April 18, 2012

Senyum Bidadariku

Senyum Bidadariku (1)

Bidadariku, Engkau jadikanku belahan jiwamu
Kita berjanji akan menjalani hidup ini dengan penuh cinta
Selayaknya Adam dan Hawa yang hidup penuh dengan Cinta
Bidadariku, menjadi pendamping hidupmu adalah impian terbesarku.

Semesta tersenyum bahagia, melihat dua anak manusia sedang bahagia merayakan cinta. Dua anak manusia yang sedang dilanda cinta, dan menyatukan cinta mereka di atas pelaminan.

Evan menatap wajah wanita yang ada di sampingnya. Wajah itu memesonannya, ingin rasanya ia mencubit pipi wanitanya yang sekarang sudah sah menjadi pendamping hidupnya. Keduanya berjanji akan menjalani hidup bersama, berbagi suka maupun duka. Sebuah janji yang diucapkan setelah ijab kabul disahkan oleh Pak Penghulu dan saksi dari pihak kedua mempelai.

Winda, ia adalah bidadari yang sedang mengenakan kebaya berwarna putih, bergaris-garis hitam dan duduk di samping laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya. Senyum tak henti-hentinya merekah dari bibirnya yang berwarna merah merekah. Degup jantungnya berpacu dengan rasa bahagia yang bergemuruh di dalam dadanya. Kini impiannya untuk menjadi seorang istri sudah terwujud. Sekarang bagaimana dia menjalani kehidupan selanjutnya bersama laki-laki yang dia cintai.

Para tamu memenuhi deretan kursi yang ada di depan pelaminan. Mereka sedang bercengkerama satu sama lain. Ikut bahagia melihat dua insan yang sedang tersenyum malu-malu di kursi pengantin. Pernikahan Evan dan Winda tergolong sangat sederhana. Sebuah panggung berukuran kecil menjadi pelaminan mereka berdua. Pernikahan mereka bukanlah di hotel berbintang, melainkan di kantor kelurahan yang biasa disewa dan dijadikan tempat melaksanakan berbagai macam kegiatan. Tamu undangan adalah keluarga besar dari kedua pengantin. kedua orangtua Evan duduk disampingnya di atas pelaminan. Sedangkan kedua orangtua Winda duduk di samping putri mereka yang segera akan meninggalkan mereka berdua. Kini putrinya sudah menjadi seorang istri, yang akan  membina rumah tangganya bersama laki-laki yang sekarang duduk di sampingnya.

Satu persatu tamu undangan menjabat tangan kedua mempelai dan  mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Untaian doa-doa mengalir deras dari mereka, mendoakan kebahagiaan bagi pasangan yang baru akan membangun bahtera rumah tangga. Evan dan Winda mengamini doa-doa itu, dan berharap Tuhan akan mengabulkannya.

Masih terukir jelas di dalam ingatan Evan saat pertama bertemu dengan bidadarinya. Saat dia masih memakai seragam abu-abu dan berjalan menuju rumahnya. Winda yang waktu itu menjadi pembantu rumah tangga di sebelah rumahnya, berhasil memikat hatinya. Pertemuan rutin antara dia dan Winda di pagi hari menumbuhkan benih-benih cinta. Layaknya pembantu rumah tangga lainnya, membeli sayur mayur di pagi hari adalah bagian dari rutinitas. Sedangkan Evan, pagi hari adalah waktunya untuk menggerakkan anggota badannya dengan berlari-lari kecil mengelilingi komplek perumahan. Komplek perumahan yang menjadi tempat tinggalnya bukanlah perumahan mewah, namun hanya rumah-rumah yang berukuran minimalis. Selepas lari pagi, saat membuka pintu gerbang rumahnya, dia tanpa sengaja melihat Winda yang sedang memilah sayur mayur yang ada di gerobak Bang Ucup, penjual sayur keliling langganan penghuni komplek.

Awalnya, mereka belum saling menyapa. Hanya sebatas saling tersenyum satu sama lain sebagai wujud sopan santun saat bertemu dengan orang lain. Namun, senyum itu berubah menjadi cerita-cerita lucu yang mereka lontarkan bersama dengan berjalannya waktu. Kadang, Evan ikut memilih sayur mayur yang akan dibeli Winda. Bang Ucup hanya tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya.

Pernah suatu ketika, Bang Ucup tertawa tanpa sadar bahwa tawanya terdengar hampir ke semua rumah yang ada di komplek.
“Setelah selesai SMA nanti Mas Evan mau ngelanjutin kuliah?”
“Rencananya sih gitu Bang”
“Apa impian terbesar Mas Evan?”
“Ingin menjadi seorang ayah”

Entah apa yang ada di dalam benak Bang Ucup, seketika dia langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Evan. Sementara Evan dan Winda hanya diam dan saling pandang satu sama lain, seolah-olah menanyakan,

“Adakah yang lucu dari jawaban tadi?”

Bang ucup memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa yang berlebihan.

“Emang aneh ya Bang dengan jawaban Evan?” Tanya Evan.

Bang Ucup tidak menjawab tanyanya, dia hanya berlalu meninggalkan dua insan yang masih bingung melihat tingkahnya. Dia mendorong gerobak sayurnya menuju pintu gerbang komplek.

Menjadi seorang ayah, itulah impian terbesar yang ia lontarkan tiap kali ada yang bertanya akan impiannya. Dengan yakin jawaban itu mengalir begitu saja. Mungkin berbeda dengan orang lain, ingin menjadi polisi, dokter, atau apa pun itu. Akan tetapi, bukankah takdir seorang laki-laki adalah menjadi seorang ayah? Sedangkan takdir seorang wanita adalah menjadi seorang ibu? Itu yang ada di dalam benaknya kala itu. Terlepas menjadi apa dia nanti, namun kala itu cita-cita terbesarnya adalah menjadi seorang ayah. Dan dia ingin mewujudkan cita-cita itu bersama dengan Winda pujaan hatinya.

Perjalanan cinta mereka tidak selalu lurus, ada liku-liku yang mereka hadapi. Cinta mereka kembali diuji saat Evan ingin melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Dia ingin kuliah di Universitas Gajah Mada yang berada di Jogja. Demi cita-citanya, dia harus berpisah dengan bidadarinya, harus rela tidak melihat senyum bidadari yang selama ini menemani hari-harinya.

“Besok mas berangkat ke Jogja” ucap Evan pada Winda pagi itu.
“Iya,  Mas Evan hati-hati di jalan. Semoga bisa menggapai apa yang Mas impikan sejak dulu.” jawab Winda sambil memegang seikat kangkung di tangan kirinya.

Perpisahan mereka bukan di tempat yang romantis, hanya di depan gerobak sayur Bang Ucup. Kisah cinta mereka juga tidak dihiasi oleh bunga mawar, rayuan-rayuan, jalan berdua, atau nonton berdua seperti pasangan muda-mudi seumuran mereka. Cinta mereka bersemi dan tumbuh di depan rumah majikan Winda. Bang Ucup adalah saksi cinta mereka berdua. Sesekali Bang Ucup memperhatikan tingkah dua anak muda yang ada di depannya, kadang dia tertawa geli melihat mereka berdua.

“Mas janji akan sering kasih kabar ke Winda,” Evan mengucapkan janji itu kepada bidadarinya, kemudian dibalas dengan senyum oleh Winda.

Pertemuan pagi itu bak perpisahan panjang yang akan mereka jalani. Padahal, jarak antara Jogja dan Purwokerto bisa ditempuh hanya dalam hitungan jam saja. Dengan kereta api, perjalanan kurang lebih empat atau lima jam dari stasiun Purwokerto menuju Jogja, mereka sudah bisa bertemu kembali. Perpisahan di depan gerobak sayur itu penuh kenangan. Evan dan Winda saling memberi selembar kertas yang bertuliskan perasaan masing-masing.

Hatiku telah memilihmu untuk menjadi bagian dalam hidupku
Aku ingin hati ini tetap utuh menjaga rasaku padamu
-Winda-

Sedangkan Evan bukanlah laki-laki yang pandai merangkai kata menjadi kalimat-kalimat indah yang menusuk ke dalam kalbu siapa pun yang membacanya. Untuk menuliskan tulisan yang ada di selembar kertas yang ada di tangannya sekarang ini, dia membutuhkan waktu lama. Entah sudah berapa lembar kertas yang dia robek dan pindah ke tempat sampah. Dia hanya menuliskan,

Kadang aku lemah
Menata kembali hati yang mulai gundah
Gundah karena berpisah denganmu
Seseorang yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku
Bidadariku, tunggu daku kembali
-Evan-

Segurat senyum dari Winda kembali menghiasi pagi, menemani mentari yang malu-malu bersinar menerangi semesta. Hangat sinar mentari, sehangat perasaan yang berkecamuk di dalam dada mereka berdua. Senyum itu terus terlukis, hingga keduanya berpisah dan masuk ke dalam bangunan yang menjadi tempat tinggal mereka berdua.
-Bersambung-

4 comments:

  1. takjub kalau baca kata-kata begini, bisa konsisten sampai akhir ceritanya, kalau saya bikin cerpen pasti endingnya ndak bener :|

    jalan-jalan pagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini cerbung, lagi pengen nulis cerbung. silahkan nantikan kelanjutan kisahnya :D :))

      Delete
  2. Siapakah Nur Pak Guru? [Sedangkan kedua orangtua Nur duduk di samping putri mereka yang segera akan meninggalkan mereka berdua]


    kayaknya bakal seru :) ditunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh, terimakasih sudah diingatkan. hehe. saya ingatnya si Nur ya hihi. tunggu kelanjutan ceritanya :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan