May 30, 2012

Budayakan Membaca dan Menulis



Kalo di sekolah, di kelas yang saya ampu, setiap bulannya akan ada 1 buah buku yang saya berikan ke satu anak yang bisa menjawab kuis dari saya. Kuisnya bisa berbentuk hafalan surat pendek dalam Al-Qur’an, melanjutkan ayat yang saya baca (juz 30), dan lain-lain. Biasanya, saya meminta mereka membaca salah satu surat yang ada di dalam juz 30 (an-Naba - an-Nas).
Saya suka melihat murid-murid yang suka membaca. Membaca tidak mesti harus di perpustakaan sekolah, saya membuat gerakan gemar membaca di kelas, saya dan murid-murid membuat perpustakaan mini di kelas. Setiap anak membawa 1 buah buku setiap bulannya, buku-buku itulah yang akan dibaca oleh murid. Jadi, mereka tidak harus keluar dari kelas untuk membaca buku. Setelah satu bulan, buku-buku itu akan diganti dengan buku-buku yang baru. Dengan demikian, murid bisa membaca buku yang berbeda. Di kelas yang saya ampu ada 37 siswa. Jadi, setiap bulannya akan ada 37 buku baru yang siap untuk dibaca. Saya juga menambah koleksi bacaan di kelas dengan buku-buku yang saya miliki.
Anak-anak sempat bilang,
“Kami baru kali ini mempunyai seorang guru yang gemar membaca dan menulis cerita.”
Dahiku berkerut mendengar ucapan murid,
“Yakin?”
“Iya, ada guru yang suka membaca, tapi tidak suka menulis cerita”
Saya bisa melihat itu, di sekolah sepertinya memang saya yang paling suka menulis cerita pendek, atau bahkan menulis novel. Dan saya ingin anak-anak juga suka menulis, mereka bisa menulis apa saja, bisa berbentuk cerita pendek, artikel, atau bahkan novel. Saya memberikan contoh kepada murid agar rajin menulis dengan menjadi kontributor di majalah “Adzkia Indonesia”. Setiap bulan, ada satu cerpen saya yang dimuat di majalah itu. Meski masih majalah lokal, tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menularkan semangat menulis pada anak-anak.
Saya masih ingat saat saya meletakkan buku kumpulan cerita “Air Mata Cinta Hanisah” di perpustakaan atas permintaan pihak perpustakaan. Anak-anak begitu semangat membaca buku itu, bahkan buku yang saya pesan melalui “Nulisbuku.com” langsung habis hari itu juga. Iya, mereka membeli semua buku itu. Bahkan proofread-nya juga dibeli. Saya tidak pernah memaksa mereka untuk membeli buku itu. Sebagian besar mereka tahu tentang buku “Air Mata Cinta Hanisah” melalui twitter.
Beberapa guru sempat kaget melihat ada karya saya di perpustakaan. Karena memang banyak yang tidak tahu bahwa saya suka menulis J.
Awalnya, saya menulis diam-diam. Saya tidak pernah membiarkan murid membaca tulisan-tulisan saya. Saya juga tidak pernah memberitahu rekan sesama guru tentang kegemaran saya dalam dunia tulis menulis. Saya takut tulisan-tulisan itu tidak sesuai dengan mereka. Tapi, keraguan itu hilang saat tahu bahwa banyak di antara mereka yang menyukai cerpen-cerpen saya yang dimuat di majalah sekolah, dan juga blog.
Jum’at yang lalu, saya memberikan voucher belanja buku 100.000, ke salah satu murid yang berhasil menjawab kuis dari saya. Saya mengajaknya membeli buku ke “Gramedia”, dan saya bisa melihat betapa bahagianya dia saat saya ajak membeli buku. Saya ingin mengajarkan pada mereka bahwa mereka harus suka membaca.
Sekarang, saya hanya ingin melihat murid-murid saya suka membaca. Dengan membaca, mereka bisa mengetahui banyak hal. Dari pada mereka menghabiskan waktu di depam komputer dengan bermain games hingga lupa waktu. Kecanduan ‘game’ sedang meracuni anak-anak. Saya tidak melarang mereka bermain game, silahkan bermain asal tidak berlebihan.
So, mari membaca, dan mari terus berkarya. J

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan