July 14, 2012

[Siapakah Dia?] - 9



Aku ingin mengenalnya
Menggenggam erat kedua tangannya
Mencium keningnya dan memeluk erat tubuhnya


Pernahkah kalian merasakan hidup tanpa tahu siapa yang sudah melahirkan kalian ke dunia ini? Tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah menggenggam erat kedua tangannya, tidak pernah mendengarkan panggilan “anakku” dari dia yang sudah melahirkan kalian, Pernahkah? Aku berharap kalian tidak merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini. Aku sedang mencoba untuk berdamai dengan hatiku, berdamai dengan waktu, dan berdamai dengan Tuhan.

Sejak aku tahu bahwa aku bukanlah anak kandung dari mereka yang sudah membesarkanku, mendidikku, dan memberikanku kasih sayang yang begitu besar, aku merasakan ada keinginan yang begitu besar untuk bertemu dengan dia yang akan kupanggil “Ibu”, mencium keningnya, memeluk erat tubuhnya, dan mencurahkan segala rasa yang telah lama kusimpan di dalam dada. Betapa aku merindukan semua itu, aku ingin segera bertemu dengannya. Tapi, dimana aku bisa bertemu dengannya? Tidak ada seorang pun yang mengenal orangtua kandungku. Haruskah aku membenci Tuhan? Karena Dia telah menyembunyikan dia yang telah melahirkanku ke dunia ini. Haruskah?

Untuk seseorang di luar sana yang sudah melahirkanku ke dunia ini, dan membiarkanku hidup tanpa mengenalnya.

Ibu, meski aku tidak pernah mengenalmu, namun aku ingin bertemu denganmu walau hanya sekali dalam hidupku. Izinkan aku memanggilmu “Ibu” di hadapanmu, kemudian menggenggam erat tanganmu, dan memelukmu. Aku tidak membencimu yang telah menelantarkanku di depan gerbang panti asuhan, aku tidak membencimu. Aku percaya, ibu pasti mempunyai alasan yang jelas mengapa ibu tega membiarkanku menangis di tengah malam yang gelap, sendirian di dalam box bayi itu. Aku juga yakin bahwa ibu sangat menyayangiku. Ibu sengaja memilih panti asuhan karena ibu ingin aku berada di tempat yang akan merawatku dengan baik. Ibu, dimana pun engkau berada, aku mencintaimu dan merindukanmu.
Acap kali aku menangis karena tidak pernah bisa membayangkan wajah ibu dalam diriku. Aku tidak pernah bisa menghadirkan wajah ibu dalam ingatanku. Aku tidak bisa, karena memang aku tidak pernah melihat ibu. Aku sama sekali tidak mempunyai seberkas ingatan tentangmu. Ibu, pernahkah ibu menanyakan keadaanku? Pernahkah ibu mendoakan agar aku baik-baik saja meski jauh darimu? Aku berharap ibu merindukanku, merasakan hal yang sama seperti yang kurasa.
Ibu, malam ini hujan cukup deras, cukup membasahi hatiku yang sedang rindu akan dirimu. Ibu,  aku menangisimu. Aku memanjatkan doa-doa untukmu, agar Tuhan memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Aku tidak memaksa ibu untuk mengakuiku sebagai anak ibu, aku hanya ingin tahu wajah ibu. Dengan melihatmu, akan mudah bagiku menceritakan wajahmu pada hatiku saat ia merindukanmu.
Ibu, sudah kering rasanya air mataku menangisimu. Aku hanya ingin bertemu denganmu walau hanya satu kali saja dalam hidupku.

Winda menyatakan keinginannya untuk bisa mengetahui siapa sebenarnya ibu kandungnya kepada suaminya. Evan mengerti keinginan istrinya cukup kuat, dia harus bersedia menyediakan waktu untuk menemani istrinya mencari tahu siapa sebenarnya ibu yang telah melahirkannya.

“Nanti kita coba ke panti asuhan, siapa tahu Bu Elda bisa memberikan penjelasan tentang ini,” bujuk Evan.

Winda bersandar di dada suaminya, mengeluarkan segala keluh kesah yang sedang melanda hatinya. Kerinduan pada seseorang yang dia sebut sebagai “ibu”. Ahh Ibu.. siapakah engkau? Dimana aku bisa menemuimu? Semua pertanyaan itu hanya bisa dia ucapkan, dan belum ada yang bisa memberikan jawaban yang menenangkan hatinya.

Bunga-bunga cinta antara Evan dan Winda semakin mekar mewangi, menebarkan wangi-wangi surga yang menyejukkan kalbu. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh cinta, kala suka maupun duka mereka tetap berpegang teguh pada janji suci yang pernah mereka ucapkan pada saat akad nikah. Janji suci itu adalah ikatan yang menguatkan mereka, menumbuhkan keyakinan untuk membangun cinta menjadi bangunan yang kokoh, tinggi, dan meraih ridho Tuhan.

Di balik kesederhanaannya, Evan adalah sosok yang sangat pengertian, dan lembut tutur katanya. Dia adalah suami yang baik.
“Sayang, kamu tahu nggak kenapa dulu mas nggak pernah mengajakmu jalan, nonton, atau duduk berduaan di tempat yang romantis seperti muda-mudi lain yang sedang dilanda cinta?”
Winda menyentuh pipi suaminya, tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Karena mas malu,” jawabnya singkat
“Malu? Itu jawaban yang sangat kurang sempurna, hehe. Mas hanya ingin berdua denganmu, jalan bersama dalam rangka merayakan cinta kita pada saat engkau sudah sah menjadi istri. Karena bagiku, masa pacaran yang paling indah adalah pada saat kita sudah menjalin ikatan suci pernikahan. Bagiku, melihat senyummu adalah sebuah anugerah. Bertemu denganmu di depan gerobak sayur itu sudah cukup mengobati rinduku padamu.”

“Ehm.. mas lagi ngegombal,” Winda mencubit pipi suaminya.
Kehangatan tampak jelas dari dua insan yang sedang bahagia merayakan cinta. Memang tidak selamanya jalanan itu lurus, ada kalanya kita harus berbelok arah, menemukan pelajaran-pelajaran berharga dari setiap proses kehidupan. Evan berusaha mendekap istrinya saat angin badai menerpa keutuhan cinta mereka. Evan berusaha menjadi pendengar yang baik saat Winda butuh seseorang yang bisa diajak untuk mendengarkan curahan hatinya.

Satu kebahagiaan menambah kuatnya bangunan cinta mereka, saat Evan pertama kali mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung. Kebahagiaan itu tidak bisa dia ucapkan, tidak mampu dia gambarkan dalam kata-kata. Puji syukur ia panjatkan pada Tuhan atas anugerah ini. Doa-doa dia panjatkan agar istri tercinta bisa kuat dan selalu diberi kesehatan oleh  Tuhan. Kadang dia membayangkan Winda sedang menggendong buah hatinya, mendengar tangis bayinya, dan mencium bayi mungil itu. Sungguh, seandainya semuanya bisa lebih cepat terjadi, maka ingin rasanya hari ini dia bisa melihat anak yang masih berada dalam kandungan istrinya.

“Mas, jika anak kita nanti laki-laki, aku ingin dia diberi nama ‘Farhan’ yang berarti bergembira, senang, dan girang. Aku ingin nama itu menjadi doa agar anak kita bisa merasakan kebahagiaan dalam keadaan apa pun. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu lahir dari dalam diri.” Ucap Winda.

Evan membiarkan istrinya menyatakan segala keinginannya.

“Kalo anak kita adalah perempuan, maka mas akan memberikan dia nama ‘Farah’ yang berarti kesenangan dan kebahagiaan,” jawab Evan.

Keduanya berharap semua itu bisa menjadi kenyataan yang akan menambah kebahagiaan mereka. Setelah berbicara tentang banyak hal, keduanya melepaskan segala kepenatan, merebahkan tubuh ke atas kasur dan tidur lelap. Esok hari, petualangan akan dimulai kembali, mereka berdua akan mengunjungi panti asuhan, dan menanyakan tentang siapa sebenarnya orang tua kandung Winda. Mereka berharap, besok mereka bisa menemukan seberkas cahaya yang akan menuntun mereka menuju seseorang yang sudah lama ingin mereka temui.

¤

Pukul tujuh pagi, Bang Ucup masih setia dengan gerobak sayurnya, mendorongnya dengan penuh harapan bahwa hari ini sayur mayur yang dia bawa akan banyak terjual. Dia tidak mempunyai kesibukan yang lain, hanya gerobak itu yang menjadi mata pencahariannya, sebagai perantara rizki dari Tuhan. Dia membersihkan peluh yang membasahi wajahnya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.

“Selamat pagi Bang Ucup,” Winda menyapa Bang Ucup yang sedang melayani pembeli.
“Pagi, sekarang suasana sudah beda. Sudah tidak ada lagi yang memadu kasih di dekat gerobak Bang Ucup.” Ujar Bang Ucup sambil tertawa kecil.
“Makanya, Bang Ucup harus segera menikah. Biar bisa merasakan indahnya bahtera rumah tangga yang dibangun atas nama cinta,” jawab Evan sambil melirik istrinya.
“Tukang sayur seperti abang ini nggak menarik hati wanita,” jawab Bang Ucup sambil menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke udara.

Bang Ucup masih sendiri. Kesendiriannya bukan karena dia tidak ingin berumah tangga, tapi karena jodoh belum dia temukan. Tuhan masih membiarkannya menjalani hidup ini sendirian, ditemani oleh gerobak sayurnya. Pernah dia membina cinta dengan seorang wanita, namun cintanya kandas di tengah jalan. Cinta kadang menyisakan sakit yang dalam dan butuh waktu yang lama untuk kembali pulih. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Bang Ucup, dia masih mengubur dalam-dalam segala kenangan yang telah menyisakan luka di hatinya. Belum ada keberanian dirinya untuk membuka lembaran baru, membuka hatinya untuk seseorang yang akan menemaninya menjalani hidup. Sekarang, kesendirian adalah pilihannya dan berharap Tuhan akan segera mempertemukan dia dengan belahan jiwanya.

“Mau kemana Mas Evan?” Tanya Bang Ucup
“Mau ke Panti Asuhan al-Barokah, Bang. Ada hal yang mau diurus disana,” jawab Evan, kemudian pergi bersama istrinya mengendarai sepeda motornya.

Jalanan Purwokerto masih lengang, hari ini hari libur. Kabut masih belum beranjak meninggalkan pagi, masih betah berlama-lama menyaksikan hiruk pikuk manusia di pagi hari. Meski sudah pukul tujuh pagi, tapi kabut masih tetap setia menemani. Winda merangkul pinggang suaminya, membiarkan hembusan angin menyapanya. Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih dua jam lamanya, panti asuhan yang menjadi tujuan mereka berada di Wonosobo, disana dia ditemukan, kemudian dibesarkan oleh Bu Zaitun dan Pak Ahmad. Sebelumnya, Winda belum pernah ke sana. Saat dia tahu bahwa dia hanyalah anak angkat, dia sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Evan. Masalah itu terlupakan sejenak dengan kebahagiaannya menjadi seorang istri. Dan kini, dia semakin merasakan kerinduan yang mendalam terhadap seseorang yang belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.

Sesampainya di Panti Asuhan al-Barokah, mereka disambut oleh Bu Elda yang sudah renta, dia sudah menjaga anak-anak yang ada di panti asuhan hampir 30 tahun lamanya. Sudah banyak anak asuhnya yang berumah tangga, dan mempunyai keturunan. Jasanya cukup besar, kasih sayangnya tidak pernah habis untuk dicurahkan pada anak-anak yang berada di panti asuhan. Winda mencium tangan Bu Elda, kemudian dia dan Evan suaminya duduk di ruang tamu. Winda bermaksud memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, akan tetapi Bu Elda sudah terlebih dahulu tahu tentangnya.

“Bu Zaitun sudah banyak bercerita tentangmu, saya tahu maksud dan tujuanmu datang kemari.” Ucap Bu Elda, kemudian dia berdiri, berjalan ke kamarnya dan mengambil sesuatu. Dia kembali ke ruang tamu dan membawa sebuah kotak kecil berwarna pink di tangan kanannya.

“Hanya ini yang bisa ibu bantu,” ucapnya sambil memberikan kotak itu pada Winda.
Evan meyakinkan istrinya untuk kuat menerima apa pun yang terjadi setelah melihat isi kotak itu. Winda sudah menangis, padahal dia belum membuka kotak itu. Dia sama sekali belum mengetahui apa isinya, namun dia sudah tidak tahan membendung air matanya. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Evan menghapus air mata itu dengan kedua tangannya, dan membiarkan Winda membuka kotak itu. Winda melihat selembar kertas yang sudah usang, dan sebuah foto seorang ibu yang sedang menggendong bayi. Foto itu bukanlah foto yang berwarna, melainkan hanyalah foto hitam putih. Winda membaca tulisan yang ada di kertas itu.

Putriku..
Ibu sengaja menulis surat ini dan berharap engkau akan membacanya saat sudah dewasa kelak. Ibu sengaja tidak mengizinkanmu membaca surat ini sebelum engkau tumbuh dewasa dan bisa menerima semua ini dengan lapang dada.
Putriku..
Ibu berharap siapa pun yang menemukanmu akan merawatmu dengan baik. Itu adalah harapan ibu. Ibu juga berharap engkau akan dijadikan anak oleh keluarga yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati, sehingga mereka menyayangimu dengan sepenuh hati. Itu adalah doa-doa yang selalu ibu panjatkan. Ibu sengaja memilih panti asuhan ini, karena ibu tahu mereka tidak akan menyia-nyiakanmu, mereka akan merawatmu, dan mendidikmu hingga tumbuh menjadi anak yang berbakti.
Putriku..
Maafkan ibu yang sudah membiarkanmu hidup sendirian tanpa pernah mengenal ibu. Tidak ada yang menjadi alasan yang pantas untuk ibu tuliskan sebagai alasan mengapa ibu membuangmu dari kehidupan ibu. Tidak ada sama sekali alasan yang patut untuk ibu tuliskan agar engkau mengerti.
Putriku..
Ibu masih berumur 16 tahun saat mengandungmu, keluarga ibu tidak ada yang menginginkan kehadiranmu. Mereka sudah beberapa kali memaksa ibu untuk menggugurkanmu. Tapi, ibu sengaja pergi dari rumah dan membesarkanmu yang masih berada di dalam kandungan ibu. Ibu berkerja, agar ibu bisa bertahan hidup dan melihatmu hadir ke dunia ini. Melihat senyum pertamamu saat lahir adalah kebahagiaan terbesar ibu. Suara tangismu, semua adalah kebahagiaan yang Tuhan anugerahkan pada ibu. Engkau adalah alasan satu-satunya mengapa ibu rela pergi dari rumah, dan memilih untuk melahirkanmu.
Putriku...
Terlalu banyak cerita yang tidak bisa ibu ceritakan padamu. Setelah ibu melahirkanmu, ibu mulai merasa bahwa ibu adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, namun ibu merasa tidak mampu mendidikmu dengan baik. Ibu juga tidak sanggup lagi menahan kerasnya hidup, kerasnya ejekan orang-orang, kerasnya perlakuan keluarga terhadap ibu. Ibu tidak sanggup lagi, nak. Ibu memilih untuk membawamu jauh dari kehidupan ibu, agar engkau bisa merasakan kasih sayang seutuhnya.
Putriku..
Saat engkau membaca surat ini, jangan engkau cari lagi, jangan engkau tanyakan lagi siapa ibu kandungmu, karena sekarang engkau sudah menemukan jawaban itu.
Namun, jangan harapkan adanya pertemuan di antara kita, karena ibu sudah pergi jauh saat engkau membaca surat ini. Ibu memilih untuk mengakhiri hidup ini dan meninggalkan semua beban hidup ini. Ibu tidak sanggup lagi jika harus bertahan. Mungkin engkau akan mengatakan bahwa ibu bukanlah ibu yang hebat, menyerah dengan keadaan, dan itu memang benar. Ibu tidak sekuat itu, nak. Maafkan ibu. Semoga engkau bisa hidup bahagia.

Ibumu, Dewi Anggraini

Winda melipat kembali surat yang baru saja dibacanya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak berwarna pink itu. Dia memeluk suaminya, dan menangis. Evan berusaha menenangkan istrinya.

            “Bu Zaitun sengaja memaksa ibu menyimpan kotak itu, dan membiarkanmu membacanya saat ia sudah tiada.” Bu Elda mencoba menjelaskan.

            Setelah sekian lama menanti, kini Winda mempunyai gambaran tentang wajah ibu kandungnya, foto yang ada di kotak itu adalah foto dirinya saat masih bayi. Ibunya menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Senyum Bu Dewi Anggraini memperlihatkan kebahagiaan, dan harapan agar anaknya bisa merasakan manisnya hidup. Kini, tidak ada lagi harapan untuk bertemu dengan ibu kandungnya, menggenggam erat kedua tangannya, memeluknya, dan mengucapkan rindu yang sudah lama Winda tahan. Ibu kandungnya sudah pergi meninggalkannya. Hanya Tuhan yang mengetahui semuanya.

Evan dan Winda melangkahkan kaki secara perlahan meninggalkan panti asuhan yang menjadi saksi pertemuan terakhir Winda dengan ibu kandungnya. Kala itu, Winda masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga dia tidak bisa menghentikan langkah ibunya yang meninggalkannya sendirian di depan gerbang panti asuhan. Ibu, dimana pun engkau berada, aku tetap merindukanmu. Hati kecilku mengatakan bahwa ibu masih ada, dan selalu memperhatikanku meski hanya dari kejauhan.

Winda menangis di atas sajadah panjangnya, bersujud memohon petunjuk dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Tuhan, jika memang bunda sudah tiada, beri dia tempat yang layak di sisi-Mu. Ampuni semua dosanya, dan berikan aku kesempatan bertemu dengannya di surga-Mu. Tuhan, kali ini aku kembali mengadukan segala keluh kesahku pada-Mu, memohon agar aku bisa menjalani hari dengan penuh keridhoan-Mu dan bisa menghadapi semua ujian hidup ini dengan penuh kesabaran. Bukankah Engkau mencintai orang-orang yang sabar? Aku ingin masuk menjadi salah satu dari hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan