June 04, 2012

Tuhan, Damaikah Ibu di SisiMu?



“Ibuuuuuu”
Aku tersentak, terbangun dari tidur. Kepalaku terasa nyeri seperti ada luka. Kedua kaki dan tanganku dipenuhi perban yang sudah memerah karena bekas darah. Kugerakkan kedua kakiku, namun aku tidak bisa merasakan gerakan kakiku. Kucoba untuk menggerakkan kedua tanganku, namun kedua tanganku hanya diam menetap. Kucoba untuk memiringkan badanku, namun hanya bagian kepalaku yang mampu untuk bergerak, menoleh ke arah kiri dan kanan. Aku panik, aku berteriak sekuat tenaga memanggil ibu. Aku mencari-cari sosok itu, namun aku tidak bisa menemukan sosok ibu di dalam ruangan yang sekarang menjadi tempatku terbaring. Hanya ada beberapa kotak obat-obatan yang membuatku mual ingin muntah.
Aku masih berteriak memanggil ibu, namun ibu tak kunjung datang menghampiriku. Seorang suster masuk ke ruanganku, mungkin karena mendengar teriakanku yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya suster berbasa-basi.
Aku mengacuhkan suster yang tersenyum di depanku. Aku tidak memedulikan dirinya yang berusaha untuk menenangkanku, berusaha untuk mencari tahu apa yang mungkin bisa dia lakukan untuk membantuku. Aku masih berteriak memanggil ibu.
“Ibu….Ibu…Ibu….”
Entah sudah berapa kali kuteriakkan panggilan ibu, namun ibu tidak mendengar panggilanku. Ibu membiarkan aku terbaring lemah dengan kelumpuhan, ibu bahkan tidak ada di kamarku saat aku sedang dalam keadaan seperti ini.
“Dimana ibu, Sus?” tanyaku pada suster yang masih berdiri di hadapanku.
Kali ini suster tidak menjawab pertanyaanku. Ingin rasanya kugoncang tubuhnya agar dia mau menjawab pertanyaanku, namun aku tidak mampu melakukan itu. Aku mengulangi pertanyaanku pada suster yang mengenakan pakaian kebanggaannya sebagai suster.
“Suster, ibu dimana?”
Dia masih diam. Suster tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membelakangiku dan mengambil kotak obat-obatan. Aku tidak bisa mengingat apa-apa selain ibu. Kali ini ingatan akan ibu memenuhi benakku. Aku ingin bertemu dengan ibu. Apakah ibu baik-baik saja? Dimana ibu? Segudang pertanyaanku tentangnya tidak mampu kujawab sendiri. Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, namun aku malah terjatuh.
“aw…ww” Aku meringis menahan sakit.
Suster terlihat kaget saat mengetahui aku terjatuh. Dia sedang menyiapkan obat-obat yang mungkin harus aku minum demi kepulihanku. Dia membantuku kembali ke ranjang, membantuku berbaring. Aku masih menyebut “Ibu” dengan suara yang pelan. Tenagaku habis. Aku kelelahan.
“Silahkan istirahat, Mas” ujar suster sambil memberikan segelas air putih dan tiga butir pil yang berwarna putih dan berbentuk kotak.
“Haruskah saya meminum semua pil ini?”
Suster mengangguk. Aku meminumnya dengan bantuan suster, kemudian aku terlelap dalam tidur. Aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Mungkin dengan lelapnya tidur, aku akan bisa lebih tenang saat bangun. Dan aku berharap akan kehadiran ibu.

Ibu memakai kebaya berwarna ungu muda, rambutnya disanggul tinggi, wajahnya dipoles make up yang membuat ibu terlihat lebih muda dari usianya. Ibu memang tidak pernah merias wajahnya dengan berbagai macam bedak, atau memoles bibirnya dengan lipstick. Ibu tidak pernah melakukan itu. Ibu hanya membiarkan wajahnya terlihat apa adanya. Namun berbeda dengan hari ini, ibu merias wajahnya dengan bantuan seorang pegawai salon.
Hari ini adalah hari bahagia, karena hari ini ibu akan melihatku menikah dengan Jamilah calon istriku. Ibu sangat menyukai tutur kata Jamilah yang halus, senyumnya yang meneduhkan, jilbabnya yang menutupi bahu hingga dadanya, dan jubahnya yang terjuntai panjang menutupi lekuk tubuhnya. Dia wanita sholehah. Aku pun bahagia bisa meraih hatinya untuk menjadi pendamping hidupku.
“Jamilah itu adalah bidadari surga, dia baik, sholehah, dan dia juga cantik” ucap ibu padaku yang sedang memakai baju pengantin yang sudah kusiapkan.
Aku tersenyum mendengar ucapan ibu, kemudian aku menciumnya.
“Ibu, terimakasih atas kasih yang telah engkau berikan padaku. Raihan bahagia menjadi putra ibu.” Kemudian kami berpelukan. Ada air mata ibu yang menetes di jasku.
Menjelang akad nikah, ibu bertingkah sedikit aneh. Ibu mondar-mandir, kemudian memerhatikan suasana yang ada di sekeliling rumah. Ibu melakukan itu beberapa kali. Aku merasakan ada yang sedang ibu khawatirkan. Tapi, apa yang ibu risaukan? Mungkinkah naluri seorang ibu sedang merasakan sesuatu yang mungkin akan terjadi? Entahlah. Aku menghampirinya, ingin memastikan bahwa ibu baik-baik saja.
“Ibu, ada apa? Ayo masuk ke dalam, akad nikah akan segera dimulai.” Pintaku pada ibu.
Di wajah ibu, aku bisa melihat kegelisahan. Di wajah ibu, aku bisa melihat ada sesuatu yang sedang membuatnya takut. Namun ibu tidak memberitahuku apa sebenarnya yang membuatnya gelisah.
“Kamu masuk saja, ibu masih mau di luar.” Jawab ibu sambil memegang tasbih berwarna putih yang sedari tadi dipakainya untuk memuji Tuhan.
Aku tidak ingin memaksa ibu, aku membiarkan ibu di luar sendirian, sementara aku masuk ke dalam rumah, menunggu Pak Penghulu yang akan menikahkanku dengan Jamilah. Suasana akad nikahku memang tidaklah banyak undangan yang hadir. Aku memang sengaja tidak mengundang sanak saudara. Aku hanya ingin proses pernikahan ini dihadiri oleh kedua orang tua Jamilah, Ibu, Pak RW dan Pak RT yang menjadi saksi, Pak Penghulu, dan Kak Hamzah yang merupakan kakakku satu-satunya.
Aku mendengar suara gemuruh yang keras, suara teriakan dari warga, dan suara ibu yang memanggil namaku. Aku keluar rumah, namun belum sempat aku menghampiri ibu, banjir bandang  datang dan menghanyutkan rumah-rumah yang ada di kampungku, menghanyutkan warga yang tidak sempat menghindari amukan banjir yang datang secara tiba-tiba. Sepertinya air berasal dari bendungan yang ada di ujung desa, atau mungkin saja bendungan itu hancur karena tidak kuat menahan volume air yang terus meningkat bersamaan dengan musim hujan, hingga menyebabkan banjir bandang. Ibu ikut terbawa arus, ia melambaikan tangannya ke arahku, memanggil-manggil namaku, dan memintaku untuk menolongnya. Ibu mengucapkan puji-pujian pada Tuhan. Dalam keadaan seperti ini tidak banyak yang bisa ibu lakukan. Hanya ada Tuhan tempatnya mengadukan segala asa.
Aku juga hanyut dibawa arus air yang deras, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Badanku terasa sakit saat terbentur reruntuhan rumah. Darah segar mengalir dari tanganku saat tersangkut di puing-puing rumah yang runcing. Aku dan ibu terpisah, aku hanya bisa melihat ibu dari kejauhan, dan aku berteriak saat melihat ibu tertimpa sebuah pohon yang tidak bisa menahan kuatnya banjir yang sedang menghantam desaku. Ibu menghilang dari pandanganku, ada darah yang mewarnai aliran banjir, darah itu mungkin dari tubuh ibu yang tidak bisa menghindari pohon yang jatuh menimpanya. Beberapa saat kemudian, aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Hanya kegelapan yang ada di penglihatanku, suara anak-anak kecil yang berteriak meminta tolong, serta suara teriakan warga yang hanyut bersama air. Aku pingsan.

Kubuka kedua mataku, kulihat ke sekeliling ruangan, ada seseorang yang bersujud di atas sajadah yang ada di lantai. Ia memakai mukena putih bersih. Kudengar untaian doa yang ia panjatkan. Suara itu, aku mengenal baik suara itu. Mungkinkah itu ibu? Lidahku kelu saat aku ingin memanggil ibu, nafasku sesak saat aku ingin memintanya membantuku untuk duduk, dan airmataku jatuh saat aku ingin mengatakan padanya bahwa,
“Aku mencintainya”
Aku terus mencoba memanggil ibu,
“Ibu…”
Namun ibu tetap di atas sajadahnya, ibu sama sekali tidak menoleh ke arahku. Mungkinkah ibu sudah tidak bisa mendengarku? Setelah selesai berdoa, ibu berdiri, melipat sajadahnya dan meletakkannya di atas meja kecil tempat suster meletakkan obat-obatan. Ibu berjalan menghampiriku, mengusap keningku, dan menciumku. Dari senyumnya, ibu terlihat begitu bahagia. Raut wajah ibu berseri-seri.
“Relakan kepergian ibu, Nak” ucap ibu.
Setelah mengucapkan itu, ibu beranjak pergi menjauh dariku. Bayang-bayang ibu perlahan menjauh dan menghilang dari hadapanku. Aku berteriak memanggilnya, aku berteriak sekencang-kencangnya, namun ibu sudah pergi meninggalkanku.
“Ibu…uuuuuu….Ibu…uuuuuu”
Tiba-tiba seseorang mengguncang tubuhku, ternyata aku baru saja memimpikan ibu. Ada air mata di kelopak mataku. Ada kakak yang sekarang berdiri di sampingku.
“Kak, biarkan aku bertemu ibu” ucapku sambil menangis.
“Relakan kepergian Ibu, biarkan ia tenang di alam sana. Percayalah, Tuhan akan menempatkan ibu di surga-Nya.” Ucap Kak Hamzah, kemudian kami berpelukan.

Tuhan, di pertengahan malam-Mu
Aku kembali mengingat Ibu
Damaikah ia di sisi-Mu?
Berilah ibu tempat yang layak di sisi-Mu
Dan biarkan aku bersama ibu di surga-Mu

2 comments:

  1. huwahhhh... pak guru... *nangis sesengukan*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuih kok bisa sampai nangis gitu hehe :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan