August 24, 2012

Senjaku Yang Hilang


“Nak, kamu mau kan menemui ayahmu?”

Aku tidak ingin menjawab pertanyaan Ibu, aku masih enggan untuk memberikan maaf pada laki-laki yang dulu pernah kupanggil “Ayah”. Aku sudah pernah berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan pernah mau menerima kehadirannya kembali dalam hidupku setelah apa yang dia lakukan pada Ibu. Aku tidak pernah berharap dia kembali dalam kehidupanku. Aku bahkan tidak pernah ingin menyambut kedua tangannya yang sudah dipenuhi garis-garis kehidupan. Dia sudah tua renta dan aku berharap dia segera pergi meninggalkan dunia ini, agar aku tidak lagi bertemu dengannya.

“Tara….”

Aku tersentak dari lamunan kebencianku, kemudian melihat Ibu yang tersenyum menahan sakit yang ia derita.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa menjawab pertanyaan Ibu. Aku tidak ingin jika Ibu tahu tentang apa yang sedang ada dalam benakku. Karena aku tahu Ibu tidak akan pernah suka jika kebencian ini terus bersarang dalam hatiku. Ibu sudah beberapa kali mengajakku mengunjungi Ayah yang sekarang ada di panti jompo di bilangan Jakarta Barat. Ibu pernah mengutarakan keinginannya untuk membawa Ayah ke rumah dan merawatnya, akan tetapi keinginan Ibu tidak kusetujui. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ibu tentang Ayah yang sudah menyakiti hatinya, yang sudah menyebabkan luka yang begitu besar, namun Ibu tetap berbaik hati pada Ayah.

“Tara….jawab pertanya..an Ibu.” Ibu mengulangi pertanyaannya entah untuk yang keberapa kalinya  sambil memegang kedua tanganku.
“Berjanjilah pada Ibu, kamu akan mengunjungi ayahmu dan menerimanya kembali. Kamu mau kan janji sama Ibu?”
Ah… pertanyaan itu sama sekali tidak ingin kudengar.
“Tara, kamu mau kan janji ama Ibu?”

Air mataku terus berlinang, berat rasanya menjawab pertanyaan Ibu dan mengabulkan permintaannya. Karena luka ini terlalu dalam untuk kuobati, luka ini sudah terlalu parah menggerogoti rasaku yang sudah tidak lagi ada untuk seorang Ayah yang kenangan tentangnya sudah lama kukubur dalam perjalanan rasaku. Namun, jika Ibu sudah begini, hatiku pun luluh dan tidak sanggup untuk mengatakan “tidak” padanya.
Aku pun mengangguk,
“Iya, Bu, Tara janji akan merawat Ayah sebagaimana Ibu merawat Ayah.” Kalimat itu mengalir perlahan dari mulutku tanpa disertai dengan hati. Hanya mulutku yang menyetujui, namun hatiku memberontak.

***
“Mas, jangan ceraikan aku. Aku tidak ingin jika Tara….”
Belum selesai ucapan Ibu pada Ayah, Ayah sudah pergi meninggalkan Ibu yang menangis sesenggukkan di ruang tamu. Umurku yang masih belia belum bisa mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibu. Aku hanya bisa berlari menghampiri Ibu, memeluknya dan mengusap air mata pilu yang membasahi pipinya.

“Ibu, jangan nangis.” Begitulah ucapku pada Ibu.

Aku tumbuh menjadi anak yang sangat berbakti pada Ibu. Dia lah yang selama ini menjadi alasan mengapa aku masih ada di dunia ini. Aku pernah mencoba melukai diriku sendiri, berharap ajal akan segera menghampiriku. Namun, semakin aku mencoba untuk mengakhiri hidup, kehadiran Tuhan semakin terasa dalam hidupku dengan cara yang kadang tidak kumengerti. Tuhan hadir dalam hatiku.

Aku pernah membenciNya, aku pernah mengucapkan sumpah serapah padaNya karena telah membuat Ibu menderita. Namun Tuhan memang tidak pernah tidur, ia membimbingku dengan perlahan menuju pintu keridhoanNya. Aku pun merasakan kehadiranNya yang begitu dekat dalam tiap hembusan nafasku. Aku mulai mencintaiNya, meski kecintaanku padaNya kadang masih terhalang oleh kaki-kaki nafsu yang masih berdiri tegak dalam diriku.

Ibu berjuang membesarkanku sendiri, bahkan Ibu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi. Terlalu sakit hati Ibu jika harus menikah lagi. Ibu tidak siap jika harus mengalami hal yang serupa dengan apa yang ia alami selama hidup bersama dengan Ayah. Ibu sering dicaci maki, Ibu sering dipukul hingga meninggalkan bekas memar di sekujur tubuhnya. Meski demikian, Ibu tetap mencoba untuk mempertahankan bahtera rumah tangganya walau harus menahan sakit. Ibu melakukan semua itu karena tidak ingin melihatku tumbuh tanpa ada kehadiran seorang Ayah di sampingku.

Tapi, Tuhan ternyata menghendaki perpisahan terjadi. Ibu memang tidak pernah mengajukan gugatan cerai, namun Ayah lah yang menghendaki perceraian itu terjadi. Dan jadilah Ibu seorang janda.

Sekian lama tidak pernah kudengar kabar tentang Ayah, aku tumbuh menjadi dewasa. Ibu menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Dan hari itu, kudengar Ibu bercakap-cakap dengan seseorang di handphonenya. Aku bisa mendengar Ibu menyebut nama Ayah, kemudian dia menangis dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya dan pergi meninggalkan rumah. Ibu tidak memberitahuku kemana dia pergi, Ibu juga tidak pernah memberitahuku tentang apa yang terjadi dengan Ayah sehingga Ibu menangis.

Selama hampir tiga tahun lamanya, ternyata Ibu sering mengunjungi panti jompo yang ada di Jakarta Barat. Mang Ujang yang selalu mengantar Ibu pergi kesana. Ibu mengunjungi Ayah yang sudah renta dan mengurus keperluan Ayah. Dan saat mengetahui itu semua, aku sempat marah besar pada Ibu.

“Mengapa harus Ibu yang mengurus Ayah? Kemana perempuan yang telah merebut Ayah dari Ibu? Mengapa dia tidak mengurus laki-laki itu?” Segudang pertanyaan kuajukan pada Ibu. Ibu hanya menangis mendengar kemarahanku yang memuncak. Ibu hanya menjawab dengan kalimat yang membuatku terdiam,

“Sudah cukup kebencian Ibu pada ayahmu. Sepantasnya engkau pun memberikan maaf padanya. Melakukan hal yang serupa dengan apa yang Ibu lakukan buat  ayahmu. Walau bagaimana pun dia ayahmu, Tara. Bukan kah Tuhan Maha Pengampun pada hambaNya yang bertaubat?”

Kalimat itu masuk ke sanubariku, kemudian membenarkan ucapan Ibu di tengah kebencian yang memenuhi rongga dadaku. Aku pun diam.

“Jika Ibu saja bisa memberi maaf pada Ayah, lantas mengapa aku tidak bisa?” Tanyaku dalam hati.

***
Kini Ibu sudah tiada, sudah dua bulan Ibu pergi meninggalkanku. Dan aku masih belum terketuk untuk mengunjungi Ayah. Mang Ujang terus memaksaku untuk mengunjungi Ayah walau hanya sejenak. Namun hatiku masih belum bisa mengatakan “iya”. Hatiku masih berontak tiap kali kakiku mencoba untuk melangkah mengikuti permintaan Mang Ujang. Hingga akhirnya Mang Ujang memberikan selembar surat yang membuatku tak henti-hentinya menangis, menyesali apa yang sudah kulakukan.

Tara, Anakku
Ayahmu memang pernah menelantarkanmu, namun dia sudah menyesali perbuatannya. Dia sudah berusaha untuk menjadi lebih baik. Dia selalu menanyakan tentangmu di setiap kunjungan Ibu. Ia sering menangisi apa yang sudah ia lakukan padamu. Dia begitu ingin bertemu denganmu sebelum ajal memanggilnya. Pergilah, Nak. Temui ayahmu.
Anakku, ada satu rahasia yang tidak sanggup untuk Ibu katakana padamu. Biarlah Mang Ujang yang memberikan selembar surat ini padamu, dan Ibu berharap engkau akan menerima kenyataan ini dengan lapang dada.
Tara…anakku, ayahmu lah yang sudah membesarkanmu saat Ibu kandungmu meninggal. Ayahmu juga lah yang menjagamu selama kurang lebih dua tahun lamanya saat engkau masih bayi. Ibu kandungmu meninggal saat berjuang melahirkanmu. Sedangkan Ibu baru menikah dengan Ayahmu dua tahun setelah kepergian Ibumu.
Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu baru sanggup memberitahu tentang hal yang sebenarnya. Terlepas apa yang sudah dilakukan oleh Ayahmu, maafkanlah dia. Ibu tidak bisa menjelaskan terlalu banyak padamu, tangan ibu tidak sanggup menuliskan penjelasan terlalu banyak. Temui ayahmu dan maafkanlah dia. Berbaktilah padanya, beri dia maafmu yang tulus. Jangan biarkan ia mengakhiri hidup dengan perasaan bersalah yang terus menggerogoti kesehatannya. Ia tidak sekuat yang dulu lagi, Nak. Maafkan ayahmu.

Setelah membaca surat dari Ibu, aku menangis dan memukul Mang Ujang karena dia terlambat memberikan surat Ibu padaku.

“Ibu bilang, nanti kalo memang Den Tara tidak mau mengunjungi Bapak, baru surat ini diberikan pada Aden.” Begitulah penjelasan Mang Ujang.

Aku memaksa Mang Ujang untuk mengantarkanku langsung ke panti jompo tempat Ayah bernaung dari panas dan teriknya matahari di usia senjanya. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku tidak ingin menunda lagi pertemuanku dengan Ayah.

Akan tetapi, semua sudah terlambat. Pihak panti menjelaskan bahwa Ayah sudah meninggal sejak dua hari yang lalu dan mereka tidak tahu harus menghubungi siapa, karena satu-satunya yang pernah mengunjungi Ayah adalah Ibu, dan kini Ibu sudah meninggal. Aku hanya bisa menangis karena aku terlambat meminta maafnya.

Pihak panti menyerahkan kardus kecil yang berisi barang-barang Ayah. Di dalamnya kutemukan sebuah bingkai foto yang di dalamnya kulihat Ayah sedang menggendong seorang bayi mungil. Kakiku mematung menatap foto itu, bibirku kelu tak mampu berucap.

 “Mungkinkah itu aku?” Tanyaku pada hati yang sedang merindu dan menyesali semua yang telah kulakukan pada Ayah.
“Itu foto Bapak dan Den Tara saat masih bayi,” ucap Mang Ujang tanpa perlu kuminta.

Aku kembali menangis saat kusentuh pusaran Ayah yang masih berwarna merah dengan gundukan tanah yang meninggi. Pusaran yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Ayah. Ia pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan aku yang menyesal karena telah membencinya. Maafkan aku Ayah.

Malam semakin larut, dan aku masih enggan meninggalkan pusaran Ayah. Aku ingin menemani Ayah hingga pagi menjelang.

Hembusan angin menusuk ke tulangku
Suara jangkrik saling bersahut-sahutan
Menemani sinar di ujung hatiku yang menyesali diri
Hilang sudah senjaku
Senja yang sudah lama tidak kutemui
Senja yang sudah lama tak kudekap
Dialah ayahku, senjaku yang hilang
Pergi meninggalkanku dengan penyesalan diri

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan