May 30, 2012

Titipan Mimpi


Kutatap foto yang ada di dinding kamarku, foto aku sedang mengenakan toga saat wisuda. Ada ibu yang berdiri di sampingku, menemaniku saat wisuda. Hanya ibu yang bisa datang di hari bahagia itu, ayah tidak bisa datang karena kendala biaya. Tapi, aku bahagia karena ada ibu di sampingku. Masih kuingat air mata ibu yang menitik ke jilbab yang ia kenakan, air mata bahagia melihat anaknya mencapai mimpi yang dulu pernah ayah dan ibu rajut bersama.
Ibu dan ayah memang tidak sekolah tinggi, bahkan sekolah dasar pun tidak lulus. Tapi, meski demikian ibu dan ayah punya mimpi. Iya, mimpi. Mimpi-mimpi yang mereka titipkan pada kami anak-anaknya. Selepas shalat isya berjama’ah, ayah dan ibu pernah mengumpulkan kami di ruang tamu, dan berbicara tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka lukis saat keduanya masih anak-anak. Mimpi-mimpi itu masih ada, dan mereka menitipkan semua mimpi itu pada kami anak-anaknya.
“Anak-anakku, ayah dan ibu mempunyai mimpi. Ayah dan ibu ingin menitipkan mimpi-mimpi ini pada kalian, dan buatlah jejak mimpi-mimpi bagi kalian. Setiap dari kalian harus mempunyai mimpi, dan petakanlah langkah kalian untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Ayah dan ibu percaya kalian akan menjadi anak-anak yang berbakti, doa kami selalu menyertai kalian.”
“Dulu, ibu pernah ingin menjadi guru matematika. Tapi, ibu terpaksa berhenti sekolah karena kedua orangtua ibu kembali pada Tuhan saat ibu masih duduk di bangku sekolah dasar.” ucap ibu sambil menatap kami satu persatu.
Ibu memang pintar matematika. Meski tidak tamat sekolah dasar, tapi ibu bisa mengajari kami matematika. Ibu bisa mengerjakan soal-soal matematika SMP, bahkan SMA. Ibu memang tidak menyelesaikan SD, tapi ibu tetap belajar meski bukan di bangku sekolah.
Kami mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu. Ada getaran dari dalam hatiku, ada kekaguman akan ibu. Ibu memang hebat.
“Ayah juga pernah bercita-cita ingin menjadi guru. Tapi, jalan hidup yang harus ayah lalui belum mencapai titik itu, dan ayah ingin menitipkan mimpi ayah pada salah satu di antara kalian. Siapa pun kelak yang menjadi guru, itulah mimpi yang dulu pernah ayah inginkan. Namun, ayah tidak memaksa kalian menjadi seperti yang ayah mau, menjadi apa pun kalian nanti, ayah akan tetap bangga, dan ayah selalu mendoakan kalian menjadi anak-anak yang sholeh. Kalian boleh menjadi polisi, tapi polisi yang sholeh dan sholehah. Kalian boleh menjadi dokter, tapi dokter yang sholeh dan sholehah.” Ujar ayah sambil menghapus bola-bola kristal yang membasahi kelopak matanya.
Aku pun ikut hanyut dalam suasana haru, kakakku yang duduk di sampingku memelukku, membisikkan keinginannya untuk menjaga mimpi ayah dan ibu, dan mewujudkannya. Malam itu, saat ayah dan ibu menitipkan mimpi-mimpi mereka pada kami, aku merasakan semangat baru, ingin terus belajar, ingin menjadi lebih baik. Aku percaya, Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya. Setelah selesai menitipkan mimpi-mimpi pada kami, ayah dan ibu memeluk kami. Kami berpelukan dan menangis.
Meski kami bukan berasal dari keluarga yang kaya,  semangat ayah dan ibu untuk menyekolahkan kami ke jenjang yang tinggi menjadi penyemangat tersendiri bagiku, bagi kakak dan bagi adik-adikku.
            Hari ini ayah dan ibu mengajak kami menikmati keindahan pantai, rumah kami memang berada di pesisir pantai. Kami sekeluarga sering menghabiskan kebersamaan di pantai, menikmati hembusan angin, memandang keindahan laut yang merupakan ciptaan Tuhan.
Aku duduk di samping ayah, ibu sedang bermain dengan ombak bersama dengan kakak dan adik-adikku. Ayah memelukku, kemudian beliau berkata,
“Nak, coba lihat ke tengah laut, sejauh matamu memandang, ada ombak-ombak yang membumbung tinggi, yang siap menghancurkan pertahanan kapal-kapal yang sedang menyeberang. Di tengah sana akan ada badai yang siap memporak-porandakan layar kapal. Akan ada ombak yang tinggi yang siap membawa kapal yang kalian kendalikan berbelok arah dari tujuan. Begitulah perjalanan yang akan kalian lalui, kalian akan menyeberangi lautan, menuju pantai harapan. Di pantai harapan itulah mimpi-mimpi kalian. Ayah percaya kalian adalah perahu yang terbuat dari kayu terbaik, dengan layar yang gagah berani menghadang badai. Ayah percaya kalian akan tetap berlayar menuju pantai harapan itu, menghadapi semua rintangan yang ada, hingga kalian bisa sampai ke pantai harapan, dan mencapai mimpi-mimpi yang sudah kalian ukir.”
Aku mendengarkan semua penjelasan ayah sambil melihat ibu yang  sedang tertawa bermain dengan kakak dan kedua adikku. Aku merasa bahwa keluargaku adalah keluarga yang paling bahagia di dunia ini. Dengan kesederhanaan ayah dan ibu, mereka mendidik kami dengan baik. Membekali kami dengan pengetahuan agama sebagai pondasi utama pendidikan kami. Ayah dan ibu memberikan kami limpahan kasih yang membuat kami tumbuh menjadi anak-anak yang patuh pada Tuhan dan berbakti.
“Dimana pun kalian berada, ada Tuhan yang akan selalu menyertai kalian” ucap ibu pada kami yang merupakan permata hatinya.
“Tuhan itu ada dimana, Bu ?” Tanya adikku yang paling kecil. Dia memang masih belum mengerti. Dia masih kecil.
“Tuhan itu ada di sini” jawab ibu sambil menunjuk dada adikku.
Adikku meraba dadanya, terlihat seolah-olah sedang memikirkan jawaban ibu.
“Nanti anak ibu akan mengerti, anak ibu harus rajin shalat dan mengaji, anak yang sholeh akan disayang oleh Tuhan. Anak ibu mau disayang Tuhan kan?” Tanya ibu pada Mayra adikku.
Mayra mengangguk, kemudian melanjutkan menyantap sajian makan siang buatan ibu.
Foto-foto yang ada di kamarku selalu mengingatkanku akan kasih ayah dan ibu, kasih yang pernah mereka berikan tidak akan pernah hilang dimakan usia. Semua itu akan selalu kuingat, dan akan kujaga mereka seperti mereka menjagaku. Akan kusayangi mereka seperti mereka menyayangiku.
Begitulah, meski sekarang ayah dan ibu sudah lanjut usia, namun mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka titipkan terus membawa kami menuju pantai harapan. Karena hidup dengan harapan lebih baik dari pada hidup tanpa harapan. Namun mimpi tetap akan menjadi mimpi jika kita tidak berusaha untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Harus ada usaha untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Jejak-jejak mimpi itulah yang nantinya akan menjadi cerita-cerita indah, nikmati perjalanan menuju mimpi-mimpi, dan ingatlah akan adanya Tuhan. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, selebihnya biarkan Tuhan memperlihatkan rencana-Nya yang indah untuk hamba-Nya.
“Ayah, Ibu….Aku sudah mencapai mimpi yang dulu pernah Ayah dan Ibu titipkan. Namun langkahku tidak berhenti sampai di sini, aku akan terus melangkah menggapai mimpi-mimpi, terus berusaha menjadi lebih baik. Banyak mimpi yang sudah kutulis dalam catatan mimpiku, dan aku ingin menggapai itu.”

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan