August 24, 2012

Ketika Maaf Menjadi Akhir


Laki-laki berusia senja itu terus menangis, mendengar ocehan menantunya yang terus menusuk ke dalam hatinya. Kata-kata yang diucapkan oleh menantunya itu begitu memilukan hatinya. Ia terus menangis.
Sementara laki-laki tua renta itu menangis, wanita yang sedari tadi sibuk dengan amarahnya membalut semua pakaian mertuanya dengan sehelai kain kemudian melemparkannya ke hadapan laki-laki paruh baya di hadapannya.
“Pergi dari sini, dan silahkan cari tempat tinggal lain. Bapak bisa tinggal di rumah anak Bapak yang lain. Mala tidak ingin melihat Bapak di rumah ini lagi.”
Mendengar ucapan menantunya, sang kakek hanya bisa diam sambil menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Anak laki-laki sang kakek tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya melihat istrinya yang kerasukan memarahi ayahnya yang sudah renta, dan itu sudah menjadi kejadian biasa di hadapannya. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan amarah istrinya yang kerap kali meledak hanya karena masalah-masalah sepele. Ia terus menghujami sang kakek dengan sumpah serapahnya, kemudian mengusirnya pergi dari istana megahnya.
“Pergi, dan jangan kembali.”
Sang kakek melangkahkan kakinya keluar dari istana milik putranya. Dia diusir dari rumah anaknya sendiri. Anaknya hanya melihat kepergian sang ayah tanpa ada niat menghalangi kepergian sang ayah.
Sebuah taxi membawa sang kakek ke rumah putranya yang lain. Selama perjalanan menuju rumah putranya yang ada di Lebak Bulus Jakarta Selatan, sang kakek terus menangis. Dia menangis karena tidak menyangka bahwa anak dan menantunya begitu tega padanya. Namun beberapa saat kemudian dia menghapus air matanya,
“Tidak ada gunanya aku menangisi mereka berdua. Saya tidak akan pernah memaafkan mereka berdua hingga ajal menjemput.”
Begitulah janji yang diucapkan laki-laki yang berusia senja itu. Entah itu hanya sekadar emosi sesaat atau memang sebuah janji yang memang akan ia pertahankan.
Taxi terus menembus jalanan Ibu Kota yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang membuat jalanan Jakarta macet total. Hampir tiga jam lamanya perjalanan dari Bekasi ke Lebak Bulus dikarenakan macet. Beginilah Jakarta.
Sesampainya di rumah Bustan, putranya yang paling bungsu, sang kakek langsung memeluk tubuh anaknya kemudian menangis.
“Ayah…..” Bustan memeluk sang ayah yang basah kuyup terkena air hujan.
Bustan langsung mengajak masuk ayahnya, menyiapkan handuk kering guna mengeringkan tubuh sang ayah yang basah.
Malam menjelang, Bustan masih belum berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sang ayah. Dia menunggu ayahnya menceritakan sendiri akan apa yang sebenarnya terjadi. Bustan masuk ke dalam kamar ayahnya, kemudian melihat sang ayah sudah terlelap tidur. Bustan tersenyum dan tidak ingin mengganggu lelapnya tidur sang ayah.

***
Bertahun-tahun lamanya, Pak Masykur tidak pernah menceritakan sakit hatinya yang dalam kepada siapa pun. Putra bungsunya pun tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ayahnya dan sang kakak. Hingga di tahun ke tujuh sejak sang ayah tinggal bersamanya, kakaknya datang ke rumahnya sambil menangis.
“Bustan, dimana ayah?” Tanya Arya pada adiknya.
“Ayah di kamar atas, Kak.”
Arya langsung berlari menuju kamar atas, kemudian menemui ayahnya yang sedang duduk di dekat jendela, menatap langit tak berbintang, menikmati semilir angin yang masuk melalui celah-celah kamarnya.
“Ayah… maafkan Arya.” Arya langsung menyentuh kaki sang ayah sambil menangis.
Namun luka itu ternyata masih belum sembuh oleh waktu yang lama, luka itu masih berdarah dan tak kunjung mengering dan sembuh. Pak Masykur sama sekali tidak menggubris apa yang dilakukan oleh putranya. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Arya terus meminta maaf kepada ayahnya dan memintanya untuk datang ke rumahnya untuk memaafkan istrinya yang sekarang sedang sekarat. Istrinya sedang menderita sakit yang begitu parah. Mala sedang terbaring lemah di rumah. Ia terbaring tak berdaya dengan perut yang semakin membesar. Sudah sekian banyak proses pengobatan yang dilakukan Arya demi kesembuhan istrinya, namun tak kunjung membaik. Bahkan, perut sang istri terus membesar dan membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Tapi tidak dengan Pak Masykur.
Pak Masykur masih dengan sakit hatinya. Arya masih dengan usahanya meminta maaf sang ayah dan Bustan terus membujuk ayahnya agar mau memaafkan kakak dan Mala istrinya.
“Yah, maafkanlah mereka atas apa yang pernah mereka lakukan pada Ayah. Kasihan Kak Arya dan Kak Mala. Sekarang Kak Mala sedang menderita. Kita tidak tahu berapa lama dia akan mampu bertahan. Jangan sampai dia pergi meninggalkan kesalahan yang belum sempat ia perbaiki. Maafkanlah mereka, Yah.”
Pak Masykur tetap dengan diamnya. Dia hanya dengan diamnya tiap kali Bustan memintanya untuk datang dan memaafkan kakaknya.

***
Mala terus meringis kesakitan, sanak saudara banyak yang datang menjenguk. Perut Mala semakin membesar seperti akan pecah. Perut itu terus menyiksanya. Sakit yang kadang membuatnya pingsan. Mala, ia menderita. Ia hidup segan mati pun tak mau. Begitulah keadaannya.
Arya hanya bisa pasrah dengan apa yang dialami oleh istrinya. Ia sudah melakukan berbagai macam usaha untuk mengobati istrinya, namun Tuhan masih belum menghendaki kesembuhan bagi sang istri.
Sanak saudara yang datang berkunjung memberikan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi kesembuhan Mala. Ada yang duduk mengelilingi Mala, membacakan yaasin, ada juga yang menuntun Mala mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah Muhammadurrasuulullah” berulang kali. Mereka berharap dengan kalimat tauhid itulah Mala menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka menuntun Mala mengucapkan kalimat tauhid secara bergantian.
Beberapa saat menjelang ajal memanggilnya, tiba-tiba Pak Masykur datang di hadapan Mala. Pak Masykur datang dengan air mata di kedua bola matanya yang sudah memerah karena menangis. Arya langsung memeluk sang ayah dan memintanya untuk memaafkan istrinya. Pak Masykur pun duduk di samping Mala, kemudian menjabat tangan menantunya yang dulu pernah mengusirnya, pernah membuat luka yang begitu dalam dan sekarang sedang berjuang menahan sakit yang dideritanya.
“Jika memang sudah waktunya, pergilah. Ayah sudah memaafkanmu.” Bisik Pak Masykur di telinga menantunya.
Tangis sanak saudara terdengar memecah kesunyian sesaat dan Mala pun menutup kedua matanya untuk terakhir kalinya. Ia telah pergi meninggalkan sanak saudaranya, meninggalkan Arya, suaminya. Meninggalkan dunia yang pernah menjadi persinggahan sementara baginya.
Hujan tiba-tiba membasahi semesta, menemani air mata duka orang-orang yang menangisi kepergian seorang anak manusia. Kematian memang misteri, tidak ada satu pun orang yang bisa mengetahui kapan kematian itu akan datang. Dan jika kematian itu datang, tidak ada satu pun yang bisa menunda-nunda kedatangannya.

“Berkerjalah seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah seakan-akan engkau akan mati esok hari.”


4 comments:

  1. Subhanallah... saya benar-benar tersentuh membaca cerita ini sampai2 air mata saya menetes.


    ijin copas ya mas... biar pembaca di blog saya ikut membaca juga :'(

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan