguhan putra mereka untuk mempersunting si jantung hati. Hati keduanya luluh oleh kekuatan cinta yang telah dibina oleh putra mereka. Kedua orangtua Evan akhirnya mengizinkannya  memilih jalan yang ingin dia lalui bersama bidadarinya. Pak Nugraha dan istrinya juga tersentuh melihat kejujuran Bu Zaitun yang sudah menceritakan semuanya kepada mereka.

Evan Pria Nugraha, nama itu sering menjadi bahan ejekan sahabat-sahabatnya. Mereka paling suka menjadikan nama “Evan Pria Nugraha” sebagai bahan canda tawa saat mereka sedang bersama. Tidak ada yang aneh dari nama itu, tapi sahabat-sahabatnya selalu menggodanya. Seperti kala itu,

“Evan, kenapa orangtuamu memberimu nama “Evan Pria Nugraha”? tanya Aldo.
“Karena Evan adalah seorang pria, makanya nama itu yang dipilih. Coba aja kalo perempuan, pasti namanya Evani Perempuannya Nugraha” Hesta menjawab sesuka hatinya, kemudian dia pergi meninggalkan Evan dan sahabat-sahabatnya sambil tertawa. Jika dia tetap di dekat mereka, maka diktat tebal akan menyapa pipinya dengan mesra. Evan paling suka melakukan itu, melempar diktat ke muka sahabat-sahabat yang mengganggunya. Evan sudah menyiapkan diktat tebal di tangannya, sejurus kemudian Hesta sudah menghilang dari kelas. Sementara Faraj dan Aldo hanya tersenyum melihat tingkah sahabat mereka.

Pagi menjelang, keluarga besar Evan sudah sibuk menyiapkan diri untuk pergi ke tempat akad nikah akan dilakukan. Evan masih di dalam kamar, dia masih belum memakai baju pengantin yang sudah dibuatkan ibundanya. Baju itu masih tersimpan di dalam lemari pakaiannya. Evan masih berbaring di atas ranjangnya, memeluk bantal guling berwarna putih bersih. Entah apa yang ada di dalam benaknya, bukankah seharusnya dia antusias menyambut hari ini?

Bu Nugraha mengetuk pintu kamar putranya,
“Evan, segera siap-siap. Bapak dan ibu sudah siap berangkat.”
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Bu Nugraha mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya, tetap tidak ada jawaban. Bu Nugraha mulai mengkhawatirkan putranya. Ia membuka pintu kamar Evan yang sengaja tidak dikunci dari dalam. Dia melihat putranya masih berbaring di ranjang dan memeluk bantal guling. Di tangan Evan ada sebuah photo, photo Winda dengan seragam SMP. Bu Nugraha duduk di samping putranya, kemudian mengusap rambut putranya yang sebentar lagi akan menikah dan hidup bersama Winda istrinya.

“Evan, kamu kenapa, nak? Coba beritahu ibu, biar ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Ini adalah hari bahagia, semua keluarga sudah siap untuk melihat pernikahanmu, Jangan buat mereka kecewa.”
Evan masih diam, pandangannya kosong. Bu Nugraha masih mengusap kepala putranya, menunggu sebuah jawaban. Evan hanya tersenyum menatap ibunya, kemudian berdiri sambil memegang kedua tangan ibunya erat-erat,
“Ibu, Evan nggak apa-apa. Evan hanya masih belum percaya bahwa hari bahagia sudah tiba. Sudah lama Evan menanti hari ini tiba” ucapnya.

Setelah memastikan bahwa putranya baik-baik saja, Bu Nugraha meninggalkan putranya menyiapkan diri.
Pak Nugraha sudah terlihat gagah mengenakan jas berwarna hitam dan setelan celana panjang berwarna senada dengan jasnya. Bu Nugraha mengenakan kebaya yang berwarna kuning, kebaya itu mempunyai kenangan yang begitu berharga. Kebaya itu adalah pemberian mendiang ibunya. Dia sengaja menyimpannya, kemudian akan memakainya di hari yang spesial. Hari ini adalah hari yang sangat spesial, karena hari ini putra semata wayangnya akan menikah dengan wanita pilihannya.

Kedua mempelai sudah duduk manis di depan Pak Penghulu, menunggu proses ijab qabul dimulai. Dua orang saksi sudah duduk menemani di samping kanan dan kiri. Merekalah yang akan menentukan sah atau tidaknya akad nikah hari ini. Evan begitu tampan mengenakan setelan jas berwarna putih, jas itu adalah hasil jahitan ibunya sendiri. Evan berharap semua akan berjalan lancar. Dia memanjatkan doa-doa agar dia bisa mengucapkan ijab qabul dengan baik. Winda hari ini lebih cantik dari biasanya, kebaya putih yang dia pakai serasi dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Suasana bahagia memenuhi aula gedung Kelurahan Purwokerto Wetan. Gedung Kelurahan menjadi tempat akad nikah dilangsungkan. Sanak saudara yang hadir sudah tidak sabar menunggu proses ijab qabul dimulai. Keabsahan nikah itu adalah jika telah terpenuhinya rukun nikah yaitu; adanya dua orang mempelai, wali, dua orang saksi,  dan mahar (mas kawin). Setelah semua dirasa siap, Pak Penghulu memulai proses akad nikah. Dengan membaca basmalah, dan sedikit pembukaan, proses akad nikah pun dimulai. Suasana begitu khidmat.

Saya nikahkan engkau, Evan Pria Nugraha bin Aripin Nugraha  dengan ananda Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat seberat 5 gram  dibayar tunai.”

Evan menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengucapkan,

“Saya terima nikahnya Winda Amali Zaitun binti …..” Evan berusaha mengingat nama Ayah Winda. Arghh…sepertinya proses ijab qabul tidak cukup hanya sekali. Pak Penghulu mengulang kembali,

Saya nikahkan engkau, Evan Pria Nugraha bin Aripin Nugraha  dengan ananda Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat seberat 5 gram  dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Kali ini Evan bisa menjawab dengan jelas, tanpa terputus-putus. Jawaban itu seolah mengisyaratkan bahwa pernikahan ini adalah mimpi besar yang sudah dia impikan sejak lama.

Pak Penghulu menanyakan kepada dua orang saksi,
“Bagaimana? Sah?”

Kedua orang saksi menyatakan sah, kemudian diikuti ucapan syukur oleh semua yang hadir. Suasana jadi riuh penuh dengan kebahagiaan. Evan dan Winda meneteskan air mata bahagia. Suasana syahdu memenuhi kalbu mereka berdua. Setelah semua proses akad nikah selesai, kini Evan dan Winda sudah sah menjadi pasangan suami istri. Suasana haru semakin menjadi, saat Winda menjabat tangan ibunya yang hadir di acara pernikahannya. Ibunya sedang sakit, dia datang ke akad nikah putrinya sambil menahan sakit yang dia derita. Di satu sisi, Winda sedang bahagia karena hari ini dia sudah sah menjadi seorang istri. Namun, di sisi lain dia sedih melihat ibunya yang semakin lemah menahan sakit.

Sabahat-sahabat Evan, Faraj beserta istri, Aldo, dan Hesta menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahannya. Mereka sengaja datang dari Jogja demi menghadiri pernikahan sahabat karib. Mereka menjabat tangan kedua mempelai dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Hari ini sungguh bahagia.

“Ta, sekarang Evan sudah mempersunting Winda yang dulu sering lo ejek, giliranmu kapan?” tanya Aldo pada Hesta yang duduk menyendiri di pojokan sambil menikmati mendoan dan segelas teh manis.
“Ah…lo kayak nggak pernah ngejek Evan aja, dan coba tanyakan pada diri sendiri, Giliranmu kapan?” keduanya tertawa bersamaan. Jadi sekarang hanya kita berdua yang belum menikah, dua orang sahabat kita sudah lebih dahulu membina rumah tangga. Keduanya mengangguk secara bersamaan, kemudian sama-sama merenungi nasib.
“Gimana kalo kalian berdua nikah aja, udah serasi tuh, sama-sama single” celetuk Faraj sambil menggandeng tangan istrinya dan duduk di dekat dua sahabatnya. Aldo dan Hesta saling pandang,
Stressss……s” ucap mereka secara serempak.
“Tuh, kan…kalian berdua itu memang cocok. Buktinya barusan bisa barengan gitu” ucap Faraj.

Faraj meninggalkan kedua sahabatnya itu, membaur bersama tamu undangan yang hadir di pernikahan sahabatnya. Kini, Evan dan Winda sedang bahagia merayakan cinta yang sejak lama mereka bina. Rasanya baru kemarin mereka bercanda bersama, menertawakan photo Winda dengan seragam SMP yang selalu dipajang di meja belajar Evan, menertawakan puisi yang dibuat Evan untuk Winda, atau merasa geli dengan cerita cinta antara Evan dan Winda yang berawal dari pertemuan di depan gerobak sayur. Cerita cinta mereka memang unik.

Bang Ucup, laki-laki yang menjadi saksi cinta dua hati yang sedang berbunga itu juga hadir di akad nikah Evan dan Winda, ikut mendoakan agar mereka bisa terus bersama hingga ajal memisahkan. Cerita cinta yang telah mereka ukir masih diingat dengan baik oleh Bang Ucup. Pertemuan Winda dan Evan, benih cinta yang mereka tanam menumbuhkan getar-getar rindu, sampai pada saat Evan melamar Evan di depan gerobak sayur miliknya. Kadang Bang Ucup sering tertawa sendiri bila mengingat perjalanan cinta dua insan yang sedang bahagia itu.

Aldo dan Hesta masih penasaran dengan kisah cinta Evan dan Winda. Mereka berdua menghampiri Bang Ucup, memintanya menceritakan cerita cinta Evan dan Winda sejak pertama kali mereka bertemu hingga mereka berdua memutuskan untuk menikah. Sesekali Aldo dan Hesta menganggukkan kepala saat mendengar cerita yang dituturkan dengan runtun oleh Bang Ucup, tapi mereka lebih banyak tertawa dengan cerita cinta yang menurut mereka aneh bin ajaib itu. Semoga bahagia selalu menyertai mereka berdua.

Terlabuhlah sudah lelah ini
Tersandarkan sudah rindu hati
Terimakasih Yaa Rabbi atas pernikahan ini
Belahan jiwa lelah ku nanti.. telah kujumpai
(Seismic: Terlabuhkan)
-Bersambung-

April 23, 2012

Impian Menjadi Seorang Ibu

Impian Menjadi Seorang Ibu (5)

Bunda, aku merindukan kehadiranmu
Aku merindukan belaian kasih sayang tulus darimu
Terimakasih sudah memberikanku limpahan kasih sayang

“Meski kamu bukan anak kandung kami, namun bapak dan ibu memberikanmu cinta yang sama. Tidak pernah kami membedakan anak kandung dan bukan. Engkau adalah anak bapak dan ibu.” Bu Zaitun mengucapkan semua itu sambil menahan sakit yang dideritanya. Ada air mata di kedua bola matanya, ada kejujuran yang terpancar dari wajahnya, ada ketulusan yang mengalir dari ucapannya.

Winda tidak bisa menahan air matanya saat mengetahui semua itu. Setelah hampir dua puluh tahun lamanya dia mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya, kini kenyataan harus dia terima. Dia bukanlah anak kandung orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil. Kenyataannya dia hanyalah anak angkat bapak dan ibunya. Tapi, mengapa harus sekarang dia mengetahui semua itu? Mengapa tidak sedari dulu semua ini dia ketahui? Mengapa dia harus mengetahui ini semua menjelang pernikahannya? Aku membenci-Mu Tuhan. Aku membenci-Mu karena Engkau telah membiarkanku hidup tanpa mengenal orangtua kandungku. Aku membenci-Mu. Tuhan, dimana aku bisa menemukan orangtua kandungku? Pertanyaan itu menanti sebuah jawaban.

“Ibumu sengaja memberitahumu sekarang, karena dia tidak yakin bahwa esok hari dia masih bisa menyapa mentari pagi. Coba kamu lihat ibumu, semakin hari dia semakin ringkih saja, tubuhnya mengurus, kesehatannya semakin menurun. Tidak ada yang tahu kapan dia akan dipanggil oleh Tuhan. Sudah saatnya kamu mengetahui semua ini sebelum semuanya terlambat, nduk. Bapak dan ibu tetaplah orangtuamu, meski kamu tidak lahir dari rahim ibumu. Tapi kami memberimu kasih sayang yang tulus.” 

Pak Ahmad mencoba untuk menenangkan putri mereka yang masih belum siap untuk mengetahui semua ini. Bu Zaitun dan Pak Ahmad mengerti bahwa tidak mudah menerima semua kenyataan ini. Mereka membiarkan putrinya menenangkan diri. Pak Ahmad mengusap air mata di pipi putrinya, kemudian memeluknya sebagai bukti bahwa dia sangat mencintainya. 

Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak pernah bisa disangka hamba-Nya. Kadang sesuatu yang baik menurut hamba-Nya, belum tentu baik menurut-Nya. Mungkin menurut Tuhan, sekarang adalah saat yang tepat bagi Winda untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya, meski semua terasa pahit. Akan tetapi, bukankah Tuhan sudah menunjukkan keadilannya? Tuhan sudah memberikannya orangtua yang bersedia merawatnya dengan penuh cinta. Tidak pernah mereka menyia-nyiakan hidupnya. 

Winda masih berburuk sangka pada Tuhan. Dia mengurung diri di dalam kamarnya. Sudah dua hari ini dia tidak keluar kamar. Dengan suara parau yang disertai batuk, Bu Zaitun terus membujuk putrinya agar keluar kamar. Tapi, semua itu tidak bisa meluluhkan hati Winda. Dia tetap menyendiri di dalam kamar. Sebenarnya, bukan Pak Ahmad yang dia benci, bukan juga Ibu Zaitun. Namun, dia membenci jalan hidup yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Mengapa aku harus mengetahui kenyataan ini Tuhan? Pertanyaan itu terus menyesakkan dadanya. 

*
Menjadi seorang ibu adalah impian yang didamba oleh wanita. Panggilan “Ibu” adalah sebuah kehormatan yang diberikan Tuhan pada Kaum Hawa. Dan tidak ada seorang laki-laki mana pun yang bisa mendapatkan panggilan kehormatan itu. Layaknya wanita yang lain, menjadi seorang ibu adalah keinginan terbesar Bu Zaitun. Setelah sekian lama menikah dengan Pak Ahmad, mereka belum juga dikarunia buah hati oleh Tuhan. Doa-doa mereka panjatkan, mengharap Tuhan akan segera memberi mereka keturunan. Namun, sepertinya Dia masih belum mempercayai keduanya mampu menjaga anugerah besar itu. 

Penantian dan harapan untuk menjadi seorang “Ibu” tetap memanggil jiwa Bu Zaitun. Dia sering melihat anak-anak kecil yang bermain di halaman rumahnya, tertawa, dan bergelayut manja di punggung ibu mereka. Bu Zaitun tetap percaya bahwa suatu saat nanti Tuhan akan menganugerahkan itu kepadanya. Sudah hampir lima tahun lamanya, dia dan suami menanti kehadiran sang buah hati. Tapi, Tuhan masih belum menganugerahkan apa yang mereka inginkan. Meski lama menanti dan impian itu tak kunjung terwujud, namun harapan untuk menjadi “Ibu” tetap ada. Harapan itu kian subur bersama waktu.

“Pak, ibu sudah lama menunggu anugerah Tuhan. Tapi, anugerah itu belum Ia berikan sampai hari ini. Sampai hari ini ibu tetap mempercayai kuasa-Nya. Jika bapak mengizinkan, ibu ingin pergi ke panti asuhan yang ada di kota. Mungkin kita bisa menjadikan satu dari anak-anak yang ada disana sebagai anak kita. Kita besarkan dan didik dia menjadi anak yang berbakti.” Ibu Zaitun memberitahu keinginannya pada suaminya. Ada embun di kedua matanya.

Pak Ahmad tidak memberikan jawaban apa pun. Dia memeluk istrinya dan mengusap air mata itu. Dia tidak ingin melihat ada air mata di wajah wanita yang sudah menemaninya hampir enam tahun lamanya. Dia mengerti perasaan istrinya. Dia pun merasakan hal yang sama, ingin menjadi seorang “Ayah”. Panggilan itu sudah lama dia nantikan. Sudah lama dia mendambakan ada seseorang yang memanggilnya “Ayah” dan bergelayut manja di pundaknya.

“Ibu yang sabar ya. Insya Allah Dia sudah menyiapkan rencana yang indah untuk keluarga kecil kita. Kita jalani saja apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Ayah percaya bahwa Tuhan sedang mencoba kesabaran kita. Dengan kesabaran ini, Tuhan akan memberikan kita jalan agar bisa mempunyai keturunan.” Pak Ahmad menguatkan istrinya yang mulai rapuh.

Impian menjadi “Ibu” terus membayangi Bu Zaitun. Hari demi hari dia lalui dengan kesabaran. Kadang ada tetangga yang menyindirnya,
“Sudah lama menikah, tapi belum mendapatkan keturunan”
Ah…sindiran itu sudah sangat sering dia dengar dari ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya. Namun, dia tetap percaya dengan kebesaran-Nya. Hari demi hari, bulan berganti tahun, dan tidak terasa sudah delapan tahun lamanya mereka menanti kehadiran si buah hati. Penantian panjang itu masih belum membuahkan hasil. Tuhan masih belum mengizinkan semuanya terjadi.

Setelah sekian lama berusaha, berdoa, kemudian menyerahkan semuanya kepada Tuhan, akhirnya Bu Zaitun dan Pak Ahmad memutuskan untuk menjadikan salah satu anak yang ada di panti asuhan menjadi anak mereka. Mereka mengunjungi panti asuhan yang ada di kota, kemudian menyampaikan maksud kedatangan keduanya ke panti asuhan. Alhamdulillah, keinginan mereka di sambut baik oleh pihak panti asuhan. Ternyata ada seorang bayi yang baru beberapa hari mereka rawat. Bayi itu  ditemukan di pintu gerbang panti asuhan saat subuh menjelang. Bayi itu menangis, tangisannya membangunkan Ibu Elda selaku penjaga panti. Dia membuka gerbang, kemudian menemukan seorang bayi yang lucu di dalam sebuah box bayi yang berwarna coklat. Tangisan itu, wajah lucu itu, membuatnya menangis haru. Naluri keibuan mengetuk hatinya untuk menjaga bayi itu. Ibu mana yang tega meletakkan bayi ini di sini? Ini adalah anugerah Tuhan, Mengapa diabaikan begitu saja? Semoga Tuhan memberikan hidayah kepada siapa pun yang telah melakukan ini. Ibu Elda selaku penjaga panti menceritakan semuanya kepada Bu Zaitun dan Pak Ahmad.

Mendengar cerita Bu Elda, Pak Ahmad dan Bu Zaitun meyakini bahwa anak itu adalah bagian dari rencana Tuhan. Mereka yakin ingin menjadikan anak itu sebagai anak mereka dan berjanji akan menjaganya sepenuh hati. Setelah memenuhi segala persyaratan yang diajukan oleh pihak panti, Pak Ahmad dan Bu Zaitun kembali ke rumah dengan membawa anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya. Bu Zaitun menangis haru, melihat bayi yang sekarang ada di pangkuannya. Syukur mereka panjatkan atas karunia ini, memohon petunjuk Tuhan agar anak ini bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan taat pada perintah Allah Tuhannya.

Winda Amali Zaitun, nama itu mereka pilih sebagai nama putri mereka. Mereka mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Meskipun mereka hidup sering kekurangan, namun Winda mendapatkan kasih sayang yang berlimpah hingga dia tumbuh menjadi anak yang periang, dan baik hati. Setelah winda berumur sebelas tahun, Bu Zaitun dikarunia seorang putri. Namun, putri yang lahir dari rahimnya meninggal waktu masih berumur dua tahun. Inilah rencana Tuhan. Tuhan sengaja mengirim Winda sebagai anugerah bagi keluarga kecil Pak Ahmad dan istrinya.

*
Winda membuka pintu kamarnya, menghampiri Bu Zaitun yang terbaring lemah di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Dia sedang tertidur, menahan sakit yang dideritanya. Sedangkan Pak Ahmad sedang memberi makan ayam peliharaannya. Winda duduk di samping ibunya, mencium keningnya dan membisikkan doa,

Tuhan, jagalah ibu sebagaimana dia telah menjagaku
Berikan dia kesabaran dan kekuatan menjalani ujian dari-Mu
Aku ingin ibu bisa kembali tersenyum
Dan bahagia bisa melihatku bersanding di pelaminan
Ibu sudah memberikanku kasih sayang yang tulus
Aku ingin melihat ibu bahagia hingga ia kembali ke sisi-Mu

Winda tidur di samping ibunya, memeluknya dengan pelukan rindu, dan penuh kasih sayang. Bu Zaitun membuka matanya, melihat putrinya sedang tidur di sampingnya, sedang memeluknya begitu erat seolah tidak ingin pisah darinya.

Anakku, semoga engkau bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu. Mendidik mereka dengan penuh cinta, hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berbudi.
Anakku, semoga engkau bisa menjadi istri yang baik, seorang istri yang menjaga kehormatan rumah tangganya atas nama cinta. Cintailah pasanganmu dengan tulus karena-Nya. Doa ibu menyertaimu. 
 (Bersambung)

April 21, 2012

Bersatunya Dua Hati Karena Cinta

Bersatunya Dua Hati Karena Cinta (4)

Kini, engkau duduk di sampingku
Mendekapku dengan hangatnya cinta

“Winda, maukah engkau menikah denganku?” 

Pertanyaan itu mengalir pelan dari bibir Evan, disaksikan Bang Ucup yang sedang sibuk melayani ibu-ibu yang membeli dagangannya. Meski pelan, tapi Bang Ucup dan ibu-ibu itu bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucapkan oleh Evan. Winda diam membisu, hening. Evan menunggu jawaban kekasih hatinya. Bukan jawaban “tidak” yang ingin dia dengar, melainkan jawaban “iya” yang ingin dia dengar dari sang kekasih. Bang Ucup dan ibu-ibu yang sedang membeli sayur mayur ikut hanyut dalam suasana hening. Mereka semua menunggu jawaban yang akan mengubah dunia Evan. Jika jawaban “Iya”, maka dipastikan kebahagiaan akan memuncak dalam jiwa Evan. Akan tetapi, jika jawaban “tidak” yang winda ucapkan, maka bunga-bunga cinta yang ada di hatinya akan layu.

Winda sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar di depan gerobak sayur Bang Ucup. Evan memang bukan pria yang romantis, seharusnya dia datang ke rumahnya dan menyatakan keinginannya untuk melamarnya di depan kedua orangtuanya. Evan tidak melakukan itu. Tapi, pertanyaan Evan mampu menumbuhkan keyakinan yang kuat dalam diri bahwa dia adalah pria yang Tuhan janjikan untuknya. Dia adalah pria yang mencintainya dengan penuh ketulusan. Dia mengajarkannya banyak hal tentang hidup, yang membuat hari-harinya lebih berwarna. 

Winda masih diam, sambil memainkan kantung plastik berwarna hitam yang berisi wortel segar dan sayur bayam. Dia melihat ke arah Bang Ucup, laki-laki itu hanya tersenyum melihatnya. Bang Ucup tersenyum bahagia dan berharap mereka berdua bisa menyatu membina rumah tangga. Kisah cinta mereka sudah bagian dari kehidupannya, di gerobak sayurnya mereka menata hati, dan membina cinta. 

“Haruskah aku menjawabnya sekarang?” tanya winda.
“Tentu, Winda” jawab seorang ibu yang berdiri di samping Bang Ucup sambil tersenyum kepadanya, kemudian diikuti anggukan yang lainnya.
“Winda, aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang, engkau bisa menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaanku. Tanyakan pada hatimu, adakah aku di dalam sana.” ujar Evan.
“Mas, beri aku waktu, aku tidak bisa memutuskan sekarang.”
Evan mengangguk, dia harus bersabar menunggu jawaban dari kekasih hati.
“Aku ingin Bang Ucup dan gerobak sayurnya menjadi saksi cinta kita, aku akan menunggumu disini sampai engkau menemukan jawaban apa yang akan engkau berikan padakau. Jika engkau sudah menemukan jawaban, temui aku di sini, di depan gerobak sayur Bang Ucup.”

Seandainya gerobak itu bisa berbicara, mungkin dia akan memberitahukan hal ini kepada sahabatnya sesama gerobak bahwa dia menjadi saksi cinta dua anak manusia. Kisah cinta mereka berdua berbeda dengan yang lain, mereka bertemu di depan gerobak sayur, saling menyatakan cinta, dan sekarang Evan melamar Winda di depan gerobak sayur Bang Ucup. Kisah cinta yang langka.

Winda duduk sendirian di kursi kayu yang ada di belakang rumah majikannya, sambil melihat ke arah Gunung Slamet yang diselimuti oleh awan putih. Mbok Inah menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya. Dia melihat ada kegelisahan di wajah Winda.

“Nduk, lagi mikiri apa? Dari tadi mbok perhatikan kamu melamun terus.”
“Mbok, tadi pagi Mas Evan melamarku, tapi aku belum memberikan dia jawaban. Aku masih bingung.”
“Semua keputusan ada padamu, turuti apa kata hatimu. Karena hatimu yang paling tahu tentang perasaanmu. Jika memang ada cinta antara hatimu dan hatinya, maka kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan lupa minta petunjuk kepada Tuhan, karena dia yang mengendalikan hatimu.” 

Mbok Inah mengusap rambut Winda dengan penuh kasih sayang. Dia sudah menganggap Winda seperti anaknya sendiri. Diusia senjanya, dia hanya hidup sendiri. Tidak ada anak-anak yang menemani hari-harinya, karena dia memang tidak mempunyai anak. 
 *
Sudah beberapa hari ini, Evan tidak melihat Winda membeli sayuran, hanya ada Bang Ucup dan ibu-ibu komplek yang berbelanja. 

“Bang, sudah beberapa hari ini Winda nggak ada kelihatan, dia ada cerita sesuatu dengan Bang Ucup nggak?” Evan duduk di trotoar sambil menyesap segelas kopi hitam menemani pagi yang mendung.
“Kemarin, Mbok Inah bilang Winda sedang pulang kampung. Ada urusan keluarga katanya.”

Evan meninggalkan Bang Ucup dan gerobak sayurnya, dia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di taman sekitar komplek. Dia Menata kepingan rindu yang menyesakkan dada. Tiba-tiba dia teringat akan sahabat-sahabatnya yang ada di Jogja. Apa kabar mereka? Semenjak selesai kuliah di UGM, mereka tidak pernah bertemu lagi. Sudah hampir satu tahun lamanya mereka berpisah. Aldo, Faraj, dan Hesta memilih melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama. Sedangkan Evan kembali ke kampung halaman, dia menjadi seorang guru. Dia mempunyai keinginan yang kuat untuk mengabdikan ilmu yang ia dapat di tempat dimana dia dilahirkan. Purwokerto adalah kota kecil, namun menyejukkan. Keindahan Gunung Slamet selalu menyapanya setiap hari, kesejukan udaranya membuatnya rindu untuk kembali. 

Kabar terakhir yang dia dengar, Faraj sudah menikah dengan wanita pujaannya di Lombok. Dia membawa istrinya ke Jogja untuk menemaninya. Faraj memang penuh misteri, sahabat-sahabatnya tidak pernah mengetahui bahwa dia mempunyai kekasih hati. Sedangkan Aldo dan Hesta masih setia dengan kesendirian mereka.

Evan membuka album photo kebersamaannya dengan ketiga sahabatnya, rumah kontrakan mereka yang sederhana menjadi saksi kuatnya ikatan bathin antara mereka. Kampus UGM menjadi saksi bisu persahabatan yang terjalin antara mereka. Dia merindukan semua kenangan itu, merindukan sahabat-sahabat yang sudah mengajarkannya banyak hal tentang arti hidup dan juga tentang cinta. Dia merindukan tawa ketiga sahabatnya, mereka sering menertawakan perjalanan cintanya pada Winda. Menurut mereka, cintanya itu aneh dan lucu. 

Sore hari adalah waktu yang paling mereka tunggu, mereka sering menghabiskan sore di Stasiun Kereta Api Lempuyangan. Kawasan teteg sepur ini selalu dipadati oleh masyarakat yang menikmati suasana sore di Stasiun. Jogjakarta adalah kota budaya, menikmati sore di Stasiun Lempuyangan adalah kegemaran Evan dan ketiga sahabatnya. Banyak orangtua yang membawa anak-anak mereka untuk menikmati sore, menunggu malam tiba. Suara gelak tawa anak-anak yang bermain di sekitar stasiun, petugas yang menjaga pintu perlintasan, para remaja yang sedang asik mengabadikan kebersamaan mereka dengan pasangan, semua itu adalah bagian dari episode persahabatan mereka. Sahabat, semoga ada waktu untuk bertemu kembali dan mengulang kembali cerita-cerita yang sudah kita lalui.

Purwokerto diguyur hujan, matahari sudah kembali ke peraduannya. Mungkin saja esok dia akan kembali menyinari semesta, semua adalah kehendak Tuhan yang maha kuasa. Evan duduk di meja belajarnya, melihat photo Winda yang sedang membeli sayuran di gerobak sayur Bang Ucup. Dia sengaja mengambil gambar itu tanpa sepengetahuan Winda. Sekarang, ada dua photo yang menemani malamnya, photo Winda dengan seragam SMP, dan photo sedang membeli sayuran di depan gerobak Bang Ucup. Saat rindu dengan si dia, dia mendekap erat-erat kedua photo itu hingga dia tertidur lelap. 

Pagi ini, suara Bang Ucup sudah terdengar di depan gerbang rumah Evan. Evan segera berlari ke luar rumah dan menemui Bang Ucup. Dia tidak bermaksud untuk membeli dagangan Bang Ucup, namun dia berharap pagi ini bisa melihat senyum Winda yang sudah dia nanti sejak belakangan ini. Sesuai dengan keinginan, Winda keluar dari rumah dan menuju Bang Ucup. Hati evan berbunga-bunga, mekar, bak rumput yang sudah lama menguning, kemudian disiram oleh air hujan yang jatuh membasahi semesta. Bahagia memenuhi relung hati. Dia melihat wajah Winda, wajah itu memancarkan kebahagian yang menyusup ke dalam hatinya. Mungkinkah ini adalah waktu yang tepat? Winda akan memberikan jawab atas pintanya beberapa hari yang lalu? Ia berharap demikian adanya. Rasanya, dia sudah tidak sanggup menunggu terlalu lama. Dia ingin segera duduk bersanding dengan pujaan hati. Bidadariku, aku menunggumu.

Winda berdiri di ujung kanan gerobak sayur, sesekali dia memperhatikan Bang Ucup yang sedang menikmati sensasi rokok lintingan. Rokok lintingan merupakan tembakau yang dilinting dengan kertas rokok. Rokok itu selalu menemani Bang Ucup dan gerobak sayurnya. Sedangkan Evan, dia berdiri di ujung kiri gerobak. Mereka berdua hanya saling pandang, belum ada kata-kata yang mengawali pertemuan mereka. Entahlah, mereka berdua sama-sama canggung untuk menyapa. Padahal, Winda sudah menyiapkan jawaban yang akan ia berikan pada Evan. Akhirnya, Evan menghampiri Winda, menyapanya dengan sapaan rindu. Keduanya sedang berbincang satu sama lain, membiarkan Bang Ucup menjadi penonton setia drama cinta yang mereka buat. Drama tentang cinta yang akan menghangatkan pagi dengan cerita-cerita cinta yang mereka jalani bersama sinar mentari pagi.

“Mas, maaf sudah membuatmu lama menunggu.”
“Tidak apa-apa, mas rela menunggu kata cinta darimu. Jangankan satu minggu, satu abad pun akan mas tunggu” jawab Evan gombal.

Winda tersipu malu, dia menarik nafas dalam-dalam seolah-olah sedang menyiapkan keberanian untuk memberi sebuah jawaban. Untuk menjawab ini semua, Winda tidak memutuskan sendiri. Ada peran orangtua yang menjadi tempatnya mencurahkan kegundahan hati, ada Tuhan tempatnya mengucapkan doa-doa agar jalan yang ia pilih diridhoi oleh-Nya.

“Mas, aku…..” ucapan Winda terhenti.
Evan membiarkan Winda merangkai kata menjadi sebuah jawaban.
“Mas, aku mau menjadi istrimu. Ketika mas datang menawarkan cinta kepadaku, aku melihat kedua matamu, tidak ada keraguan di sana. Aku melihat cakrawala penuh cinta yang terpancar dari sinar matamu. Aku melihat tatapan penuh butir-butir ketulusan. Aku memercayai cintamu, dan aku ingin memiliki cintamu” ucap  Winda sambil memberanikan diri untuk menatap wajah Evan.

Kata-kata yang mengalir dari Winda merambah jiwa Evan, membuat jantungnya berdetak bersama waktu. Langit seketika cerah melihat senyum yang terukir di wajah Winda, tidak ada keraguan yang ia sembunyikan. Jawaban itu tulus. Suasana bahagia menyeruak seketika. Bang Ucup meneteskan air mata bahagia melihat dua hati yang menyatu karena cinta. Mereka berhak bahagia karena cinta, gumamnya dalam hati.
-bersambung-

April 19, 2012

Ketika Jalanan Mulai Berliku

Ketika Jalanan Mulai Berliku (3)

Jalan ini masih panjang
Kita baru beranjak menempuh liku-liku hidup
Tawa, tangis, adalah bagian dari jalan yang harus kita lalui

Evan duduk di depan layar komputernya, dia sedang menuliskan beberapa baris kalimat, dia mencoba merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi indah untuk bidadarinya. Lima bulan tidak bertemu, rasa rindu tentu menghinggapi hatinya. Akhir-akhir ini dia disibukkan oleh kegiatan kampus. Ujian semester hanya beberapa hari lagi. Namun, menjelang ujian semester tiba, dia tidak bisa fokus dengan ujian. Bayang-bayang kekasih hatinya selalu muncul dalam ingatannya. Ingin rasanya ia kembali ke Purwokerto dan menemui bidadarinya. Apa kabar bidadariku? Semoga engkau baik-baik saja. Tidak ada komunikasi antara mereka berdua. 

Winda hanyalah pembantu rumah tangga, dia tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk mempunyai sebuah handphone agar bisa mendengar suara Evan dari ujung sana. Akhirnya, Evan harus menahan diri untuk tidak mendengar suara manis nan halus dari sang pujaan. Hanya sebuah photo Winda yang mengenakan seragam SMP sebagai pelepas rindu. Lucu, photo itu dia pajang di meja belajarnya. Sahabat-sahabatnya sering tertawa melihat photo itu.

“Emang si Winda nggak punya photo yang lain ya? Lucu aja ngeliat photo kayak gini lo pajang di meja belajar, sementara dia sudah lebih dewasa dari ini” ucap sahabat-sahabatnya.

Tiap kali pertanyaan itu diajukan oleh sahabat-sahabatnya, Evan hanya tersenyum seraya menatap photo Winda dengan seragam  sekolahnya. Tidak ada jawaban yang dia berikan. Percuma menjelaskan panjang lebar kepada mereka, pikirnya. Seandainya mereka tahu betapa besar kekuatan cinta itu, mereka akan mengerti mengapa photo itu dia jadikan tempat menumpahkan segala rindu pada pujaan hatinya. Itulah cinta, dan mereka akan mengerti itu saat mereka sedang dilanda cinta.

Suara adzan menggema, Evan masih belum sempat untuk tidur melepas penat. Teman-teman satu kontrakan dengannya sudah mulai bangun dari lelap tidur. Evan tinggal di dalam satu rumah berukuran minimalis bersama dengan tiga sahabatnya yang berasal dari luar pulau Jawa. Azam, sahabatnya yang berasal dari Lombok sudah bangun lebih awal dan duduk di atas sajadah panjangnya. Dia satu-satunya sahabat yang paling kuat ibadahnya. Aldo sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu, dia masih mengenakan sarung yang dia pakai untuk tidur, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan Hesta sudah mengenakan baju koko, sarung, peci hitam, kemudian dia langsung  menuju mushalla yang ada di dekat kontrakan mereka.

Evan, dan ketiga sahabatnya sudah berada di dalam masjid menunggu iqamat dikumandangkan. Semenjak di Jogja, Evan banyak belajar tentang agama. Awalnya, dia sama sekali tidak bisa shalat. Namun, Faraj dengan sabar mengajarkan dia bagaimana cara shalat, dan membantunya menghapal bacaan shalat. Sekarang, meski belum lima waktu, Evan sudah mulai rajin melaksanakan shalat. Tak jarang pula Faraj harus mengingatkannya bila waktu shalat sudah tiba dan dia belum juga melaksanakan shalat. 

Suasana di pagi hari seperti ini, mengingatkannya kepada Winda, Bang Ucup dan gerobak sayurnya. Dia merindukan kehangatan di pagi hari bersama mentari yang menyaksikan kebersamaannya dengan bidadarinya. Faraj, Aldo dan Hesta meninggalkan Evan sendirian di rumah. Mereka bertiga menikmati sejuknya udara di pagi hari sambil berlari mengelilingi lapangan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.  Anak-anak kecil sedang berlari mengejar bola dan berusaha memasukkannya ke gawang lawan. Mereka terlihat begitu asik menggiring bola dengan kaki-kaki mungil mereka. Tawa mereka, suara teriakan mereka, semangat mereka, menambah semaraknya suasana pagi hari di sekitar lapangan. Beberapa pedagang kaki lima menjajakan dagangan mereka kepada orang-orang yang menikmati udara pagi di lapangan. 

Evan masih sibuk dengan komputernya, masih merayu hatinya agar bisa menuangkan indahnya kata menjadi barisan-barisan kalimat yang akan membuat pujaan hatinya berbunga. Dia memang masih belum bisa membuatkan sebuah puisi yang indah untuk si dia. Sudah berulang kali dia mencoba, namun hanya tersimpan di draft dan tidak pernah berhasil dia sempurnakan menjadi puisi. Perlukah aku merangkai kata ini sebagai bukti cintaku padanya? Tanyanya dalam hati. Bukankah sejak dulu aku tidak pernah memberikan dia hadiah yang berupa sebuah puisi? Ah..aku baru ingat, aku tidak pernah memberikan hadiah apa-apa kepadanya. Cintaku kepadanya tumbuh meski tanpa ada momen saling tukar hadiah, surat, apalagi memberi bunga. Aku memang bukan laki-laki romantis.

“Van, sibuk amat kelihatannya. Lagi bikin apa?” suara Faraj mengejutkannya yang sedang melamun.
“Ehm, palingan dia sedang belajar bikin puisi lagi” jawab Aldo sambil melempar handuk ke wajah Evan.
“Puisi? Emang Evan bisa bikin puisi?” celoteh Hesta seenaknya, kemudian diikuti gelak tawa yang lain.
“Huh, kalian bukannya bantuin sahabat yang lagi pusing” 

Faraj mengambil kursi, kemudian duduk di dekat Evan, dia membaca bait-bait yang ada di monitor,

“Bidadariku, aku tidak mampu merangkai kata menjadi bait-bait kalimat indah yang akan membuatmu takjub dengan kepandaianku merangkainya. Aku memang tidak seromantis itu. Aku tidak mampu memberimu sejuta puisi nan indah untuk dibaca dan diperdengarkan kepada orang lain, aku tidak bisa. Tapi, aku ingin engkau tahu bahwa aku pernah mencoba untuk bisa.”

“Bidadariku, aku menanti saat pertemuan itu tiba. Engkau akan duduk di sampingku, mengenakan baju pengantin, tersenyum dan memancarkan aura kebahagiaan. Aku menanti waktu itu tiba. Bersabarlah, aku akan kembali menjemputmu, dan membawamu untuk menemaniku di atas pelaminan. Aku janji.”

Setelah selesai membaca, Faraj menoleh ke arah Evan yang sengaja berdiam diri dan membiarkan sahabatnya itu membaca curahan hatinya. 

“Ini puisi atau surat?”
Pertanyaan itu diiringi gelak tawa Aldo dan Hesta. Keduanya memang paling suka menertawakan ulah sahabat mereka yang satu ini.
“Tadinya saya mau membuat puisi, tapi nggak bisa. Jadinya malah surat”
“Surat ini mau kamu kirimkan ke Winda? Anak SMP yang ada di photo itu?
Aw…ww.. sebuah diktat dari Evan mendarat sukses di wajah Faraj.
“Lagian, kamu nggak ada romantis-romantisnya, seharusnya surat ini kamu tulis tangan, dihiasi dengan ukiran-ukiran di pinggir kertasnya, kemudian baru kamu tulis isi suratnya. Bukan malah ngetik di word, diprint, kemudian dikirimkan ke si dia. Kamu  mau nulis surat cinta atau ngelamar kerjaan?” Faraj nyerocos sesuka hatinya, sementara Evan dan dua sahabatnya hanya mendengarkan ceramah di pagi hari ini. Ceramah dari sosok pria yang bernama Faraj yang mengajarkan bagaimana menjadi pria yang romantis, padahal dia sendiri tidak punya pacar dan tidak pernah menulis surat cinta.

Obrolan diantara empat sahabat itu terus berlanjut, sesekali mereka tertawa secara bersamaan, saling melempar diktat, dan tentunya bantal tidak pernah absen dari keriuhan suasana kontrakan mereka. Jika mereka sudah mulai rusuh, bantal menjadi pilihan yang paling pas untuk dijadikan senjata. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang ikut menciptakan kehidupan yang damai di atas bumi. Suasana kontrakan itu penuh dengan kehangatan, kepedulian satu sama lain, yang membuat mereka semakin dekat.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, mereka segera menuju kampus dan masuk ke fakultas masing-masing. Kegiatan rutin mereka memang hanya kuliah. Setelah selesai kuliah biasanya mereka nongkrong di warung nasi di dekat kampus.

“Rif, mana Evan?” tanya Faraj.
“Nggak tahu, tadi selesai mata kuliah dia langsung pergi”
“Nggak biasanya dia pergi nggak ngajakin kita bertiga” ujar Aldo.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke handphone Faraj,
“Mas, pulang ke kontrakan sekarang. Mas Evan kecelakaan.”

Pesan itu dari nomor yang tidak dikenal, mereka bertiga langsung meninggalkan warung nasi Buk Rumi menuju kontrakan. Selama di dalam angkutan umum, mereka semua panik. Apa yang terjadi dengan Evan?
Setibanya di kontrakan, ada beberapa mahasiswa yang duduk di ruang tamu. 

“Evannya mana?” Tanya Hesta.
“Di kamar” jawab salah satu dari mereka.

Evan sedang tidur, lututnya dibalut perban, tangannya dipenuhi oleh goresan seperti bekas jatuh dari kendaraan. Seorang mahasiswa menghampiri tiga sahabat itu, kemudian dia menjelaskan bahwa dia dan tiga orang kawannya yang mengantarkan Evan ke rumah sakit, kemudian membawanya pulang ke rumah. Evan menjadi korban tabrak lari. Sekarang, sudah banyak yang menjadi korban tabrak lari. Pelaku yang menabrak korban tidak mempunyai hati dan tidak punya rasa bersalah bahwa mereka sudah membuat orang lain menderita. Miris melihat Evan yang menahan sakit.

Faraj mencoba untuk menghubungi keluarga Evan, dia mengambil hp evan kemudian mencari nomor orangtuanya. Setelah menemukan nomor orangtua Evan, dia langsung menghubungi nomor tersebut. Suara seorang ibu mengucap salam di ujung telpon, Faraj tidak banyak berbasa-basi, dia langsung menjelaskan kejadian yang sudah menimpa Evan. Ada isak tangis yang terdengar di ujung sana. Faraj mencoba untuk menenangkan Ibu Evan, 

“Tante, Evan hanya butuh istirahat untuk beberapa hari saja, setelah itu dia akan kembali pulih. Saya tidak bermaksud membuat ibu khawatir dengan keadaan Evan. Saya hanya ingin memberitahu tante, saya tahu hubungan bathin antara ibu dan anak sangatlah kuat. Mohon doanya agar Evan bisa segera pulih. Kami akan merawatnya dengan baik, tante tidak perlu khawatir.” 

Evan membuka kedua matanya, melihat ke sekelilingnya ada banyak sahabat yang datang menjenguknya. Aldo, Hesta, Faraj, dan beberapa mahasiswa yang satu fakultas dengannya sedang tertidur lelap di lantai hanya beralaskan sebuah karpet. Ia terharu melihat pemandangan ini, ia merasa begitu dipedulikan oleh sahabat-sahabatnya. Bahagia memenuhi relung hatinya, bahagia karena mempunyai sahabat-sahabat yang peduli dengan keadaannya, saling mengerti, dan saling berbagi satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, dia baru menyadari begitu banyak orang-orang yang peduli dengannya.

Seandainya Winda tahu keadaannya, apakah dia akan khawatir? Bayang-bayang Winda kembali hadir. Rasanya Winda pasti akan sangat mengkhawatirkannya jika dia tahu keadaannya saat ini. Evan pernah menyuruh Bang Ucup memberitahu bahwa dia sedang sakit, padahal Evan bersembunyi di balik pagar rumahnya dan melihat tingkah Winda dari celah tembok. Winda langsung gelisah dan ingin menjenguknya saat Bang Ucup mengatakan bahwa dia sedang dirawat. Padahal dia belum pernah bertamu ke rumah Evan. Hubungan mereka memang aneh, sudah lama menjalin kasih tapi Winda belum pernah diajak bertemu dengan orangtua Evan. Padahal mereka tinggal bersebelahan.

“Mbak, sudah tahu belum kalo Mas Evan sedang dirawat di rumah sakit?” ucap Bang Ucup di hadapan Winda yang sedang memegang seikat sayur bayam.

Seikat bayam yang ada di tangannya langsung terjatuh, degup jantungnya semakin cepat saat tahu pujaan hatinya sedang dirawat di rumah sakit. Mukanya mulai menampakkan kegelisahan. Sementara Evan tertawa melihat kejadian itu dari balik tembok. 

“Abang bercanda aja Mbak, Mas Evan yang nyuruh” ucap Bang Ucup sambil menunjuk ke arah Evan yang sedang bersembunyi.

Winda tersipu malu, malu saat pujaan hatinya melihat tingkahnya tadi. Dia langsung membayar sayur yang dia beli, kemudian meninggalkan Bang Ucup dan Evan yang masih tertawa dengan kejadian tadi.
Bidadariku, aku merindukanmu.
Apakah engkau juga merindukanku?

-Bersambung-