April 09, 2012

Keabadian

 
“Sudah berapa kali khatam Al-Qur’an?” tanya Pak Ihsan pada Rahman, putranya yang baru pulang dari pesantren.
“Hampir setiap bulan Rahman mengkhatamkan Al-Qur’an” jawabnya.
“Alhamdulillah, berarti Rahman harus mengajarkan ilmu yang sudah didapat di pondok ke bapak. Bacaan Al-Qur’an bapak masih jauh dari kata sempurna.”
“Insya Allah, Pak”
 
“Selama di pesantren, kami diajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik oleh ustadz. Setiap ba’da maghrib, kami membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang terdiri dari sepuluh orang santri. Di setiap lingkaran tadi, ada seorang ustadz atau santri senior yang membimbing kami membaca Al-Qur’an. Para ustadz dan kakak tingkat membimbing kami dengan penuh kesabaran. Rahman bahagia bisa masuk pesantren.” 

Pak Ihsan tersenyum bahagia mendengar cerita putranya. Tidak sia-sia dia menyekolahkannya ke pondok pesantren. Baru satu tahun Rahman menjadi santri, sudah banyak kemajuan yang dia dapatkan. Disela-sela waktu belajarnya, dia menyempatkan diri untuk menghapal Al-Qur’an. Sekarang dia sudah hapal juz 1 sampai 5, dan juz 30. Suaranya juga semakin indah saat melantunkan Ayat-ayat suci. Kebahagian apa lagi yang ia minta? Melihat putranya menjadi seperti sekarang ini rasanya sudah cukup membuatnya bahagia. 

*
Rahman sedang menikmati masa liburannya di rumah. Setelah satu tahun tidak pulang ke kampung halaman, kini dia bisa kumpul bersama keluarga. Dia anak yang baik, sedikit pendiam, namun jika dia berbicara, kata-katanya menyejukkan siapa saja yang mendengarnya. Dia begitu dicintai oleh kedua orangtuanya, masyarakat yang ada di kampungnya, dan juga kawan-kawan sebayanya.

Adzan shalat dzuhur berkumandang dari masjid yang ada di depan rumahnya, Rahman langsung menghentikan segala aktifitasnya, menunaikan seruan muadzin untuk shalat berjama’ah. Ia bergegas membersihkan anggota badannya dengan air wudhu. Pak Ihsan dan putranya pergi bersama-sama ke masjid. 

Selepas shalat, Rahman menyambut tangan Ustadz Qodim selaku imam shalat berjama’ah. Uztadz Qodim merupakan guru mengajinya sewaktu masih di sekolah dasar. Ustadz Qodim dan Rahman berbicara banyak hal. Pak Ihsan meninggalkan keduanya di masjid dan kembali melanjutkan kerjaannya di rumah.

Tiga puluh menit berlalu, setelah berbincang banyak, keduanya kembali ke rumah masing-masing. Rahman kembali ke rumah dan membantu ayahnya memperbaiki atap rumah yang sudah mulai bocor. Ibunya sudah menyiapkan masakan kesukaannya sebagai menu makan siang. Sudah lama dia tidak menikmati masakan ibunya, nasi cah kangkung dan telur penyet kesukaannya dimakan dengan lahap olehnya. Ibunya tersenyum melihat putranya.

“Dihabisin ya, ibu sudah masakin khusus untuk anak ibu yang sekarang sudah semakin sholeh. Semoga masakan ibu menjadikan anak ibu lebih semangat dalam menuntut ilmu”

“Amin, ibu sudah makan?”
“Tadi ibu dan ayah sudah makan duluan, kamu kan masih di masjid”

*
Panas terik, bus yang akan membawa Rahman kembali ke pesantren perlahan meninggalkan kampung halamannya. Ia berangkat sendirian. Ayah dan ibunya tidak bisa ikut bersama dengannya. Dia tertidur lelap selama di perjalanan. Orangtuanya selalu menyempatkan diri berkunjung ke pesantren. Biasanya setiap habis ujian pesantren, orangtuanya datang menjenguknya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, sekarang Rahman sudah berdiri di depan gerbang pesantren. Dia berhenti sejenak, menghirup sejuknya udara, menikmati semilir hembusan angin  dan menunggu temannya datang ke pintu gerbang. Dia tidak mampu membawa barang bawaan sendirian. Ibunya memberi bekal cukup banyak. Beras, kue kering, buah-buahan, dan buah tangan untuk teman-temannya. 

Ahmad dan Nizham, sahabat karib Rahman sekaligus teman satu kamar di asrama membantunya membawa barang-barangnya ke asrama. 

“Gimana liburan di rumah?” tanya Nizham.
“Alhamdulillah sesuai rencana. Ana menghabiskan waktu liburan dengan membantu bapak dan ibu di ladang.”
“Kalian bagaimana? Jadi ikut kajian khusus selama liburan?”
“Alhamdulillah, selama liburan kami belajar Nahwu dan Shorof” jawab Ahmad.

Ketiganya memasuki asrama, mereka bertiga tinggal di kamar “Al-Munawwarah”. Setiap kamar yang ada di asrama mempunyai nama tersendiri. Di sebelahnya ada kamar “Muzdalifah dan Uhud”. Masing-masing kamar dihuni oleh sepuluh anak. Setiap kamar mempunyai ketua yang mengontrol kegiatan para santri. Ketua kamar merupakan kakak tingkat. 

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, ahlan wasahlan ya akhi” ucap kawan-kawannya berbarengan.

Suasana hangat terjalin di antara mereka. Kebersamaan mereka layaknya sebuah keluarga. Kebersamaan Rahman dengan teman-temannya menjadi salah satu  dari sekian banyak alasan yang membuat dia betah belajar di pesantren ini. Berbeda suku, bahasa daerah, adat istiadat, menambah indah kebersamaan mereka. 

Esok hari, kegiatan belajar mengajar di pesantren akan kembali dimulai. Para santri sudah kembali berada di pesantren setelah menghabiskan masa liburan di rumah masing-masing. 

*
Sudah hampir tiga bulan Rahman kembali ke pesantren. Ahmad, Nizham dan Rahman, ketiganya sering belajar bersama. Selama di pesantren, ada hari khusus bagi santri untuk berbicara Bahasa Arab dan Inggris. Setiap Senin dan Kamis, santri diwajibkan untuk berbicara menggunakan Bahasa Arab. Selasa dan Sabtu berbahasa Inggris, sedangkan di hari lainnya adalah hari bebas, santri diperbolehkan berbahasa Indonesia, Arab, maupun Inggris.     

Hari jum’at, tidak ada kegiatan belajar mengajar. Hari Jum’at adalah hari libur bagi para santri. Ahmad, Nizham dan Rahman pergi ke kali yang berada di dekat pesantren untuk mencuci pakaian. Setelah selesai mencuci pakaian, ketiganya kembali ke asrama. 

Tidak ada yang aneh di hari ini, langit terlihat cerah, matahari masih tetap setia menyinari dunia, suara seorang qori sedang membaca Al-Qur’an di masjid pesantren begitu menenangkan. Para santri bersiap-siap untuk shalat Jum’at di masjid. Teman-teman sekamar Rahman sudah siap untuk menunaikan shalat jum’at. Nizham membangunkan Rahman yang masih tidur. Beberapa kali tubuhnya digerakkan, namun Rahman tak kunjung bangun dari lelap tidurnya. Ahmad juga mencoba untuk membangunkannya, namun Rahman masih tidak memberi respon. Matanya masih terpejam seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Ahmad, Nizham dan yang lainnya saling berpandangan. Ada apa dengan Rahman?

Nizham memegang urat nadi Rahman, tidak ada denyut nadi. Jarinya ditempelkan ke hidung Rahman, tidak ada hembusan nafas. Dia juga memeriksa detak jantung Rahman, namun jantungnya sudah berhenti berdetak. Semua santri yang ada di asrama terlihat panik.

Ahmad berlari sambil menangis menuju ke klinik pesantren. Dia memberitahukan keadaan Rahman ke Dokter Iqbal. Dokter Iqbal datang dan memeriksa keadaan Rahman. Rahman masih tidak bergerak, matanya masih tertutup, dia terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Rahman dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak dokter menyatakan bahwa,

“Nak Rahman sudah tiada”

Seketika itu juga, suara tangis sahabat-sahabat Rahman memecah kesunyian rumah sakit. Mereka menangis karena kehilangan sahabat yang berhati mulia. Mereka juga masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Padahal, pagi tadi Rahman masih bisa bercanda bersama dengan Ahmad dan Nizham. Dan sekarang dia sudah tiada. 

*
Pihak pesantren memberitahukan kabar duka ke pihak keluarga Rahman di kampung. Ibu Nur langsung pingsan saat mendengar kabar putranya meninggal dunia. Tidak pernah terbayang olehnya anaknya akan kembali kepadanya sudah terbungkus kain kafan. Sedangkan Pak Ihsan sedang berada di ladang. Salah seorang kerabat dekat menemui Pak Ihsan, memberitahukan berita duka dari pesantren.

“Innalillahi wainnaa ilaihi roji’uun”

Ia langsung terduduk tak berdaya, nafasnya tiba-tiba sesak, langit tiba-tiba kelam, pandangannya mengabur, dan ia pun pingsan. 

Tuhan, apa yang salah dengan Rahman? sehingga engkau ambil dia kembali ke sisi-Mu? Belum tercapai cita-citanya ingin menghapal firman-Mu, dia baru merintis jalan menuju-Mu secara perlahan, dan kini dia telah tiada. Mengapa harus dia Tuhan?

Suara tangis Ibu Nur semakin keras, meratapi kepergian buah hatinya. dipandanginya satu persatu album kenangan waktu Rahman masih kecil, gambar-gambar itu semakin membuatnya terluka. Belum ada kerelaan dalam hatinya melepas kepergian putranya. Sanak saudara yang berkunjung membiarkannya menangis, mereka tidak ingin menghentikan air mata itu. Biarlah kini dia menangis sesuka hatinya, nanti secara perlahan dia akan ikhlas akan takdir Tuhan. Nanti dia akan menyadari bahwa semua adalah titipan dari-Nya. Jika Dia menghendakinya kembali, maka semua akan kembali kepada-Nya. Dia yang menentukan kapan seseorang akan mati, dan tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari maut. Sehebat apapun seseorang, segesit bagaimanapun ia berlari, tidak ada yang bisa lepas dari jaring kematian. Karena kematian adalah suatu kepastian.

         “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”  (QS. An-Nisa : 78)

Jenazah Rahman sudah tiba di rumah pukul dua dini hari. Ayah dan Ibunya tidur di samping jasadnya. Rahman akan dikebumikan esok pagi di sebelah makam kakeknya. 

Suasana pemakaman Rahman di kampung halaman dipadati oleh warga kampung, sanak saudara, dan beberapa temannya dari pesantren. Ayah dan ibunya berusaha tegar menerima semua cobaan ini. Keduanya berusaha merelakan kepergian si buah hati.

Selamat jalan Rahman
Engkau memang sudah pergi meninggalkan kami
Namun, kebaikanmu membuatmu abadi

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan