April 23, 2012

Impian Menjadi Seorang Ibu

Impian Menjadi Seorang Ibu (5)

Bunda, aku merindukan kehadiranmu
Aku merindukan belaian kasih sayang tulus darimu
Terimakasih sudah memberikanku limpahan kasih sayang

“Meski kamu bukan anak kandung kami, namun bapak dan ibu memberikanmu cinta yang sama. Tidak pernah kami membedakan anak kandung dan bukan. Engkau adalah anak bapak dan ibu.” Bu Zaitun mengucapkan semua itu sambil menahan sakit yang dideritanya. Ada air mata di kedua bola matanya, ada kejujuran yang terpancar dari wajahnya, ada ketulusan yang mengalir dari ucapannya.

Winda tidak bisa menahan air matanya saat mengetahui semua itu. Setelah hampir dua puluh tahun lamanya dia mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya, kini kenyataan harus dia terima. Dia bukanlah anak kandung orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil. Kenyataannya dia hanyalah anak angkat bapak dan ibunya. Tapi, mengapa harus sekarang dia mengetahui semua itu? Mengapa tidak sedari dulu semua ini dia ketahui? Mengapa dia harus mengetahui ini semua menjelang pernikahannya? Aku membenci-Mu Tuhan. Aku membenci-Mu karena Engkau telah membiarkanku hidup tanpa mengenal orangtua kandungku. Aku membenci-Mu. Tuhan, dimana aku bisa menemukan orangtua kandungku? Pertanyaan itu menanti sebuah jawaban.

“Ibumu sengaja memberitahumu sekarang, karena dia tidak yakin bahwa esok hari dia masih bisa menyapa mentari pagi. Coba kamu lihat ibumu, semakin hari dia semakin ringkih saja, tubuhnya mengurus, kesehatannya semakin menurun. Tidak ada yang tahu kapan dia akan dipanggil oleh Tuhan. Sudah saatnya kamu mengetahui semua ini sebelum semuanya terlambat, nduk. Bapak dan ibu tetaplah orangtuamu, meski kamu tidak lahir dari rahim ibumu. Tapi kami memberimu kasih sayang yang tulus.” 

Pak Ahmad mencoba untuk menenangkan putri mereka yang masih belum siap untuk mengetahui semua ini. Bu Zaitun dan Pak Ahmad mengerti bahwa tidak mudah menerima semua kenyataan ini. Mereka membiarkan putrinya menenangkan diri. Pak Ahmad mengusap air mata di pipi putrinya, kemudian memeluknya sebagai bukti bahwa dia sangat mencintainya. 

Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak pernah bisa disangka hamba-Nya. Kadang sesuatu yang baik menurut hamba-Nya, belum tentu baik menurut-Nya. Mungkin menurut Tuhan, sekarang adalah saat yang tepat bagi Winda untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya, meski semua terasa pahit. Akan tetapi, bukankah Tuhan sudah menunjukkan keadilannya? Tuhan sudah memberikannya orangtua yang bersedia merawatnya dengan penuh cinta. Tidak pernah mereka menyia-nyiakan hidupnya. 

Winda masih berburuk sangka pada Tuhan. Dia mengurung diri di dalam kamarnya. Sudah dua hari ini dia tidak keluar kamar. Dengan suara parau yang disertai batuk, Bu Zaitun terus membujuk putrinya agar keluar kamar. Tapi, semua itu tidak bisa meluluhkan hati Winda. Dia tetap menyendiri di dalam kamar. Sebenarnya, bukan Pak Ahmad yang dia benci, bukan juga Ibu Zaitun. Namun, dia membenci jalan hidup yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Mengapa aku harus mengetahui kenyataan ini Tuhan? Pertanyaan itu terus menyesakkan dadanya. 

*
Menjadi seorang ibu adalah impian yang didamba oleh wanita. Panggilan “Ibu” adalah sebuah kehormatan yang diberikan Tuhan pada Kaum Hawa. Dan tidak ada seorang laki-laki mana pun yang bisa mendapatkan panggilan kehormatan itu. Layaknya wanita yang lain, menjadi seorang ibu adalah keinginan terbesar Bu Zaitun. Setelah sekian lama menikah dengan Pak Ahmad, mereka belum juga dikarunia buah hati oleh Tuhan. Doa-doa mereka panjatkan, mengharap Tuhan akan segera memberi mereka keturunan. Namun, sepertinya Dia masih belum mempercayai keduanya mampu menjaga anugerah besar itu. 

Penantian dan harapan untuk menjadi seorang “Ibu” tetap memanggil jiwa Bu Zaitun. Dia sering melihat anak-anak kecil yang bermain di halaman rumahnya, tertawa, dan bergelayut manja di punggung ibu mereka. Bu Zaitun tetap percaya bahwa suatu saat nanti Tuhan akan menganugerahkan itu kepadanya. Sudah hampir lima tahun lamanya, dia dan suami menanti kehadiran sang buah hati. Tapi, Tuhan masih belum menganugerahkan apa yang mereka inginkan. Meski lama menanti dan impian itu tak kunjung terwujud, namun harapan untuk menjadi “Ibu” tetap ada. Harapan itu kian subur bersama waktu.

“Pak, ibu sudah lama menunggu anugerah Tuhan. Tapi, anugerah itu belum Ia berikan sampai hari ini. Sampai hari ini ibu tetap mempercayai kuasa-Nya. Jika bapak mengizinkan, ibu ingin pergi ke panti asuhan yang ada di kota. Mungkin kita bisa menjadikan satu dari anak-anak yang ada disana sebagai anak kita. Kita besarkan dan didik dia menjadi anak yang berbakti.” Ibu Zaitun memberitahu keinginannya pada suaminya. Ada embun di kedua matanya.

Pak Ahmad tidak memberikan jawaban apa pun. Dia memeluk istrinya dan mengusap air mata itu. Dia tidak ingin melihat ada air mata di wajah wanita yang sudah menemaninya hampir enam tahun lamanya. Dia mengerti perasaan istrinya. Dia pun merasakan hal yang sama, ingin menjadi seorang “Ayah”. Panggilan itu sudah lama dia nantikan. Sudah lama dia mendambakan ada seseorang yang memanggilnya “Ayah” dan bergelayut manja di pundaknya.

“Ibu yang sabar ya. Insya Allah Dia sudah menyiapkan rencana yang indah untuk keluarga kecil kita. Kita jalani saja apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Ayah percaya bahwa Tuhan sedang mencoba kesabaran kita. Dengan kesabaran ini, Tuhan akan memberikan kita jalan agar bisa mempunyai keturunan.” Pak Ahmad menguatkan istrinya yang mulai rapuh.

Impian menjadi “Ibu” terus membayangi Bu Zaitun. Hari demi hari dia lalui dengan kesabaran. Kadang ada tetangga yang menyindirnya,
“Sudah lama menikah, tapi belum mendapatkan keturunan”
Ah…sindiran itu sudah sangat sering dia dengar dari ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya. Namun, dia tetap percaya dengan kebesaran-Nya. Hari demi hari, bulan berganti tahun, dan tidak terasa sudah delapan tahun lamanya mereka menanti kehadiran si buah hati. Penantian panjang itu masih belum membuahkan hasil. Tuhan masih belum mengizinkan semuanya terjadi.

Setelah sekian lama berusaha, berdoa, kemudian menyerahkan semuanya kepada Tuhan, akhirnya Bu Zaitun dan Pak Ahmad memutuskan untuk menjadikan salah satu anak yang ada di panti asuhan menjadi anak mereka. Mereka mengunjungi panti asuhan yang ada di kota, kemudian menyampaikan maksud kedatangan keduanya ke panti asuhan. Alhamdulillah, keinginan mereka di sambut baik oleh pihak panti asuhan. Ternyata ada seorang bayi yang baru beberapa hari mereka rawat. Bayi itu  ditemukan di pintu gerbang panti asuhan saat subuh menjelang. Bayi itu menangis, tangisannya membangunkan Ibu Elda selaku penjaga panti. Dia membuka gerbang, kemudian menemukan seorang bayi yang lucu di dalam sebuah box bayi yang berwarna coklat. Tangisan itu, wajah lucu itu, membuatnya menangis haru. Naluri keibuan mengetuk hatinya untuk menjaga bayi itu. Ibu mana yang tega meletakkan bayi ini di sini? Ini adalah anugerah Tuhan, Mengapa diabaikan begitu saja? Semoga Tuhan memberikan hidayah kepada siapa pun yang telah melakukan ini. Ibu Elda selaku penjaga panti menceritakan semuanya kepada Bu Zaitun dan Pak Ahmad.

Mendengar cerita Bu Elda, Pak Ahmad dan Bu Zaitun meyakini bahwa anak itu adalah bagian dari rencana Tuhan. Mereka yakin ingin menjadikan anak itu sebagai anak mereka dan berjanji akan menjaganya sepenuh hati. Setelah memenuhi segala persyaratan yang diajukan oleh pihak panti, Pak Ahmad dan Bu Zaitun kembali ke rumah dengan membawa anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya. Bu Zaitun menangis haru, melihat bayi yang sekarang ada di pangkuannya. Syukur mereka panjatkan atas karunia ini, memohon petunjuk Tuhan agar anak ini bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan taat pada perintah Allah Tuhannya.

Winda Amali Zaitun, nama itu mereka pilih sebagai nama putri mereka. Mereka mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Meskipun mereka hidup sering kekurangan, namun Winda mendapatkan kasih sayang yang berlimpah hingga dia tumbuh menjadi anak yang periang, dan baik hati. Setelah winda berumur sebelas tahun, Bu Zaitun dikarunia seorang putri. Namun, putri yang lahir dari rahimnya meninggal waktu masih berumur dua tahun. Inilah rencana Tuhan. Tuhan sengaja mengirim Winda sebagai anugerah bagi keluarga kecil Pak Ahmad dan istrinya.

*
Winda membuka pintu kamarnya, menghampiri Bu Zaitun yang terbaring lemah di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Dia sedang tertidur, menahan sakit yang dideritanya. Sedangkan Pak Ahmad sedang memberi makan ayam peliharaannya. Winda duduk di samping ibunya, mencium keningnya dan membisikkan doa,

Tuhan, jagalah ibu sebagaimana dia telah menjagaku
Berikan dia kesabaran dan kekuatan menjalani ujian dari-Mu
Aku ingin ibu bisa kembali tersenyum
Dan bahagia bisa melihatku bersanding di pelaminan
Ibu sudah memberikanku kasih sayang yang tulus
Aku ingin melihat ibu bahagia hingga ia kembali ke sisi-Mu

Winda tidur di samping ibunya, memeluknya dengan pelukan rindu, dan penuh kasih sayang. Bu Zaitun membuka matanya, melihat putrinya sedang tidur di sampingnya, sedang memeluknya begitu erat seolah tidak ingin pisah darinya.

Anakku, semoga engkau bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu. Mendidik mereka dengan penuh cinta, hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berbudi.
Anakku, semoga engkau bisa menjadi istri yang baik, seorang istri yang menjaga kehormatan rumah tangganya atas nama cinta. Cintailah pasanganmu dengan tulus karena-Nya. Doa ibu menyertaimu. 
 (Bersambung)

2 comments:

  1. Paaaak,,, hiks hiks...... baguuus sukaaa...


    Ibu.... jadi kangen sama Ibu... :( :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah...semoga ini bukan hanya sekedar untuk menyenangkan hati saya saja hehe. asli saya betul2 menikmati proses nulis cerbung ini. nantikan kelanjutannya di part-6 haha

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan