June 30, 2012

Jogja #Day4



Di siang hari keempat saya tidak pergi kemana-mana karena nungguin teman yang dari Jakarta. Dan ternyata mereka berdua telat sampai Jogjanya, seharusnya mereka sampai Jogja pagi, dan ternyata menjelang ashar mereka baru sampai Jogja. Itu telatnya super keterlaluan ya. hehe

Setelah ashar, saya menuju Malioboro, menuju museum “Vredeburg”. Karena masih sore, saya sempatkan keliling menuju “Keraton”, “Taman Sari”, “Alun-alun”, “Masjid Gede” dan kembali lagi ke lokasi “Festival Kesenian Yogyakarta”.

Setelah maghrib, saya ditemani Steven melihat penampilan berbagai macam kesenian Jogja. Saya dan Steven duduk manis di depan panggung utama dari awal acara sampai pukul 9 malam. Si Steven yang duduk di samping saya juga tampak menikmati semua kesenian yang tampil di panggung. Meski sebenarnya saya dan Steven juga sama-sama antara ada dan tiada karena nggak ngerti apa yang diomongin oleh mereka yang ada di panggung. Mereka pakai bahasa Jawa (halus mungkin, entahlah saya sama sekali nggak paham). Saya dan Steven hanya menikmati keragaman seni yang ada, kalo penonton tertawa, saya dan Steven ikut tertawa, kalo hening ya kami pun ikut hening haha J
 Dia mulai kumat di depan panggung #FKY

Selain menikmati semua kesenian yang ada, saya tentu tidak akan lupa untuk mengabadikan semua kesenian itu dari balik lensa kamera yang saya bawa. Bahkan beberapa penampilan sempat saya rekam, meski tangan saya capek megangin kamera sewaktu ngerekam penampilan-penampilan mereka di panggung.

Setelah puku 21.00, si Steven ngajak berbelanja sebelum yang jualan mulai tutup. Maklum, malam ini adalah malam terakhir Steven liburan di Indonesia, sebelumnya dia sudah ke Bali terlebih dahulu, baru kemudian ke Jogja. Dan esok hari dia sudah harus kembali ke Germany. Sebenarnya dia masih belum mau balik ke negara asalnya, dia masih ingin berlama-lama di Indonesia. Dia masih ingin pergi ke Danau Toba, dan kota-kota lain di Indonesia. Tapi pekerjaan membuat dia harus segera balik ke Germany.

Karena besok Steven sudah harus balik ke Germany, jadi dia mau menghabiskan uangnya yang masih berupa rupiah. Dalam hati saya bergumam,

“Mendingan kasih ke saya aja” haha.
Jadinya saya ikut aja kemana Steven melangkah #bahasa apa ini. Belanja berbagai macam pernak-pernik khas Jogja, barang-barang antik, kaos dan lain-lain. Ada yang istimewa dari kegiatan belanja malam itu, waktu saya dan Steven sedang memilih kaos lukis, kami sama sekali nggak tahu kalo ternyata designer-nya malah sibuk bikin sketsa wajah kami berdua. Setelah selesai milih kaos mana yang mau dibeli, designernya langsung ngasihin selembar kertas putih yang ada sketsa wajah saya dan Steven haha #keren
Si Steven kembali kumat, dia jingkrak-jingkrak nggak jelas saat ngelihat sketsa wajah itu. Mulai deh foto-foto bareng pun dimulai saat tahu ada sketsa wajah itu. Si designernya juga minta foto bareng saya dan Steven haha J
Setelah selesai narsis-narsisan, kami melanjutkan berbelanja ke tempat penjualan barang-barang antik. Yang namanya antik itu biasanya mahal kan? Dan kalo mahal biasanya saya ndak mau beli #hening.

Si Steven kembali kumat untuk kesekian kalinya saat melihat Koran tempo dulu, kalo nggak salah Koran tahun 1982. Dia sibuk memilih Koran-koran itu, kemudian membeli beberapa lembar meski dia sama sekali nggak bisa Bahasa Indonesia. Aneh. Dan tahukah anda harga Koran itu berapa???? Harganya macam-macam, semakin tua umur korannya, maka semakin mahal harganya. Koran yang dibeli Steven kalo nggak salah harganya 100.000, berghhh mahal jendralll, ada juga yang harga 20.000,

Saya kira uang Steven udah habis, ternyata masihhh.. jadinya kegiatan berbelanja pun terus berlanjut sampai uangnya benar-benar habis. Dia hanya menyisakan uang untuk bayar hotel, dan untuk ongkos taxi ke airport besok. Gilaaa ni orang. Mendingan kasihkan ke saya saja, kan cepet habisnya tuh duit. Lol
Kami juga sempat menjajal makanan yang ada di sekitar Malioboro, meski akhirnya saya sakit perut dan si Steven harus beli permen untuk menghilangkan bau mulut karena ternyata di makanan yang kami makan itu ada “pete” haha. Dia juga hampir muntah #kasihan. Padahal yang kami pesan itu; nasi telor, ikan tri, terong, dan kopi. Ternyata ikan tri itu ada campuran “pete” dan baru sadar waktu udah masuk ke mulut.
 expresi wajah habis makan pete lol

Setelah puas berbelanja, kemudian menikmati berbagai macam sajian kuliner yang ada di sepanjang Malioboro, kami balik ke penginapan Steven yang tidak jauh dari lokasi festival. Kami naik becak kurang lebih 10 menit. Sesampai di hotelnya saya sedikit bantu-bantu dia packing (lebih banyak bengong sih sayanya karena nahan sakit perut), dan setelah merasa semua sudah selesai, sudah ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, cerita berbagai macam kejadian unik dalam hidup tuh orang dan lain sebagainya, saya memutuskan untuk kembali ke tempat saya nginap.

Selesai sudah kegiatan malam ini. Saya kembali ke masjid tempat saya nginep, kemudian langsung istirahat karena besoknya Steven minta ditemani ke airport.

Jogja #Day3

Di hari ketiga, saya berencana mau pergi ke Merapi. Tapi ternyata fisik saya terlalu lelah, jadinya saya sukses terkapar di kamar. Saya sama sekali tidak pergi kemana-mana selama hari ketiga. Saya hanya menghabiskan waktu di kamar, duduk depan laptop dan online sepanjang hari. Jadi tidak ada cerita di hari ketiga di Jogja.

Jogja #Day2



Hari kedua di Jogja saya pergi ke Candi Borobudur. Paginya saya sarapan gudeg, lidah saya ketagihan dengan yang namanya gudeg. Jadi selama di Jogja, saya selalu beli gudeg untuk sarapan. Gudeg di Jogja berbeda dengan gudeg yang saya beli di Purwokerto. Lebih enak.

Saya berangkat dari Hotel Muslim (Baca : Masjid) ke Magelang menuju Candi Borobudur pukul 11 siang. Paginya saya istirahat terlebih dahulu, kaki saya sempat sakit karena keliling Ratu Boko dan Prambanan di hari sebelumnya. Mungkin karena terlalu terpesona dengan keindahan Prambanan hehe

Dengan menumpang di angkutan umum, dengan jarak yang cukup jauh dari Jogja, saya menuju Borobudur. Perjalanan dari Jogja ke Borobudur kurang lebih 1 jam lamanya. Saya harus ganti angkutan di Jombor kemudian baru menuju ke Borobudur.


Setibanya di Borobudur, saya membeli tiket masuk seharga 30.000, kemudian langsung masuk dan menuju kereta yang akan membawa rombongan ke pintu masuk candi. Karena kalo jalan kaki lumayan bikin kaki saya tambah sakit. Jadi saya memilih naik kereta yang ada di dalam lingkungan candi. Saya nggak tahu kalo ternyata kereta itu harus bayar, nggak kayak waktu di Prambanan. Kalo di Prambanan, harga tiket yang saya beli sudah termasuk free transport, jadi saya tidak perlu membayar lagi. Pas kereta sudah mau berangkat dan petugasnya nanya tiket, saya senyum kemudian turun menuju loket dan membeli tiket yang seharga 5000, sudah termasuk tiket kereta + sebotol air mineral.

Sepertinya kali ini saya satu rombongan lagi dengan international visitors karena saya satu kelompok dengan wisatawan asing + satu orang tour guide, jadi waktu masuk ke Candi Borobudur, banyak yang ngira bahwa saya adalah wisatawan asing karena saya berbicara Bahasa Inggris. Dan ide aneh pun muncul, sejak masuk ke Candi sampai keluar lagi saya berbicara dengan Bahasa Inggris dengan rombongan (karena memang yang dipakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar Tour Guide-nya) dan dengan pengunjung lain pun saya berbicara Bahasa Inggris.

Nah ternyata kejadian aneh menimpa saya selama di Borobudur, entah mimpi apa mereka yang ngajak saya untuk foto bareng itu haha #hadeuhh

Bahkan yang lucunya ada beberapa anak kecil yang bilang,
“mr…mr… picture…together,,”
Saya melongo, hah?

Belum sempat ngejawab, mereka udah narik tangan saya untuk foto bareng. Hadeuhh…terpaksa. Si Steven (teman dari German yang baru kenal waktu di Borobudur) bilang, yeah you are lucky now J (karena saya sempat bilang “kok nggak ada yang minta foto bareng saya” ke dia haha). Dia juga sibuk ngelayani permintaan foto bareng J

Ternyata tidak berhenti sampai disitu, setelah dikerumuni oleh anak-anak, tiba-tiba remaja-remaja putra juga mau minta foto bareng saya haha (asli, saya sakit perut ketawa kalo ngingat kejadian di Borobudur). Dengan bahasa Inggris yang rada-rada aneh menurut saya, mereka minta foto bareng. Baiklah, karena mereka yang minta foto bareng, saya pun nyengir dan ikut keinginan mereka J ah mungkin mereka mengira saya dari Malaysia karena logat saya yang Melayu.

Borobudur kembali membuat saya terkagum-kagum. Keindahannya membuat saya betah berlama-lama di sekitar candi. Saya naik ke setupa yang paling atas, dan ditegur ama security yang jaga karena tidak diperbolehkan duduk-duduk, apalagi naik ke setupa yang ada di candi haha #maaf kan saya belum tahu J

Ah liburan kali ini sungguh berkesan. Steven yang baru saya kenal waktu di candi langsung ngajak ketemu lagi di “Festival Kesenian Yogyakarta” besoknya. Karena menurut saya dia itu super kocak + sedikit gila, makanya saya jawab “Ok”. Setelah puas keliling Borobudur, saya kembali ke Jogja, dan istirahat. Masih banyak tempat yang mau saya kunjungi esok harinya.
Dan di Borobudur itu sungguh berkesan. Candi Borobudur memang wow banget. Keren.

Jogja #Day1



Saya berangkat dari purwokerto pukul 4 sore, perjalanan dari Purwokerto-Jogja kurang lebih 5 jam karena jalanan yang sedikit padat karena suasana liburan. Seperti biasa, kalo di dalam bus, saya tidur sepanjang perjalanan dan terbangun saat sudah tiba di “Terminal Jogjakarta”.

Kali ini adalah kunjungan pertama saya ke Jogja, maklum berapa kali cuma lewat dan tidak pernah menyempatkan diri untuk mengenal lebih jauh suasana Kota Jogja. Makanya, sebelum liburan tiba saya sudah buat rencana serapih mungkin agar kali ini saya betul-betul bisa menikmati perjalanan saya selama menikmati semua keindahan Kota Jogja. Dan tentunya dengan biaya yang seminim mungkin tapi bisa menjelajah Jogja haha.

Saat sampai di Terminal Jogja, saya udah kayak orang linglung J
Linglung karena saya nggak ngerti sama sekali tentang Kota ini. Saya juga nggak kenal siapa-siapa di Kota ini. Awalnya saya mau booking penginapan selama di Jogja, tapi teman saya bilang mendingan tinggal di Hotel Muslim (Baca “Masjid”) selama di Jogja. Lumayan kan uang buat penginapan bisa buat jajan selama satu Minggu di Jogja? Yes…Alhamdulillah. J

Dari Terminal, saya naik ojek ke Bundaran UGM menuju Masjid Al Hasanah yang berada di depan FMIPA UGM. Di sana saya ketemu dengan salah seorang temannya teman saya #ribet, namanya Ahmad. Selama di Jogja saya akan tinggal bareng dia di masjid Al Hasanah. Kebetulan dia adalah salah satu takmir masjid.

Setelah melepas penat selama perjalanan, saya sempatkan makan malam terlebih dahulu kemudian baru tidur.

Keesokan harinya, pukul 9 saya sudah siap untuk mengunjungi tempat pertama yang ada di list tempat-tempat yang akan saya kunjungi selama di Jogja. Candi Ratu Boko dan Prambanan menjadi tempat pertama yang akan saya kunjungi. Dengan berbekal sebuah “Peta” saya pun memulai pertualangan #halahhh bahasa apa ini J

Saya menuju ke Prambanan dengan bantuan “Trans Jogja”. Alhamdulillah selama perjalanan menuju Candi saya bisa duduk manis, melihat keunikan kota Jogja dengan bangunan-bangunannya, berbagai macam universitas-universitas ternama juga menjadi pemandangan saya selama di Trans menuju Prambanan.

Finally, untuk pertama kalinya saya sampai ke “Candi Prambanan”, so excited J
Saya membeli tiket yang berupa paket “Prambanan dan Ratu Boko”. Di dalam candi sudah disediakan transport yang akan membawa saya dan rombongan (kebetulan saya gabung dengan International Visitors) dengan dipandu oleh seorang “Tour Guide”.

Tujuan pertama kami adalah ke “Istana Ratu Boko” yang terletak kurang lebih 3 KM dari Candi Prambanan. Meski panas, namun saya tetap bisa menikmati suasana di Ratu Boko. Kesan pertama saya saat melihat Ratu Boko,

 “Ini bagaimana mereka bisa membangun semua ini? Keren”

Meski saya bareng dengan rombongan, namun saya tidak bisa mengabadikan diri saya sendiri, karena saya tidak enak hati jika harus meminta salah satu dari “Bule-Bule” itu untuk motret karena saya merasa nggak bakalan cukup kalo cuma satu gambar #Kalem #NarsisAkut.
Nah karena saya merasa butuh dengan seseorang yang bisa saya perintah untuk motret saya dengan keindahan Ratu Boko, makanya saya sewa salah satu pegawai yang berkerja di Taman yang ada di Ratu Boko. Dengan membayar 15.000/Jam, cukup banyak foto-foto saya selama di Ratu Boko J

Setelah puas menikmati keindahan Ratu Boko, kami pun kembali ke “Candi Prambanan” dan mulai menikmati semua keunikan, dan keindahan candi. Saya sempat terpaku, terkagum-kagum melihatnya. Pertanyaan yang sama kembali terulang,

“Bagaimana orang-orang zaman dulu bisa membangun candi seperti ini? Ini itu super keren, dengan ukiran-ukiran yang semuanya mempunyai cerita sendiri.”
  
Nah di Prambanan ada sedikit gangguan, karena saya gabung dengan International Visitors, maka cukup banyak remaja putra/putri yang minta foto bareng teman-teman Bule. Saya melihatnya rada-rada risih, karena mereka bising dan mengganggu saya yang sok serius  mendengarkan penjelasan “Tour Guide” yang sedang menjelaskan sejarah Candi Prambanan. Terus, kok nggak ada yang minta foto bareng saya? haha #plak

Awalnya “Bule-bule” yang bareng saya merasa nyaman-nyaman saja dengan permintaan mereka yang minta ‘Foto Bareng” tapi akhirnya mereka juga merasa terganggu karena cukup banyak yang minta foto. Nah,, karena sudah terlalu banyak, salah satu “bule” yang dari Inggris melarikan diri haha, saya ngikik ketawa ngelihat dia bergegas meninggalkan rombongan. Resiko jadi bule di Indonesia J

Waktu di kereta keliling kawasan Prambanan, si Bule bilang kalo ini baru pertama kali dia mengalami hal seperti ini

“Diminta untuk foto bareng, seakan-akan seorang artis yang dipuja. Di negaranya sendiri dia nggak pernah ngalamin hal yang kayak gini”

Saya hanya bisa nyengir mendengarkan ucapan tuh orang. Ada perasaan malu juga sih ama mereka. Yang terpenting, saya betul-betul menikmati suasana Candi, baik di Ratu Boko, maupun di Prambanan. Jadi banyak tahu tentang sejarah Candi. Dan tentunya semakin mencintai Indonesia dengan segala keunikannya.

Setelah puas menikmati candi, saya pun melarikan diri ke “Malioboro”, mencicipi kuliner yang ada disana, menyempatkan diri untuk berbelanja, dan setelah puas keliling Malioboro, berbelanja, motret dsb, saya pun memutuskan untuk kembali ke Hotel Muslim (Baca: Masjid) dan istirahat. Cukup sudah rasanya jalan-jalan untuk hari pertama di Jogja. Masih ada 6 hari lagi saya di Jogja, dan banyak sekali tempat-tempat yang mau saya kunjungi.

June 19, 2012

Satu Tahun Kebersamaan






Setelah satu tahun mengajar, sudah banyak sekali cerita-cerita antara saya dan murid-murid. Kebersamaan yang telah membuat kami semakin dekat satu sama lain. Membangun keakraban, kepedulian, dan juga kebersamaan.
Video ini adalah cerita satu tahun kebersamaan saya dengan mereka. Tuhan, terimakasih Engkau sudah mempertemukan saya dengan murid-murid yang selalu membuat saya rindu akan mereka, menempatkan saya pada lingkungan yang mengajarkan saya untuk lebih dekat pada-Mu.
Besok anak-anak sudah mulai libur, saya tentu akan merindukan mereka. 

June 16, 2012

Lika-liku Hidup


“Kak, aku mau berhenti kuliah”
Dahiku berkerut saat membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh adikku. Apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga tiba-tiba dia mengirimkan pesan singkat itu. Kopi yang tinggal setengah lagi kuletakkan di atas mejaku. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara isak tangis di ujung sana. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Dek, kenapa kok tiba-tiba mau berhenti kuliah?” tanyaku pelan, aku tidak ingin membuat dia semakin menangis mendengar pertanyaanku. Karena aku tahu betapa besar keinginannya untuk kuliah.
Masih belum ada jawaban. Khansa hanya diam, membiarkan aku mematung di ujung telpon.
“Dek, coba cerita, siapa tahu kakak bisa bantu.”
Khansa masih dengan diamnya.
“Ya, sudah kalo emang belum mau cerita. Ibu mana? Kakak mau ngomong ama Ibu.”
Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara Ibu yang sedang batuk.
“Ibu, ini Giffary”
“Siapa? Ibu tidak bisa mendengar suaramu. Ini siapa?” Ibu mengulangi pertanyaan itu.
“Ini Giffary, Bu. Putra Ibu.”
Hening. Mungkin saja Ibu sedang mencoba untuk mengingat tentangku. Sudah lama Ibu sering seperti ini, Ibu Pikun. Dia sering lupa. Terkadang aku harus mengulang kembali penjelasan yang sama hingga akhirnya Ibu mengenali suaraku.
“Ibu sehat kan?”
“Sebentar, Ibu masih belum bisa mengingat nama Giffary.”
“Sa, Giffay itu siapa?” Ibu bertanya pada Khansa.
Aku membiarkan Ibu berpikir sejenak, memutar kembali memorinya tentangku. Aku menangis. Ingin rasanya aku mendekap Ibu. Tapi, lagi-lagi jarak menjadi alasanku tidak bisa menatap wajah Ibu setiap waktu. Jarak juga yang membuatku harus rela bertemu dengan Ibu satu tahun sekali. Aku hanya bisa bertemu dengan Ibu saat Idul Fitri tiba. Namun aku selalu berusaha untuk sesering mungkin menghubungi Ibu dan Khansa adikku yang selama ini menjaga Ibu.
Dari ujung telpon, aku mendengar Ibu menangis.
“Giffary….kamu kapan pulang, Nak? Ibu rindu.”
Aku mengusap mataku yang basah.
“Insya Allah lebaran ini pulang, Bu.”
“Jangan lupa pesan Ibu. Baik-baik di rantau ya, Nak.”
“Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan.”
Setelah berbincang sejenak, Ibu mengakhiri pembicaraan kemudian memberikan telpon pada Khansa.
“Sa, kenapa? Coba jujur ama kakak.”
“Kak, maafin Khansa, ya. Mungkin gara-gara Khansa kakak jadi sibuk mencari uang demi biaya kuliahku. Demi biaya berobat Ibu. Khansa ingin membantu kakak mencari nafkah, Khansa tidak ingin terus-terusan melihat Ibu terbaring sakit-sakitan di rumah. Mungkin dengan Khansa berkerja akan membantu biaya pengobatan Ibu.
Aku marah mendengar apa yang baru saja diucapkan adikku. Namun aku mencoba untuk tenang. Aku tahu maksud Khansa baik. Mungkin saja dia tidak tega melihatku yang harus berkerja serabutan di Ibu Kota, demi membiayai kuliahnya, dan membiayai pengobatan Ibu.
“Sa, coba dengerin kakak. Kakak akan sedih jika harus merelakan kamu berhenti kuliah. Kamu masih ingat nggak pesan Ayah sebelum meninggal? Ayah selalu bilang “ Khansa harus bisa menyelesaikan kuliah. Khansa harus percaya bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya.” Kamu masih ingat kan? Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah memercayai itu dan melakukan yang terbaik. Biar kakak yang memikirkan semua biaya kuliahmu dan biaya pengobatan Ibu. Insya Allah kakak masih sanggup.”
Khansa menangis,
“Tapi, kak, semester ini Khansa tidak bisa ikut semesteran karena belum bayar uang semester. Tunggakan semester lalu juga masih belum lunas.” Ucapnya sambil terbata-bata.
Ah Tuhan, ini salahku. Aku masih belum bisa mengemban amanah yang Engkau berikan padaku untuk menjaga adik dan Ibu. Seharusnya aku berkerja lebih giat lagi agar bisa melunasi semua tunggakan biaya kuliah Khansa.
“Sekarang kakak cuma minta Khansa fokus ke semesteran aja, kakak akan usahakan untuk segera mengirim uang.” Aku mencoba untuk meyakinkan Khansa, agar dia kembali percaya selalu ada jalan untuk menyelesaikan semua ini. Dia memang masih belum bisa bijak dalam menyelesaikan permasalahan. Kadang dia terbawa emosi. Khansa memang sedikit tertekan saat kematian Ayah satu tahun yang lalu. Dia kadang berubah menjadi kekanak-kanakan. Mungkin dia merindukan kehadiran sosok Ayah.
“Nggak usah, kak. Khansa mau berhenti aja. Ada teman yang nawarin kerja di salon.”
“Khansa..” Nada suaraku sedikit meninggi. Dadaku bergemuruh, aku berusaha untuk lebih tegar lagi dengan jalan hidup yang sudah Tuhan berikan. Aku masih percaya dengan janji Tuhan. Bukankah Tuhan hanya meminta hamba-Nya untuk berusaha, berdoa, kemudian menyerahkan semua urusan pada Tuhan? Dan aku percaya dengan semua itu.
Saat Khansa sudah kembali yakin untuk terus melanjutkan kuliahnya, aku mengakhiri telpon. Aku kembali ke meja, menyesap sisa kopi yang sudah mulai dingin. Aku berpikir keras bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang dalam waktu yang relatif singkat. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu aku sudah mempunyai uang untuk biaya kuliah Khansa. Namun penyakit Ibu kembali kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Sekarang, biaya pengobatan sangat mahal. Semua uang kuliah Khansa terpaksa dipakai untuk berobat Ibu.
Khansa kembali mengirim pesan singkat.
“Kak, maafin Khansa, ya. Khansa janji akan terus kuliah, Khansa juga janji tidak akan mengecewakan kakak dan Ibu.”
Hujan mulai membasahi rumput yang bergoyang dihembus angin, dedaunan berbisik merdu menyanyikan lagu rindu. Aku menutup kedua mataku, berpikir sejenak. Kulirik arloji kecil di tanganku, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku masih belum bisa lelap dalam tidur. Bayangan Ibu, ayah, dan juga Khansa kembali hadir memenuhi benakku.
Tuhan, izinkan aku lelap sejenak dalam mimpi
Dan bangunkan aku di sepertiga malamMu
Aku ingin kembali bercerita padaMu
Ya Rabby...
Aku hanya ingin Engkau menjadi tempatku mengadu
Selalu ada jalan yang telah Engkau janjikan
atas Segala permasalahan hidup yang telah Engkau gariskan
Aku Percaya

June 14, 2012

Bersujud di BumiMu


Malam masih gelap, sang fajar baru menampakkan diri pertanda waktu subuh sudah tiba. Suara adzan mendayu-dayu, menyeru umat muslim untuk segera bangun dari lelap tidur, mengajak mereka untuk membasuh anggota badan mereka dengan aliran air wudhu, kemudian shalat subuh. Melaksanakan shalat subuh tepat waktu sungguh begitu berat bagi mereka yang masih belum terbiasa untuk bangun. Banyak di antara umat muslim enggan untuk melaksanakan seruan Tuhan, dan terus lelap dalam tidur.

Bapak itu sudah bangun sejak tadi, dia sudah bersimpuh di hadapan Tuhannya, memuji Tuhan, mengucapkan syukur atas segala karunia yang telah Tuhan berikan padanya. Air matanya menitik di atas sajadah, dia menangis. Dia menangis karena begitu banyak dosa yang telah ia perbuat. Begitu banyak dosa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan di umurnya yang sudah senja ini, barulah dia menyadari begitu banyak karunia yang telah Tuhan berikan padanya. Bapak itu menangis. Menyesali segala perbuatannya di masa lalu yang membuatnya jauh dari Tuhan.

Selama ini, dia hanya sibuk dengan duniawi, menumpuk harta, dan melupakan Tuhan. Dan sungguh Tuhan Maha Penyayang pada hamba-Nya. Tuhan memberikan hidayah padanya dan memberinya kesempatan untuk lebih mengenal Tuhan.

Mendengar suara adzan, dia bangkit dari sajadahnya dan beranjak pergi meninggalkan rumahnya yang megah bak istana. Dengan bantuan sebuah tongkat yang terbuat dari besi, dia berjalan menyapu gelapnya malam menuju masjid yang ada di kompleks rumahnya untuk bisa mengikuti shalat berjama’ah. Dia terus berjalan, menyusuri jalan setapak menuju rumah Tuhan. Hening.

Dia duduk di pojok masjid sebelah kanan, dan mendirikan shalat “tahiyyatul masjid”, kemudian menunggu iqamat dikumandangkan. Di sampingnya ada seorang anak muda yang sedang membaca al-Qur’an dengan suara yang sangat pelan. Bapak itu menoleh, melihat al-Qur’an yang ada di tangan pemuda itu, al-Qur’an itu adalah al-Qur’an yang memakai huruf “braille”.

Bapak itu mendengarkan lantunan ayat-ayat Tuhan yang terdengar begitu indah di telinganya. Ayat-ayat itu mampu menyentuh kalbunya, seketika kesejukan memenuhi rongga dadanya, ada ketenangan. Ingin rasanya ia mengambil al-Qur’an, kemudian membacanya. Namun, dia kembali menyadari bahwa dia masih belum bisa membaca al-Qur’an. Dia hanya mendengarkan dengan seksama pemuda yang sedang membaca di sampingnya.

Setelah shalat subuh, bapak itu menghampiri pemuda yang tadi membaca al-Qur’an di sampingnya, ingin mengutarakan keinginannya untuk belajar membaca al-Qur’an, ingin mengungkapkan betapa besar keinginannya untuk berinteraksi dengan Tuhan melalui kalam-Nya.

“Assalamu’alaikum, Mas”

Pemuda itu menjawab salamnya, kemudian menoleh ke arah suara yang mengucapkan salam padanya. Pemuda itu seolah-olah sedang mencari asal salam itu, kedua bola matanya berwarna putih, tidak ada warna hitam. Putih bersih.

Laki-laki paruh baya itu akhirnya memegang tangan pemuda yang ada di depannya.

“Saya disini, Mas”
Pemuda itu kemudian tersenyum,
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” ucapnya santun dan tenang.
“Nama saya Ruli, saya ingin belajar membaca al-Qur’an dengan Mas…, dengan Mas siapa?”
“Saya Faraj, Pak” jawab pemuda itu dengan senyuman yang membuat sang bapak tenang saat berada di hadapannya. Senyum itu begitu teduh, menenangkan.
“Tadi saya mendengarkan bacaan Mas Faraj, saya betul-betul ingin belajar membaca al-Qur’an, tapi…..” Sang bapak menghentikan ucapannya.
“Tapi kenapa, Pak?
“Saya sama sekali belum bisa membaca al-Qur’an. Saya sama sekali belum mengenal huruf-huruf yang ada di dalam al-Qur’an.” Ujarnya pelan.

Faraj kembali tersenyum, kemudian memegang erat tangan sang bapak yang sedari tadi masih memegang tangannya.

“Meski saya buta, tapi saya bisa merasakan kesungguhan Bapak untuk belajar, Bapak boleh datang menemui saya di masjid ini setiap hari selepas subuh dan saya akan membantu semampu saya untuk mengajarkan Bapak membaca al-Qur’an.”

Pak Ruli memeluk Faraj, kemudian menangis.

“Mas Faraj adalah bukti keagungan Tuhan, Ia memberi Mas kesempatan yang dulu tidak pernah saya pergunakan dengan baik. Saya menyia-nyiakan waktu saya untuk urusan dunia, dan lupa untuk mempelajari kalam Tuhan. Saya sibuk menumpuk harta dan melupakan kenyataan bahwa harta itu tidak akan saya bawa mati. Hanya amal yang nantinya akan menjadi penolong saya di kehidupan selanjutnya. Saya sibuk dengan diri sendiri, hingga akhirnya seluruh keluarga saya menjauhi saya, dan kini tinggallah saya sendiri.” Air mata Pak Ruli terus membentuk bola-bola kristal berukuran kecil, kemudian jatuh membasahi pipinya yang sudah dipenuhi garis-garis kehidupan.

“Saya hanya ingin menjadi orang yang dicintai oleh Tuhan” jawabnya, kemudian dia membacakan sebuah hadis,
     “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

“Saya ingin menjadi hamba yang dicintai Tuhan, dengan segala keterbatasan saya, namun saya yakin Tuhan memberikan saya kesempatan yang sama untuk mengenal akan Tuhan.”




June 08, 2012

Guru Menulis


Saya mendukung Kepala Sekolah tempat saya mengajar untuk mengajak rekan Guru untuk bisa menulis artikel yang berkaitan dengan pendidikan. Banyak Guru yang bisa mengajar dengan baik, akan tetapi tidak bisa menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Banyak Guru yang bisa membahas sesuatu dengan baik dan rinci, akan tetapi tidak mencoba untuk menjadikan semua itu dalam bentuk tulisan. Iya, saya betul-betul mendukung keinginan Pihak Manajemen Sekolah untuk mengajak rekan-rekan Guru untuk bisa menulis.
Saya memang suka dunia tulis menulis, meski kebanyakan yang saya tulis adalah cerita-cerita pendek, catatan harian, dan novel. Sekarang saya sedang belajar menulis artikel-artikel pendidikan. Sekarang memang baru belajar menulis artikel yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dan tentu saya juga mempunyai impian untuk bisa memiliki karya tulis sesuai dengan bidang akademik yang saya ampu. Karena dengan menulis berarti kita sudah mengukir sejarah diri, membiarkan orang lain membaca hasil pemikiran kita, meski nantinya kita sudah tiada.
Saya memiliki semangat yang kuat untuk menularkan semangat saya kepada rekan sesama Guru untuk mulai berkarya, menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa memberi manfaat kepada banyak orang. Sebenarnya tulisan itu tidak meski berbentuk artikel pendidikan, bisa juga dengan membuat cerita-cerita yang ditujukan untuk dibaca oleh peserta didik, atau menulis sesuai dengan bidang akademik masing-masing.
Pihak lembaga yang menaungi sekolah tempat saya mengajar mempunyai sebuah majalah yang diterbitkan setiap bulannya. Setiap bulannya majalah itu terbit lebih dari 2000 eksemplar, namun saya melihat minimnya karya Guru yang masuk dalam majalah tersebut, terutama karya Guru unit SMP, karena sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah lanjutan yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD (yang terdiri dari SD 01 dan SD 02), SMP, dan SMA. Sebenarnya pihak sekolah sudah banyak mengajak rekan Guru untuk mulai menulis, mulai dari diadakan lomba menulis tingkat sekolah, dan mengajak untuk ikut berpartisipasi dalam lomba karya tulis yang diadakan oleh pihak lain. Namun sekali lagi, minimnya ketertarikan Guru untuk menghasilkan karya tulis masih menjadi kendala.
Sebenarnya tidak hanya rekan Guru saja yang saya ajak untuk memiliki karya yang berbentuk tulisan, saya juga mengajak anak-anak untuk ikut menulis. Saya pernah bilang pada anak-anak yang ada di kelas yang saya ampu,
“Kalau ada tulisan kalian yang dimuat di majalah sekolah, maka saya akan berikan kalian hadiah”.
Itu saya lakukan untuk menarik minat mereka untuk memulai menulis. Sepertinya dari seluruh Guru yang ada di sekolah tempat saya mengajar, saya yang paling semangat untuk menghasilkan karya tulis, dan saya ingin semangat saya ini juga dimiliki oleh seluruh Guru.
Dari sini, saya ingin mengajak rekan guru untuk bisa berkarya, entah itu menghasilkan karya  tulis yang berkaitan dengan pendidikan, membuat cerita-cerita yang ditujukan untuk peserta didik yang bisa diambil hikmahnya, atau karya tulis yang lain. Mari menjadi Guru yang kreatif, memiliki karya yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Mari Menulis.

June 07, 2012

Satu Tahun Berlalu

         
           7 Juni 2012
Waktu memang berlalu begitu cepat, saya hampir lupa bahwa hari ini tepat satu tahun saya mengabdikan diri menjadi seorang Guru. Guru adalah cita-cita saya sejak dulu. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk mendidik putra-putri bangsa menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Satu tahun berlalu, sudah banyak cerita-cerita indah kebersamaan saya dengan murid dan rekan sesama Guru. Cerita-cerita itu menjadi sejarah dalam pengabdian saya sebagai seorang Guru dan sejarah dalam hidup saya.
Saya masih mengingat baik saat pertama saya mengajar, saya menjelaskan materi kemudian murid mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang saya jelaskan karena saya menjelaskan terlalu cepat dan dengan Bahasa Indonesia yang pas-pasan. Mengapa saya bilang pas-pasan? Karena memang kenyataannya saya belum bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya masih berbicara dengan gaya Bahasa Melayu yang kadang membuat murid senyum-senyum sendiri saat mendengar saya menjelaskan materi pada mereka. Tapi sekarang Bahasa Indonesia saya sudah lebih baik kok J
Pada awal saya mengajar, murid banyak yang mengira bahwa saya berasal dari Negeri Jiran Malaysia karena gaya bicara saya yang seperti Upin dan Ipin. Iya, saya mengakui itu. Pada saat pertama kali bertemu dengan orang baru, kebanyakan mereka mengira saya berasal dari Negeri Jiran. Padahal, saya “Asli Indonesia” dan “Cinta Indonesia”.
Saya juga masih ingat saat pertama kali sampai ke Purwokerto yang baru pertama kali saya kunjungi. Saya menunggu jemputan dari pihak sekolah di Terminal Purwokerto, karena saya sama sekali tidak mempunyai gambaran apa-apa tentang kondisi daerah Purwokerto. Pihak sekolah menempatkan saya di sebuah penginapan sebelum akhirnya rumah yang akan saya tempati siap untuk dihuni. Mungkin kalian juga masih mengingat bahwa saya pernah “Kehilangan Dompet” saat baru beberapa hari di Purwokerto. Saya sudah pernah menceritakan banyak hal tentang keseharian saya sebagai Guru di rumah orange ini. Dan saya mendapatkan panggilan “Pak Guru” pun dari “Ngerumpi”. Ngerumpi menjadi tempat saya berbagi cerita tentang pengabdian saya pada Bangsa ini. J
Satu tahun mengajar di Purwokerto, saya merasa baru kemarin saya mengajar. Semua itu karena saya betul-betul menikmati pengabdian saya sebagai Guru. Saya bahagia Tuhan menempatkan saya di sini, dengan orang-orang yang begitu baik dan peduli, bertemu dengan rekan Guru yang selalu bersedia membimbing saya yang masih baru dalam dunia mengajar agar bisa menjadi lebih baik. Saya menikmati semua pengabdian saya.
Ada banyak alasan yang membuat saya betah mengajar di sini, kedekatan saya dengan murid-murid, keakraban saya dengan rekan sesama Guru, kenal dengan wali murid dan lingkungan yang baik. Semua itu hanya sebagian dari alasan mengapa saya mampu bertahan mengajar di sini.
Tuhan, terimakasih Engkau sudah mempertemukan saya dengan murid-murid yang selalu membuat saya rindu akan mereka, menempatkan saya pada lingkungan yang mengajarkan saya untuk lebih dekat pada-Mu.

June 04, 2012

Tuhan, Damaikah Ibu di SisiMu?



“Ibuuuuuu”
Aku tersentak, terbangun dari tidur. Kepalaku terasa nyeri seperti ada luka. Kedua kaki dan tanganku dipenuhi perban yang sudah memerah karena bekas darah. Kugerakkan kedua kakiku, namun aku tidak bisa merasakan gerakan kakiku. Kucoba untuk menggerakkan kedua tanganku, namun kedua tanganku hanya diam menetap. Kucoba untuk memiringkan badanku, namun hanya bagian kepalaku yang mampu untuk bergerak, menoleh ke arah kiri dan kanan. Aku panik, aku berteriak sekuat tenaga memanggil ibu. Aku mencari-cari sosok itu, namun aku tidak bisa menemukan sosok ibu di dalam ruangan yang sekarang menjadi tempatku terbaring. Hanya ada beberapa kotak obat-obatan yang membuatku mual ingin muntah.
Aku masih berteriak memanggil ibu, namun ibu tak kunjung datang menghampiriku. Seorang suster masuk ke ruanganku, mungkin karena mendengar teriakanku yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya suster berbasa-basi.
Aku mengacuhkan suster yang tersenyum di depanku. Aku tidak memedulikan dirinya yang berusaha untuk menenangkanku, berusaha untuk mencari tahu apa yang mungkin bisa dia lakukan untuk membantuku. Aku masih berteriak memanggil ibu.
“Ibu….Ibu…Ibu….”
Entah sudah berapa kali kuteriakkan panggilan ibu, namun ibu tidak mendengar panggilanku. Ibu membiarkan aku terbaring lemah dengan kelumpuhan, ibu bahkan tidak ada di kamarku saat aku sedang dalam keadaan seperti ini.
“Dimana ibu, Sus?” tanyaku pada suster yang masih berdiri di hadapanku.
Kali ini suster tidak menjawab pertanyaanku. Ingin rasanya kugoncang tubuhnya agar dia mau menjawab pertanyaanku, namun aku tidak mampu melakukan itu. Aku mengulangi pertanyaanku pada suster yang mengenakan pakaian kebanggaannya sebagai suster.
“Suster, ibu dimana?”
Dia masih diam. Suster tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membelakangiku dan mengambil kotak obat-obatan. Aku tidak bisa mengingat apa-apa selain ibu. Kali ini ingatan akan ibu memenuhi benakku. Aku ingin bertemu dengan ibu. Apakah ibu baik-baik saja? Dimana ibu? Segudang pertanyaanku tentangnya tidak mampu kujawab sendiri. Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, namun aku malah terjatuh.
“aw…ww” Aku meringis menahan sakit.
Suster terlihat kaget saat mengetahui aku terjatuh. Dia sedang menyiapkan obat-obat yang mungkin harus aku minum demi kepulihanku. Dia membantuku kembali ke ranjang, membantuku berbaring. Aku masih menyebut “Ibu” dengan suara yang pelan. Tenagaku habis. Aku kelelahan.
“Silahkan istirahat, Mas” ujar suster sambil memberikan segelas air putih dan tiga butir pil yang berwarna putih dan berbentuk kotak.
“Haruskah saya meminum semua pil ini?”
Suster mengangguk. Aku meminumnya dengan bantuan suster, kemudian aku terlelap dalam tidur. Aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Mungkin dengan lelapnya tidur, aku akan bisa lebih tenang saat bangun. Dan aku berharap akan kehadiran ibu.

Ibu memakai kebaya berwarna ungu muda, rambutnya disanggul tinggi, wajahnya dipoles make up yang membuat ibu terlihat lebih muda dari usianya. Ibu memang tidak pernah merias wajahnya dengan berbagai macam bedak, atau memoles bibirnya dengan lipstick. Ibu tidak pernah melakukan itu. Ibu hanya membiarkan wajahnya terlihat apa adanya. Namun berbeda dengan hari ini, ibu merias wajahnya dengan bantuan seorang pegawai salon.
Hari ini adalah hari bahagia, karena hari ini ibu akan melihatku menikah dengan Jamilah calon istriku. Ibu sangat menyukai tutur kata Jamilah yang halus, senyumnya yang meneduhkan, jilbabnya yang menutupi bahu hingga dadanya, dan jubahnya yang terjuntai panjang menutupi lekuk tubuhnya. Dia wanita sholehah. Aku pun bahagia bisa meraih hatinya untuk menjadi pendamping hidupku.
“Jamilah itu adalah bidadari surga, dia baik, sholehah, dan dia juga cantik” ucap ibu padaku yang sedang memakai baju pengantin yang sudah kusiapkan.
Aku tersenyum mendengar ucapan ibu, kemudian aku menciumnya.
“Ibu, terimakasih atas kasih yang telah engkau berikan padaku. Raihan bahagia menjadi putra ibu.” Kemudian kami berpelukan. Ada air mata ibu yang menetes di jasku.
Menjelang akad nikah, ibu bertingkah sedikit aneh. Ibu mondar-mandir, kemudian memerhatikan suasana yang ada di sekeliling rumah. Ibu melakukan itu beberapa kali. Aku merasakan ada yang sedang ibu khawatirkan. Tapi, apa yang ibu risaukan? Mungkinkah naluri seorang ibu sedang merasakan sesuatu yang mungkin akan terjadi? Entahlah. Aku menghampirinya, ingin memastikan bahwa ibu baik-baik saja.
“Ibu, ada apa? Ayo masuk ke dalam, akad nikah akan segera dimulai.” Pintaku pada ibu.
Di wajah ibu, aku bisa melihat kegelisahan. Di wajah ibu, aku bisa melihat ada sesuatu yang sedang membuatnya takut. Namun ibu tidak memberitahuku apa sebenarnya yang membuatnya gelisah.
“Kamu masuk saja, ibu masih mau di luar.” Jawab ibu sambil memegang tasbih berwarna putih yang sedari tadi dipakainya untuk memuji Tuhan.
Aku tidak ingin memaksa ibu, aku membiarkan ibu di luar sendirian, sementara aku masuk ke dalam rumah, menunggu Pak Penghulu yang akan menikahkanku dengan Jamilah. Suasana akad nikahku memang tidaklah banyak undangan yang hadir. Aku memang sengaja tidak mengundang sanak saudara. Aku hanya ingin proses pernikahan ini dihadiri oleh kedua orang tua Jamilah, Ibu, Pak RW dan Pak RT yang menjadi saksi, Pak Penghulu, dan Kak Hamzah yang merupakan kakakku satu-satunya.
Aku mendengar suara gemuruh yang keras, suara teriakan dari warga, dan suara ibu yang memanggil namaku. Aku keluar rumah, namun belum sempat aku menghampiri ibu, banjir bandang  datang dan menghanyutkan rumah-rumah yang ada di kampungku, menghanyutkan warga yang tidak sempat menghindari amukan banjir yang datang secara tiba-tiba. Sepertinya air berasal dari bendungan yang ada di ujung desa, atau mungkin saja bendungan itu hancur karena tidak kuat menahan volume air yang terus meningkat bersamaan dengan musim hujan, hingga menyebabkan banjir bandang. Ibu ikut terbawa arus, ia melambaikan tangannya ke arahku, memanggil-manggil namaku, dan memintaku untuk menolongnya. Ibu mengucapkan puji-pujian pada Tuhan. Dalam keadaan seperti ini tidak banyak yang bisa ibu lakukan. Hanya ada Tuhan tempatnya mengadukan segala asa.
Aku juga hanyut dibawa arus air yang deras, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Badanku terasa sakit saat terbentur reruntuhan rumah. Darah segar mengalir dari tanganku saat tersangkut di puing-puing rumah yang runcing. Aku dan ibu terpisah, aku hanya bisa melihat ibu dari kejauhan, dan aku berteriak saat melihat ibu tertimpa sebuah pohon yang tidak bisa menahan kuatnya banjir yang sedang menghantam desaku. Ibu menghilang dari pandanganku, ada darah yang mewarnai aliran banjir, darah itu mungkin dari tubuh ibu yang tidak bisa menghindari pohon yang jatuh menimpanya. Beberapa saat kemudian, aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Hanya kegelapan yang ada di penglihatanku, suara anak-anak kecil yang berteriak meminta tolong, serta suara teriakan warga yang hanyut bersama air. Aku pingsan.

Kubuka kedua mataku, kulihat ke sekeliling ruangan, ada seseorang yang bersujud di atas sajadah yang ada di lantai. Ia memakai mukena putih bersih. Kudengar untaian doa yang ia panjatkan. Suara itu, aku mengenal baik suara itu. Mungkinkah itu ibu? Lidahku kelu saat aku ingin memanggil ibu, nafasku sesak saat aku ingin memintanya membantuku untuk duduk, dan airmataku jatuh saat aku ingin mengatakan padanya bahwa,
“Aku mencintainya”
Aku terus mencoba memanggil ibu,
“Ibu…”
Namun ibu tetap di atas sajadahnya, ibu sama sekali tidak menoleh ke arahku. Mungkinkah ibu sudah tidak bisa mendengarku? Setelah selesai berdoa, ibu berdiri, melipat sajadahnya dan meletakkannya di atas meja kecil tempat suster meletakkan obat-obatan. Ibu berjalan menghampiriku, mengusap keningku, dan menciumku. Dari senyumnya, ibu terlihat begitu bahagia. Raut wajah ibu berseri-seri.
“Relakan kepergian ibu, Nak” ucap ibu.
Setelah mengucapkan itu, ibu beranjak pergi menjauh dariku. Bayang-bayang ibu perlahan menjauh dan menghilang dari hadapanku. Aku berteriak memanggilnya, aku berteriak sekencang-kencangnya, namun ibu sudah pergi meninggalkanku.
“Ibu…uuuuuu….Ibu…uuuuuu”
Tiba-tiba seseorang mengguncang tubuhku, ternyata aku baru saja memimpikan ibu. Ada air mata di kelopak mataku. Ada kakak yang sekarang berdiri di sampingku.
“Kak, biarkan aku bertemu ibu” ucapku sambil menangis.
“Relakan kepergian Ibu, biarkan ia tenang di alam sana. Percayalah, Tuhan akan menempatkan ibu di surga-Nya.” Ucap Kak Hamzah, kemudian kami berpelukan.

Tuhan, di pertengahan malam-Mu
Aku kembali mengingat Ibu
Damaikah ia di sisi-Mu?
Berilah ibu tempat yang layak di sisi-Mu
Dan biarkan aku bersama ibu di surga-Mu