April 25, 2012

Bahagia Merayakan Cinta

Bahagia Merayakan Cinta (6)

Terlabuhlah sudah rindu ini
Terlabuhlah sudah cinta ini
Lama ku nanti hadirmu dalam dekapku
Kini, telah kujumpai hangatnya cintamu
Bidadariku, aku bahagia bisa bersanding denganmu

Dalam hening malam, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Evan masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya, seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu sehingga dia tidak bisa merebahkan badannya di atas ranjang, kemudian tidur lelap meninggalkan segala kegelisahan yang ada. Inikah yang dirasakan oleh setiap orang yang akan menikah? Tanyanya dalam hati. Kegelisahan yang menghantuinya membuat dia mengeluarkan peluh yang membasahi kaos oblong yang dia pakai. Di tangannya ada selembar kertas yang bertuliskan bacaan ijab qabul yang harus dia hapal. Dia mengulang kalimat-kalimat itu sampai hapal. Awalnya, dia mencoba untuk menghapal ijab qabul yang berbahasa arab, namun dia merasa kesulitan untuk mengucapkannya. Lidahnya masih belum bisa fasih mengucapkan semua itu. Mungkin itu dikarenakan dia masih belum pandai membaca Al-Qur’an, dia masih dalam proses memperbaiki bacaannya, agar bisa menjadi lebih baik dan bisa menjadi imam bagi keluarga kecilnya nanti.

Malam ini adalah malam terakhir Evan berstatus bujangan. Esok hari jika tidak ada halangan yang melintang, dia akan menjadi seorang suami. Dia akan menikah dengan wanita pujaannya. Wanita yang selama ini telah menemani mimpi-mimpinya. Lantas, apa yang sebenarnya Evan takutkan? Bukankah ini semua adalah keputusan yang sudah dia buat sendiri? Menikah dengan Winda adalah impiannya. Tapi, dia tetap gelisah.

Jarum jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Evan baru bisa tidur lelap dan melupakan kegelisahan yang mengganggu malamnya. Suara gerimis menemani keheningan malam. Malam betul-betul hening, seakan-akan tidak ingin mengusik Evan yang baru bisa istirahat melepas lelah.

Evan Pria Nugraha, hanya dalam hitungan jam dia akan duduk di samping Winda calon istrinya, di hadapan Pak Penghulu dan disaksikan oleh keluarga kedua mempelai. Mereka akan disahkan dalam sucinya ikatan pernikahan. Meski dia sudah berusaha untuk tidak gelisah dan canggung menunggu hari bahagia itu tiba, namun kenyataannya sejak kemarin dia tetap gelisah menunggu hari bahagia itu datang.

Proses menuju gerbang pernikahan tidak semuanya sesuai dengan rencananya. Awalnya, kedua orangtuanya meragukan keputusan mereka menerima Winda sebagai calon menantu mereka. Keraguan mereka muncul saat Bu Zaitun menceritakan hal yang sebenarnya. Bu Zaitun memberitahu Pak Nugraha dan istrinya bahwa Winda adalah anak angkatnya. Namun, keraguan itu berubah menjadi keridhoan saat mereka melihat kesungguhan putra mereka untuk mempersunting si jantung hati. Hati keduanya luluh oleh kekuatan cinta yang telah dibina oleh putra mereka. Kedua orangtua Evan akhirnya mengizinkannya  memilih jalan yang ingin dia lalui bersama bidadarinya. Pak Nugraha dan istrinya juga tersentuh melihat kejujuran Bu Zaitun yang sudah menceritakan semuanya kepada mereka.

Evan Pria Nugraha, nama itu sering menjadi bahan ejekan sahabat-sahabatnya. Mereka paling suka menjadikan nama “Evan Pria Nugraha” sebagai bahan canda tawa saat mereka sedang bersama. Tidak ada yang aneh dari nama itu, tapi sahabat-sahabatnya selalu menggodanya. Seperti kala itu,

“Evan, kenapa orangtuamu memberimu nama “Evan Pria Nugraha”? tanya Aldo.
“Karena Evan adalah seorang pria, makanya nama itu yang dipilih. Coba aja kalo perempuan, pasti namanya Evani Perempuannya Nugraha” Hesta menjawab sesuka hatinya, kemudian dia pergi meninggalkan Evan dan sahabat-sahabatnya sambil tertawa. Jika dia tetap di dekat mereka, maka diktat tebal akan menyapa pipinya dengan mesra. Evan paling suka melakukan itu, melempar diktat ke muka sahabat-sahabat yang mengganggunya. Evan sudah menyiapkan diktat tebal di tangannya, sejurus kemudian Hesta sudah menghilang dari kelas. Sementara Faraj dan Aldo hanya tersenyum melihat tingkah sahabat mereka.

Pagi menjelang, keluarga besar Evan sudah sibuk menyiapkan diri untuk pergi ke tempat akad nikah akan dilakukan. Evan masih di dalam kamar, dia masih belum memakai baju pengantin yang sudah dibuatkan ibundanya. Baju itu masih tersimpan di dalam lemari pakaiannya. Evan masih berbaring di atas ranjangnya, memeluk bantal guling berwarna putih bersih. Entah apa yang ada di dalam benaknya, bukankah seharusnya dia antusias menyambut hari ini?

Bu Nugraha mengetuk pintu kamar putranya,
“Evan, segera siap-siap. Bapak dan ibu sudah siap berangkat.”
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Bu Nugraha mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya, tetap tidak ada jawaban. Bu Nugraha mulai mengkhawatirkan putranya. Ia membuka pintu kamar Evan yang sengaja tidak dikunci dari dalam. Dia melihat putranya masih berbaring di ranjang dan memeluk bantal guling. Di tangan Evan ada sebuah photo, photo Winda dengan seragam SMP. Bu Nugraha duduk di samping putranya, kemudian mengusap rambut putranya yang sebentar lagi akan menikah dan hidup bersama Winda istrinya.

“Evan, kamu kenapa, nak? Coba beritahu ibu, biar ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Ini adalah hari bahagia, semua keluarga sudah siap untuk melihat pernikahanmu, Jangan buat mereka kecewa.”
Evan masih diam, pandangannya kosong. Bu Nugraha masih mengusap kepala putranya, menunggu sebuah jawaban. Evan hanya tersenyum menatap ibunya, kemudian berdiri sambil memegang kedua tangan ibunya erat-erat,
“Ibu, Evan nggak apa-apa. Evan hanya masih belum percaya bahwa hari bahagia sudah tiba. Sudah lama Evan menanti hari ini tiba” ucapnya.

Setelah memastikan bahwa putranya baik-baik saja, Bu Nugraha meninggalkan putranya menyiapkan diri.
Pak Nugraha sudah terlihat gagah mengenakan jas berwarna hitam dan setelan celana panjang berwarna senada dengan jasnya. Bu Nugraha mengenakan kebaya yang berwarna kuning, kebaya itu mempunyai kenangan yang begitu berharga. Kebaya itu adalah pemberian mendiang ibunya. Dia sengaja menyimpannya, kemudian akan memakainya di hari yang spesial. Hari ini adalah hari yang sangat spesial, karena hari ini putra semata wayangnya akan menikah dengan wanita pilihannya.

Kedua mempelai sudah duduk manis di depan Pak Penghulu, menunggu proses ijab qabul dimulai. Dua orang saksi sudah duduk menemani di samping kanan dan kiri. Merekalah yang akan menentukan sah atau tidaknya akad nikah hari ini. Evan begitu tampan mengenakan setelan jas berwarna putih, jas itu adalah hasil jahitan ibunya sendiri. Evan berharap semua akan berjalan lancar. Dia memanjatkan doa-doa agar dia bisa mengucapkan ijab qabul dengan baik. Winda hari ini lebih cantik dari biasanya, kebaya putih yang dia pakai serasi dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Suasana bahagia memenuhi aula gedung Kelurahan Purwokerto Wetan. Gedung Kelurahan menjadi tempat akad nikah dilangsungkan. Sanak saudara yang hadir sudah tidak sabar menunggu proses ijab qabul dimulai. Keabsahan nikah itu adalah jika telah terpenuhinya rukun nikah yaitu; adanya dua orang mempelai, wali, dua orang saksi,  dan mahar (mas kawin). Setelah semua dirasa siap, Pak Penghulu memulai proses akad nikah. Dengan membaca basmalah, dan sedikit pembukaan, proses akad nikah pun dimulai. Suasana begitu khidmat.

Saya nikahkan engkau, Evan Pria Nugraha bin Aripin Nugraha  dengan ananda Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat seberat 5 gram  dibayar tunai.”

Evan menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengucapkan,

“Saya terima nikahnya Winda Amali Zaitun binti …..” Evan berusaha mengingat nama Ayah Winda. Arghh…sepertinya proses ijab qabul tidak cukup hanya sekali. Pak Penghulu mengulang kembali,

Saya nikahkan engkau, Evan Pria Nugraha bin Aripin Nugraha  dengan ananda Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat seberat 5 gram  dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Winda Amali Zaitun binti Ahmad Taslim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Kali ini Evan bisa menjawab dengan jelas, tanpa terputus-putus. Jawaban itu seolah mengisyaratkan bahwa pernikahan ini adalah mimpi besar yang sudah dia impikan sejak lama.

Pak Penghulu menanyakan kepada dua orang saksi,
“Bagaimana? Sah?”

Kedua orang saksi menyatakan sah, kemudian diikuti ucapan syukur oleh semua yang hadir. Suasana jadi riuh penuh dengan kebahagiaan. Evan dan Winda meneteskan air mata bahagia. Suasana syahdu memenuhi kalbu mereka berdua. Setelah semua proses akad nikah selesai, kini Evan dan Winda sudah sah menjadi pasangan suami istri. Suasana haru semakin menjadi, saat Winda menjabat tangan ibunya yang hadir di acara pernikahannya. Ibunya sedang sakit, dia datang ke akad nikah putrinya sambil menahan sakit yang dia derita. Di satu sisi, Winda sedang bahagia karena hari ini dia sudah sah menjadi seorang istri. Namun, di sisi lain dia sedih melihat ibunya yang semakin lemah menahan sakit.

Sabahat-sahabat Evan, Faraj beserta istri, Aldo, dan Hesta menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahannya. Mereka sengaja datang dari Jogja demi menghadiri pernikahan sahabat karib. Mereka menjabat tangan kedua mempelai dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Hari ini sungguh bahagia.

“Ta, sekarang Evan sudah mempersunting Winda yang dulu sering lo ejek, giliranmu kapan?” tanya Aldo pada Hesta yang duduk menyendiri di pojokan sambil menikmati mendoan dan segelas teh manis.
“Ah…lo kayak nggak pernah ngejek Evan aja, dan coba tanyakan pada diri sendiri, Giliranmu kapan?” keduanya tertawa bersamaan. Jadi sekarang hanya kita berdua yang belum menikah, dua orang sahabat kita sudah lebih dahulu membina rumah tangga. Keduanya mengangguk secara bersamaan, kemudian sama-sama merenungi nasib.
“Gimana kalo kalian berdua nikah aja, udah serasi tuh, sama-sama single” celetuk Faraj sambil menggandeng tangan istrinya dan duduk di dekat dua sahabatnya. Aldo dan Hesta saling pandang,
Stressss……s” ucap mereka secara serempak.
“Tuh, kan…kalian berdua itu memang cocok. Buktinya barusan bisa barengan gitu” ucap Faraj.

Faraj meninggalkan kedua sahabatnya itu, membaur bersama tamu undangan yang hadir di pernikahan sahabatnya. Kini, Evan dan Winda sedang bahagia merayakan cinta yang sejak lama mereka bina. Rasanya baru kemarin mereka bercanda bersama, menertawakan photo Winda dengan seragam SMP yang selalu dipajang di meja belajar Evan, menertawakan puisi yang dibuat Evan untuk Winda, atau merasa geli dengan cerita cinta antara Evan dan Winda yang berawal dari pertemuan di depan gerobak sayur. Cerita cinta mereka memang unik.

Bang Ucup, laki-laki yang menjadi saksi cinta dua hati yang sedang berbunga itu juga hadir di akad nikah Evan dan Winda, ikut mendoakan agar mereka bisa terus bersama hingga ajal memisahkan. Cerita cinta yang telah mereka ukir masih diingat dengan baik oleh Bang Ucup. Pertemuan Winda dan Evan, benih cinta yang mereka tanam menumbuhkan getar-getar rindu, sampai pada saat Evan melamar Evan di depan gerobak sayur miliknya. Kadang Bang Ucup sering tertawa sendiri bila mengingat perjalanan cinta dua insan yang sedang bahagia itu.

Aldo dan Hesta masih penasaran dengan kisah cinta Evan dan Winda. Mereka berdua menghampiri Bang Ucup, memintanya menceritakan cerita cinta Evan dan Winda sejak pertama kali mereka bertemu hingga mereka berdua memutuskan untuk menikah. Sesekali Aldo dan Hesta menganggukkan kepala saat mendengar cerita yang dituturkan dengan runtun oleh Bang Ucup, tapi mereka lebih banyak tertawa dengan cerita cinta yang menurut mereka aneh bin ajaib itu. Semoga bahagia selalu menyertai mereka berdua.

Terlabuhlah sudah lelah ini
Tersandarkan sudah rindu hati
Terimakasih Yaa Rabbi atas pernikahan ini
Belahan jiwa lelah ku nanti.. telah kujumpai
(Seismic: Terlabuhkan)
-Bersambung-

10 comments:

  1. happy ending, tp msh bersambung??sambunganya ntar dibikin konflik yang lbh seru pak.. :)

    ReplyDelete
  2. Ada yg typo pak.. Tapi kereennn..
    Cuma sekedar saran aja, knapa ga pakai adat sesuai aturan Islam pak? Maksudnya, kalau dalam Islam yg saya tahu, mempelai wanita baru boleh bertemu mempelai pria setelah ijab kabul.. Jadi sebelum ijab kabul, mempelai wanitanya berada di ruangan yang berbeda dengan mempelai pria. Menurut saya ini yang menambah gregetnya pak.. Saya rasakan itu saat menghadiri akad kakak sepupu saya. Whuiiih.. Saya yg deg2an, padahal yg nikah kakak sepupu saya.. Heheh, maaf jadi curcol niih..
    Lanjutannya lebih seru ya pak..
    (ง'̀⌣'́)ง

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih masukannya. siap dilaksanakan. tapi bagian salah ketiknya dibagian mana? hehe kasih tahu dong biar saya tahu :)

      Delete
    2. "Sabahat"-sahabat Evan, Faraj beserta istri, Aldo, dan Hesta menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahannya.

      Itu sabahat pak tulisannya, harusnya sahabat kan??

      Oiya, yg bener tuh "Photo" atau "foto" pak??

      Delete
  3. Ada yg typo pak.. Tapi kereennn..
    Cuma sekedar saran aja, knapa ga pakai adat sesuai aturan Islam pak? Maksudnya, kalau dalam Islam yg saya tahu, mempelai wanita baru boleh bertemu mempelai pria setelah ijab kabul.. Jadi sebelum ijab kabul, mempelai wanitanya berada di ruangan yang berbeda dengan mempelai pria. Menurut saya ini yang menambah gregetnya pak.. Saya rasakan itu saat menghadiri akad kakak sepupu saya. Whuiiih.. Saya yg deg2an, padahal yg nikah kakak sepupu saya.. Heheh, maaf jadi curcol niih..
    Lanjutannya lebih seru ya pak..
    (ง'̀⌣'́)ง

    ReplyDelete
  4. Ini saya copas pak..
    "Sabahat-sahabat Evan, Faraj beserta istri, Aldo, dan Hesta menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahannya."

    Harusnya sahabat kan pak?? ;D

    Oiya, kok "photo" ya pak?? Bukannya foto? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. baiklah. terimakasih atas koreksinya ahha

      Delete
  5. Mau tanya lagi pak.
    Di sini Winda itu kan anak angkatnya Pak Ahmad kan, bukan anak kandungnya? Kenapa pake binti Ahmad taslim?? Kenapa ga di ceritain ayah kandungnya siapa? Paling nggak, ada usaha dari Winda untuk mencari siapa orang tua kandungnya. Karena setahu saya, yang menjadi Wali untuk mempelai perempuan itu harus Ayah/saudara laki2 kandung dari mempelai perempuannya kan? Jika memang tidak ketemu juga, di walikan oleh Wali hakim. Karena jika tidak, pernikahannya tidak sah (dalam Islam).
    Maaf, ini hanya analogi saya loh pak..

    Selamat menulis lagi pak guru.. :D

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan