July 14, 2012

[Berpulangnya Sang Dewi] - 7


Ketika Tuhan sudah menghendaki sesuatu
Maka tidak ada yang bisa menghalangi-Nya
Kita semua akan kembali pada-Nya


Suasana di Stasiun Kereta Api Purwokerto semakin sesak, para penumpang memenuhi Stasiun, menunggu kereta api yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing. Banyak pedagang yang menjual berbagai macam makanan sebagai bekal para penumpang selama di dalam kereta. Ada juga yang menjual berbagai macam makanan khas Purwokerto. Siapa yang tidak tahu dengan “mendoan”? Mendoan adalah salah satu makanan khas Purwokerto. Belum lengkap rasanya kunjungan ke kota ini tanpa menikmati sajian mendoan yang disantap saat masih hangat. Mendoan adalah sejenis tempe yang lebar dan tipis, digoreng dengan balutan tepung beras/glepung dan tepung terigu. Enak dimakan dengan dicocol ke sambal atau saus, atau bisa juga dengan cabe rawit yang pedesnya mak nyuss! Di mana mendoan bisa didapatkan? Di hampir seluruh penjuru Purwokerto bisa anda dapatkan mendoan ini. Cari saja penjual gorengan, niscaya anda takkan kesulitan menemukan mendoan.

Faraj, Imamah, Aldo, dan Hesta sudah menikmati rasa mendoan. Winda menyediakan mendoan  khusus buat sahabat-sahabat Evan. Winda memang istri idaman, dia pintar masak. Sahabat-sahabat Evan masih ingin berlama-lama di Kota Satria ini, mereka belum sempat berkunjung ke Lokawisata Baturaden yang terkenal itu, padahal jaraknya hanya 14 km dari Kota Purwokerto. Masih banyak makanan yang belum mereka nikmati selama di Purwokerto. Mereka belum menikmati Soto Sokaraja yang sering diceritakan Evan waktu masih kuliah di Jogja. Tapi, kerjaan menunggu dan memaksa mereka kembali ke Jogja.

“Kalo kalian datang ke Purwokerto, kalian harus mencoba sedapnya Soto Sokaraja,” ucap Evan dengan penuh semangat kala itu. Soto asal Purwokerto ini memakai ketupat serta berbumbu kacang dengan taburan kerupuk di mangkoknya. Sepertinya mereka harus kembali berkunjung ke Purwokerto dan menikmati sajian khas kota ini.

Evan ditemani istri tercintanya mengantarkan sahabat-sahabatnya ke Stasiun. Mereka duduk di kursi panjang yang disediakan pihak Stasiun, bercengkerama sebelum kereta datang dan memisahkan mereka. Hesta tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil menekuri buku yang sengaja dia bawa dari Jogja. Selain kocak, dia memang kutu buku. Beberapa hari yang lalu, selama di dalam kereta dari Jogja ke Purwokerto, dia hanyut dalam lembar demi lembar buku yang ada di tangannya. Dia membiarkan sahabat-sahabatnya sibuk dengan urusan masing-masing.

Selama kuliah di Jogja, hampir setiap akhir pekan Hesta menyambangi toko buku dan menghabiskan hari dengan membaca. Kadang dia hanya membaca di toko buku favoritnya tanpa membeli buku yang sudah dia baca. Jika sedang ada rizki yang berlebih, baru dia akan membeli buku. Membaca adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Dia bisa lupa bahwa sekarang ada sahabat-sahabatnya yang duduk di dekatnya, sedangkan dia hanya diam menekuri buku filsafat yang berukuran cukup tebal.

“Coba lihat makhluk satu ini, seharusnya kalian memastikan dia tidak membawa buku saat berkunjung ke sini. Jadinya seperti ini, dia bisa lupa segalanya dan hanya sibuk dengan buku yang ada di tangannya.” Ucap Evan sambil menepuk pundak Hesta.

Hesta tersenyum simpul, kemudian kembali membalik lembar demi lembar bukunya.
“Aw..www.. sakit..,” teriak Hesta.
Aldo memukul pundak Hesta sedikit keras dengan tas punggung miliknya.
“Kita di sini mau lari sejenak dari rutinitas kampus yang kadang memusingkan, dan ikut merasakan kebahagiaan Evan yang baru saja menikah, lo malah sibuk sendiri.” Ucap Aldo sambil memonyongkan bibirnya tiga senti kemudian mengambil buku filsafat yang dipegang Hesta dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Evan dan yang lain tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya. Gelak tawa mereka memenuhi ruang tunggu penumpang. Mereka memang tidak bisa diam jika sedang bersama. Berat rasanya berpisah, tapi sekarang mereka sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Faraj sudah hidup bersama dengan Imamah istrinya dan sedang menunggu kelahiran buah hati mereka. Imamah sedang hamil tiga bulan. Evan baru saja menikah dengan Winda, wanita yang sudah lama mengisi relung hatinya. Sedangkan Aldo dan Hesta masih sibuk menyelesaikan program magister di UGM. Hesta dan Faraj sama-sama mengambil Program Pascasarjana Ilmu Filsafat, sedangkan Aldo mengambil Program Pascasarjana Ilmu Budaya.

“Giliranku kapan?” Celetuk Hesta.
“Kapan apanya?” Jawab Aldo
“Nikah..”
“Cari dulu calonnya, baru mikirin kapan.” Ujar Faraj.

Hesta diam, sahabatnya tidak pernah tahu bahwa dia sendiri karena masih belum bisa melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Seseorang yang dicintainya. Mereka tidak perlu tahu tentang ini, ucapnya dalam hati.

¤

Imamah dan Winda membiarkan empat sahabat karib itu bernostalgia mengenang kembali kebersamaan mereka lima tahun yang lalu, saat mereka pertama kali menjadi mahasiswa di UGM. Winda bertanya banyak tentang kehamilan Imamah, dia juga berharap akan segera diberi momongan. Dia tidak ingin menunggu terlalu lama waktu bahagia itu datang.

“Gimana kehamilanmu, Mbak?”
“Alhamdulillah, kandungan saya baik-baik saja.” Jawab imamah sambil mengizinkan Winda menyentuh perutnya yang sudah sedikit membesar. Meski sebenarnya belum terlihat jelas bahwa dia sedang mengandung. Maklum, perutnya ditutupi oleh jubah yang dia kenakan. Jubahnya berukuran gombrong sehingga tidak tampak bahwa dia sedang hamil.

Wajah Imamah berseri-seri menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengetahui bahwa dia hamil. Saat itu, Imamah merasakan mual-mual, kemudian dia periksa ke dokter. Setelah diperiksa, dokter tersenyum dan memberitahunya bahwa dia sedang hamil. Sedangkan saat itu Faraj sedang di kampus, Imamah sengaja tidak memberitahu suaminya melalui telpon, dia menunggu suaminya pulang ke rumah, kemudian memberitahunya bahwa dia sedang hamil.

“Mas, aku….” Imamah menghentikan ucapannya dan membiarkan Faraj penasaran dengan apa yang akan diberitahunya.
“Kamu Kenapa?
“Aku.. aku..” Imamah sengaja berlama-lama agar suaminya penasaran.
“Iya, kamu kenapa?” Faraj semakin penasaran.
“Aku hamil, mas.”
“Alhamdulillah..,” Faraj mengucapkan syukur pada Tuhan, kemudian langsung memeluknya. Sejak saat itu, dia tidak pernah membiarkan istrinya kerja terlalu berat. Faraj suami yang sangat baik, dia mau membantunya mencuci pakaian, masak, bersih-bersih rumah dan lain-lain. Imamah bahagia menjadikannya sebagai pendamping hidupnya.

Winda menjadi pendengar yang baik, mendengarkan setiap cerita dari Imamah tentang kebahagiaannya membina rumah tangga dengan Faraj. Dalam hati, Winda berdoa semoga dia bisa merasakan kebahagiaan yang sama saat kehamilan nanti. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin cepat-cepat merasakan kebahagiaan seorang wanita saat mengetahui bahwa dia sedang hamil.

Namun, beberapa menit kemudian wajah Winda berubah menjadi murung. Ada air mata yang perlahan membasahi kelopak matanya.

“Winda, kamu nggak apa-apa kan?” Imamah mengeluarkan sapu tangan dari balik jubahnya, kemudian memberikannya pada Winda.

“Mbak, aku ingin memberitahumu satu hal, sampai hari ini aku belum pernah melihat ibu kandungku. Aku tidak pernah bisa menggambarkan bagaimana wajah wanita yang sudah mengandungku selama sembilan bulan, kemudian melahirkanku dan membiarkanku menangis di depan panti asuhan, kemudian pergi.” Ucap winda sambil terisak.

“Siapa yang tidak ingin melihat ibu kandungnya di dunia ini?”

Begitu pun dengan Winda, dia ingin sekali bertemu dengan ibu kandungnya meski hanya sejenak.
Imamah memeluk Winda, dia tidak ingin menanyakan hal itu lebih jauh.

“Tapi, kamu patut bersyukur, hidupmu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu. Orang tua yang sangat perhatian denganmu, dan sekarang ada Evan yang sangat mencintaimu. Aku sering mendengar cerita Faraj tentang kisah cinta kalian berdua. Menurutku Evan laki-laki yang baik, dia sangat sederhana dalam penampilan, dan dia adalah laki-laki yang berbudi. Aku yakin kamu bisa hidup bahagia dengannya.” Imamah mencoba untuk menenangkan Winda.

“Tapi.. mbak”
“Sudah, jangan sesali semua yang sudah terjadi, sekarang kamu harus kuat menerima semua ini. Percayalah, Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk setiap hamba.”
Winda menghapus air matanya, kembali tersenyum. “Terimakasih, mbak.”
Keduanya tersenyum, dan berpelukan.
“Tuhan mencintaimu dengan cara yang kadang tidak Engkau mengerti,” bisik Imamah pada Winda.

¤

Evan masih asyik bercanda bersama sahabat-sahabatnya, sebelum akhirnya sebuah pesan singkat masuk ke handphone-nya, dia langsung membuka dan membaca pesan yang masuk. Wajah Evan berubah menjadi tegang, dia kelihatan begitu panik.

“Ada apa Evan?” Aldo mendekati Evan.
“Aku harus segera pulang, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Jawabnya.
“Ada apa sebenarnya?” Faraj mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bu Zaitun masuk Rumah Sakit, aku harus memberitahu Winda tentang ini.” Jawabnya.

Evan langsung meninggalkan ketiga sahabatnya, kemudian mendekati istrinya yang duduk tidak jauh dari mereka. Winda masih berbincang banyak hal dengan Imamah, begitulah wanita, jika sudah cocok satu sama lain, maka obrolan seputar wanita tidak pernah habis. Evan memegang tangan istrinya, kemudian memberitahukan keadaan ibunya yang baru saja dibawa ke rumah sakit. Evan mendekap istrinya, dia tidak ingin membiarkan istrinya lemah menghadapi apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Sahabat-sahabat Evan membatalkan jadwal kepulangan mereka, kemudian ikut bersama Evan menjenguk Bu Zaitun yang sedang dirawat di Rumah Sakit Wijaya Kusuma (DKT). Sesampainya di Rumah Sakit DKT, Winda langsung menanyakan tempat ibunya dirawat ke bagian informasi. Winda langsung menuju ruang UGD dan meminta izin untuk melihat keadaan ibunya.

Evan menemui dokter yang memeriksa keadaan mertuanya, menanyakan bagaimana keadaan Bu Zaitun. Dokter menjelaskan bahwa sakit yang diderita Bu Zaitun sudah cukup parah dan perlu perawatan lebih lanjut. Dia harus dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya agar bisa dilakukan pengobatan secara maksimal.

“Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang ingin Engkau berikan pada Winda? Belum lama Engkau berikan dia tekanan saat mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung Bu Zaitun dan Pak Ahmad, sekarang Engkau sudah memberikan dia cobaan seberat ini. Tuhan, beri istriku kesabaran agar bisa menerima semua cobaan yang Engkau berikan dengan bijaksana.”

Doa-doa itu Evan ucapkan dalam hatinya, dia berusaha terlihat tenang di depan istrinya, memegang erat tangan istrinya agar dia tidak rapuh melihat kenyataan hidup yang harus dia alami. Faraj, Imamah, Aldo dan Hesta ikut mendoakan kesembuhan Bu Zaitun.

¤

Pak Ahmad duduk menyendiri di ruang tunggu, dia tidak sanggup melihat keadaan istrinya. Faraj menghampiri Pak Ahmad dan berusaha menenangkannya.

“Ini semua adalah cobaan dari Tuhan, kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. Semoga Bu Zaitun diberikan yang terbaik oleh Tuhan.” Faraj mengucapkan kalimat itu sambil melihat kedua bola mata hitam Pak Ahmad yang sudah basah dengan air mata. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mempunyai siapa-siapa untuk menumpahkan segala kesedihan yang  dirasakannya. Dia hanya hidup berdua dengan istrinya, sedangkan Winda tinggal bersama dengan Evan.

Winda masih menangis di samping ibunya, berusaha menumbuhkan butir-butir kesabaran yang mulai hilang dari dirinya. Rasanya dia tidak sanggup melihat ibunya menahan penyakit ini sendirian. Seandainya bisa, ingin dia bertukar tempat dengan ibunya. Biarlah dia yang menderita semua ini, asalkan ibunya tetap sehat dan bisa tersenyum kembali. Winda belum siap menerima resiko terburuk jika harus kehilangan orang yang dia cintai, yang selama ini telah mendidiknya, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia berjanji tidak akan membiarkan ibunya tinggal berdua saja bersama bapaknya. Dia berjanji akan merawat ibunya dengan baik. Terlambatkah semua ini Tuhan? Ada rasa bersalah dalam diri Winda, selama ini dia sudah membiarkan ibunya tinggal berdua saja bersama ayahnya. Tuhan, beri ibu kekuatan menahan semua ini agar dia bisa kembali pulih.

¤

Suara adzan Maghrib berkumandang, memanggil umat muslim untuk segera melaksanakan shalat Maghrib dan meninggalkan sejenak aktifitas mereka. Seruan adzan mendayu-dayu menyentuh hati umat muslim agar tidak lupa melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim, yaitu shalat. Faraj menjadi imam shalat maghrib di musholla rumah sakit, sedangkan yang lain menjadi makmum. Setelah selesai shalat, mereka berdoa bersama-sama demi kesembuhan Bu Zaitun. Winda menangis haru, mengucapkan untaian doa untuk ibundanya. Mengharapkan kesempatan dari yang Maha Kuasa agar ibunya bisa kembali pulih dan bisa menjalani hidup bersama dengannya.

Selepas maghrib, Evan mengurus semua persyaratan agar bisa membawa Bu Zaitun ke Rumah Sakit Banyumas. Lebih cepat lebih baik, itu yang disarankan oleh dokter. Setelah semua siap, mereka berangkat menuju RS Banyumas. Faraj, Evan, dan Aldo menemani Pak Ahmad di dalam mobil ambulan yang membawa Bu Zaitun. Sedangkan Hesta ikut bersama Winda dan Imamah dalam sebuah taxi. Selama di perjalanan menuju Rumah Sakit, Bu Zaitun beberapa kali batuk yang disertai dengan darah. Pak Ahmad kembali menangis, tidak tega melihat istrinya menderita.

Dalam keadaan sakit, Bu Zaitun memegang tangan suaminya, mencoba untuk mengucapkan sesuatu. Pak Ahmad mendekatkan wajahnya ke istrinya, agar dia bisa mendengar apa yang ingin diucapkan oleh istrinya.
“Pak, jaga Winda baik-baik. Mungkin ibu sudah tidak lama lagi, ibu sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini. Ibu ingin pergi jauh..,” suara Bu Zaitun terputus-putus, tapi Pak Ahmad bisa mengerti apa yang diucapkan istrinya.
“Ibu jangan bicara seperti itu, ibu harus kuat.”

Evan, dan dua sahabatnya ikut menguatkan Pak Ahmad. Setelah mengucapkan pesan itu, Bu Zaitun kembali ke sisi Tuhannya. Faraj sempat menuntun Bu Zaitun mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah” sebagai ucapan terakhir yang diucapkan olehnya. Dengan terbata-bata, Bu Zaitun mengikuti Faraj mengucapkan kalimat tauhid. Setelah mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah”, dia memejamkan kedua matanya untuk selamanya. Suara tangis memecah keheningan malam, Pak Ahmad mengguncang tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa, berharap ini semua tidaklah nyata, berharap istrinya bisa kembali melihatnya, dan hidup bersamanya.

Setelah sampai di RS Banyumas, Bu Zaitun diperiksa oleh dokter yang bertugas jaga malam. Dokter memastikan bahwa nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Winda langsung memeluk erat tubuh ibunya yang sudah pucat, mencium pipinya, memegang erat-erat kedua tangan ibunya yang sudah tidak bisa membalas genggaman eratnya. Kembali sudah Sang Dewi, yang selama ini telah melukiskan begitu banyak kebaikan kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Evan memeluk istrinya, mendekapnya dalam badai kehidupan. Inilah hidup, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi Tuhan. Dia akan mengambil kehidupan ini jika masanya sudah tiba. Tidak ada satu pun yang bisa mencegah datangnya maut.

¤

Bu Zaitun sudah kembali ke sisi Tuhannya, banyak sanak saudara yang hadir pada saat pemakamannya. Winda masih sesenggukan karena ditinggal oleh ibundanya. Evan berada di sampingnya, menguatkannya dalam menghadapi cobaan ini. Kedua orangtua Evan juga berusaha menenangkan Pak Ahmad yang masih belum percaya dengan kenyataan ini.

Kini, Pak Ahmad hanya sendiri menjalani hidup, tidak ada lagi Bu Zaitun yang biasanya memasakkannya makanan, membangunkannya untuk shalat malam, dan menguatkannya saat dia sedang lemah. Mereka hidup bersama hampir tiga puluh tahun lamanya, menjalani lika-liku kehidupan, melawan badai kehidupan dengan gagah berani, hingga mereka bisa bertahan menjaga keutuhan cinta mereka. Pak Ahmad sudah membuktikan ketulusan cintanya, menepati janjinya tiga puluh tahun yang lalu untuk terus bersama dengan istrinya hingga ajal memisahkan keduanya. Cinta mereka abadi, dan cerita kebersamaan mereka akan menjadi cerita indah bagi anak cucunya nanti.

Winda masih ingat dengan baik pesan ibunya beberapa hari sebelum dia menikah dengan Evan.

“Dalam membina rumah tangga, akan ada badai yang menerpa, hadapi semua rintangan itu dengan penuh kesabaran. Percayalah, akan ada hikmah di balik semua lika-liku hidup ini. Jangan lupakan bangun malam dan minta petunjuk dari-Nya, agar kalian menjadi keluarga yang diridhoi-Nya.”

Winda sedang mencoba untuk berdamai dengan hatinya, mencoba untuk menerima semua ketentuan Tuhan. Semua ini adalah kehendak-Nya, tidak seharusnya Winda membenci Tuhan yang telah menentukan kapan seseorang akan kembali ke sisi-Nya.



No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan