August 21, 2012

Jilbab Pertama Najah


Hidayah adalah bentuk kasih Tuhan pada hambaNya
Ia bisa memberikan hidayah itu kepada siapa saja yang Ia kehendaki
Dan aku bersyukur kepadaNya atas hidayah yang ia berikan padaku

Sudah lama aku tidak melihat kotak itu, sebuah kotak kayu yang sengaja kubuat untuk menyimpan barang-barang yang mempunyai sejarah masing-masing. Dan hari ini, kotak itu berada di hadapanku, sudah berdebu karena sudah lama tidak pernah kusentuh. Selama ini, kotak itu sempat terlupakan dan tersimpan di gudang, di kamar bagian belakang. Kubersihkan debu-debu yang menghiasi permukaannya, kemudian kulihat ukiran namaku di bagian atasnya “ Najah Amali”. Nama yang diberikan oleh almarhum Ayahanda tercinta yang sudah terlebih dahulu kembali ke sisiNya. 

Kubuka, kemudian kusentuh satu persatu benda-benda yang ada di dalamnya, ada foto-foto waktu aku masih sekolah dasar, ada mainan yang terbuat dari kain bekas yang diberikan Ibu sebagai hadiah saat aku berhasil juara kelas, kemudian tanganku menyentuh lembutnya sehelai kain yang berwarna putih memudar dan usang. Sehelai kain itu dulunya berwarna putih bersih, dan kini sudah berubah warna. Air mataku menitik saat kubentangkan kain yang sudah terjahit menjadi sebuah jilbab berukuran kecil itu, kemudian ingatan akan semua kenangan tentang kain itu kembali hadir dalam benakku.

Masih kuingat dengan baik saat pertama kali aku memakainya, kemudian berlari-lari kecil menuju rumah Ustadzah Fahimah yang mengajariku mengaji setiap habis shalat maghrib hingga menjelang shalat isya. Ah… ingatan akan masa lalu yang membuatku merindukan kehadiran Ibu. Dan kini Ibu sudah pergi mendahuluiku, mungkin saja Ibu sudah bertemu dengan Ayah di sisiNya.

***
Dia berlari-lari kecil dengan jilbab warna putih yang menghiasi kepalanya. Seragam merah putih panjang yang ia kenakan sudah usang. Tas berwarna putih, dihiasi gambar-gambar bunga dengan warna-warna terang yang dibawanya pun sudah bulukan, sudah tidak lagi indah untuk dipandang. Namun anak kecil itu tetap semangat melangkahkan kakinya menuju tempat ia menuntut ilmu. Langkahnya terlihat pasti, melangkah dan terus melangkah.

Saat memasuki gerbang sekolah, semua mata tertuju padanya. Ini hari kedua dia masuk sekolah sebagai murid putri sekolah dasar yang berada tidak jauh dari rumahnya. Sekian banyak mata yang memandanginya, namun ia tidak memedulikan semua itu. Ia tetap berjalan dengan langkah yang mantap menuju kelasnya yang berada di ruangan paling ujung, dekat dengan kantor para guru.

“Aneh,” ucap salah satu murid putri yang lewat di hadapannya.

Namun Najah tidak tersinggung dengan perlakuan teman-temannya tentang sehelai kain berwarna putih yang menutupi kepalanya dan menutupi dadanya. Dia memang masih kecil, namun keinginannya untuk memakai jilbab sudah begitu yakin. Itulah hidayah Allah, tidak mengenal usia. Ia memberikan hidayahNya kepada seorang anak kecil yang belum terlalu banyak tahu tentang apa itu sebuah “kewajiban”, ia juga belum tahu tentang arti sehelai kain yang menutupi kepalanya, dan baju panjang yang ia kenakan.

“Ibu, Najah ingin memakai pakaian seperti Ustadzah Fahimah.” 

Begitulah yang diucapkannya pada Sang Ibu saat pertama kali ingin memasuki sekolah dasar. Ustadzah Fahimah adalah yang mengajarinya membaca Al Qur’an di langgar yang ada di desa tempat ia tinggal. Najah menemukan keteduhan tiap kali memandang wajah Ustadzah Fahimah dengan hijab yang menutupi tubuhnya yang jangkung, ia menemukan sebuah sinar yang selalu membuatnya tenang saat diajar oleh Ustadzah Fahimah. Dan ia ingin seperti itu. Ia ingin merasakan keteduhan dibalut jilbab yang menutupi kepalanya.

Sang Ibu bukanlah orang yang kaya, tidak mampu membelikan kain baru untuk menuruti keinginan Najah memakai jilbab. Sang Ibu mengambil kain mukena yang sudah tidak lagi dipakai, kemudian memotongnya dan menjahitnya hingga menjadi jilbab yang bisa dipakai Najah ke sekolah. Jilbab itu, meski sudah usang, namun Najah begitu bahagia saat melihat wajahnya tertutup kain di depan cermin. Wajah itu, tak henti-hentinya ia memandangi wajah mungilnya yang dibalut kain yang meneguhkan identitasnya sebagai seorang muslimah.

“Benarkah itu wajahku?” Tanyanya pada bayangan yang ada di cermin, kemudian dia tersenyum dan berlari memeluk Sang Ibu.

Sang Ibu menjahitkan dua baju muslimah sebagai bentuk dukungan atas keinginan putrinya memakai jilbab. Dua lembar baju muslim yang dia buat berasal dari kain-kain yang sudah lama tersimpan dan tidak terpakai. Namun yang namanya cinta pada Tuhan, Najah tidak pernah risih memakai pakaian itu. Meski ejekan dari teman-temannya sering terdengar di telinganya, dan kadang ia menangis dan mengadukannya pada Sang Ibu.

“Nggak, apa-apa, meski teman-teman sering mengejek baju muslim usang yang engkau gunakan, namun Allah tersenyum melihat keteguhan hati Najah dalam menjalankan perintah Tuhan. Allah sayang sama Najah. Najah mau di sayang Allah, kan?” 

Dan tiap kali mendengar pertanyaan sang Ibu, najah langsung berhenti menangis dan menjawab dengan menundukkan kepalanya meski sambil terisak.

“Najah mau disayang Allah.” Kemudian ia memeluk tubuh ibunya.

Kalimat itu yang selalu diulang-ulang oleh Sang Ibu tiap kali Najah menangis karena ejekan teman-temannya, atau karena ia dikucilkan di sekolah hanya karena dia satu-satunya anak putri yang memakai jilbab. Bahkan guru olahraganya sering memaksanya untuk melepaskan jilbab yang ia kenakan. Atau bahkan guru agamanya yang juga risih melihat jilbab yang bertengger di kepalanya.

“Nanti saja kalau kamu sudah dewasa, baru memakai jilbab,” ucap sang Guru.

Namun Najah tetap dengan pendiriannya, tidak ingin melepaskan jilbabnya. Semakin banyak yang berkomentar miring tentang hijabnya, semakin kuat ia mempertahankan semua itu, meski dia masih bersekolah di sekolah dasar.

***
Begitu banyak kenangan yang melekat pada kain yang masih kusimpan hingga kini, kain itu adalah jilbab pertamaku. Jilbab yang dulu mengajarkanku arti sebuah “kewajiban”, dimana seorang muslimah diwajibkan untuk mengenakannya. Karena yang memerintahkannya adalah Allah, Yang Menciptakan seluruh jagad raya dan segala isinya. Lantas adakah alasan yang patuh kita ajukan untuk tidak mematuhi perintahNya?

Kututup kembali kotak kayu yang sedari tadi membuatku melamun, mengenang masa kecilku. Kudengar suara Afifah memanggilku, dia adalah buah hatiku yang baru masuk sekolah dasar dan sudah mengenakan jilbab.

“Assalamu’alaikum, Ummi.” 

Aku membawa kotak kayu bersamaku, kemudian menyambut kedatangan malaikat kecilku dengan penuh rasa bangga. Dia sama teguh sepertiku dulu saat pertama kali memakai jilbab, dan suatu saat aku akan menceritakan tentang jilbab yang kini berada dalam kotak kayu yang ada di tanganku.

Hijabku adalah salah satu bentuk ketaatanku pada Allah
Hijabku adalah penegasan identitasku sebagai Muslimah
Hijabku adalah pakaian kebanggaanku
Dan aku bangga memakainya.



2 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan