September 18, 2012

Pelabuhan Hatiku Yang Hilang


Sore ini, menjelang berbuka puasa, aku pergi ke kedai nasi yang ada di depan Masjid Fatimatuzzahra. Aku memesan menu favorit kesukaanku, yaitu “ayam selasih”. Pesananku sedang disiapkan, pandanganku tertuju pada seorang muslimah yang mengenakan jilbab berwarna biru muda, dipadu padan dengan gamis panjang hingga mata kakinya. Mataku seolah tidak ingin berhenti untuk menatapnya. Ada rasa yang secara tiba-tiba menyeruak di dalam dada, sebuah rasa yang aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hatiku. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Saat lamunan sedang menggunung di dalam benakku, kemudian aku dikejutkan oleh sapaan seorang anak kecil,
“Ustadz Adam,”
“Astaghfirullah,” aku mengucapkan istighfar atas apa yang baru saja kulakukan. Tidak seharusnya aku menatap muslimah yang ada di depanku dengan pandangan seperti itu. Tuhan sangat tidak menyukai apa yang baru saja kulakukan. Aku tidak menjaga pandanganku. Seharusnya aku bisa menjaga pandanganku dengan baik.
Aku tersenyum kemudian menjawab sapaan anak kecil tadi, dia adalah adik dari salah satu muridku. Entah dari mana dia mengenalku, mungkin saja karena aku sering makan disini, jadi dia hafal wajah dan namaku. Anak kecil tadi terus berlari-lari kecil ke arahku, ditangannya ada sebuah bolpoint berwarna merah. Dia mencoret-coret dinding kedai nasi.
“Nulisnya jangan di tembok, Dek” ucap muslimah yang sekarang sedang duduk tidak jauh dari hadapanku.
“Ini pacal Ustadz Adam, ya?” ucap malaikat kecil itu dengan lidahnya yang masih belum terlalu sempurna mengucapkannya.
Seketika aku terbatuk mendengar pertanyaannya. Air minum yang sedang kuminum muncrat ke bagian luar mulutku. Dan sepasang mata muslimah yang ada di depanku terlihat tersenyum, dan memberikan sehelai sapu tangan padaku.
“Pakai ini, Mas.”
Di kedai nasi ini memang tidak ada tissue. Aku mengambil sapu tangannya, kemudian membersihkan air yang sedikit membasahi kemeja lengan panjang berwarna biru yang kukenakan.
“Terimakasih, Mbak.” Ucapku pelan. Jantungku berdetak, perasaanku tak menentu.
Muslimah itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku hanyut dalam diam, hanyut dalam pikiranku sendiri. Anak kecil yang tadi mendekatiku, sekarang sedang asyik dengan bolpoint yang ada di tangannya. Menu yang kupesan untuk berbukan masih belum siap. Aku masih harus menunggu.
Yaa Allah, haramkah jika aku jatuh cinta pada pandangan pertama ini? Aku tidak bisa memungkiri perasaanku ini. Kepada Engkaulah aku mengadukan segala rasa yang sekarang sedang berkecamuk dalam hatiku. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Pandanganku tak menentu saat kedua mata itu beradu dengan kedua mataku. Aku malu padaMu, Yaa Allah.
***
Keringatku membasahi kaos oblong yang kukenakan. Aku terus memacu sepeda yang kupakai, menikmati suasana pagi hari Minggu di sekitar alun-alun Kota Purwokerto. Aku dan dua orang muridku bersepeda, mengirup sejuknya udara pagi, dan merasakan dinginnya udara dipagi hari nan mendung ini.
“Ustadz, aku coba sepedanya, ya.” Ucap salah satu muridku. Dia ingin memacu sepedaku dan aku memacu sepedanya.
Kakiku dengan gontai memutar pedal sepeda, sepertinya tenagaku sudah habis terkuras. Tidak biasanya aku merasakan pegal di kedua betisku seperti ini. Biasanya aku mampu bersepeda sejak pukul enam pagi, hingga pukul delapan. Namun tidak dengan hari ini, aku hanya mampu bersepeda tidak lebih dari 30 menit. Dan kami pun berhenti di salah satu tempat makan cepat saji, untuk menikmati menu sarapan yang tersedia.
Aku meletakkan sepedaku di tempat parkir, kedua muridku sudah terlebih dahulu masuk dan duduk di kursi bagian depan. Jam masih menunjukkan pukul 6.45 pagi, kami masih harus menunggu 15 menit lagi, baru bisa memesan menu yang akan kami nikmati.
Aku dan kedua muridku berbincang begitu akrab, bersama mereka aku merasakan kebahagiaan yang begitu dalam. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari mereka. Dan saat perbincangan sedang berlangsung hangat, aku mendengar seseorang mengucapkan salam dan menyebut namaku.
“Assalamu’alaikum Ustadz Adam.”
“Wa’alaikumussalam,” aku menjawab salam sambil membalikkan badanku ke arah ucapan salam barusan. Dan perasaan aneh pun kembali hadir, perasaan yang sama saat pertama aku melihatnya. Dia menangkupkan kedua tangannya di dada, kemudian mengambil posisi duduk tidak jauh dari hadapanku. Dia datang tidak sendirian, melainkan dengan seorang anak kecil.
“Itu siapa, Ustadz?” Tanya salah seorang dari muridku yang ternyata menangkap pandanganku yang sedari tadi tertuju pada muslimah dan seorang anak kecil yang sekarang duduk hanya beberapa meter di hadapanku.
“Bukan siapa-siapa.” Jawabku sambil berusaha setenang mungkin. Aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku sedang merasakan gejolak aneh di dalam dada.
***
Idul Fitri sudah berlalu, hari ini syawal akan berakhir. Aku sudah menyelesaikan puasa syawal sejak dua hari yang lalu. Dan sekarang aku sedang duduk dibagian pojok kanan masjid, menghadiri acara silaturahmi keluarga besar Masjid Fatimatuzzahra. Banyak tamu undangan yang datang. Aku memandangi satu persatu tamu undangan yang hadir, dan lagi-lagi mataku menemukan sosok yang beberapa hari ini sudah membuatku gelisah. Aku terus mengadu pada Allah akan rasa ini.
Yaa Allah,
Jika memang ini adalah cinta, jangan jadikan cinta ini sebagai penghalang cintaku padaMu. Jika memang ini adalah rasa yang Engkau ridhoi, aku akan meminangnya karenaMu. Aku tidak ingin berlama-lama dengan rasa ini. Bantu hamba Ya Rahmaan.
“Dia adiknya Ustadz Wildan,” ucap salah seorang yang duduk di sampingku.
Dahiku berkerut,
“Siapa?”
“Muslimah yang sedari tadi antum lihat itu adiknya Ustadz Wildan.”
Jadi muslimah itu adalah adiknya Ustadz Wildan? Tanyaku pada hati. Wildan, dia adalah salah satu dosenku di kampus dulu, sekarang beliau mengajar di salah satu kampus yang ada di Purwokerto.
***
Cahaya redup rembulan menemani shalat malamku, aku kembali mengadu padaNya. Aku sudah menyampaikan keinginanku pada Ustadz Wildan, aku sudah berkata jujur padanya bahwa aku ingin menikahi adiknya. Hatiku sudah yakin dengan pilihanku. Aku sudah melakukan shalat istikharah guna memohon petunjuk dari Sang Pencipta. Dan Allah memberikan jawaban atas doaku. Aku semakin mantap dengan semua yang kuputuskan. Mungkin memang sudah waktunya aku menikah.
Namun Tuhan masih belum menghendaki cinta ini membangun hubungan menuju ridhoNya. Di siang yang terik, Ustadz Wildan menemuiku, mengajakku makan siang di salah satu warung makan yang tidak jauh dari rumahku. Aku berharap apa yang aku inginkan bisa terwujud. Aku ingin menikahi Aisyah, adik kandungnya.
“Syukron, Antum sudah bersedia datang memenuhi undangan Ana.” Ucap Ustadz Wildan. Aku menjabat tangannya, kemudian mengambil posisi duduk di dekatnya.
“Ana mohon maaf baru bisa ketemu Antum sekarang. Ada hal yang perlu Ana bicarakan.”
“Tentang apa, Ustadz?” ucapku sambil mencoba untuk lebih tenang.
“Tentang Aisyah. Ada hal yang baru diutarakannya pada Ana. Dan ini berkaitan dengan keinginan Antum meminang Aisyah sebagai istri.”
Aku menelan ludahku, kemudian mencoba untuk menenangkan hatiku dengan segelas air putih yang ada di meja makan.
“Ada apa dengan Aisyah, Ustadz?
“Hati Aisyah sudah memilih laki-laki lain sebelum Antum datang meminangnya.”
Kalimat itu singkat, padat dan menghancurkan benteng pertahananku. Aku hanya diam dan berusaha untuk menguasai hatiku yang gelisah. Kusebut asmaNya, mengharap Ia memberikanku ketenangan mendengar semua ini.
Terik matahari tak lagi kurasa
Pikirku melayang entah kemana
Langkah kakiku terus berjalan
Menyusuri jalanan yang berbatu
Yaa Allah,
Kembalikan ketenangan hatiku


September 11, 2012

Kritik dan Saran itu "Perlu"


“Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah.”

Mungkin itu kata yang tepat untuk saya ungkapkan di depan mereka. Iya, tidak ada manusia yang sempurna dan bukan berarti dengan ketidak sempurnaan itu seseorang lantas tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kan? Pun dengan saya. Bukan berarti karena saya seorang “Guru”, lantas apa yang saya lakukan adalah “benar”. Mungkin pernah ada murid yang tersakiti dengan ucapan saya, tingkah laku saya, dan lain sebagainya.

Saya sengaja menyebarkan angket kepada murid-murid tentang “Kesalahan” apa yang pernah saya lakukan pada mereka?, “Kritik dan Saran” yang mungkin selama ini mereka tidak berani untuk mengungkapkan, maka kali ini saya beri mereka kesempatan untuk mengungkapkannya dalam selembar kertas. Selembar kertas yang mana isinya nanti akan jadi perbaikan diri, agar saya bisa menjadi Guru yang baik bagi mereka, bisa menjadi teladan yang baik.

Karena “Guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi teman yang baik bagi murid-muridnya, dan bisa menjadi teladan yang baik.” Dan saya ingin menjadi Guru yang baik. Saya sangat bersyukur, mereka akhirnya mau menuliskan unek-unek mereka selama ini yang kadang saya sendiri tidak menyadari semua itu. Kadang ada hal yang mungkin menurut saya benar, akan tetapi menurut murid itu tidak baik untuk mereka, atau mungkin mereka tidak menyukai hal itu.

Saya rasa, semua guru pun harus melakukan hal yang sama. Dalam artian memberikan kesempatan pada murid untuk memberikan “Kritik dan Saran” kepada Guru. Dengan demikian, kita bisa lebih mengerti “Apa sebenarnya yang diinginkan oleh murid agar proses belajar mengajar jadi lebih baik?” dengan baiknya proses belajar mengajar, maka tentu akan memberikan pengaruh yang baik bagi keberhasilan siswa.

Setelah saya bagikan angket, akhirnya saya banyak tahu tentang keluh kesah mereka selama ini yang mana saya tidak pernah menyadari itu. Kadang saya menganggap semuanya “Baik-baik saja”, namun ternyata ada sesuatu yang mengganjal pada diri murid. Dan sekarang saya baru menyadari itu.

Ketika saya bertanya tentang “Kesan” mereka saat pertama kali bertemu dengan saya, mereka banyak yang menjawab “Saya kurang bisa berbicara bahasa Indonesia.” hehe

Atau saya sempat nyengir ketika ada murid yang menulis di bagian terakhir kertasnya “Ojo suwe-suwe nunggu mbojo,” “Angger wis gede, ustadz aja jomblo bae,” hadeuhh saya butuh penerjemah dan setelah tahu artinya, saya pun paham bahwa mereka begitu perhatian dengan saya J

Insyaallah, niat baik saya untuk berbakti, mendidik putra-putri bangsa ini bisa lebih “Ikhlas”, sehingga apa yang saya ajarkan pada mereka bisa dimengerti dengan baik. Karena, kadang murid tidak bisa memahami apa yang kita ajarkan karena tidak adanya keihklasan Guru saat mengajar. Atau adanya kesalahan kita yang membuat mereka enggan untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Jadi, beri mereka kesempatan untuk memberikan “Kritik dan saran” yang membangun, guna menjadikan kita lebih baik. Mari terus benahi diri, agar kita bisa menjadi teladan yang baik bagi mereka. Sehingga dengan pancaran kebaikan itu, nantinya akan mengetuk hati murid-murid kita untuk terus menjadi lebih baik.