June 03, 2012

Air Mata Emak


Mobil yang akan membawaku pergi perlahan meninggalkan kampung halaman. Emak melepas kepergianku dengan air mata. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, aku pun tidak tahu akan hal itu. Rasanya kali ini adalah pertemuan terakhirku dengan Emak. Perpisahanku dengan orang yang telah melahirkanku ke dunia ini, membesarkanku, dan mendidikku adalah bagian dari kesalahanku. Iya, salahku. Aku yang telah membuat perpisahan ini terjadi. Aku yang telah membuat mata Emak mengeluarkan bola-bola kristal, kemudian membasahi pipinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis kehidupan.
Aku menoleh ke belakang, melihat kembali Emak yang masih mematung di pinggir jalan, melambaikan tangannya padaku, kemudian mengusap air matanya dengan tangannya yang sudah lelah menggenggam derita hidup. Lambaian itu seakan-akan mengajakku kembali bersamanya, tidak ingin berpisah denganku, memintaku turun dari mobil dan berlari memeluk tubuhnya yang sudah ringkih.
Emak, maafkan aku yang telah menyakitimu, tapi Emak tahu kan betapa aku menyayangimu? Memujamu? Dan tidak pernah terbesit dalam benakku untuk meninggalkanmu atau menyakitimu. Tapi, kali ini aku meninggalkanmu dan menyakitimu, meski bukan aku yang menginginkan semua ini terjadi. Keadaan yang memaksaku melakukan semua ini. Aku tidak pernah merencanakan semua ini terjadi, dan Emak tahu akan hal itu. Biarlah yang lalu menjadi kenangan pahit dalam hidupku. Jika semua ini adalah akhir dari perjalanan panjang hidupku, maka aku pun akan merelakan diri mati di tiang gantungan.
Aku tidak ingin Emak melihatku mati dengan leher yang diikat tali, apalagi mati karena ditembak. Sebelum polisi membawaku pergi dari Emak, aku sudah meminta Emak untuk tidak datang menemuiku selama di bui, aku juga meminta Emak untuk berjanji tidak akan datang pada saat hukuman gantung itu menjadi akhir dari hidupku. Biarlah Emak menunggu kedatangan keranda mayatku di rumah, memandikanku, kemudian menyalatiku dan menyemayamkan tubuhku di dalam tanah sendirian.
Ibu mana yang rela melihat anaknya mati digantung? Setelah sekian lama Emak membesarkanku dengan tetesan keringat yang menjadi saksi perjuangan hidupnya, aku tahu perasaan Emak sedang tersakiti oleh jalan hidup yang aku lalui. Dan aku meminta maafmu, Mak.
Jika esok adalah akhir hidupku
Biarkan mentari tetap menyapa semesta
Meski esok aku tidak bisa melihat sinarnya
Namun Emak masih ada di semesta
Biarkan duka itu pergi dari dirinya
Biarkan bahagia menghampirinya
Dan membuat Emak tersenyum
Meski aku sudah tidak bisa melihat senyumnya

Emak berdiri di pinggir sawah, melihat aku yang sedang mengayunkan cangkul, membersihkan jerami yang tumbuh di pelang sawah. Padi sudah mulai menguning, tiga minggu lagi sudah saatnya untuk dipanen. Panen tahun ini sepertinya akan lebih melimpah dari tahun lalu. Padi-padi yang menggantung, menunduk menahan beratnya sang buah yang terlihat gemuk dan berenas. Semoga panen kali ini berkah, bisa memenuhi kebutuhanku dan Emak, serta bisa membagi sedikit rizki pada mereka yang membutuhkan.
Dari kejauhan, aku bisa melihat Kak Doni berjalan menuju ke arah Emak, kemudian berbicara dengan Emak dengan gerak tubuh yang sangat tidak mempunyai etika. Aku melihat Kak Doni mendorong-dorong tubuh Emak yang kurus. Emak terlihat menghapus air matanya, terduduk di pelang sawah karena dorongan Kak Doni. Aku berlari menuju Emak, sambil membawa cangkul yang tadi kupakai untuk membersihkan jerami. Aku mendengar ucapan Kakak pada Emak, meski samar-samar. Barulah setelah aku dekat, aku bisa mendengar dengan baik apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku memeluk tubuh Emak, kemudian membantunya berdiri.
“Mak, aku membutuhkan sertifikat sawah itu sebagai jaminan usahaku.” Ucap Kak Doni sambil membentak Emak yang sedang menangis.
“Tapi, Nak…Sawah ini adalah satu-satunya peninggalan mendiang Bapakmu, Emak tidak sanggup jika nantinya sawah ini akan menjadi milik orang lain, seperti yang sudah kamu lakukan pada rumah kita.”
“Aku hanya meminjamnya sebagai jaminan, bukan untuk dijual.” Jawab Kak Doni bengis.
Bukan kali ini sebenarnya Kak Doni memaksa Emak untuk memberikan sertifikat sawah sebagai jaminan untuk usahanya. Sudah berulang kali. Tapi Emak tidak pernah memberikannya pada Kakak. Kak Doni juga sudah berulang kali membuat Emak menangis. Dulu, ia juga meminjam sertifikat rumah sebagai jaminan untuk meminjam uang di Bank. Tapi Kakak tidak bisa melunasi hutangnya di Bank, kemudian pihak Bank menyita rumah yang kami tempati. Emak menangis saat mengetahui rumah disita oleh pihak Bank. Emak tidak membenci Kak Doni karena telah lalai menjaga amanah yang Emak titipkan. Emak hanya menangis, mengingat begitu banyak kenangan yang ada di rumah yang telah kami tempati hampir dua puluh tahun lamanya. Dan kini, aku dan Emak tinggal di gubuk yang ada di pinggir sawah. Sedangkan Kak Doni sudah tinggal di rumahnya sendiri. Aku tidak tega meninggalkan Emak sendirian, aku memilih untuk menemaninya.
“Nanti kalau ada rizki, kita bisa beli rumah lagi” ucap Emak kala itu dengan suara yang menahan luka.
Kak Doni melanjutkan serapahnya pada Emak.
“Dasar ibu tidak berguna” teriak Kak Doni, kemudian mendorong Emak hingga terjerambab ke tengah sawah, dan bermandikan lumpur. Kak Doni membiarkan Emak menangis di dalam lumpur, lalu beranjak pergi meninggalkan Emak yang sedang menangis dan aku yang mematung. Aku tidak sempat melindungi Emak dari tangan Kak Doni.
Aku tidak tahan melihat perlakuan Kak Doni, selama ini aku hanya diam melihat semua tingkahnya pada Emak yang semenan-mena. Kali ini, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kuayunkan cangkul yang sedang kupegang, dan kupukulkan dengan sekuat tenaga ke kepala Kak Doni. Ia tidak sempat mengelak, karena aku memukulnya dari belakang. Darah segar mengalir deras dari kepalanya, ia terjatuh.
“Ku…rang…..ajjjj…arrr” ucapnya terbata-bata, kemudian matanya menutup, mulutnya mengatup, detak jantungnya berhenti dan ia pergi untuk selamanya.
Itu adalah akhir kisah Kak Doni, dan kini aku sedang menunggu akhir kisahku. Setelah mengikuti proses persidangan yang  alot dan panjang, pihak pengadilan memutuskan hukuman gantung sebagai balasan atas apa yang telah kuperbuat. Mereka tidak mendengarkan Emak yang sudah membelaku mati-matian, menangis, dan mengharap pihak pengadilan tidak menghukum mati permata hatinya. Tapi, pengadilan menjadikan keputusan itu sebagai keputusan akhir. Bukannya aku tidak mencoba untuk membela diri, tapi semua pembelaanku seakan tidak ada yang benar. Semua pembelaan yang pernah aku ajukan menguap, hilang tak berbekas.
Emak, maafkan aku
Kini aku sudah tidak bisa lagi menjagamu
Membiarkanmu hidup sendirian di gubuk derita
Tapi aku percaya Tuhan akan menjaga Emak hingga akhir hayat

7 comments:

  1. Kok bikin cerita sedih sihh ;-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. idenya sedang pengen nulis yang sedih2 ni :))

      Delete
  2. hiks... hikss.. sampe merinding saya pak bacanyaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti tujuan saya menulis ini tercapai :)

      Delete
  3. Replies
    1. aihh bukan maksud hati ingin membuat pembaca menangis.

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan