April 19, 2012

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana (2)

Bukan permata yang kupinta darimu
Bukan juga mobil mewah seperti milik tetangga
Namun, senyum bahagia itu yang selalu kunanti darimu.

Seperti biasa, pagi ini Bang Ucup mendorong gerobak sayurnya keliling komplek Bancar Kembar, membawa beraneka ragam sayur mayur bagi warga komplek. Kangkung segar, bayam, sawi, semuanya masih terlihat segar dan sedap dipandang mata. Sebagian dari sayuran yang dia jual adalah hasil tanamannya sendiri. Dia menanam sendiri berbagai macam sayur itu di belakang rumahnya. Ibu-ibu menghampirinya dan membeli kebutuhan hari ini. Hampir semua warga komplek mengenalnya. Suaranya sudah dihapal dengan baik oleh warga komplek. Sehari saja dia tidak datang dengan gerobak sayurnya, maka seluruh komplek pasti tahu akan hal itu. Pagi hari akan terasa berbeda tanpa suara khasnya yang serak-serak basah. Anak-anak kecil sangat senang menyapa Bang Ucup, sebagian kadang menunggunya hanya sekedar ingin mendengarkan cerita-cerita lucu yang sering dia bawakan pada anak-anak perumahan. Pemandangan di pagi hari yang indah.

“Bang Ucup, saya pesan seperti biasa ya. Maaf, saya tidak bisa keluar rumah dulu. Nanti Bang Ucup letak di tempat biasa ya. Nyonya sedang di rumah” ucap Winda dari balik tembok besi yang mengelilingi rumah majikannya.

Kehadiran sang majikan sepertinya memberi dia kerja lebih. Tidak seperti biasanya, dia hanya mengurus keperluan tiga anak sang majikan. Dan sekarang dia harus sibuk mengerjakan berbagai macam tugas dari sang majikan yang terkenal susah untuk tersenyum itu. Gary, anak yang paling tua masih kelas tiga SMP. Anto, anak yang kedua masih duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan Gemi, masih balita. Bayangkan betapa sibuk Winda menyiapkan segela keperluan ketiga anak itu, sementara sang majikan sibuk dengan segudang kerjaan di luar rumah. Majikannya adalah orangtua tunggal bagi anak-anaknya. Kasihan mereka, terus menerus harus ditinggal pergi oleh ibu mereka. Mereka lebih mengenal Winda dari pada ibu kandung mereka sendiri. Itu semua karena sebagian besar waktu mereka habis bersama Winda.

“Mbak, anak-anak sudah siap pergi ke sekolah belum?” teriakan sang majikan dari lantai atas mengagetkan Winda yang sedang sibuk menyiapkan bekal yang akan dibawa oleh anak-anak ke sekolah.
“Sebentar lagi nyonya.”

Anak-anak sudah duduk di meja makan, menunggu sang bunda ikut bersama mereka menikmati santapan pagi yang dibuat oleh Winda dan Mbok Inah. Mbok Inah sudah bekerja sejak lama. Sedangkan Winda baru bekerja kurang lebih dua tahun lamanya.

Anak-anak sudah berangkat ke sekolah, majikannya sudah pergi ke kantor. Mbok Inah membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di meja makan. Winda membersihkan halaman dari daun-daun mangga yang mulai mengering dan jatuh ke halaman. Setelah mengerjakan tugas rumah, Winda menyandarkan bahunya ke kursi kayu yang ada di halaman belakang rumah, menikmati secangkir teh hangat bersama dengan sepiring nasi goreng telor yang dia buat sendiri. Penat sudah menjadi bagian dari hidupnya di pagi hari. Bulir-bulir kecil jatuh perlahan dari wajahnya.

Winda kadang iri melihat wanita seumuran dirinya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara dirinya harus puas dengan hanya menyelesaikan SMP. Kendala biaya membuatnya tidak bisa melanjutkan mimpinya. Sudah lumrah, anak-anak di kampungnya hanya bisa menyelesaikan sekolah menengah pertama, setelah itu mereka berangkat ke kota-kota besar untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Menjadi pembantu rumah tangga, karyawan pabrik, dan berharap hidup akan membaik. Lihatlah Winda, dia memang tidak meninggalkan Purwokerto yang merupakan tempat kelahirannya. Akan tetapi dia meninggalkan rumahnya untuk bekerja menjadi pembantu. Tidak ada gunanya menyalahkan nasib, dia tetap menjalani kehidupannya dengan hati tulus.

Kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai petani, penghasilan mereka tidak cukup untuk memberikan pendidikan yang lebih baik untuk putri mereka. Winda tidak pernah menyalahkan keadaan yang membuatnya menjadi seperti ini. Menjadi babu di rumah orang kaya. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan menjadi seorang pembantu. Padahal dulu, dia pernah bercita-cita ingin menjadi seorang pramugari dan bisa keliling dunia gratis.

“Winda, kamu mau jadi apa nanti kalo sudah besar?” Tanya Bu Atun yang merupakan guru matematika di sekolahnya.

“Mau jadi seperti ini buk” jawab Winda sambil memegang sebuah buku yang ada gambar pramugarinya.

Wajahnya berseri-seri tiap kali melihat gambar pramugari yang terlihat menawan dengan seragamnya. Kadang gambar itu menjadi mimpi yang menghiasi tidurnya. Karena cita-citanya ingin menjadi pramugari, dia rajin belajar Bahasa Inggris. Kata bapaknya, pramugari itu harus bisa belajar bahasa inggris. Jadilah dia anak yang rajin dan penuh semangat belajar Bahasa Inggris yang terkadang membuatnya pusing.

Hari mulai beranjak siang, Winda masuk ke dalam kamarnya yang berada dibagian belakang rumah. Dia membuka selembar kertas yang terlipat rapi di dalam kotak kayu berwarna hitam kecoklatan yang ada di bawah kasurnya. Kotak kayu itu menyimpan banyak kenangan tentangnya, dan tentang laki-laki yang dia sebut sebagai cinta sejatinya. Dia masih menyimpan selembar kertas yang dulu pernah diberikan Evan kepadanya. Dia membaca tulisan yang ada di kertas itu berulang kali. Sudah hampir empat bulan lamanya dia tidak bertemu dengan Evan. Tidak ada kabar berita darinya. Namun, Winda mempunyai keyakinan yang kuat bahwa cinta sejatinya masih memegang janji yang mereka ucapkan di depan gerobak sayur Bang Ucup.

Winda duduk menghadap ke luar jendela, dari kejuahan dia bisa melihat Bang Ucup dengan gerobak tua miliknya perlahan meninggalkan komplek perumahan. Sudah banyak jasa Bang Ucup, dia sudah melakukan pekerjaan yang membuat sebagian besar ibu rumah tangga di komplek sini tidak perlu sibuk membeli bahan masakan ke pasar. Semakin jauh, Bang Ucup sudah tidak terlihat lagi. Setiap kali melihat Bang Ucup, Winda selalu teringat akan Mas Evannya. Laki-laki yang sekarang sudah mengisi relung hatinya itu selalu muncul, seolah memandangnya dengan tatapan rindu. Ah Tuhan, inikah rindu? Inikah getar-getar rindu yang sengaja Engkau berikan pada hatiku yang sedang gundah akan kekuatan cinta? Cinta yang sudah menepiskan ragu yang menyelimuti hati. Keraguan cinta mampu kutepis dengan rindu yang menyesakkan dadaku. Tuhan, apa kabar dia disana? Pernahkah dia memikirkanku? Menyebut namaku sebelum ia hanyut dalam tidur lelapnya? Semoga.

Evan pernah menanyakan tentang kebahagian kepadanya.

“Winda, apa yang paling membuatmu bahagia saat dekat dengan mas?”

Winda terdiam sejenak, kemudian melihat kedua mata hitam Evan yang meneduhkan hatinya. Senyuman Evan masuk ke dalam sanubarinya dan menebarkan bumbu kebahagiaan yang tidak bisa dia lukiskan dengan indahnya kata-kata.

“Aku bahagia melihatmu tersenyum, mas” jawabnya pelan.
“Sesederhana itu?”
“Iya, dengan kesederhanaan cinta yang kita bangun, aku merasa lebih yakin dengan cintamu. Mas tidak pernah menjanjikan gelang emas, anting-anting permata, cincin yang bertuliskan nama kita berdua, atau sekuntum bunga mawar merah yang berarti tanda cinta. Hanya senyum bahagia itu yang menguatkan, menyentuhku, dan membawaku terbang bersama sayap-sayap cinta yang engkau rajut bersama waktu. Sesederhana itu kebahagianku bersamamu mas.”

Hati evan semakin berbunga mendengar penuturan bidadarinya. Dia memang tidak pernah menjanjikan kemewahan kepadanya, namun satu hal yang ingin ia katakan kepada bidadarinya, dia mencintainya dengan tulus.

“Winda, aku mencintaimu setulus hati. Apakah engkau pernah meragukan cintaku padamu?

Winda menatap lekat-lekat senyum itu, kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak ada keraguan cintanya pada sang pujaan. Sementara Bang Ucup tertawa dibalik sapu tangan yang dia gunakan untuk menutup mulut dan hidungnya. Sepertinya Bang Ucup tidak ingin mengganggu dua hati yang sedang berbunga. Namun, dalam hatinya dia mendoakan mereka berdua bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain dan bahagia membina cinta hingga sampai ke surga-Nya. Bang ucup dan gerobak sayur berserta isinya adalah saksi cinta mereka berdua.
-Bersambung-

10 comments:

  1. Ihiiiiirrrr,,,,

    Saya juga bahagia membacanya... terima kasih udah ngasih saya bahagia pagi ini... Eeeeeehhhh... :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah akan lebih bahagia jika ada yang mengucapkan "aku bahagia bersamamu dinda" lol

      Delete
    2. seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak haha

      Delete
  2. Ceritanya sederhana dan manis pak guru. Trus evan aslinya pergi kemana pak? *penasaran*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pasti belum baca cerita sebelumnya ya? hihi. silahkan baca cerita sebelumnya di "Senyuman Bidadariku"

      Delete
    2. Whihihi ini ternyata episode ke dua to??baiklah saya ke tkp dulu

      Delete
    3. baiklah. selamat membaca ya. :)

      Delete
  3. Bahagia itu sederhana, asal ada dia di sampingkuu ..
    #eeeaa ;p

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan