April 21, 2012

Bersatunya Dua Hati Karena Cinta

Bersatunya Dua Hati Karena Cinta (4)

Kini, engkau duduk di sampingku
Mendekapku dengan hangatnya cinta

“Winda, maukah engkau menikah denganku?” 

Pertanyaan itu mengalir pelan dari bibir Evan, disaksikan Bang Ucup yang sedang sibuk melayani ibu-ibu yang membeli dagangannya. Meski pelan, tapi Bang Ucup dan ibu-ibu itu bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucapkan oleh Evan. Winda diam membisu, hening. Evan menunggu jawaban kekasih hatinya. Bukan jawaban “tidak” yang ingin dia dengar, melainkan jawaban “iya” yang ingin dia dengar dari sang kekasih. Bang Ucup dan ibu-ibu yang sedang membeli sayur mayur ikut hanyut dalam suasana hening. Mereka semua menunggu jawaban yang akan mengubah dunia Evan. Jika jawaban “Iya”, maka dipastikan kebahagiaan akan memuncak dalam jiwa Evan. Akan tetapi, jika jawaban “tidak” yang winda ucapkan, maka bunga-bunga cinta yang ada di hatinya akan layu.

Winda sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar di depan gerobak sayur Bang Ucup. Evan memang bukan pria yang romantis, seharusnya dia datang ke rumahnya dan menyatakan keinginannya untuk melamarnya di depan kedua orangtuanya. Evan tidak melakukan itu. Tapi, pertanyaan Evan mampu menumbuhkan keyakinan yang kuat dalam diri bahwa dia adalah pria yang Tuhan janjikan untuknya. Dia adalah pria yang mencintainya dengan penuh ketulusan. Dia mengajarkannya banyak hal tentang hidup, yang membuat hari-harinya lebih berwarna. 

Winda masih diam, sambil memainkan kantung plastik berwarna hitam yang berisi wortel segar dan sayur bayam. Dia melihat ke arah Bang Ucup, laki-laki itu hanya tersenyum melihatnya. Bang Ucup tersenyum bahagia dan berharap mereka berdua bisa menyatu membina rumah tangga. Kisah cinta mereka sudah bagian dari kehidupannya, di gerobak sayurnya mereka menata hati, dan membina cinta. 

“Haruskah aku menjawabnya sekarang?” tanya winda.
“Tentu, Winda” jawab seorang ibu yang berdiri di samping Bang Ucup sambil tersenyum kepadanya, kemudian diikuti anggukan yang lainnya.
“Winda, aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang, engkau bisa menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaanku. Tanyakan pada hatimu, adakah aku di dalam sana.” ujar Evan.
“Mas, beri aku waktu, aku tidak bisa memutuskan sekarang.”
Evan mengangguk, dia harus bersabar menunggu jawaban dari kekasih hati.
“Aku ingin Bang Ucup dan gerobak sayurnya menjadi saksi cinta kita, aku akan menunggumu disini sampai engkau menemukan jawaban apa yang akan engkau berikan padakau. Jika engkau sudah menemukan jawaban, temui aku di sini, di depan gerobak sayur Bang Ucup.”

Seandainya gerobak itu bisa berbicara, mungkin dia akan memberitahukan hal ini kepada sahabatnya sesama gerobak bahwa dia menjadi saksi cinta dua anak manusia. Kisah cinta mereka berdua berbeda dengan yang lain, mereka bertemu di depan gerobak sayur, saling menyatakan cinta, dan sekarang Evan melamar Winda di depan gerobak sayur Bang Ucup. Kisah cinta yang langka.

Winda duduk sendirian di kursi kayu yang ada di belakang rumah majikannya, sambil melihat ke arah Gunung Slamet yang diselimuti oleh awan putih. Mbok Inah menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya. Dia melihat ada kegelisahan di wajah Winda.

“Nduk, lagi mikiri apa? Dari tadi mbok perhatikan kamu melamun terus.”
“Mbok, tadi pagi Mas Evan melamarku, tapi aku belum memberikan dia jawaban. Aku masih bingung.”
“Semua keputusan ada padamu, turuti apa kata hatimu. Karena hatimu yang paling tahu tentang perasaanmu. Jika memang ada cinta antara hatimu dan hatinya, maka kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan lupa minta petunjuk kepada Tuhan, karena dia yang mengendalikan hatimu.” 

Mbok Inah mengusap rambut Winda dengan penuh kasih sayang. Dia sudah menganggap Winda seperti anaknya sendiri. Diusia senjanya, dia hanya hidup sendiri. Tidak ada anak-anak yang menemani hari-harinya, karena dia memang tidak mempunyai anak. 
 *
Sudah beberapa hari ini, Evan tidak melihat Winda membeli sayuran, hanya ada Bang Ucup dan ibu-ibu komplek yang berbelanja. 

“Bang, sudah beberapa hari ini Winda nggak ada kelihatan, dia ada cerita sesuatu dengan Bang Ucup nggak?” Evan duduk di trotoar sambil menyesap segelas kopi hitam menemani pagi yang mendung.
“Kemarin, Mbok Inah bilang Winda sedang pulang kampung. Ada urusan keluarga katanya.”

Evan meninggalkan Bang Ucup dan gerobak sayurnya, dia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di taman sekitar komplek. Dia Menata kepingan rindu yang menyesakkan dada. Tiba-tiba dia teringat akan sahabat-sahabatnya yang ada di Jogja. Apa kabar mereka? Semenjak selesai kuliah di UGM, mereka tidak pernah bertemu lagi. Sudah hampir satu tahun lamanya mereka berpisah. Aldo, Faraj, dan Hesta memilih melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama. Sedangkan Evan kembali ke kampung halaman, dia menjadi seorang guru. Dia mempunyai keinginan yang kuat untuk mengabdikan ilmu yang ia dapat di tempat dimana dia dilahirkan. Purwokerto adalah kota kecil, namun menyejukkan. Keindahan Gunung Slamet selalu menyapanya setiap hari, kesejukan udaranya membuatnya rindu untuk kembali. 

Kabar terakhir yang dia dengar, Faraj sudah menikah dengan wanita pujaannya di Lombok. Dia membawa istrinya ke Jogja untuk menemaninya. Faraj memang penuh misteri, sahabat-sahabatnya tidak pernah mengetahui bahwa dia mempunyai kekasih hati. Sedangkan Aldo dan Hesta masih setia dengan kesendirian mereka.

Evan membuka album photo kebersamaannya dengan ketiga sahabatnya, rumah kontrakan mereka yang sederhana menjadi saksi kuatnya ikatan bathin antara mereka. Kampus UGM menjadi saksi bisu persahabatan yang terjalin antara mereka. Dia merindukan semua kenangan itu, merindukan sahabat-sahabat yang sudah mengajarkannya banyak hal tentang arti hidup dan juga tentang cinta. Dia merindukan tawa ketiga sahabatnya, mereka sering menertawakan perjalanan cintanya pada Winda. Menurut mereka, cintanya itu aneh dan lucu. 

Sore hari adalah waktu yang paling mereka tunggu, mereka sering menghabiskan sore di Stasiun Kereta Api Lempuyangan. Kawasan teteg sepur ini selalu dipadati oleh masyarakat yang menikmati suasana sore di Stasiun. Jogjakarta adalah kota budaya, menikmati sore di Stasiun Lempuyangan adalah kegemaran Evan dan ketiga sahabatnya. Banyak orangtua yang membawa anak-anak mereka untuk menikmati sore, menunggu malam tiba. Suara gelak tawa anak-anak yang bermain di sekitar stasiun, petugas yang menjaga pintu perlintasan, para remaja yang sedang asik mengabadikan kebersamaan mereka dengan pasangan, semua itu adalah bagian dari episode persahabatan mereka. Sahabat, semoga ada waktu untuk bertemu kembali dan mengulang kembali cerita-cerita yang sudah kita lalui.

Purwokerto diguyur hujan, matahari sudah kembali ke peraduannya. Mungkin saja esok dia akan kembali menyinari semesta, semua adalah kehendak Tuhan yang maha kuasa. Evan duduk di meja belajarnya, melihat photo Winda yang sedang membeli sayuran di gerobak sayur Bang Ucup. Dia sengaja mengambil gambar itu tanpa sepengetahuan Winda. Sekarang, ada dua photo yang menemani malamnya, photo Winda dengan seragam SMP, dan photo sedang membeli sayuran di depan gerobak Bang Ucup. Saat rindu dengan si dia, dia mendekap erat-erat kedua photo itu hingga dia tertidur lelap. 

Pagi ini, suara Bang Ucup sudah terdengar di depan gerbang rumah Evan. Evan segera berlari ke luar rumah dan menemui Bang Ucup. Dia tidak bermaksud untuk membeli dagangan Bang Ucup, namun dia berharap pagi ini bisa melihat senyum Winda yang sudah dia nanti sejak belakangan ini. Sesuai dengan keinginan, Winda keluar dari rumah dan menuju Bang Ucup. Hati evan berbunga-bunga, mekar, bak rumput yang sudah lama menguning, kemudian disiram oleh air hujan yang jatuh membasahi semesta. Bahagia memenuhi relung hati. Dia melihat wajah Winda, wajah itu memancarkan kebahagian yang menyusup ke dalam hatinya. Mungkinkah ini adalah waktu yang tepat? Winda akan memberikan jawab atas pintanya beberapa hari yang lalu? Ia berharap demikian adanya. Rasanya, dia sudah tidak sanggup menunggu terlalu lama. Dia ingin segera duduk bersanding dengan pujaan hati. Bidadariku, aku menunggumu.

Winda berdiri di ujung kanan gerobak sayur, sesekali dia memperhatikan Bang Ucup yang sedang menikmati sensasi rokok lintingan. Rokok lintingan merupakan tembakau yang dilinting dengan kertas rokok. Rokok itu selalu menemani Bang Ucup dan gerobak sayurnya. Sedangkan Evan, dia berdiri di ujung kiri gerobak. Mereka berdua hanya saling pandang, belum ada kata-kata yang mengawali pertemuan mereka. Entahlah, mereka berdua sama-sama canggung untuk menyapa. Padahal, Winda sudah menyiapkan jawaban yang akan ia berikan pada Evan. Akhirnya, Evan menghampiri Winda, menyapanya dengan sapaan rindu. Keduanya sedang berbincang satu sama lain, membiarkan Bang Ucup menjadi penonton setia drama cinta yang mereka buat. Drama tentang cinta yang akan menghangatkan pagi dengan cerita-cerita cinta yang mereka jalani bersama sinar mentari pagi.

“Mas, maaf sudah membuatmu lama menunggu.”
“Tidak apa-apa, mas rela menunggu kata cinta darimu. Jangankan satu minggu, satu abad pun akan mas tunggu” jawab Evan gombal.

Winda tersipu malu, dia menarik nafas dalam-dalam seolah-olah sedang menyiapkan keberanian untuk memberi sebuah jawaban. Untuk menjawab ini semua, Winda tidak memutuskan sendiri. Ada peran orangtua yang menjadi tempatnya mencurahkan kegundahan hati, ada Tuhan tempatnya mengucapkan doa-doa agar jalan yang ia pilih diridhoi oleh-Nya.

“Mas, aku…..” ucapan Winda terhenti.
Evan membiarkan Winda merangkai kata menjadi sebuah jawaban.
“Mas, aku mau menjadi istrimu. Ketika mas datang menawarkan cinta kepadaku, aku melihat kedua matamu, tidak ada keraguan di sana. Aku melihat cakrawala penuh cinta yang terpancar dari sinar matamu. Aku melihat tatapan penuh butir-butir ketulusan. Aku memercayai cintamu, dan aku ingin memiliki cintamu” ucap  Winda sambil memberanikan diri untuk menatap wajah Evan.

Kata-kata yang mengalir dari Winda merambah jiwa Evan, membuat jantungnya berdetak bersama waktu. Langit seketika cerah melihat senyum yang terukir di wajah Winda, tidak ada keraguan yang ia sembunyikan. Jawaban itu tulus. Suasana bahagia menyeruak seketika. Bang Ucup meneteskan air mata bahagia melihat dua hati yang menyatu karena cinta. Mereka berhak bahagia karena cinta, gumamnya dalam hati.
-bersambung-

8 comments:

  1. Tanyakan pada hatimu, adakah aku di dalam sana.” ujar Evan.


    Tunggu ya Evann... Saya cari hati saya yg hilang dulu, nanti saya tanyakan (Winda Gadungan) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha niat ngerusuh. terimakasih sudah bersedia membaca tulisan saya :)

      Delete
  2. Akhirnya mereka menikah, yey, menunggu undangan :)

    ReplyDelete
  3. Aku mau donk dilamar gitu.... *sambit arit* :D :D

    ReplyDelete
  4. hmmm...“Mas, aku mau menjadi istrimu. Ketika mas datang menawarkan cinta kepadaku, aku melihat kedua matamu, tidak ada keraguan di sana. Aku melihat cakrawala penuh cinta yang terpancar dari sinar matamu.

    bukankah itu terlalu nyastra?
    hehehehe

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan