August 15, 2012

Tentang Hidayah


Mudik kali ini Tuhan kembali memberi saya sebuah kejutan yang telah lama saya nanti. Saat mudik ke Bengkulu, saya melihat “Ibu” menyambut kedatanganku dengan “Hijab” yang menutupi auratnya. Alhamdulillah, Allah sudah memberikan hidayah-Nya pada Ibu untuk memakai “Hijab” yang memang sudah diwajibkan Allah dalam syariatNya. Dulu Ibu memang belum memakai hijab, biasanya hanya pada acara-acara tertentu beliau memakainya. Dan kali ini Ibu sudah mendapatkan hidayahNya. Alhamdulillah.

Berbicara tentang hidayah, kita tidak mempunyai kuasa kepada siapa hidayah itu mau kita berikan. Karena sesungguhnya Tuhan lah yang memberikan hidayah kepada hambaNya. Barang siapa yang sudah diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada siapa pun yang bisa menghalangi semua itu. Bahkan kepada orang terdekat kita sekalipun, kita tidak bisa memaksakan kehendak. Yang perlu kita lakukan adalah menasehati mereka tentang kebenaran dengan penuh kesabaran dan tentunya dengan cara yang bijak. Selebihnya adalah urusan Allah, kepada siapa Dia akan memberikan hidayahNya.

Lihat saja sejarah tentang Nabi Muhammad saw, bahkan paman Nabi saja ada yang tetap dengan kekafirannya dan Nabi tidak bisa memaksa Tuhan agar memberikan hidayahNya pada pamannya. Itu menunjukkan bahwa hidayah itu memang hanya kuasa Allah yang Maha Kuasa.

Demikianlah, saya memang belajar Agama sejak kecil, namun saya tidak mempunyai kuasa untuk memaksa keluarga saya untuk memakai “Hijab”. Saya hanya mengingatkan mereka dengan baik, mengajarkan mereka akan makna hijab bagi seorang muslimah, menjelaskan kepada mereka bahwa “Hijab” itu hukumnya adalah wajib. Dan jika Allah sudah memerintahkan untuk memakainya, maka tidak ada alasan yang patut kita ajukan untuk tidak menutup aurat. Karena hakikatnya sebuah perintah adalah “ Untuk dilaksanakan”.

Saat ini Ibu sudah memutuskan untuk memakai “Hijab” selamanya, dan saya terus berdoa kepada Allah swt. agar adik saya yang perempuan juga segera diberi hidayah olehNya. Saat ini adik saya yang perempuan sudah mulai mengurangi memakai pakaian-pakaian yang menampakkan lekuk tubuh alias ketat, dan saya terus mendoakan dirinya agar segera diberi hidayah oleh Allah. Saya tetap bersyukur mereka tetap rajin melaksanakan shalat lima waktu dengan baik. Dan saya terus berdoa agar ajaran-ajaran shalat itu bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kalo di dalam shalat kita menutup aurat, maka sejatinya di luar shalat pun kita harus menutup aurat. Demikianlah selanjutnya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam shalat yang kita laksanakan.

Saya terus membimbing keluarga agar bisa menjadi lebih baik. Setiap kali mudik, saya membimbing adik-adik saya agar bisa tumbuh menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Sudah kewajiban seorang kakak agar bisa “menjadi teladan yang baik” bagi adik-adiknya. Itulah yang bisa saya lakukan. Selebihnya saya serahkan pada Allah.

2 comments:

  1. hidayah..oh hidayah. sampai mulut berbusa memberi nasehat, kalau hidayah tidak dijemput, ya tidak ngaruh apa-apa. Semoga hidayah yang sama juga sampai ke mamaku...

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan