April 07, 2012

Roudlotul Ulum


Juni 2007

Hari ini suasana pesantren berbeda dari biasanya. Banyak tamu undangan yang datang ke pesantren; wali santri, pejabat pemerintahan, tetua desa, dan masyarakat yang ada di sekitar pesantren. Sebuah panggung berukuran sedang berada di dalam gedung pesantren. Sebagian santri sedang berjalan menuju ke depan panggung, sebagian sudah duduk rapi di kursi yang sudah disediakan.

Wisuda kelulusan, hari ini adalah hari kelulusanku. Aku dan teman-teman satu angkatan sudah memakai seragam batik berwarna kuning dan sarung berwarna hijau. Ibu sengaja datang ke pesantren untuk menghadiri wisuda kelulusanku. Tidak terasa, enam tahun sudah aku menuntut ilmu di pesantren ini.

Aku menyebutnya “Taman Surga”. Di sinilah aku menuntut ilmu. Masih kuingat pertama kali aku datang ke pesantren ini, aku menangis karena tidak bisa jauh dari ayah dan ibu. Selimut berwarna putih, bergaris-garis warna hitam itu menjadi saksi perjuanganku menahan rindu. Selimut putih itu yang kugunakan untuk mengeringkan air mata yang terus membasahi pipiku. Air mata rindu dengan orang-orang yang kucintai. Tidak hanya itu, aku sempat pergi dari pesantren dan pulang ke rumah. Setelah satu minggu di rumah, aku merindukan suasana pesantren. Aku rindu dengan kawan-kawan yang ada di asrama, aku rindu dengan kegiatan belajar di pesantren. Aku meminta ayah untuk mengantarkanku kembali ke pesantren.

“Ari mau ke pesantren lagi” ucapku pada ayah.

Ayah hanya tersenyum, kemudian mengizinkanku kembali ke pesantren. Seiring berjalannya waktu, aku mulai betah tinggal di pesantren. Menjadi seorang santri. Setiap subuh menjelang, kami dibangunkan oleh ustadz untuk shalat tahajud, kemudian shalat subuh berjama’ah di masjid. Sambil menahan kantuk, aku dan kawan-kawanku pergi ke sumur untuk mengambil air wudhu’.

Aku mempunyai seorang kawan, dia mempunyai kebiasaan lucu. Setiap kali mendengar suara ustadz membangunkan anak-anak untuk shalat tahajud dan subuh berjama’ah, dia pura-pura sedang shalat. Dia bangun dari tidur, menggunakan baju koko, peci, dan sarung, kemudian duduk di atas sajadah sambil memegang sebuah tasbih. Mulutnya komat-kamit seolah-olah sedang berdzikir menyebut asma-Nya. Banyak ustadz yang tertipu. Mereka mengira dia sedang dzikir, padahal setelah ustadz pergi ke kamar sebelah, dia kembali tidur di balik selimutnya. Aku pun pernah melakukan hal yang sama. Tapi, sepertinya aku tidak pandai berpura-pura. Ustadz langsung tahu bahwa aku sedang berpura-pura. Jika sudah ketahuan, aku disuruh membersihkan parit yang ada di depan asrama.

*
Para tamu undangan sudah memenuhi bangku yang ada di depan panggung. Ustadzah Miti Yarmunida menjadi pembawa acara. Wisuda kelulusan dimulai dengan pembukaan,  pembacaan kalam Ilahi, sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan ijazah kelulusan ke para santri yang sudah dinyatakan lulus.

Aku duduk di kursi paling depan, kulihat ibu duduk di kursi khusus wali santri. Ibu memakai baju kebaya berwarna kuning. Ibu hari ini lebih cantik dari hari biasanya. Meski ayah tidak bisa datang ke pesantren karena sedang sakit, namun ibu terlihat bahagia. Seminggu sebelum wisuda, ayah dan ibu berencana hadir. Tapi, manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan semuanya. Menjelang kelulusanku, kaki ayah tertimpa kayu sewaktu di kebun. Ayah tidak bisa hadir di hari kelululsanku. Aku berdoa semoga ayah cepat diberi kesembuhan.

*
Gelap menyelimuti malam, aku duduk di bangku yang ada di kelas. Memandangi satu persatu benda-benda yang ada di kelas. Papan tulis, meja ustadz dan ustadzah yang telah mengajarkanku banyak hal dengan penuh kesabaran. Dua buah bangku yang berada di bagian depan, dekat dengan meja ustadz menjadi tempat duduk favoritku. Malam ini adalah malam terakhir aku berada di pesantren. Besok aku sudah harus kembali ke rumah bersama ibu. Sedih.

“Yan, kamu ngapain malam-malam di kelas?” Hari berdiri di depan pintu, kemudian duduk di bangku yang ada di depanku.

“Saat-saat seperti ini terasa berat meninggalkan pesantren. Padahal, sebelumnya ingin segera lulus dari sini kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.”

“Setelah ini kamu mau lanjut kemana?”

Aku terdiam. Aku masih belum mempunyai rencana apa pun. Melihat ekonomi keluargaku, sepertinya kecil kemungkinan aku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bukan hanya aku yang ingin sekolah, tapi ketiga adikku juga ingin bersekolah. Aku tidak ingin memberatkan ayah dan ibu.

“Entahlah” jawabku sekenanya.

Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing. Aku meninggalkan Hari sendirian di kelas. Aku berjalan menuju masjid yang ada di tengah-tengah pesantren. Beberapa santri sedang membaca Al-Qur’an. Ada juga yang sedang tidur di teras masjid. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 23.07, malam sudah larut. Dari masjid, aku berjalan ke kolam yang ada di depan masjid. Kami menyebutnya “danau”, meski ukurannya tidak terlalu besar. Jika waktu libur tiba, kami diperbolehkan mandi di danau. Sebuah rakit yang terbuat dari potongan-potongan kayu sering kami gunakan untuk menyeberangi danau. Selesai ujian pesantren, biasanya kami melakukan lomba renang di danau. Aku akan merindukan semua ini.

Malam semakin larut, aku kembali ke asrama. Sebagian besar teman-temanku sudah tidur lelap. Hanya ada beberapa santri yang masih duduk di depan asrama. Aku segera melepas penat setelah seharian sibuk dengan acara kelulusan. Kami adalah lulusan pertama. Acara kelulusan tadi siang cukup meriah. Banyak tamu undangan yang hadir. Bapak Agusrin selaku Gubernur Bengkulu bersedia datang ke pesantren dan mengucapkan selamat kepada para santri yang sedang diwisuda.

*
Bunyi alarm membangunkanku dari tidur. Kulihat jam yang ada di dinding, jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Masih sepi. Setelah selesai mengambil air wudhu, aku pergi ke masjid untuk melakukan shalat malam. Beberapa santri sudah shalat terlebih dahulu. Aku masuk ke dalam barisan dan ikut shalat tahajud bersama dengan mereka.

Semua santri sudah berkumpul di masjid, menunggu adzan subuh berkumandang. Pujian-pujian di senandungkan dengan merdu oleh para santri.  

Ba’da subuh, aku dan Habibi sahabatku dipanggil oleh pimpinan pesantren. Aku sendiri tidak tahu mengapa pimpinan memanggil kami berdua. Aku sempat gemetar. Namun, setelah sampai di rumah pimpinan, aku meneteskan air mata bahagia. Tuhan menjawab doa-doaku selama ini. Selama ini aku selalu berdoa agar Tuhan memberikanku kesempatan untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Dan Tuhan menjawab semua itu. Pihak pesantren bersedia memberikan kami berdua beasiswa penuh selama menempuh pendidikan sarjana. Kami akan dimasukkan ke salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kami akan belajar di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Tidak pernah terbayang dalam benakku sebelumnya bahwa aku akan pergi menuntut ilmu ke ibu kota. Terimakasih Tuhan.

*
Sebelum sarapan pagi bersama dengan teman-temanku, aku pergi ke pondok satu, tempat dimana para wali santri tinggal selama wisuda kelulusan. Ibu sedang duduk di depan pondok sambil bercengkerama dengan wali santri yang lain. Aku meminta ibu untuk ke dalam, kemudian aku memberitahu ibu tentang rencanaku melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

“Bu, ari mau melanjutkan sekolah ke Jakarta” ucapku.

Ibu memandangku, kemudian memelukku. Ibu sama sekali belum mengetahui bahwa pihak pesantren akan memberikan beasiswa penuh selama kuliah di Jakarta. Mungkin ibu masih bingung.

“Nanti kita bicarakan dulu dengan ayah. Sekarang yang terpenting Ari pulang ke rumah. Ibu belum bisa menjawab keinginanmu.”

Kutatap kedua mata ibu. Kedua bola mata itu berusaha tegar, tidak meneteskan air mata. Wajah ibu sudah semakin menua. Garis-garis halus menghiasi wajahnya. Ibu semakin ringkih.

“Bu, ari dapat beasiswa dari pesantren. Ari akan kuliah di Jakarta. Seperti cita-citaku sewaktu masih kecil, aku ingin menjadi seorang “hafidz”. Aku ingin menghapal Ayat-ayat Tuhan. Aku ingin menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang diberi kemuliaan oleh Tuhan untuk menghapal Al-Qur’an. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi.”

 “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Ibu menangis, dan mengucapkan syukur. Ia kembali memelukku dan mendoakanku.

“Semoga apa yang kamu cita-cita kan menjadi kenyataan. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan untk menghapal Ayat-ayatnya” ujar ibu.

Air mata kebahagiaan itu akhirnya tumpah. Aku mengusap air mata ibu,

“Ibu jangan menangis. Ari pasti akan merindukan ibu.”

*
Sebelum berangkat ke Jakarta, aku ikut ibu pulang ke kampung halaman. Aku menyiapkan semua persyaratan yang diperlukan untuk bisa masuk ke Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Ada kesedihan jika harus berpisah dengan kedua orang tuaku, kakak dan adik-adikku.

“Nanti, amen lah sampai di Jakarta ndang lupe nelpon awu dek. Belaja’ lehelau di’enah u’ang tu. Ndang keciwekan u’ang tuhe awak. Jadilah wo yang dekuliah. Yang penting adik-adik wo pacak kuliah[1]” kakak menasehatiku.

Selama di rumah, aku menghabiskan waktu bersama orang-orang yang aku cintai. Bermain bersama dengan ketiga adikku; Winda, Tenti, dan juga Meko. Aku pasti akan merindukan mereka.

Setelah menikmati kebersamaan dengan keluarga, aku harus kembali ke pesantren. Masih banyak yang harus aku persiapkan sebelum berangkat ke Jakarta. Aku dan Habibi akan berangkat ke Jakarta dari pesantren.

*
1 Agustus 2007

Hari ini aku akan beragkat ke Jakarta dari Bengkulu. Selepas shalat subuh berjama’ah dengan para santri, pimpinan pesantren meminta aku dan habibi mengucapkan salam perpisahan dengan para santri, dan guru-guru. 

Pukul sepuluh pagi, kami berangkat menuju Jakarta. Sebelum berangkat, aku menjabat tangan teman-teman santri, dan juga para guru. Aku meminta doa dari mereka semua. Selama perjalanan menuju Jakarta, bayangan ayah, ibu, kakak, dan juga adik-adikku kembali hadir. Setelah enam tahun berpisah dengan mereka, kini aku harus kembali berpisah dengan mereka. Semoga Allah memberikanku kemudahan dalam mempelajari Ayat-ayat-Nya.

Ya Allah, hari ini aku berangkat ke pulau seberang untuk menuntut ilmu. Aku ingin menggapai cita-cita yang pernah kuimpikan sedari dulu. Aku ingin menjadi orang yang hapal akan Ayat-ayat-Mu, mengerti akan firman-Mu, dan bisa mengamalkannya dalam kehidupanku sehari-hari.

Al-Qur’an adalah kemuliaan yang paling tinggi. Al-Quran adalah kalam Allah Swt. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah, Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda,

 ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

[1] Nanti kalo sudah sampai di Jakarta, jangan lupa telpon. Belajar baik-baik disana. Jangan kecewakan kedua orang tua kita. cukup kakak yang tidak melanjutkan kuliah. Yang penting kalian bisa kuliah.

2 comments:

  1. Insya Allah semua jalan yang menuju kebaikan akan selalu dimudahkan oleh-Nya... Amin....

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan