June 16, 2012

Lika-liku Hidup


“Kak, aku mau berhenti kuliah”
Dahiku berkerut saat membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh adikku. Apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga tiba-tiba dia mengirimkan pesan singkat itu. Kopi yang tinggal setengah lagi kuletakkan di atas mejaku. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara isak tangis di ujung sana. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Dek, kenapa kok tiba-tiba mau berhenti kuliah?” tanyaku pelan, aku tidak ingin membuat dia semakin menangis mendengar pertanyaanku. Karena aku tahu betapa besar keinginannya untuk kuliah.
Masih belum ada jawaban. Khansa hanya diam, membiarkan aku mematung di ujung telpon.
“Dek, coba cerita, siapa tahu kakak bisa bantu.”
Khansa masih dengan diamnya.
“Ya, sudah kalo emang belum mau cerita. Ibu mana? Kakak mau ngomong ama Ibu.”
Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara Ibu yang sedang batuk.
“Ibu, ini Giffary”
“Siapa? Ibu tidak bisa mendengar suaramu. Ini siapa?” Ibu mengulangi pertanyaan itu.
“Ini Giffary, Bu. Putra Ibu.”
Hening. Mungkin saja Ibu sedang mencoba untuk mengingat tentangku. Sudah lama Ibu sering seperti ini, Ibu Pikun. Dia sering lupa. Terkadang aku harus mengulang kembali penjelasan yang sama hingga akhirnya Ibu mengenali suaraku.
“Ibu sehat kan?”
“Sebentar, Ibu masih belum bisa mengingat nama Giffary.”
“Sa, Giffay itu siapa?” Ibu bertanya pada Khansa.
Aku membiarkan Ibu berpikir sejenak, memutar kembali memorinya tentangku. Aku menangis. Ingin rasanya aku mendekap Ibu. Tapi, lagi-lagi jarak menjadi alasanku tidak bisa menatap wajah Ibu setiap waktu. Jarak juga yang membuatku harus rela bertemu dengan Ibu satu tahun sekali. Aku hanya bisa bertemu dengan Ibu saat Idul Fitri tiba. Namun aku selalu berusaha untuk sesering mungkin menghubungi Ibu dan Khansa adikku yang selama ini menjaga Ibu.
Dari ujung telpon, aku mendengar Ibu menangis.
“Giffary….kamu kapan pulang, Nak? Ibu rindu.”
Aku mengusap mataku yang basah.
“Insya Allah lebaran ini pulang, Bu.”
“Jangan lupa pesan Ibu. Baik-baik di rantau ya, Nak.”
“Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan.”
Setelah berbincang sejenak, Ibu mengakhiri pembicaraan kemudian memberikan telpon pada Khansa.
“Sa, kenapa? Coba jujur ama kakak.”
“Kak, maafin Khansa, ya. Mungkin gara-gara Khansa kakak jadi sibuk mencari uang demi biaya kuliahku. Demi biaya berobat Ibu. Khansa ingin membantu kakak mencari nafkah, Khansa tidak ingin terus-terusan melihat Ibu terbaring sakit-sakitan di rumah. Mungkin dengan Khansa berkerja akan membantu biaya pengobatan Ibu.
Aku marah mendengar apa yang baru saja diucapkan adikku. Namun aku mencoba untuk tenang. Aku tahu maksud Khansa baik. Mungkin saja dia tidak tega melihatku yang harus berkerja serabutan di Ibu Kota, demi membiayai kuliahnya, dan membiayai pengobatan Ibu.
“Sa, coba dengerin kakak. Kakak akan sedih jika harus merelakan kamu berhenti kuliah. Kamu masih ingat nggak pesan Ayah sebelum meninggal? Ayah selalu bilang “ Khansa harus bisa menyelesaikan kuliah. Khansa harus percaya bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya.” Kamu masih ingat kan? Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah memercayai itu dan melakukan yang terbaik. Biar kakak yang memikirkan semua biaya kuliahmu dan biaya pengobatan Ibu. Insya Allah kakak masih sanggup.”
Khansa menangis,
“Tapi, kak, semester ini Khansa tidak bisa ikut semesteran karena belum bayar uang semester. Tunggakan semester lalu juga masih belum lunas.” Ucapnya sambil terbata-bata.
Ah Tuhan, ini salahku. Aku masih belum bisa mengemban amanah yang Engkau berikan padaku untuk menjaga adik dan Ibu. Seharusnya aku berkerja lebih giat lagi agar bisa melunasi semua tunggakan biaya kuliah Khansa.
“Sekarang kakak cuma minta Khansa fokus ke semesteran aja, kakak akan usahakan untuk segera mengirim uang.” Aku mencoba untuk meyakinkan Khansa, agar dia kembali percaya selalu ada jalan untuk menyelesaikan semua ini. Dia memang masih belum bisa bijak dalam menyelesaikan permasalahan. Kadang dia terbawa emosi. Khansa memang sedikit tertekan saat kematian Ayah satu tahun yang lalu. Dia kadang berubah menjadi kekanak-kanakan. Mungkin dia merindukan kehadiran sosok Ayah.
“Nggak usah, kak. Khansa mau berhenti aja. Ada teman yang nawarin kerja di salon.”
“Khansa..” Nada suaraku sedikit meninggi. Dadaku bergemuruh, aku berusaha untuk lebih tegar lagi dengan jalan hidup yang sudah Tuhan berikan. Aku masih percaya dengan janji Tuhan. Bukankah Tuhan hanya meminta hamba-Nya untuk berusaha, berdoa, kemudian menyerahkan semua urusan pada Tuhan? Dan aku percaya dengan semua itu.
Saat Khansa sudah kembali yakin untuk terus melanjutkan kuliahnya, aku mengakhiri telpon. Aku kembali ke meja, menyesap sisa kopi yang sudah mulai dingin. Aku berpikir keras bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang dalam waktu yang relatif singkat. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu aku sudah mempunyai uang untuk biaya kuliah Khansa. Namun penyakit Ibu kembali kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Sekarang, biaya pengobatan sangat mahal. Semua uang kuliah Khansa terpaksa dipakai untuk berobat Ibu.
Khansa kembali mengirim pesan singkat.
“Kak, maafin Khansa, ya. Khansa janji akan terus kuliah, Khansa juga janji tidak akan mengecewakan kakak dan Ibu.”
Hujan mulai membasahi rumput yang bergoyang dihembus angin, dedaunan berbisik merdu menyanyikan lagu rindu. Aku menutup kedua mataku, berpikir sejenak. Kulirik arloji kecil di tanganku, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku masih belum bisa lelap dalam tidur. Bayangan Ibu, ayah, dan juga Khansa kembali hadir memenuhi benakku.
Tuhan, izinkan aku lelap sejenak dalam mimpi
Dan bangunkan aku di sepertiga malamMu
Aku ingin kembali bercerita padaMu
Ya Rabby...
Aku hanya ingin Engkau menjadi tempatku mengadu
Selalu ada jalan yang telah Engkau janjikan
atas Segala permasalahan hidup yang telah Engkau gariskan
Aku Percaya

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan