July 22, 2012

Kesalehan Musiman


Ramadhan, haruskah aku berpura-pura merindukan kedatangamu? Kedatanganmu yang disambut dengan gegap gempita seluruh umat “Muslim” di permukaan bumi. Entahlah, nafsu masih memenuhi relung hatiku, aku masih belum bisa menyambutmu dengan ketulusan. Sebuah ketulusan yang bukan hanya sekedar sebuah “Rutinitas” belaka.
Aku terdiam, saat “Marhaban yaa Ramadhan” di senandungkan dengan merdu dari masjid-masjid yang ada di desaku,
“Apakah aku benar-benar mengharapkan kedatanganmu?”
Kusimpan kembali pertanyaan itu, kemudian melangkahkan kaki ini menuju masjid yang hanya berjarak 3oo meter dari rumahku. Dan masjid itu, hanya sempat aku datangi saat “Ramadhan” tiba. Setelah Ramadhan berlalu pergi meninggalkan umat “Muslim”, aku pun berlalu dari kebiasaan baik saat “Ramadhan” datang menghampiri. Masjid itu pun kembali sepi dari “Jamaah”.
Ah.. Tuhan, sepertinya aku masih belum bisa memaknai “Ramadhan” yang di dalamnya Engkau sediakan pahala yang berlipat ganda, di dalamnya Engkau sediakan satu malam yang mana kebaikannya setara dengan “Seribu Bulan”. Aku hanya menjadi hambaMu saat Ramadhan datang menjelma, memasuki hati jutaan umat Muslim yang ada. Kesalehan yang aku tunjukkan padamu hanya sebatas “Kesalehan Musiman” yang akan hilang bersama dengan berakhirnya bulan Ramadhan.
Ramadhan, rasanya aku tidak pernah benar-benar menyambut kedatanganMu layaknya yang dilakukan oleh “Nabi dan Sahabatnya”. Aku tidak pernah berhasil mendapatkan peringkat “Taqwa” yang Tuhan janjikan sebagai hadiah dari puasa di bulan “Ramadhan”. Tidak pernah berhasil.
Karena nyatanya, aku menyambut kedatanganmu dengan “Membuka kembali Al-Qur’an” yang telah lama tersusun rapi di lemari kamarku, memakai baju “koko” agar aku terlihat bahagia menyambut kedatanganmu, kemudian menjalankan ibadah “Puasa” hanya sebagai sebuah “Tradisi” yang dilakukan turun-temurun.
Aku tidak pernah benar-benar tulus menjalankan “Puasa” selama engkau datang, aku hanya menjalankan “Puasa” sebagai tradisi keagamaan, tidak lebih.
Lantas, dimana semua kebaikan yang aku lakukan saat engkau datang menghampiriku? Mengapa setelah engkau pergi, lantas “Shalat jama’ah ke masjid”, “Membaca Al-Qur’an”, “Menyantuni Anak-anak Yatim”, “Mengadakan Buka Bersama Anak Jalanan”, pun ikut pergi meninggalkanku.
Lantas, jika demikian, pantaskah aku termasuk orang-orang yang mendapatkan peringkat “Taqwa” hanya dengan melakukan sebuah “Tradisi Keagamaan”?
Mungkin, jika nanti Engkau datang menghampiriku kembali, “Aku Masih Seperti yang dulu”, masih dengan segala keegoisan diri, masih menjalankan kewajiban “Puasa” sebagai sebuah rutinitas belaka, tidak meninggalkan bekas apa pun.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan