August 24, 2012

Ketika Maaf Menjadi Akhir


Laki-laki berusia senja itu terus menangis, mendengar ocehan menantunya yang terus menusuk ke dalam hatinya. Kata-kata yang diucapkan oleh menantunya itu begitu memilukan hatinya. Ia terus menangis.
Sementara laki-laki tua renta itu menangis, wanita yang sedari tadi sibuk dengan amarahnya membalut semua pakaian mertuanya dengan sehelai kain kemudian melemparkannya ke hadapan laki-laki paruh baya di hadapannya.
“Pergi dari sini, dan silahkan cari tempat tinggal lain. Bapak bisa tinggal di rumah anak Bapak yang lain. Mala tidak ingin melihat Bapak di rumah ini lagi.”
Mendengar ucapan menantunya, sang kakek hanya bisa diam sambil menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Anak laki-laki sang kakek tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya melihat istrinya yang kerasukan memarahi ayahnya yang sudah renta, dan itu sudah menjadi kejadian biasa di hadapannya. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan amarah istrinya yang kerap kali meledak hanya karena masalah-masalah sepele. Ia terus menghujami sang kakek dengan sumpah serapahnya, kemudian mengusirnya pergi dari istana megahnya.
“Pergi, dan jangan kembali.”
Sang kakek melangkahkan kakinya keluar dari istana milik putranya. Dia diusir dari rumah anaknya sendiri. Anaknya hanya melihat kepergian sang ayah tanpa ada niat menghalangi kepergian sang ayah.
Sebuah taxi membawa sang kakek ke rumah putranya yang lain. Selama perjalanan menuju rumah putranya yang ada di Lebak Bulus Jakarta Selatan, sang kakek terus menangis. Dia menangis karena tidak menyangka bahwa anak dan menantunya begitu tega padanya. Namun beberapa saat kemudian dia menghapus air matanya,
“Tidak ada gunanya aku menangisi mereka berdua. Saya tidak akan pernah memaafkan mereka berdua hingga ajal menjemput.”
Begitulah janji yang diucapkan laki-laki yang berusia senja itu. Entah itu hanya sekadar emosi sesaat atau memang sebuah janji yang memang akan ia pertahankan.
Taxi terus menembus jalanan Ibu Kota yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang membuat jalanan Jakarta macet total. Hampir tiga jam lamanya perjalanan dari Bekasi ke Lebak Bulus dikarenakan macet. Beginilah Jakarta.
Sesampainya di rumah Bustan, putranya yang paling bungsu, sang kakek langsung memeluk tubuh anaknya kemudian menangis.
“Ayah…..” Bustan memeluk sang ayah yang basah kuyup terkena air hujan.
Bustan langsung mengajak masuk ayahnya, menyiapkan handuk kering guna mengeringkan tubuh sang ayah yang basah.
Malam menjelang, Bustan masih belum berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sang ayah. Dia menunggu ayahnya menceritakan sendiri akan apa yang sebenarnya terjadi. Bustan masuk ke dalam kamar ayahnya, kemudian melihat sang ayah sudah terlelap tidur. Bustan tersenyum dan tidak ingin mengganggu lelapnya tidur sang ayah.

***
Bertahun-tahun lamanya, Pak Masykur tidak pernah menceritakan sakit hatinya yang dalam kepada siapa pun. Putra bungsunya pun tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ayahnya dan sang kakak. Hingga di tahun ke tujuh sejak sang ayah tinggal bersamanya, kakaknya datang ke rumahnya sambil menangis.
“Bustan, dimana ayah?” Tanya Arya pada adiknya.
“Ayah di kamar atas, Kak.”
Arya langsung berlari menuju kamar atas, kemudian menemui ayahnya yang sedang duduk di dekat jendela, menatap langit tak berbintang, menikmati semilir angin yang masuk melalui celah-celah kamarnya.
“Ayah… maafkan Arya.” Arya langsung menyentuh kaki sang ayah sambil menangis.
Namun luka itu ternyata masih belum sembuh oleh waktu yang lama, luka itu masih berdarah dan tak kunjung mengering dan sembuh. Pak Masykur sama sekali tidak menggubris apa yang dilakukan oleh putranya. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Arya terus meminta maaf kepada ayahnya dan memintanya untuk datang ke rumahnya untuk memaafkan istrinya yang sekarang sedang sekarat. Istrinya sedang menderita sakit yang begitu parah. Mala sedang terbaring lemah di rumah. Ia terbaring tak berdaya dengan perut yang semakin membesar. Sudah sekian banyak proses pengobatan yang dilakukan Arya demi kesembuhan istrinya, namun tak kunjung membaik. Bahkan, perut sang istri terus membesar dan membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Tapi tidak dengan Pak Masykur.
Pak Masykur masih dengan sakit hatinya. Arya masih dengan usahanya meminta maaf sang ayah dan Bustan terus membujuk ayahnya agar mau memaafkan kakak dan Mala istrinya.
“Yah, maafkanlah mereka atas apa yang pernah mereka lakukan pada Ayah. Kasihan Kak Arya dan Kak Mala. Sekarang Kak Mala sedang menderita. Kita tidak tahu berapa lama dia akan mampu bertahan. Jangan sampai dia pergi meninggalkan kesalahan yang belum sempat ia perbaiki. Maafkanlah mereka, Yah.”
Pak Masykur tetap dengan diamnya. Dia hanya dengan diamnya tiap kali Bustan memintanya untuk datang dan memaafkan kakaknya.

***
Mala terus meringis kesakitan, sanak saudara banyak yang datang menjenguk. Perut Mala semakin membesar seperti akan pecah. Perut itu terus menyiksanya. Sakit yang kadang membuatnya pingsan. Mala, ia menderita. Ia hidup segan mati pun tak mau. Begitulah keadaannya.
Arya hanya bisa pasrah dengan apa yang dialami oleh istrinya. Ia sudah melakukan berbagai macam usaha untuk mengobati istrinya, namun Tuhan masih belum menghendaki kesembuhan bagi sang istri.
Sanak saudara yang datang berkunjung memberikan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi kesembuhan Mala. Ada yang duduk mengelilingi Mala, membacakan yaasin, ada juga yang menuntun Mala mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah Muhammadurrasuulullah” berulang kali. Mereka berharap dengan kalimat tauhid itulah Mala menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka menuntun Mala mengucapkan kalimat tauhid secara bergantian.
Beberapa saat menjelang ajal memanggilnya, tiba-tiba Pak Masykur datang di hadapan Mala. Pak Masykur datang dengan air mata di kedua bola matanya yang sudah memerah karena menangis. Arya langsung memeluk sang ayah dan memintanya untuk memaafkan istrinya. Pak Masykur pun duduk di samping Mala, kemudian menjabat tangan menantunya yang dulu pernah mengusirnya, pernah membuat luka yang begitu dalam dan sekarang sedang berjuang menahan sakit yang dideritanya.
“Jika memang sudah waktunya, pergilah. Ayah sudah memaafkanmu.” Bisik Pak Masykur di telinga menantunya.
Tangis sanak saudara terdengar memecah kesunyian sesaat dan Mala pun menutup kedua matanya untuk terakhir kalinya. Ia telah pergi meninggalkan sanak saudaranya, meninggalkan Arya, suaminya. Meninggalkan dunia yang pernah menjadi persinggahan sementara baginya.
Hujan tiba-tiba membasahi semesta, menemani air mata duka orang-orang yang menangisi kepergian seorang anak manusia. Kematian memang misteri, tidak ada satu pun orang yang bisa mengetahui kapan kematian itu akan datang. Dan jika kematian itu datang, tidak ada satu pun yang bisa menunda-nunda kedatangannya.

“Berkerjalah seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah seakan-akan engkau akan mati esok hari.”


Senjaku Yang Hilang


“Nak, kamu mau kan menemui ayahmu?”

Aku tidak ingin menjawab pertanyaan Ibu, aku masih enggan untuk memberikan maaf pada laki-laki yang dulu pernah kupanggil “Ayah”. Aku sudah pernah berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan pernah mau menerima kehadirannya kembali dalam hidupku setelah apa yang dia lakukan pada Ibu. Aku tidak pernah berharap dia kembali dalam kehidupanku. Aku bahkan tidak pernah ingin menyambut kedua tangannya yang sudah dipenuhi garis-garis kehidupan. Dia sudah tua renta dan aku berharap dia segera pergi meninggalkan dunia ini, agar aku tidak lagi bertemu dengannya.

“Tara….”

Aku tersentak dari lamunan kebencianku, kemudian melihat Ibu yang tersenyum menahan sakit yang ia derita.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa menjawab pertanyaan Ibu. Aku tidak ingin jika Ibu tahu tentang apa yang sedang ada dalam benakku. Karena aku tahu Ibu tidak akan pernah suka jika kebencian ini terus bersarang dalam hatiku. Ibu sudah beberapa kali mengajakku mengunjungi Ayah yang sekarang ada di panti jompo di bilangan Jakarta Barat. Ibu pernah mengutarakan keinginannya untuk membawa Ayah ke rumah dan merawatnya, akan tetapi keinginan Ibu tidak kusetujui. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ibu tentang Ayah yang sudah menyakiti hatinya, yang sudah menyebabkan luka yang begitu besar, namun Ibu tetap berbaik hati pada Ayah.

“Tara….jawab pertanya..an Ibu.” Ibu mengulangi pertanyaannya entah untuk yang keberapa kalinya  sambil memegang kedua tanganku.
“Berjanjilah pada Ibu, kamu akan mengunjungi ayahmu dan menerimanya kembali. Kamu mau kan janji sama Ibu?”
Ah… pertanyaan itu sama sekali tidak ingin kudengar.
“Tara, kamu mau kan janji ama Ibu?”

Air mataku terus berlinang, berat rasanya menjawab pertanyaan Ibu dan mengabulkan permintaannya. Karena luka ini terlalu dalam untuk kuobati, luka ini sudah terlalu parah menggerogoti rasaku yang sudah tidak lagi ada untuk seorang Ayah yang kenangan tentangnya sudah lama kukubur dalam perjalanan rasaku. Namun, jika Ibu sudah begini, hatiku pun luluh dan tidak sanggup untuk mengatakan “tidak” padanya.
Aku pun mengangguk,
“Iya, Bu, Tara janji akan merawat Ayah sebagaimana Ibu merawat Ayah.” Kalimat itu mengalir perlahan dari mulutku tanpa disertai dengan hati. Hanya mulutku yang menyetujui, namun hatiku memberontak.

***
“Mas, jangan ceraikan aku. Aku tidak ingin jika Tara….”
Belum selesai ucapan Ibu pada Ayah, Ayah sudah pergi meninggalkan Ibu yang menangis sesenggukkan di ruang tamu. Umurku yang masih belia belum bisa mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibu. Aku hanya bisa berlari menghampiri Ibu, memeluknya dan mengusap air mata pilu yang membasahi pipinya.

“Ibu, jangan nangis.” Begitulah ucapku pada Ibu.

Aku tumbuh menjadi anak yang sangat berbakti pada Ibu. Dia lah yang selama ini menjadi alasan mengapa aku masih ada di dunia ini. Aku pernah mencoba melukai diriku sendiri, berharap ajal akan segera menghampiriku. Namun, semakin aku mencoba untuk mengakhiri hidup, kehadiran Tuhan semakin terasa dalam hidupku dengan cara yang kadang tidak kumengerti. Tuhan hadir dalam hatiku.

Aku pernah membenciNya, aku pernah mengucapkan sumpah serapah padaNya karena telah membuat Ibu menderita. Namun Tuhan memang tidak pernah tidur, ia membimbingku dengan perlahan menuju pintu keridhoanNya. Aku pun merasakan kehadiranNya yang begitu dekat dalam tiap hembusan nafasku. Aku mulai mencintaiNya, meski kecintaanku padaNya kadang masih terhalang oleh kaki-kaki nafsu yang masih berdiri tegak dalam diriku.

Ibu berjuang membesarkanku sendiri, bahkan Ibu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi. Terlalu sakit hati Ibu jika harus menikah lagi. Ibu tidak siap jika harus mengalami hal yang serupa dengan apa yang ia alami selama hidup bersama dengan Ayah. Ibu sering dicaci maki, Ibu sering dipukul hingga meninggalkan bekas memar di sekujur tubuhnya. Meski demikian, Ibu tetap mencoba untuk mempertahankan bahtera rumah tangganya walau harus menahan sakit. Ibu melakukan semua itu karena tidak ingin melihatku tumbuh tanpa ada kehadiran seorang Ayah di sampingku.

Tapi, Tuhan ternyata menghendaki perpisahan terjadi. Ibu memang tidak pernah mengajukan gugatan cerai, namun Ayah lah yang menghendaki perceraian itu terjadi. Dan jadilah Ibu seorang janda.

Sekian lama tidak pernah kudengar kabar tentang Ayah, aku tumbuh menjadi dewasa. Ibu menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Dan hari itu, kudengar Ibu bercakap-cakap dengan seseorang di handphonenya. Aku bisa mendengar Ibu menyebut nama Ayah, kemudian dia menangis dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya dan pergi meninggalkan rumah. Ibu tidak memberitahuku kemana dia pergi, Ibu juga tidak pernah memberitahuku tentang apa yang terjadi dengan Ayah sehingga Ibu menangis.

Selama hampir tiga tahun lamanya, ternyata Ibu sering mengunjungi panti jompo yang ada di Jakarta Barat. Mang Ujang yang selalu mengantar Ibu pergi kesana. Ibu mengunjungi Ayah yang sudah renta dan mengurus keperluan Ayah. Dan saat mengetahui itu semua, aku sempat marah besar pada Ibu.

“Mengapa harus Ibu yang mengurus Ayah? Kemana perempuan yang telah merebut Ayah dari Ibu? Mengapa dia tidak mengurus laki-laki itu?” Segudang pertanyaan kuajukan pada Ibu. Ibu hanya menangis mendengar kemarahanku yang memuncak. Ibu hanya menjawab dengan kalimat yang membuatku terdiam,

“Sudah cukup kebencian Ibu pada ayahmu. Sepantasnya engkau pun memberikan maaf padanya. Melakukan hal yang serupa dengan apa yang Ibu lakukan buat  ayahmu. Walau bagaimana pun dia ayahmu, Tara. Bukan kah Tuhan Maha Pengampun pada hambaNya yang bertaubat?”

Kalimat itu masuk ke sanubariku, kemudian membenarkan ucapan Ibu di tengah kebencian yang memenuhi rongga dadaku. Aku pun diam.

“Jika Ibu saja bisa memberi maaf pada Ayah, lantas mengapa aku tidak bisa?” Tanyaku dalam hati.

***
Kini Ibu sudah tiada, sudah dua bulan Ibu pergi meninggalkanku. Dan aku masih belum terketuk untuk mengunjungi Ayah. Mang Ujang terus memaksaku untuk mengunjungi Ayah walau hanya sejenak. Namun hatiku masih belum bisa mengatakan “iya”. Hatiku masih berontak tiap kali kakiku mencoba untuk melangkah mengikuti permintaan Mang Ujang. Hingga akhirnya Mang Ujang memberikan selembar surat yang membuatku tak henti-hentinya menangis, menyesali apa yang sudah kulakukan.

Tara, Anakku
Ayahmu memang pernah menelantarkanmu, namun dia sudah menyesali perbuatannya. Dia sudah berusaha untuk menjadi lebih baik. Dia selalu menanyakan tentangmu di setiap kunjungan Ibu. Ia sering menangisi apa yang sudah ia lakukan padamu. Dia begitu ingin bertemu denganmu sebelum ajal memanggilnya. Pergilah, Nak. Temui ayahmu.
Anakku, ada satu rahasia yang tidak sanggup untuk Ibu katakana padamu. Biarlah Mang Ujang yang memberikan selembar surat ini padamu, dan Ibu berharap engkau akan menerima kenyataan ini dengan lapang dada.
Tara…anakku, ayahmu lah yang sudah membesarkanmu saat Ibu kandungmu meninggal. Ayahmu juga lah yang menjagamu selama kurang lebih dua tahun lamanya saat engkau masih bayi. Ibu kandungmu meninggal saat berjuang melahirkanmu. Sedangkan Ibu baru menikah dengan Ayahmu dua tahun setelah kepergian Ibumu.
Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu baru sanggup memberitahu tentang hal yang sebenarnya. Terlepas apa yang sudah dilakukan oleh Ayahmu, maafkanlah dia. Ibu tidak bisa menjelaskan terlalu banyak padamu, tangan ibu tidak sanggup menuliskan penjelasan terlalu banyak. Temui ayahmu dan maafkanlah dia. Berbaktilah padanya, beri dia maafmu yang tulus. Jangan biarkan ia mengakhiri hidup dengan perasaan bersalah yang terus menggerogoti kesehatannya. Ia tidak sekuat yang dulu lagi, Nak. Maafkan ayahmu.

Setelah membaca surat dari Ibu, aku menangis dan memukul Mang Ujang karena dia terlambat memberikan surat Ibu padaku.

“Ibu bilang, nanti kalo memang Den Tara tidak mau mengunjungi Bapak, baru surat ini diberikan pada Aden.” Begitulah penjelasan Mang Ujang.

Aku memaksa Mang Ujang untuk mengantarkanku langsung ke panti jompo tempat Ayah bernaung dari panas dan teriknya matahari di usia senjanya. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku tidak ingin menunda lagi pertemuanku dengan Ayah.

Akan tetapi, semua sudah terlambat. Pihak panti menjelaskan bahwa Ayah sudah meninggal sejak dua hari yang lalu dan mereka tidak tahu harus menghubungi siapa, karena satu-satunya yang pernah mengunjungi Ayah adalah Ibu, dan kini Ibu sudah meninggal. Aku hanya bisa menangis karena aku terlambat meminta maafnya.

Pihak panti menyerahkan kardus kecil yang berisi barang-barang Ayah. Di dalamnya kutemukan sebuah bingkai foto yang di dalamnya kulihat Ayah sedang menggendong seorang bayi mungil. Kakiku mematung menatap foto itu, bibirku kelu tak mampu berucap.

 “Mungkinkah itu aku?” Tanyaku pada hati yang sedang merindu dan menyesali semua yang telah kulakukan pada Ayah.
“Itu foto Bapak dan Den Tara saat masih bayi,” ucap Mang Ujang tanpa perlu kuminta.

Aku kembali menangis saat kusentuh pusaran Ayah yang masih berwarna merah dengan gundukan tanah yang meninggi. Pusaran yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Ayah. Ia pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan aku yang menyesal karena telah membencinya. Maafkan aku Ayah.

Malam semakin larut, dan aku masih enggan meninggalkan pusaran Ayah. Aku ingin menemani Ayah hingga pagi menjelang.

Hembusan angin menusuk ke tulangku
Suara jangkrik saling bersahut-sahutan
Menemani sinar di ujung hatiku yang menyesali diri
Hilang sudah senjaku
Senja yang sudah lama tidak kutemui
Senja yang sudah lama tak kudekap
Dialah ayahku, senjaku yang hilang
Pergi meninggalkanku dengan penyesalan diri

August 21, 2012

Jilbab Pertama Najah


Hidayah adalah bentuk kasih Tuhan pada hambaNya
Ia bisa memberikan hidayah itu kepada siapa saja yang Ia kehendaki
Dan aku bersyukur kepadaNya atas hidayah yang ia berikan padaku

Sudah lama aku tidak melihat kotak itu, sebuah kotak kayu yang sengaja kubuat untuk menyimpan barang-barang yang mempunyai sejarah masing-masing. Dan hari ini, kotak itu berada di hadapanku, sudah berdebu karena sudah lama tidak pernah kusentuh. Selama ini, kotak itu sempat terlupakan dan tersimpan di gudang, di kamar bagian belakang. Kubersihkan debu-debu yang menghiasi permukaannya, kemudian kulihat ukiran namaku di bagian atasnya “ Najah Amali”. Nama yang diberikan oleh almarhum Ayahanda tercinta yang sudah terlebih dahulu kembali ke sisiNya. 

Kubuka, kemudian kusentuh satu persatu benda-benda yang ada di dalamnya, ada foto-foto waktu aku masih sekolah dasar, ada mainan yang terbuat dari kain bekas yang diberikan Ibu sebagai hadiah saat aku berhasil juara kelas, kemudian tanganku menyentuh lembutnya sehelai kain yang berwarna putih memudar dan usang. Sehelai kain itu dulunya berwarna putih bersih, dan kini sudah berubah warna. Air mataku menitik saat kubentangkan kain yang sudah terjahit menjadi sebuah jilbab berukuran kecil itu, kemudian ingatan akan semua kenangan tentang kain itu kembali hadir dalam benakku.

Masih kuingat dengan baik saat pertama kali aku memakainya, kemudian berlari-lari kecil menuju rumah Ustadzah Fahimah yang mengajariku mengaji setiap habis shalat maghrib hingga menjelang shalat isya. Ah… ingatan akan masa lalu yang membuatku merindukan kehadiran Ibu. Dan kini Ibu sudah pergi mendahuluiku, mungkin saja Ibu sudah bertemu dengan Ayah di sisiNya.

***
Dia berlari-lari kecil dengan jilbab warna putih yang menghiasi kepalanya. Seragam merah putih panjang yang ia kenakan sudah usang. Tas berwarna putih, dihiasi gambar-gambar bunga dengan warna-warna terang yang dibawanya pun sudah bulukan, sudah tidak lagi indah untuk dipandang. Namun anak kecil itu tetap semangat melangkahkan kakinya menuju tempat ia menuntut ilmu. Langkahnya terlihat pasti, melangkah dan terus melangkah.

Saat memasuki gerbang sekolah, semua mata tertuju padanya. Ini hari kedua dia masuk sekolah sebagai murid putri sekolah dasar yang berada tidak jauh dari rumahnya. Sekian banyak mata yang memandanginya, namun ia tidak memedulikan semua itu. Ia tetap berjalan dengan langkah yang mantap menuju kelasnya yang berada di ruangan paling ujung, dekat dengan kantor para guru.

“Aneh,” ucap salah satu murid putri yang lewat di hadapannya.

Namun Najah tidak tersinggung dengan perlakuan teman-temannya tentang sehelai kain berwarna putih yang menutupi kepalanya dan menutupi dadanya. Dia memang masih kecil, namun keinginannya untuk memakai jilbab sudah begitu yakin. Itulah hidayah Allah, tidak mengenal usia. Ia memberikan hidayahNya kepada seorang anak kecil yang belum terlalu banyak tahu tentang apa itu sebuah “kewajiban”, ia juga belum tahu tentang arti sehelai kain yang menutupi kepalanya, dan baju panjang yang ia kenakan.

“Ibu, Najah ingin memakai pakaian seperti Ustadzah Fahimah.” 

Begitulah yang diucapkannya pada Sang Ibu saat pertama kali ingin memasuki sekolah dasar. Ustadzah Fahimah adalah yang mengajarinya membaca Al Qur’an di langgar yang ada di desa tempat ia tinggal. Najah menemukan keteduhan tiap kali memandang wajah Ustadzah Fahimah dengan hijab yang menutupi tubuhnya yang jangkung, ia menemukan sebuah sinar yang selalu membuatnya tenang saat diajar oleh Ustadzah Fahimah. Dan ia ingin seperti itu. Ia ingin merasakan keteduhan dibalut jilbab yang menutupi kepalanya.

Sang Ibu bukanlah orang yang kaya, tidak mampu membelikan kain baru untuk menuruti keinginan Najah memakai jilbab. Sang Ibu mengambil kain mukena yang sudah tidak lagi dipakai, kemudian memotongnya dan menjahitnya hingga menjadi jilbab yang bisa dipakai Najah ke sekolah. Jilbab itu, meski sudah usang, namun Najah begitu bahagia saat melihat wajahnya tertutup kain di depan cermin. Wajah itu, tak henti-hentinya ia memandangi wajah mungilnya yang dibalut kain yang meneguhkan identitasnya sebagai seorang muslimah.

“Benarkah itu wajahku?” Tanyanya pada bayangan yang ada di cermin, kemudian dia tersenyum dan berlari memeluk Sang Ibu.

Sang Ibu menjahitkan dua baju muslimah sebagai bentuk dukungan atas keinginan putrinya memakai jilbab. Dua lembar baju muslim yang dia buat berasal dari kain-kain yang sudah lama tersimpan dan tidak terpakai. Namun yang namanya cinta pada Tuhan, Najah tidak pernah risih memakai pakaian itu. Meski ejekan dari teman-temannya sering terdengar di telinganya, dan kadang ia menangis dan mengadukannya pada Sang Ibu.

“Nggak, apa-apa, meski teman-teman sering mengejek baju muslim usang yang engkau gunakan, namun Allah tersenyum melihat keteguhan hati Najah dalam menjalankan perintah Tuhan. Allah sayang sama Najah. Najah mau di sayang Allah, kan?” 

Dan tiap kali mendengar pertanyaan sang Ibu, najah langsung berhenti menangis dan menjawab dengan menundukkan kepalanya meski sambil terisak.

“Najah mau disayang Allah.” Kemudian ia memeluk tubuh ibunya.

Kalimat itu yang selalu diulang-ulang oleh Sang Ibu tiap kali Najah menangis karena ejekan teman-temannya, atau karena ia dikucilkan di sekolah hanya karena dia satu-satunya anak putri yang memakai jilbab. Bahkan guru olahraganya sering memaksanya untuk melepaskan jilbab yang ia kenakan. Atau bahkan guru agamanya yang juga risih melihat jilbab yang bertengger di kepalanya.

“Nanti saja kalau kamu sudah dewasa, baru memakai jilbab,” ucap sang Guru.

Namun Najah tetap dengan pendiriannya, tidak ingin melepaskan jilbabnya. Semakin banyak yang berkomentar miring tentang hijabnya, semakin kuat ia mempertahankan semua itu, meski dia masih bersekolah di sekolah dasar.

***
Begitu banyak kenangan yang melekat pada kain yang masih kusimpan hingga kini, kain itu adalah jilbab pertamaku. Jilbab yang dulu mengajarkanku arti sebuah “kewajiban”, dimana seorang muslimah diwajibkan untuk mengenakannya. Karena yang memerintahkannya adalah Allah, Yang Menciptakan seluruh jagad raya dan segala isinya. Lantas adakah alasan yang patuh kita ajukan untuk tidak mematuhi perintahNya?

Kututup kembali kotak kayu yang sedari tadi membuatku melamun, mengenang masa kecilku. Kudengar suara Afifah memanggilku, dia adalah buah hatiku yang baru masuk sekolah dasar dan sudah mengenakan jilbab.

“Assalamu’alaikum, Ummi.” 

Aku membawa kotak kayu bersamaku, kemudian menyambut kedatangan malaikat kecilku dengan penuh rasa bangga. Dia sama teguh sepertiku dulu saat pertama kali memakai jilbab, dan suatu saat aku akan menceritakan tentang jilbab yang kini berada dalam kotak kayu yang ada di tanganku.

Hijabku adalah salah satu bentuk ketaatanku pada Allah
Hijabku adalah penegasan identitasku sebagai Muslimah
Hijabku adalah pakaian kebanggaanku
Dan aku bangga memakainya.



August 15, 2012

Tentang Hidayah


Mudik kali ini Tuhan kembali memberi saya sebuah kejutan yang telah lama saya nanti. Saat mudik ke Bengkulu, saya melihat “Ibu” menyambut kedatanganku dengan “Hijab” yang menutupi auratnya. Alhamdulillah, Allah sudah memberikan hidayah-Nya pada Ibu untuk memakai “Hijab” yang memang sudah diwajibkan Allah dalam syariatNya. Dulu Ibu memang belum memakai hijab, biasanya hanya pada acara-acara tertentu beliau memakainya. Dan kali ini Ibu sudah mendapatkan hidayahNya. Alhamdulillah.

Berbicara tentang hidayah, kita tidak mempunyai kuasa kepada siapa hidayah itu mau kita berikan. Karena sesungguhnya Tuhan lah yang memberikan hidayah kepada hambaNya. Barang siapa yang sudah diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada siapa pun yang bisa menghalangi semua itu. Bahkan kepada orang terdekat kita sekalipun, kita tidak bisa memaksakan kehendak. Yang perlu kita lakukan adalah menasehati mereka tentang kebenaran dengan penuh kesabaran dan tentunya dengan cara yang bijak. Selebihnya adalah urusan Allah, kepada siapa Dia akan memberikan hidayahNya.

Lihat saja sejarah tentang Nabi Muhammad saw, bahkan paman Nabi saja ada yang tetap dengan kekafirannya dan Nabi tidak bisa memaksa Tuhan agar memberikan hidayahNya pada pamannya. Itu menunjukkan bahwa hidayah itu memang hanya kuasa Allah yang Maha Kuasa.

Demikianlah, saya memang belajar Agama sejak kecil, namun saya tidak mempunyai kuasa untuk memaksa keluarga saya untuk memakai “Hijab”. Saya hanya mengingatkan mereka dengan baik, mengajarkan mereka akan makna hijab bagi seorang muslimah, menjelaskan kepada mereka bahwa “Hijab” itu hukumnya adalah wajib. Dan jika Allah sudah memerintahkan untuk memakainya, maka tidak ada alasan yang patut kita ajukan untuk tidak menutup aurat. Karena hakikatnya sebuah perintah adalah “ Untuk dilaksanakan”.

Saat ini Ibu sudah memutuskan untuk memakai “Hijab” selamanya, dan saya terus berdoa kepada Allah swt. agar adik saya yang perempuan juga segera diberi hidayah olehNya. Saat ini adik saya yang perempuan sudah mulai mengurangi memakai pakaian-pakaian yang menampakkan lekuk tubuh alias ketat, dan saya terus mendoakan dirinya agar segera diberi hidayah oleh Allah. Saya tetap bersyukur mereka tetap rajin melaksanakan shalat lima waktu dengan baik. Dan saya terus berdoa agar ajaran-ajaran shalat itu bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kalo di dalam shalat kita menutup aurat, maka sejatinya di luar shalat pun kita harus menutup aurat. Demikianlah selanjutnya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam shalat yang kita laksanakan.

Saya terus membimbing keluarga agar bisa menjadi lebih baik. Setiap kali mudik, saya membimbing adik-adik saya agar bisa tumbuh menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Sudah kewajiban seorang kakak agar bisa “menjadi teladan yang baik” bagi adik-adiknya. Itulah yang bisa saya lakukan. Selebihnya saya serahkan pada Allah.

Tentang Kehilangan


12 Agustus 2012
Hari ini saya berkunjung ke rumah teman-teman zaman masih di Pondok dulu. Teman-teman yang dulu menjadi bagian dari perjalanan saya mencari ilmu. Dari beberapa teman yang saya kunjungi, ada seorang teman yang sudah kembali ke sisi Tuhan. Ia kembali lebih dahulu meninggalkan kami, dan saya tidak bisa bertemu kembali dengannya. Saya hanya bisa menatap pusarannya yang masih berupa gundukan tanah yang sudah gersang karena sudah lama tidak disiram dengan air.

Saya sudah mewanti-wanti apa yang akan terjadi saat saya sampai ke rumah orang tua yang yang ia tinggalkan. Almarhum adalah anak tunggal. Dia merupakan satu-satunya harapan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pun menunggu waktu yang tidak sebentar hingga akhirnya Tuhan menganugerahi mereka keturunan, meski sekarang amanah itu sudah kembali pada Tuhan.

Saat turun dari motor, saat memasuki pintu gerbang rumahnya, ibunya langsung menangis saat melihat saya. Dia langsung memeluk saya, kemudian air matanya tak henti-hentinya membasahi kedua bola matanya. Saya membiarkan ibunya menangis di hadapan saya, saya bingung mau melakukan apa. Saya hanya membiarkannya dengan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Karena saya tidak tahu betapa dia merasa kehilangan, karena saya tidak pernah berada di posisi itu. Saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga. Akhirnya saya menunggu sampai ibu almarhum teman saya ini berhenti menangis.

Saat ia mulai berhenti menangis, ia pun memulai cerita saat terakhir dia melihat putranya membuka kedua matanya, saat terakhir dia merasakan putranya menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. Dan hati saya pun akhirnya menangis, meski kedua mata saya tidak mengalirkan bola-bola Kristal yang membasahi pipi. Tapi, kenangan demi kenangan tentang sahabat saya ini kembali hadir dalam ingatan saya, betapa dia adalah sahabat yang begitu baik. Dia begitu peduli dengan keadaan saya kala itu, saat saya dalam keadaan susah, dia dengan senang hati membantu. Bahkan saat liburan saya biasa menghabiskan waktu untuk tinggal di rumahnya. Dia sahabat yang baik, dia anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Tapi takdir berkata lain, “Tuhan” sudah menghendakinya kembali.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya berada di posisi kedua orangtuanya, yang begitu mendambakan kehadiran seorang putra, dan ternyata anugerah itu hanya sebentar mereka rasakan, hingga akhirnya Tuhan kembali mengambilnya dari sisi mereka yang menyayanginya.
Selain sedih merasa kehilangan, saya semakin sedih saat melihat kehidupan Ayah Almarhum yang semakin jauh dari Tuhan. Saat saya Tanya,
“Ibu bilang bapak tidak pernah shalawat tharawih, mengapa tidak shalat tharawih, Pak?”
Dia menjawab sambil menyeka air matanya,
“Dulu, saya begitu rajin beribadah padaNya, namun Dia masih mengambil putra semata wayang saya, yang merupakan satu-satunya harapan saya.”
Saya terdiam mendengar jawaban itu. Beberapa saat kemudian mulut saya berucap dengan pelan agar sang bapak tidak merasa tersinggung.
“Musibah seharusnya tidak membuat kita kehilangan Tuhan dari hati kita. Tuhan harus selalu ada dalam kehidupan kita, karena kita tidak pernah mengerti dengan rencanaNya. Pasti ada hikmah di balik semua ini.”
Ucapan di atas kuakhiri dengan sebuah senyuman, kemudian saya memeluk sang bapak,
“Dia anak yang baik, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendoakannya.” Aku membisikkannya.
Kami berpelukan, dan sang bapak kembali menangis.

***
Sahabatku, kehilangan bukanlah sebuah akhir dari kehidupan kita. Percayalah Tuhan tidak pernah tidur, Dia selalu mengetahui semua yang terbesit dalam benak kita. Percayalah, bahwa di balik semua musibah yang Ia berikan ada sebuah hikmah yang bisa kita ambil pelajari. Ibarat sekolah, ujian semester adalah sebuah proses yang akan membawa kita ke tingkat selanjutnya jika kita bisa lulus dari ujian dengan baik.

Anak adalah titipan dari Tuhan, dan yang namanya “Titipan” pasti akan diambil kembali olehNya. Dan kita harus siap dengan itu, jika memang waktunya sudah datang. Saat kehilangan orang yang kita sayangi bukan berarti kita tidak diperbolehkan “menangis”, silahkan menangis. Yang tidak diperbolehkan adalah “meratapi” kepergiannya secara berlebihan hingga membuat kita tidak mengikhlaskan semua yang dikehendaki oleh Tuhan.

Percayalah, Tuhan memilik rencana yang indah bagi tiap makhlukNya. Kita hanya perlu memercayai Tuhan, kemudian biarkan Tuhan memperlihatkan kepada kita betapa Dia mengasihi kita semua dengan cara yang kadang tidak kita mengerti.